Hati tidak saja bisa murah. Tapi dia juga bisa marah. Memang tidak ada mulut yang melengkapi hati untuk mengeluarkan kata2. Memang tidak ada tangan yang melengkapi hati untuk melayangkan tinju dan pukulan. Memang tidak ada wajah yang melengkapi hati untuk bermuka masam. Tapi hati bisa menghancurkan segalanya jika sedang marah. Bisa membuat dunia berubah drastis. Oleh karena itu, manusia dibekali Tuhan dengan akal pikiran dan budi untuk mengendalikan amarah di hati.
Lanjut.
Mudah2an tulisan aku ini bisa menggugah teman2 tentang kasus IPDN yang sedang jadi TOP KLIK dari yang mendukung pembubaran IPDN dan yang tidak rela IPDN dibubarkan. Bagiku hati boleh amarah .. tapi otak mesti tetap jernih. Yang harus kita tumpas adalah kekerasan. Tidak saja kekerasan phisik. Kekerasan terhadap mental juga harus kita basmi. Anehnya, kita merasa bersatu kalau ada objek yang kita tumpas. Setelah selesai, kita jalan sendiri2 .. akhirnya terulang lagi dalam bentuk lain .. mungkin di Institut lain, mungkin di Universitas lain, mungkin di Lembaga lain. Karena yang kita basmi adalah IPDN bukan KEKERASAN. Jadi bisa terjadi dimana saja, dilembaga lainnya. Sedih deh.
Aku teringat kasus Anggara – apa Hanggara ya? – dimana semua orang di Indonesia mengecam orang tua yang begitu kejam pada anaknya sampai2 dibikin film. Memang untuk beberapa waktu cerita orant tua ‘mukulin’ anaknya tidak kedengaran. Tapi sekarang, dua tahun belakangan ini, kasus itu menjamur .. anak yang diperlakukan dengan keras akan melahirkan kekerasan. Rasanya sulit membayangkan, jika anak dibesarkan ditengah keluarga yang penuh limpahan kasih sayang akan melakukan kekerasan.
Ada yang salah dalam tataran berkeluarga disini. Coba ada upaya memeriksa kejiwaan para praja yang melakukan kekerasan. Banyak faktor yang bisa menyebabkan itu. Mulai dari keluarga, lingkungan IPDN dan media masa serta hiburan seperti film2 action. Ops .. di Amerika barusan ada siswa yang menembak mati 32 orang lain plus 1 orang – dirinya sendiri.




3 responses so far ↓
leeloos // Wednesday, 18 April, 2007 at 18:05
aku setuju aku setuju
ribby // Friday, 20 April, 2007 at 11:42
bener banget!!!
saya setuju banget dengan penulis. yang seharusnya diberantas yachhhhh tradisinya,kebiasaan dan kekerasannya bukan malah institutnya.tradisi ini yang mungkin masih ada di benak para prajak yaitu tradisi membalas,belum ada keihklasan dalam hati praja untuk menghapus tradisi itu.tradisi yang slalu memakan korban.mungkin bekal agama harus sorot lebih cermat.
Evy // Sunday, 22 April, 2007 at 14:14
Ayo brantas kekejaman dengan hati, tidak usah marah melihat kekejaman…tapi mas klo sedih boleh khan? mosok lihat ibu baru bisa lihat makam anaknya yg di kubur setelah 14 th kita tetep cengar cengir.. mas, apa itu masih punya hati?