Tiga tahun, tiga kota, tiga peristiwa, tiga kata seperti tiga menguak takdir — Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin — yang ku letak kan kata di WordPress .. pada tahun pertama berjibaku nge-blog disini. Penuh gairah dan napsu untuk menulis. Dan perlahan, teman baru mulai berdatangan. Saling sapa, saling komentar, saling berbagi pengalaman. Menyenangkan .. seperti berada didunia baru. Dunia maya. Dan aku benar² merasakan sesuatu yang berbeda. Teman² di WordPress terasa berbeda dengan di Blogspot. Disini terasa hangatnya persahabatan sampai kopdar beberapa kali. Lanjutkan membaca
17 Nov
Terdampar di bandara
Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan terdampar di bandara, ketika ku putuskan untuk kembali ke Padang dari Pekanbaru dengan menggunakan jasa penerbangan karena jalur darat sedang tidak bersahabat jika musim penghujan yang penuh dengan kejutan tanah longsor. Ditambah lagi, pada hari sebelumnya, terdapat 3 korban tewas dijalur tersebut. Memang sih .. satu setengah jam sebelum berangkat, seorang kolega mengatakan kalo pesawat yang akan ku naiki itu paling cepat dua jam lagi baru berangkat. petualangan
7 Okt
Detik-detik Gempa Padang
Hari ini tepat seminggu yang lalu .. apa yang kualami pada tanggal 30 September 2009 tak akan pernah ku lupakan. Tapi, apabila hanya tersimpan didalam benak. Mungkin ada yang terlewatkan sehingga ku putuskan untuk ku letak kan disini, detik demi detik saat berlangsungnya gempa. Selain kata, aku coba akan berusaha untuk memuat foto dan videonya. Semoga WP ini dapat mengakomodasinya. detik menegangkan
2 Okt
Ketika Tuhan memberi ku ..
Jarum jam ditanganku menunjukan angka lima dan angka tiga, pukul 17:15 ketika aku beranjak dari mejaku keluar menuju office hall yang tepat berada didepan kamar kerjaku. Sore itu, rencananya akan diadakan acara pelepasan pegawai yang mengakhiri masa kerjanya. Pekerjaan ku yang masih beberapa dokumen lagi, ku tinggalkan tergeletak diatas meja dan rencananya akan ku selesaikan usai acara pelepasan tersebut. Gempa 30 September
9 Agu
Rendra pada suatu ketika …
Berita berpulangnya Rendra keharibaan Illahi ku tahu dari status teman² ku di Facebook. Ingatan ku terpental ke masa silam. Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4 SD. Pada suatu ketika, aku didapuk oleh guru ku untuk berdeklamasi untuk membacakan sajak Kerawang Bekasi karya Chairil Anwar pada acara Malam Kesenian yang setiap tahun selalu diadakan sekolah ku. Aku ingat, untuk membacakan sajak tersebut .. selama dua minggu aku mati-matian menghafal kalimat demi kalimat. Karena menurut guru ku, membaca sajak harus dihafalkan dan tidak boleh membawa catatan. Memori
23 Jul
Sebulan lagi
Subhanallah .. waktu terus bergulir. Peristiwa kehidupan pun datang mengalir. Membawa kabar suka maupun duka yang hadir bergilir. Hingga sampai nanti ke titik nadir .. Seperti rasanya kemarin. Aku berpuasa Ramadan dan sekarang, sebulan lagi Ramadan kan hadir. Subhanallah .. semoga aku diberikan kesempatan lagi untuk terawih keliling dari masjid ke masjid. Semoga aku diberikan kekuatan untuk menahan segala napsu selama sebulan penuh. Dan semoga aku diberikan waktu untuk meluruhkan dosa2ku sebelum dipanggil pulang oleh Nya. Marhaban ya Ramadan.
3 Jul
Presiden RI 2009-2014
Sebenarnya males buat postingan masalah ini, tapi setelah ku pikir² aku mesti meletakkan kata disini, sebagai pengingat sang waktu di masa depan, tentang catatan pemahaman ku bagi detik² bersejarah bangsa ini yang — sapa tahu 10 atau 20 tahun kemudian — masih bisa aku baca blog ini lagi untuk melihat pemikiran ku 10 atau 20 tahun yang lalu. Sehingga ku putuskan untuk melanjutkan postingan ini karena ku pikir lebih cepat lebih baik untuk dipublish biar ga lupa nantinya. Siapa Presiden kita?
Beberapa hari belakang ini, harian KOMPAS memuat serial tulisan mengenai perbatasan Indonesia. Kehidupan masyarakat ‘disana’ lebih merasa ‘nyaman’ bertetangga dengan negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura, Philipina dan Papua. Kemudian apakah kemudian mereka tidak nasionalis apabila mereka lebih paham berbahasa negeri tetangga dari pada bahasa Indonesia, lebih nyaman berbelanja dengan mata uang Ringgit, Peso ato Dollar Singapura dari pada Rupiah. Lebih men’cintai’ produk luar dari pada produk dalam negeri. Masih pantaskah mereka dipertanyakan dengan rasa nasionalisme pada diri saudara-saudara kita yang hidup diperbatasan tersebut? .. Reportase di Kompas tersebut mudah-mudah dibaca — kalo sempat sih — sama orang² yang merasa memiliki ‘kekuasaan’ untuk merangkul saudara² kita diperbatasan sana. 



BERBALAS KATA