Sebentar lagi kita memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 62, suatu masa yang belum terlalu tua – jika dibandingkan dengan kemerdekaan Amerika – tapi juga tidak terlalu muda – jika dibandingkan dengan kemerdekaan Timor Leste. Tapi intinya adalah kita telah merdeka atau bebas untuk menentukan nasib sendiri. Hanya saja, setelah sekian tahun menentukan nasib .. seberapa jauh nasib kita telah berubah? Yang pasti jumlah penduduk pada saat kemerdekaan dengan hari ini sudah jauh bertambah banyak.
Banyak prestasi terbaik telah diukir oleh bangsa ini. Dibidang ekonomi .. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah sempat menembus angka 2.400, cadangan devisa berada pada kisaran USD 40-50 miliar, nilai ekspor yang terus meningkat dan lain sebagainya.
Dibidang politik .. rakyat sudah memilih Presiden secara langsung, media cetak sudah tidak memerlukan SIUP lagi untuk menerbitkan medianya, informasi semakin mudah diperoleh terutama lewat media elektronik dan lain sebagainya.
Dibidang budaya .. perayaan Imlek telah dimasukan dalam kalender libur nasional, barongsai sudah bebas beraksi lagi, majalah Playboy sudah beredar dinegeri ini dengan edisi Indonesianya dan lain sebagainya.
Dibidang ilmu pengetahuan .. S2 dan S3 semakin mudah dijumpai – dengan gradasi mutu tentunya, temuan baru seperti Nutrisi Saputra yang dapat membantu petani, berhasil menjadi juara Olimpiade fisika, biologi dan lain sebagainya.
Semua prestasi tersebut tentu membanggakan .. tapi seperti mata uang .. ada dua sisi. Selain prestasi tentu ada juga degradasi baik dibidang ekonomi, politik, budaya, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Mulai dari tingkat pengangguran yang tetap tinggi, seteru di elit politik, peredaran narkoba, kegagalan atlit olah raga di event2 yang penting dan lain lain.
Apapun .. satu hal yang harus kita sadari. Apa yang kita alami, juga terjadi dinegara lain – bahkan dinegara adi kuasa sekalipun – walau dengan intensitas yang berbeda tergantung dari sistem yang ada di negara tersebut. Yang harus kita sadari adalah jangan sampai kemerdekaan yang telah ada ini menjelma menjadi bangsa terjajah lagi dalam bentuk lain.
Semoga kita mensyukuri rahmat Allah ini dengan bekerja keras, menjaga persaudaraan, menjadi manusia yang semestinya yang menyadari bahwa hidup ini hanya sementara saja .. Semoga Allah selalu memberkati kita semua. Amien.



Hehehehe benar Bang…merdeka dari apa ya?
Sepertinya
bangsadiri kita sedang dijajah olehbangsadiri sendiri …Masalah “penjajahan” yang dilakukan oleh kemiskinan dkk kan pangkalnya dari
bangsa (oknum pemerintah?)diri kita sendiriAntartika milik Canada? Sejak kapan? Coba anda dapatkan informasi yang benar! Tidak heran Indonesia seperti ini, jikalau banyak bangsa ini yang mendapatkan informasi yang kurang akurat seperti saudara.
mari kita sambut hari peringatan kemerdekaan ini dengan berteriak
HAMPIRMERDEKAPositif banget bang…?
Tumben, he…
MERDEKA!!
Pokoke ™ MERDEKA
Perlu diketahui bahwa kemerdekaan itu masih jauh dari tercapai, jujurlah pada diri sendiri .. bahwa kedelai yang dipakai buat si tempe dan tahu itu adalah import dari USA. Kenapa? karena si tukang tempe dan tahu itu sendiri pun males pake kedele buatan hasil tanam kita – mutunya rendah? kenapa? karena dunia pertanian kita masih belum dapat perhatian serius, juga wong bule itu gak pengen kehilangan pasar puluhan juta pemakan kedelai mereka [baca: kita-kita ini]
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita sudah bener2 merdeka?
Pak Erander, kok judulnya sama kayak judul postingannya cak Moki?
Yang jelas pada tanggal 17 nanti bangsa Indonesia harus instropeksi diri. Tapi ya jgn cuma instropeksi doang c, karena yang lebih penting mau apa lagi setelah memperingati hari bersejarah ini.
bangsa atawa negara toh indonesia ini…
merdeka kok susah amit.. perasaan merdeka hanya pas jaman perang aja deh…
Indonesia yang semakin tua…
Semoga semakin berbudaya…
harus positif gini, biar bangsa ini nambah maju
Semoga Tuhan Memberkati kita semua,Amin…
Judul sama persis, hehehe … gak janjian padahal ya
…
Merdeka
MERDEKA!!!
Aku pendatang baru nie mas…
Meski degradasi juga terjadi di negara2 maju dan adikuasa lainnya tapi mereka tetap balance dan rakyatnya tidak menderita gara2 tingkah mereka sendiri. Jauh beda halnya dengan Indonesia ini.
Nggak peduli dengan kemunduran yang dialami oleh Indonesia sekarang ini, yang pasti meski negara adi kuasa juga melakukan yang sama bukan berarti kita juga berhak melakukan hal yang sama.
Aku rasa kesadaran tinggi harus lebih ditingkatkan lagi meski kadang klise dan malas untuk implementasinya untuk membuat degradasi itu menjadi suatu kemajuan yang berarti
.
Tapi aku percaya untuk ukuran Indonesia yang juga mengalami kemajuan pula diberbagai bidang pasti bisa melakukannya.
MERDEKA !!!
Lam kenal mas
Apapun yang telah bangsa kita dapat hingga kini layak kita syukuri. Semoga dengan itu akan semakin banyak Berkah dan Karunia-Nya bagi negeri ini.
Lusa kita akan merayakan kemerdekaan RI. Sebenarnya bukan hanya memasang bendera ditiap pinggir-pinggir jalan, upacara, ngadain lomba dan hal-hal lain yang sudah menjadi tradisi setiap HUT RI. Tapi dibalik itu kita harus instrospeksi dan mencoba memperbaiki diri bangsa ini. Semoga bangsa ini bisa menjadi lebih baik dan kembali bangkit. Amin
MERDEKA……..
btw long weekend jadi pindahan nih?! ya wis saya bantu dengan doa ya. Bagaimana dengan 2 atap? Jadi dibuat?! hehehe
[...] sekian banyak tulisan rekan-rekan tentang kemerdekaan disini, disini, disini, disini dll (maaf bagi yang tidak sempat tercantum), secara sepihak saya simpulkan bahwa pada intinya [...]
Begini mas Eby…..
Sebaiknya mas Eby nggak usah risih memikirkan Carrefour, McDonald’s, dsb. Bagaimanapun juga:
Pertama: Mereka juga sangat dibutuhkan buat pembangunan perekonomian Indonesia, coba berapa tenaga kerja yang akan hilang jikalau mereka semua hengkang, berapa tenaga kerja trampil yang akhirnya akan ‘melarikan diri’ ke luar negeri jika mereka hengkang. Mereka masih sangat dibutuhkan.
Kedua: Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Negara2 tetangga juga kebanjiran raksasa2 asing serupa, Jepang di tahun 1950an sehabis kalah perang juga kebanjiran merk2 Amerika namun toh itu tidak membuat mereka runtuh, begitu juga Korea, Taiwan dan kini China. Bahkan AS sendiri, kini kebanjiran produk2 Jepang dan produk2 Asia lainnya, tapi apa mereka jadi loyo?? Sama sekali tidak! Justru PMA seperti itulah yang membantu membuat perekonomian lokal hidup. Sekarang pintar2nya kita saja untuk memanfaatkan kesempatan ini, apakah kita mau belajar dari mereka atau tidak, sehingga kita nanti juga bisa mengglobalkan perusahaan2 kita di dunia.
ketiga: Jangan sedih melihat perusahaan asing membeli perusahaan kita, justru itu menjadi sarana untuk penyuntikan modal dan alih teknologi yang lebih mulus. Di dunia internasional hal2 itu sudah biasa terjadi. Telstra Australia juga sudah dibeli SingTel Singapura, juga Voicestream, salah satu operator selular GSM di AS, juga sudah dibeli T-Mobile Jerman. Mereka sama sekali tak mengeluh, ketakutan akan adanya penyadapan pembicaraan jikalau sebuah perusahaan operator selular dibeli asing, sungguh agak berlebihan! Sekarang masalahnya kita harus dapat berbuat serupa, mudah2an di masa depan kita bisa membeli France Telecom, Orange UK, Telecom Italia, Maxis Malaysia, DoCoMo Jepang, dll. Mudah2an perusahaan minyak kita Pertamina di masa mendatang dapat mengebor minyak di Teluk Meksiko, di Laut Utara, atau di Pegunungan Carpanthia di Romania yang kaya minyak, jadi bukan perusahaan luar negeri saya yang mengebor sumur2 minyak di Indonesia.
Sungguh mas, globalisasi akan menjadi hal yang menyenangkan jikalau kita bisa mengimbangi mereka secara kualitas bukan kuantitas! Kalau kita tidak bisa menyeimbangi, globalisasi hanya akan menjadi sesuatu yang bikin kita frustasi!
globalisasi, kapitalisme, utang luar negeri…..,
sebenernya kita mesti merdeka dari yang kaya ginian. konsumerisme mesti dibabat abis, diganti dengan cinta produk dalam negeri.
kalo bisa gini, minimal kita udah merdeka untuk menentukan apa yang ingin kita pake, bukan semata-mata karena bombardir iklan yang gitu dehhhhhh………..
Wah mas, alamat blog saya kok bisa nggak ada? Nih saya kasih saya nantikan kunjungan anda ya
di http://evelynpy.wordpress.com/
Oh ya mas, jangan panggil saya Pratiwi, agak nggak enak nie, soalnya kebiasaan dipanggil Evelyn sama keluarga maupun tmn2.
Aku juga bangga sie dengan kata itu, soalnya ada orang dengan nama yang sama hampir membanggakan Indonesia.
Begini mas:
Justru itu aku kan di atas sudah tulis! Kita manfaatkan globalisasi ini buat belajar! Manfaatkan globalisasi yang datang bertubi-tubi ini, untuk dijadikan kesempatan untuk belajar. Cara inilah cara yang paling baik untuk mengejar ketinggalan. Of course semua sistem punya kelemahan! Tak ada sistem yang sempurna!
Mengenai negara-negara barat dan China yang saling membalas larangan produk berbahaya, itu lebih karena faktor non-ekonomis, bahkan ada bau-bau politisnya segala.
Mengenai banyaknya warga2 di negara maju pada sidang WTO, well, tidak semua warga di negara2 maju juga mengerti ekonomi secara keseluruhan, apalagi mengetahui situasi kondisi di negara2 berkembang. Mereka hanya duduk2 di depan televisi mereka, “pura2″ bersimpati pada negara berkembang, dan melakukan demo! (banyak para demo ini sebenarnya yang pengangguran dan semi-pengangguran). Mereka nggak tahu bahwa selama ini negara2 berkembang juga ikut menikmati globalisasi, kalau kita mau jujur! Anda bisa menikmati WordPress karena faktor globalisasi juga . Nanti akan saya jelaskan lebih lanjut! (Sekalian nanti saya jelaskan untuk sdri. Mataharicinta right after these messages!
Okl?
O ya .. ketinggalan .. mengenai ’si anak lambat’ yang lambat belajar .. hmmm .. biasanya lambat itu karena faktor2 internal sendiri .. Anda ingin mengatakan bahwa rata2 orang Indonesia lambat belajar? Kalah dari China atau India yang penduduknya jauh lebih banyak dan problematika sosialnya jauh lebih kompleks?
Is that what you are trying to say?
@mataharicinta
begini mbak:
Pertama: Jikalau kita ‘dipaksakan’ membeli produk dalam negeri, berarti kita ‘tidak merdeka’ dong dalam menentukan pilihan.
Kedua: Masalah kapitalis, banyak sebenarnya yang tidak mengerti istilah ini, jikalau mbak kini atau nanti bekerja di perusahaan swasta atau nanti kalau mbak jadi pengusaha atau wiraswastawan maka itu adalah berkat sistem ‘kapitalis’ yang ada di negeri ini.
Ok, kapitalis atau istilah modernnya sekarang market economy, yaitu perekonomian di mana setiap sendi2 perekonomian baik itu peraturan/regulasi, masalah pendistribusian, produksi, dll. semuanya dibuat oleh publik atau individu. Juga swasta dan individu diperbolehkan untuk memiliki modal atau sumberdaya tersendiri. Pemerintah sama sekali tidak ikut campur tangan dalam hal ini.
Contoh ekstrim dari kapitalis ini adalah laissez-faire economy, di mana pemerintah sama sekali tidak ikut campur tangan dalam segala bentuk ekonomi, bahkan jasa polisi dan tentarapun dapat dibentuk oleh perusahaan swasta! Amerika atau Barat memang kapitalis, tapi kapitalis belum tentu Amerika, konsep kapitalis sendiri jauh lebih tua dari negara Amerika bahkan dari istilah kapitalisnya sendiri yang berawal dari abad ke-18 semasa revolusi industri di Inggris. Pada saat orang ingin menjadi pengusaha atau wiraswasta, maka ia sudah berniat menjadi seorang kapitalis!
Lawannya adalah sistem sosialis atau bahasa modernnya disebut command economy, di mana pemerintah total menentukan segala bentuk, peraturan/kebijakan dan jalannya perekonomian di suatu negara/komunitas. Rakyat, swasta dan individu tidak diberi kesempatan untuk mempunyai kapital atau modal dan sumberdaya tersendiri. Contoh ekstrimnya begini: Di negara yang 100% menganut sistem sosialis, tukang buahpun dilarang untuk menikmati hasil penjualan buah2annya, karena buah2, pohon2, dan tanah di mana pohon tersebut tumbuh adalah milik negara. Jadi hasil penjualan tersebut harus diserahkan kepada negara, nah sebagai imbalannya si tukang buah akan diberi ‘gaji’ oleh negara sebagai tukang buah! Mirip pekerja kantoran!
Nah, di dunia ini tidak ada negara/komunitas yang 100% kapitalis atau sosialis semuanya berada di kedua titik ekstrim tersebut hanya kadarnya saja yang berbeda2. Di Amerikapun yang katanya ‘biang kapitalis’, pemerintah masih berperan dalam kegiatan perekonomian termasuk membuat peraturan2, dan jasa kepolisian, ketentaraan dan juga beberapa produk teknologi canggih yang sangat rahasia masih dikuasai oleh negara. Inilah yang dalam bahasa modernnya disebut mixed economies alias perekonomian campuran.
Ketiga Masalah globalisasi kayaknya sudah banyak saya bahas di atas, hanya saja saya tambahkan bahwa lawan dari globalisasi adalah proteksionisme di mana setiap pasar/produk diprotek dengan ketatnya oleh negara, sehingga konsumenpun tidak (begitu) bebas memilih produk yang diinginkannya. Proteksionisme juga masih ada di negara2 maju seperti industri bir di Jerman dan juga produk makanan tradisional dan juga produk pertanian beras di Jepang. Namun mereka mempunyai alasan yang kuat untuk itu. Sebaliknya globalisasi adalah pasar/produk dari suatu negara bebas melintasi batas2 suatu negara tanpa peraturan2 yang ditetapkan oleh pemerintah. Di antara produk2 tersebut, tentu ‘produk2′ internet inilah yang termasuk paling bebas bergerak hampir tanpa kendala dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Nah kalau mbak suka minum Coca Cola, nonton HBO lewat parabola, pergi ke bioskop nonton film Hollywood, dan juga menggunakan WordPress, maka secara nggak langsung mbak telah mendukung globalisasi! Gimana mbak? Mau berhenti blogging dari WordPress guna mendukung antiglobalisasi?
Wah… hmm rupanya belum juga mengerti globalisasi
Ya udah, ada modem, komputer segala rupa itu hanya fasilitator! Apapun yang melintasi wilayah suatu negara (asal), (apalagi) tanpa halangan, tanpa proteksi, larangan dsb., itulah globalisasi!
Saya juga tidak pernah mendewa2kan globalisasi, hanya saja saya tidak munafik bahwa globalisasi itu diperlukan and tidak pernah menyalahkan bangsa ini, saya hanya menyayangkan sebahagian orang saja yang katanya antiglobalisasi tetapi toh pada akhirnya ‘menikmati globalisasi’ dengan pergi ke McDonald’s, minum Coca-Cola, nonton HBO, dan juga menggunakan WordPress. Ok?
O ya lupa….
masalah dikadali globalisasi ..of course, kita jangan mau dikadali siapapun juga! Termasuk dikadali bangsa sendiri yang merusak negara dengan korupsi .. pembalakan liar .. penyalah gunaan jabatan (itu mah termasuk korupsi ya!), dll., yang dampaknya di dalam negeri jauh lebih merusak dan seperti pagar makan tanaman! Ok?
Mau kita negara kita maju … dan pertama peralatan militer kita dulu-in dan janggan sapek ketinggalan ama negara lain. Negara kita negara kepulaoan … jadi pemprentah saya harap, pulao kita yang belom kasih nama, kita kasi nama dulu … jangan kayak tahun yang lalu.
Ingat kah kasus Ambalat ama Malesia??? … rebutan pulao. Padahal kan polau kita kan?? … inggat dongk ama perjuang kita dulu yang susah payah merebut kemerdekan. Masak kita kasi orang gitu aja … enak kan Malesia dong k tinggal nempatin … makaya ter utamain peteran dulu … makasih
————————–
Kurang dari sebulan, kita menyongsong dirgahayu kemerdekaan RI ke-63. Sayang, negara ini masih belum (sepenuhnya) merdeka.
Merdeka dari harga² mahal, merdeka dari sampah, merdeka dari KKN, merdeka dari preman, merdeka dari pengrusakan lingkungan, dll. hiks …
—————————-