KU LETAK KAN KATA DISINI

Ku jemput takdir ku …

Jumat, 5 Oktober, 2007 · & Komentar

engine.gif Hari ini .. pikiran dan tenaga ku seakan terkuras habis. Kurasa .. ini cobaan yang paling berat yang ku rasakan selama menjalankan ibadah puasa kali ini. Tenggorokan ku terasa kering. Dan matahari diluar sana pun, tak bersahabat. Memanggang bumi, meluruhkan peluh. Aku terus menyebut nama-Nya. Berharap Dia memahami kekeliruanku. Berharap diberikan ampunan atas segala alpa. Dan waktu seakan ikut berhenti mengejar harapan.

Hari ini .. seakan peristiwa enam belas tahun berarak di depan mata. Membuat ku merasa menjemput takdir ku kembali akan perkataan ku yang diuji oleh Sang Maha Esa. Akan pikiran ku yang dipertanyakan oleh Sang Maha Kuasa. Akan niat ku yang diragukan oleh Sang Maha Pemberi. Agar aku tidak tersesat jalan. Agar aku tidak sombong ketika berhasil dan tidak sedih ketika gagal. Agar aku melakukan semua itu semata2 karena mengharap ridho-Nya.

Hari ini .. ku jemput takdir ku dengan ikhlas seperti pengakuan ku pada Nya bahwa hanya pada Dia aku menyembah dan mengantungkan segala hidup ku. Ku jemput takdir ku dengan tulus seperti menerima segala siksa dan nikmat yang diberikannya kepada ku. Karena Dia lebih tahu apa yang terbaik buat ku karena aku ini hanya mahluk ciptaan-Nya.

Note : Terima kasih pada Ade yang telah mengirimkan SMS tak kala postingan ini sedang saya tulis : “Saat wiken tiba .. saatnya recharge your energy .. tersedia waktu luang untuk diri sendiri .. istirahatlah .. lepaskan penat, bebaskan beban diri .. have a nice weekend.

Kategori: Keheningan jiwa

29 tanggapan so far ↓

  • caplang™ // Sabtu, 6 Oktober, 2007 pada 01:42

    yeah pertamax!!
    Itu yg kirim sms Ade jendral bayut yak? :D
    ——————————-

    Oh .. bukan. Itu sahabat ku yang kerja di IBM.

  • aRuL // Sabtu, 6 Oktober, 2007 pada 02:10

    @ caplang :: pikirnya bayut mulu…. liat dong linknya… :P

    Takdir tidak perlu dijemput bang, tapi dihadapi :)
    ——————————-

    Jika abang kutip dari mas Wikipedia : “Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

    Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).

    Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah” .. oleh karena itu abang memberi judul menjemput takdir.

  • cK // Sabtu, 6 Oktober, 2007 pada 20:34

    takdir…
    datang tak dijemput, pulang tak diantar…

    *jadi kayak jelangkung* :lol:
    ——————————-

    *ngakak :lol: sampai terguling-guling*

    Lu tu ya .. bisaaaaa aja

  • Hanna // Sabtu, 6 Oktober, 2007 pada 22:04

    Saya percaya takdir itu ada, tapi jangan ngampang nyerah. Selalu berusaha dan iringi dengan doa.
    ——————————-

    Benar mbak Hanna .. jangan pernah menyerah tapi juga jangan pernah jumawa.

  • Sawali Tuhusetya // Minggu, 7 Oktober, 2007 pada 00:50

    Takdir memang berbeda dengan nasib ya Pak Erander. Takdir itu sudah menjadi ketentuan Allah sehingga tak seorang pun bisa mengubahnya. Sedangkan, nasib bisa diubah agar mampu *halah* menciptakan kehidupan yang lebih baik, dunia-akhirat. Percaya kepada takdir itu bisa juga berarti menyerahkan semua hidup kita kepada-Nya. Kira2 bener begitu nggak, Pak?
    ——————————-

    Yaaa gitu deeh .. bukankah salah satu dari rukun iman adalah percaya pada qadar?

    Postingan ini saya tulis .. ketika saya sudah all out berusaha dan berencana dengan akal manusia, tapi akhirnya semua berjalan sesuai takdir yang Allah berikan pada saya. Ketika saya yakin dan pede (dengan ilmu pengetahuan saya) .. sering kali hasilnya “kurang pas” sebaliknya ketika saya mengerjakannya dengan tulus dan pasrah (dengan hati nurani) .. sering kali hasilnya malah “melebihi” harapan saya.

  • pr4s // Minggu, 7 Oktober, 2007 pada 01:10

    Speachless………..
    ——————————

    *duduk di atas sajadah*

  • passya.net // Minggu, 7 Oktober, 2007 pada 10:14

    *sedang mencari orang yang mau berbagi menjalani takdir dengan saya*
    ——————————-

    Mencarinya dimana? .. jika waktu dan tempat-nya tepat, Insya Allah mas Passya pasti ketemu dengan seseorang yang siap berbagi takdir. Bukankah orang yang berpuasa, doa-nya lebih mudah dikabulkan-Nya? Kalau sudah dapat, kabari ya .. atau buat postingan di blog mu.

  • danalingga // Minggu, 7 Oktober, 2007 pada 11:01

    Semoga bisa senantiasa ikhlas dalam takdir yang bagaimanapun.
    ——————————-

    Postingan diatas memang ingin mengiring ku ke dalam ke-ikhlas-an yang kafah. Ikhlas tanpa syarat. Seperti ketika aku membaca surat Al-Ikhlas .. tanpa ragu akan ke-esa-an-Nya.

  • hoek // Minggu, 7 Oktober, 2007 pada 11:02

    Ah ya, takdir … emang kalo uda didefan ada takdir, kita cuma bisa njalanin dengan sebaik-baiknya … be te we, gimana wikennya bang?
    ——————————

    Wiken dirumah aja. Segera packing buat berangkat ke tempat tugas yang baru. Rencana berangkat usai lebaran kaya’nya batal .. peristiwa inilah yang melahirkan postingan di atas. Apapun yang sudah saya rencanakan dengan matang dan akurat untuk berangkat tanggal 22, akhirnya harus mengikuti takdir-Nya .. jika aku harus berangkat tanggal 10-an.

  • undercover // Minggu, 7 Oktober, 2007 pada 23:19

    Bagi yang ikhlas menjalani hidup semata-mata untuk beribadah kepada Nya, baik ato buruk yang menimpa atau yang kita lihat dari orang lain saudara kita, bukankah itu guru ya bang?

    Baik adalah guru agar kita juga bisa menjadi baik seperti dia, buruk yang kita rasakan adalah guru agar kita tidak berlaku seperti apa yang kita nilai buruk.

    Jadi kenapa gusti Allah terkadang menghadapkan kita kepada cobaan, tidak lain agar kita juga bisa tahu bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang gagal. Agar kelak di lain waktu – jika Allah menghendaki – kita akan menjadi “si Bijaksana”.
    —————————

    Setuju .. dengan kata lain, ketika kita berhasil .. itu semua bukan semata2 karena kehebatan kita, tapi karena kehendak-Nya. Dan ketika kita gagal – padahal semua sudah direncanakan secara matang – bukan berarti keteledoran kita, tapi semua karena kehendak-Nya.

  • syafriadi // Senin, 8 Oktober, 2007 pada 11:52

    Gmn caranya ya spy ikhlas 100% ?
    ——————————

    Pertanyaannya simple .. tapi cukup repot menjawabnya. Saya pending dulu ya.

  • itikkecil // Senin, 8 Oktober, 2007 pada 15:26

    manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan…

    *eh, OOT gak ya????*
    ————————————

    *Justru OOT nya yang OOT*

  • almascatie // Senin, 8 Oktober, 2007 pada 18:00

    Takdir harus dijemput?

    Uhmmm .. terasa bersemangat sekali bang ikhtiarnya … biasanya hanya ada “terserah” “semua itu takdir” dan segala kata2 penyerahan tapi kalo menjemput .. waow hebat ..

    Tidak hanya ada berserah diri, ikhtiar, doa dan semangat sekaligus penyerahan diri semua milik yang berkuasa :)
    ——————————-

    Ya Al .. tadinya abang hampir menyerah .. tapi, abang ingat bahwa menyerah berarti kalah. Oleh karena itu, abang menjemput takdir. Sepahit apapun akan abang hadapi. Karena apa? .. karena abang yakin .. Allah ga mungkin membiarkan abang sendiri. Dan Allah ga mungkin memberi cobaan yang tidak bisa abang pikul. Jadi .. abang jemput takdir itu untuk abang jalani bukan menghindar atau menyerah.

  • nchiek // Senin, 8 Oktober, 2007 pada 20:31

    Lho koq jadi sedih geneh seh? ..

    Pikiran dan tenagaku terkuras habis tidak hanya hari ini, tetapi rasanya setiap hari deh …
    ——————————

    Loh .. koq malah mbak yang curhat sih .. hwakakak :lol: masa sih setiap hari mbak? Emang kerjanya dimana? Yang pasti bukan dipelabuhan kan???

  • 'K, // Senin, 8 Oktober, 2007 pada 23:06

    Takdir memang kejaaam ….

    Inimah lagu yg dibredel dulu yaa .. Btw speaking of takdir, saya liatnya disini lah ujian drpada kepasrahan dan keikhlasan manusia pada Tuhannya. Bagaimanapun kita berusaha .. Tuhan juga yg menentukan .. tinggal bagaimana kita nyikapi takdir kita itu. Selalu bersyukur or mengumpat penuh dendam ..
    ——————————–

    Pembredelan lagu itu juga sebagai takdir dari lagu tersebut. Sudah cape2 diciptakan .. trus ga boleh diperdengarkan. Contoh yang pas ‘K untuk sebuah takdir.

  • iman brotoseno // Selasa, 9 Oktober, 2007 pada 01:03

    Semua khan jalan rahasia Tuhan .. Minal aidib wal faidzin
    ——————————

    Itulah nikmat-nya hidup. Seperti kita menyaksikan film yang seru, yang ending-nya belum bisa ditebak.

  • Pacaran Islami // Selasa, 9 Oktober, 2007 pada 05:44

    “… Karena Dia lebih tahu apa yang terbaik buat ku …”

    Ihdinash shiraathal mustaqiim….
    Aamiiin.
    ——————————-

    Subhanallah .. terima kasih Pak Shodiq. Semoga saya selalu dapat membaca petunjuk Allah ke jalan yang lurus karena saya yakin Allah selalu memberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Hanya saja .. saya yang sering salah membaca arah.

  • Indry // Selasa, 9 Oktober, 2007 pada 09:26

    Ooo jadi … ke BPP tgl 10 ya? Rabu besok doong … Wah gemana dong dg pesta Perpisahan Kita? .. H-3 yang paling pas ya buat mudik bang … Ops sorry OOT …
    ——————————-

    Oya .. sudah ada kepastian bahwa tgl.22 Oktober 2007 abang sudah harus aktif di Balikpapan. Jadi abang berangkatnya tgl.19 Oktober 2007 .. ga jadi tgl.10 Oktober 2007. Jadi kalo mau farewell party .. biasa aja sih. Tarik maaaanggg

  • Yari NK // Selasa, 9 Oktober, 2007 pada 13:49

    Jadi balik ke Balikpapan? Ok … selamat balik deh ya! :(

    **sedih nggak bisa ngerogoh2 kantong nyari duit lagi ditinggal mas Eby**
    ——————————-

    *buru2 setor ke bank biar ga bisa dirogoh2 lagi*

  • anggara // Selasa, 9 Oktober, 2007 pada 14:40

    erhm, takdir yaa?? .. btw takdir bisa diubah nggak yaa pak?
    ——————————-

    Ga bisa

    Ini menurut pendapat saya ya .. takdir itu sudah tertulis, seperti flow chart dengan banyak kemungkinan. Yang bisa kita ubah adalah “membelokan” takdir. Sebelumnya mengarah ke arah yang “buruk” .. tapi karena kita “berkomunikasi” terus dengan Sang Pencipta Takdir .. tanpa kita sadari, kita “dibelokan” ke takdir yang “baik”. Jadi .. sebenarnya bukan takdirnya yang diubah, tapi arahnya yang berubah.

    Untuk sementara, begitu pendapat saya.

  • kurtubi // Rabu, 10 Oktober, 2007 pada 02:02

    Aku terus menyebut nama-Nya.

    pastilah Dia menyebutmu, kau mendekat sejengkal, Dia selangkah, kau mendekat berjalan, justru Dia mendekat dengan berlari … :)

    Semoga itulah takdirmu …
    ——————————-

    Subhanallah .. Ya Allah, Engkau tunjukan Diri-Mu dari kata2 sahabat ku.

    *ambil sapu tangan*

  • kangguru // Rabu, 10 Oktober, 2007 pada 11:14

    OOT :
    Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H
    Taqabalallahu minna wa minkum, shiamanaa wa shiamakum…
    Mohon maaf lahir dan bathin yaaa… :)
    ——————————-

    Iya nih .. tapi gpp .. kan sudah minta maaf.

  • calonorangtenarsedunia // Jumat, 12 Oktober, 2007 pada 21:09

    Takdir..

    Takdir..

    Takdir..

    adalah takdirku untuk abang maapin .. hehe
    ——————————-

    Pasti abang maapin setelah Hana memilih satu diantara delapan orang calon hwakakak :lol:

  • KEMUNDURAN ISLAM (PART 4) « hamba // Rabu, 17 Oktober, 2007 pada 23:45

    [...] pulsa, ada koneksi kejaringan, tapi tak bisa buat komunikasi apa apa, bahkan untuk mengirim 1(satu) SMS [...]

  • Pemilihan Top-Posts September-Oktober 2007 « M. Shodiq Mustika // Senin, 19 November, 2007 pada 01:53

    [...] d. Ku jemput takdir ku    [...]

  • Menjadi kaya .. « KU LETAK KAN KATA DISINI // Selasa, 25 Desember, 2007 pada 18:16

    [...] 24 Comments Mengapa tidak?? .. tapi jalan menuju kesana banyak caranya. Ada yang mengikuti takdir seperti aliran sungai yang meliuk2 menuruni kontur bumi dari puncak gunung hingga terdampar dimuara [...]

  • Pilihan « Generasi Biru // Minggu, 4 Januari, 2009 pada 22:46

    [...] sebagian orang yang berpendapat bahwasanya apa yang menjadi pilihan hidup itu adalah sebuah garis takdir, buat saya justru apa yang kita pilih justru itulah takdir sekalian [...]

  • Focus On IT » Blog Archive » Pilihan // Selasa, 6 Januari, 2009 pada 00:01

    [...] sebagian orang yang berpendapat bahwasanya apa yang menjadi pilihan hidup itu adalah sebuah garis takdir, buat saya justru apa yang kita pilih justru itulah takdir sekalian [...]

  • ayu // Minggu, 25 Januari, 2009 pada 22:02

    Ketika takdir udah dihadapkan dengan kita, kita sebagai mahluk Allah cuma biss pasrah karena mungkin itu semua adalah yang terbaik ..

    Tapi kadang terlalu banyak rencana Allah yang gak akan pernah kita tw .. n itu bisa m’bawa kebahagiaan atau kesedihan bwt qta..
    —————————

    Yang pasti .. pasrah bukan berarti kita diam kan mbak?

Tinggalkan sebuah Komentar