Hari pertama puasa. Alhamdulillah, sahurnya tepat waktu. Ga terlalu dini, ga terlalu telat. Pas. Usai sholat subuh, tidur lagi hehehe .. jam 07:15 WIB baru berangkat ke kantor. Ya iya lah, kan jarak rumah – sekarang – ke kantor cuma 700 meter aja. Jadi .. tiba dikantor belum jam 07:30 WIB. Beberapa teman sudah menampakan dirinya di kantor. Tumben. Secara, jalanan masih lengang. Toko2 masih banyak yang belum buka. Beda dari hari kemaren .. jam segitu, orang2 sudah hilir mudik. Sibuk kabeh.
Di atas meja kerja ku .. gelas air putih yang biasanya nangkring, kali ini sudah tidak ada lagi. Kebiasaan setiap pagi. Kalau sampai di kantor, aku langsung minum air putih. Kemudian aku melihat sepucuk surat. Ah .. surat undangan, rupanya. Langsung ku baca .. ternyata undangan buka puasa bersama sekaligus tarawih berjama’ah .. syukurnya buat besok, karena hari pertama puasa – biasanya – aku khusus kan berbuka puasa dengan keluarga.
Bagaimana dengan hari ketiga dan selanjutnya? Kalau kamu .. dimana? Kalau saya .. ga ada rencana khusus. Biasanya tergantung kerjaan .. kalau pas sedang ada tugas keluar kota hingga malam, ya sering berbuka puasa di jalan atau di masjid yang kebetulan dilewati. Tapi kalau sedang pelatihan atau meeting .. ya berbuka puasanya di mess kantor atau di hotel. Tergantung akomodasi yang disediakan.
Seminggu sekali – biasanya – buka puasa bareng teman2 kantor bersamaan dengan tarawih berjama’ah. Sekali dua, saya mengundang sahabat atau saudara untuk buka puasa di rumah. Selebihnya .. buka puasa di rumah bareng keluarga. Dan ritual yang aku lakukan ketika berbuka, minum segelas air putih dan beberapa biji kurma. Jika masih “cukup tempat” .. baru aku minum minuman lainnya dengan satu dua wadai (bahasa banjar untuk menyebut kue2 basah) setelah itu sholat maghrib berjama’ah.
Makan malam baru ku lakukan usai sholat maghrib. Dimana kondisi perut sudah siap untuk diisi. Beberapa sahabat – kalau kebetulan berbuka di rumah ku – selalu aku katakan kalau berbuka tidak langsung menyantap hidangan utama. Maklum, ada beberapa orang yang punya kebiasaan kalau berbuka langsung makan nasi. Bagaimana dengan kamu?




32 responses so far ↓
undercover // Thursday, 13 September, 2007 at 15:15
Bagaimana dengan saya?
Duh gimana ya, yang jelas saat ini .. disini waktu sudah menunjukkan pukul 16:19 WITA, pikiran saya isinya udah yang nggak-nggak deh bang. He … buka puasa tinggal beberapa jam lagi. Met buka puasa bang…
doeytea // Thursday, 13 September, 2007 at 15:38
Hari pertama ramadhan ku sungguh memprihatinkan. Jauh dari anak istri. Jam 3 pagi bangun, malas cari makan di luar, akhirnya makan mi instan plus telor.
Ngaji sambil nunggu subuh. Habis sholat gak bisa tidur lagi. Jam 6.30 sudah di kantor, langsung ngeblog
. Buka nanti seperti biasa, di warung makan deket kost atau di warung tenda kalibata. Just as usual.
deKing // Thursday, 13 September, 2007 at 19:01
Buka puasa dimana? Di tempat di mana ada makanan yang bisa (dan benar2 bisa) saya makan
undercover // Thursday, 13 September, 2007 at 19:30
Mungkin buat sebagian orang pertanyaan itu adalah pilihan ya bang? Pilihan bukan karena ketiadaan tapi justru sebaliknya. Pilihan karena ada banyak ketersediaan yang memungkinkan sebagian orang untuk memilih tempat berbuka puasa, menu yang disediakan yang menyenangkan, bisa memuaskan keinginan balas dendam setelah seharian menahan perut keroncongan dan haus karena dahaga.
Tapi bagaimana dengan sebagian orang dan banyak lagi orang yang kurang beruntung? Mungkin, pertanyaan “Buka Puasa Dimana” tentu sebuah kondisi yang membingungkan ya bang? Yah, semoga aja kita gak akan lupa esensi dari puasa itu sendiri. Dan diakhir ramadhan nanti, kita akan menjadi orang2 yang lebih peduli.
cK // Thursday, 13 September, 2007 at 20:57
Saya bangun untuk sahur .. kecepetan. Akhirnya molor lagi huehehe … berhubung sebelum-sebelumnya udah puasa, jadi Alhamdulillah nggak ada masyalah di hari pertama puasa ramadhan ini. Buka puasanya di kantor karena kerjaan belom beres.
Sendirian pula karena kantor sudah sepi. Akhirnya buka pake air putih. Terus baru balik dari kantor sekitar jam 18:15 WIB. Berhubung kantor dekat dengan rumah, jadi cepet sampainya dan di rumah sudah menunggu hidangan buka puasa. Selamat berbukaaaa…
cK // Friday, 14 September, 2007 at 04:06
bang, saya ada tips & trik di bulan ramadhan nih.
siapa tau berguna
azer10 // Friday, 14 September, 2007 at 04:35
Alhamdulillah buka puasa pertama di bisa dirumah, biasanya saking banyaknya kerjaan kudu pulang malem! .. dirumah banyak banget hidangan yang tersedia ampe bingung milihnya. Kebetulan lagi pada ngumpul jadi tambah seru aja banyak ponakan, tp sayangnya mereka lagi sakit tapi mereka tetep sibuk ketika yang lainnya ikut berbuka. Selamat berpuasa pak….
alex // Friday, 14 September, 2007 at 05:03
Patokan puasa itu *IMHO* memang hari pertama, ya. Aku ini kalo hari pertama udah sukses, hari berikutnya udah makin mudah rasanya
Maaf, OOT ini, aku panggilnya Mas, Bang
*lirik komen tante chika*, atau Pak ini?Bachtiar // Friday, 14 September, 2007 at 13:41
Saya buka puasa gak langsung makan nasi … wkwkwkw
passya.net // Friday, 14 September, 2007 at 16:58
berbukalah dengan yang maaaniiiiiiissss….
*pesan sponsor bo*
hoek // Friday, 14 September, 2007 at 18:13
buka puasa di sate jamur pak singgih aja! didepan Margono Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.
*sales mode off*
salam kenal bang erander!
met puasa ya bang!
sori OOT>.< (mohon dimaafkan, kan lagi bulan puasa?)
peace!
hoek // Friday, 14 September, 2007 at 21:57
eh, sate jamur itu bikinan bapak saia lho!
tapi skarang saia uda mandan bosen negh. bang erander mau?
*nelpon DHL express buat nganterin sate jamur*
ew, OOT lagi deh…
hoek // Friday, 14 September, 2007 at 21:59
skalian hetrik ah…
ew bang, saia add ke blogroll ya?
alex // Friday, 14 September, 2007 at 22:46
Walah.. orang sumatra juga tho?
*kaget, terus lirik2 tuan di seberang*
Uhm.. uhm… banyak dari andalas yang
berkeliaranbergentayanganmenulis di wordpress ini ya?Amed // Friday, 14 September, 2007 at 23:17
Saya buka puasa bareng Wakil Walikota Banjarmasin loh, di Coffee Shop Swissbel Hotel.. Hwehehe…
*Lirik Hoek*
Mrs. Neo Forty-Nine // Saturday, 15 September, 2007 at 00:01
mohon maaf Bang Eby, Siw lagi sibuk TM…jadi ndak bisa komen
Mrs. Neo Forty-Nine // Saturday, 15 September, 2007 at 00:08
tapi siw biasanya buka puasa di Masjid
superkecil // Saturday, 15 September, 2007 at 11:39
@ -cK-
ih, pasti sblm2 puasa baru shaum qadha’ ya???
bang saia blum ngrasaian buka puasa bulan ini…
higz higz…
Mrs. Neo Forty-Nine // Saturday, 15 September, 2007 at 19:06
sst…jangan bilang bilang kalo Siw SMS pas Rafting ya Bang?
Muhammad Hafiz // Sunday, 16 September, 2007 at 10:32
Jangan Berbuka shaum Dengan Yang ‘Manis’
BENTAR lagi Ramadhan. Di bulan shaumitu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka shaumlah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon,itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.” Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka shaum dengan air.
*Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) .*
Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate). Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka shaum dengan makanan atau minuman yang manis adalah ’sunnah Nabi’. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka shaumdengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.
Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka shaum ‘disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka shaumdengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis. Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa ‘manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal. Kenapa berbuka shaum dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.
Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin. Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.
Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah ‘ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, “bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa”. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau.
Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah ‘manisan kurma’, bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya. Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks.
Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan shaumyang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa. Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti ‘buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah ’sunnah’, maka shaumbukannya malah menyehatkan kita.
Banyak orang di bulan shaumjustru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya ‘rajin shaum= rajin berbuka dengan gula.’ Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, “berbukalah dengan yang manis-manis” itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka shaumyang keliru di tengah masyarakat.
Yang jelas, ‘berbukalah dengan yang manis’ itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan. Semoga tidak termakan waham umum ‘berbukalah dengan yang manis’. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.
Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong. Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah.
“Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)
Semoga bermanfaat..
Sawali Tuhusetya // Sunday, 16 September, 2007 at 23:24
Bulan Puasa biasanya memberikan pengalaman religius buat saya. Tapi untuk tahun ini saya belum mendapatkannya. Kapan ya, pak, pengalaman religius itu saya dapatkan hingga mampu menambah nilai religius di hati dan dada saya.
OK, Pak, selamat berpuasa, semoga lulus hingga har-hari terakhir, amiiin.
antobilang // Monday, 17 September, 2007 at 00:53
Buka puasa buat anak kost, ya di masjid terdekat. Timing harus pas, kalo gak, bisa kehabisan .. eh tapi, kalau menurut saya, berbuka langsung pakai nasi itu kok cenderung berlebihan ya? perutnya bisa kaget kan?
Adit // Monday, 17 September, 2007 at 06:58
Kapan Neh … buka puasa bareng lagi .. Masih ingat kan … kita buka puasa di Balikpapan ama teman-teman …!!!
urie // Monday, 17 September, 2007 at 08:37
Alhamdulillah … semuanya diberi kesehatan, jadi masih bisa menikmati hidangan buka puasa yang menggoda selera … Ane jadi ngiri nih … (ga boleh ya?), dari hari pertama puasa mulai radang tenggorokan dan batuk jadi gak selera semuanya. Jangankan untuk makan .. minum aja sakit … tapi alhamdulillah masih tetap puasa he..he..he….
* dikantor lagi wabah flu nih Bang – lagi banyak debu kali ye….*
itikkecil // Tuesday, 18 September, 2007 at 08:06
Bukanya bisa apa aja bang … yang penting bersama orang-orang tersayang
erander // Tuesday, 18 September, 2007 at 09:22
Selasa, 18/09/2007 08:18 WIB
Manfaat Kurma Saat Ramadan
Fatichatun Nadhiroh – DetikSurabaya
Surabaya – Menyantap buah kurma pada saat berbuka puasa di bulan Ramadan, bukan sekadar untuk menjaga tradisi. Ternyata kurma mengandung mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti zat besi, magnesium, dan kalium. Zat besi sangat penting untuk mencegah anemia gizi besi atau lesu darah.
“Bagi umat Islam, berbuka puasa dengan kurma sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW. Barangsiapa yang mempunyai kurma ketika berpuasa, hendaklah berbuka dengan kurma,” kata Direktur RSU Haji Surabaya, Prof dr dr Rochmad Romdhoni SpPD(K) SpKJ(K), Rabu (18/9/2007).
Diaa menambahkan, pilihan kurma sebagai makanan pembuka yang sehat di bulan puasa ternyata bukanlah tanpa dasar. Zat-zat gizi yang terdapat dalam buah ini bisa mencegah lemas dan malas saat berpuasa.
Selain nilai energi dan vitamin yang sangat tinggi, kandungan gula kurma sebagian besar merupakan gula-gula monosakarida, sehingga mudah dicerna oleh tubuh. Gula-gula itu antara lain berupa glukosa dan fruktosa.
“Bahkan mampu meningkatkan kebasahan lambung yang terlalu asam setelah 13-14 jam tidak memperoleh makanan dan minuman,” tambahnya.
“Bila dibandingkan dengan nasi yang penyerapan dalam tubuh membutuhkan waktu berjam-jam, penyerapan gula kurma di dalam tubuh cukup cepat. Yakni, sekitar 45-60 menit. Itu sebabnya kurma merupakan makanan yang sangat baik untuk berbuka puasa karena dapat menyuplai asupan energi secara cepat,” jelasnya.
Dalam kurma juga terdapat asam salisilat yang biasanya digunakan sebagai bahan baku aspirin. Asam salisilat bersifat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi (radang), dan menghilangkan rasa ngilu maupun nyeri.
Selain itu, kurma dapat mengendalikan hipertensi dengan mengatur kadar prostaglandin yang turut berperan dalam proses tekanan darah.
Namun, penderita diabetes melitus tidak boleh terlalu banyak mengonsumsi kurma. Kandungan gula monoskarida yang cukup tinggi dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat.
Dalam jangka panjang, konsumsi makanan yang mengandung salisilat tinggi seperti kurma diharapkan memberikan fungsi yang kurang lebih sama dengan aspirin terhadap pencegahan stroke dan serangan jantung.
Kurma juga mengandung asam nikotinat dan hormon potuchsin. Hormon tersebut berperan untuk mencegah perdarahan rahim melalui efek penciutan pembuluh darah. Kurma mempunyai manfaat lain, yaitu mengurangi ketegangan mental, histeria, dan insomnia. (fat/fat)
'K, // Tuesday, 18 September, 2007 at 12:35
Kayanya sbulan ini saya bukanya dirumah aja ..
Secara ga bs kmana2 ..
hehehe
Yari NK // Wednesday, 19 September, 2007 at 14:05
Yaah … mas Eby dimutasikan ke Balikpapan? Makin jauh dong!
Padahal aku mau ke Madiun, ingin nantangin mas Eby berkelahi satu lawan satu! Huehehehe … becanda kok Mas Eby!
Ya udah … selamat pindah ke Balikpapan ya! Mudah-mudahan dari sana tetap nge-blog ya!
pr4s // Wednesday, 19 September, 2007 at 21:12
Berpuasa di Rig agak lain. Di rig punya schedule kerja 12-12, artinya dalam 24 jam ada 2 shift kerja. Kebetulan saya kebagian shift kerja dari jam 12 siang sampai jam 12 malam. Biasanya setelah usai kerja, jam 12 malem langsung makan yang banyak. Trus tidur ga sahur lagi hehehehe. bangun-bangun udah jam 12 siang. Masuk kerja, cek cek cek…. jam 6 udah buka. Ga berasa puasa di rig.
mataharicinta // Thursday, 20 September, 2007 at 11:33
puasa pertama di tempat neng di goncang gempa, pagi-pagi jam 7 kurang. jadinya abis itu malah gak konsen. biasa deh om, kurang tidur kalo udah gempa gitu. tapi alhamdulilah setelah itu kita jadi terbiasa.
kalo urusan buka, neng biasa icip yang manis2 dulu. sambil nyempal perut sama makanan pembuka. tapi biasanya sih jadi sering gak makan nasi lagi. bad habit ni:(
Yoyok // Friday, 21 September, 2007 at 15:37
Hi guys .. buka puasa enaknya di rumah kali ya. Bareng keluarga … Kalo buka sendiri mah gak seru
Anak Yatim Tak Pantas Makan Pudding « herdy undercover // Sunday, 30 September, 2007 at 19:31
[...] sandiwara kolosal bertajuk “Buka Puasa Bersama”. Dalam hati saya tertawa geli, ah yang betul? Buka puasa bersama bagaimana maksudnya? Bersama siapa? Bukankah kalian berbuka puasa bersama dengan komunitas yang [...]