KU LETAK KAN KATA DISINI

Jangan terlalu banyak bertanya !!

Sabtu, 3 November, 2007 · & Komentar

Kaget !! .. sebenarnya ga juga sih. Soalnya, beberapa kali aku sering di protes oleh keluarga ku atau sahabat ku kalau aku sering banyak bertanya. Mereka cenderung mengatakan aku cerewet. Apa yang salah dengan banyak bertanya?? .. Apa karena mereka ga mampu menjawab pertanyaan ku?? atau apa bertanya itu menggambarkan otak ku yang ga mudeng2?? .. yang pasti, suara yang keluar dari stereo set di dashboard kendaraan ku mengatakan : “Jangan terlalu banyak bertanya.” Saat itu, matahari sudah mengambil posisi di ufuk barat. Aku baru pulang kantor menuju ke “surga” ku .. rumah, maksud ku. Di display stereo set tertera angka 89.5 FM .. Radio IDC Balikpapan yang tiap sore menjelang maghrib menyiarkan kata2 penyejuk kalbul.

Jangan terlalu banyak bertanya. Berkali2 kata itu masuk ke telinga ku. Memenuhi otak dan hati ku sambil tetap berkonsentrasi mengemudi. Sehingga tidak semua tertanggap jelas.

Alkisah terjadi di jaman para nabi. Diceritakan .. ketika umat pada saat itu diperintahkan Tuhan untuk menyembelih seekor sapi sebagai bentuk pengabdiaan pada sang pencipta. Saat mendengar perintah seperti itu, umat bertanya pada sang Nabi. Disinilah awal pembahasan sore itu. Padahal .. ketika perintah itu diberikan, seharusnya umat langsung melaksanakannya tanpa banyak bertanya, sebagai bentuk dari keimanan. Tuhan ingin memberikan kebebasan pada umat-Nya untuk menafsirkan perintah tersebut.

“Ya Nabi .. sapi seperti apa yang harus kami sembelih?” karena umat bertanya .. maka yang seharusnya umat memiliki kebebasan untuk menyembelih sapi jantan atau betina menjadi dipersulit, yaitu sapi jantan.

Lagi2 .. ketika dikatakan sapi yang yang harus disembelih adalah sapi jantan, umat kembali bertanya. “Ya Nabi .. sapi yang berumur berapa yang harus kami sembelih?” .. seandainya, umat itu tidak bertanya, tentu mereka bebas untuk memilih umur berapa saja yang boleh disembelih. Tapi karena umat bertanya, maka ada jawabannya. Yaitu tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.

Kembali .. umat bertanya setelah tahu yang disembelih adalah sapi jantan yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. “Ya Nabi .. sapi yang warna apa yang harus kami sembelih?” seperti tadi .. karena bertanya terus .. maka dijawab lagi. Sapi yang warna coklat. Padahal sebelumnya, umat memiliki banyak kemungkinan untuk menyembelih sapi warna apa saja.

Begitulah .. semula adalah kemudahan yang ingin diberikan tapi karena ditanya terus malah jadi makin sulit dan tidak punya pilihan lain. Padahal Tuhan ingin memberikan kemudahan pada umat-Nya. Tapi umat-Nya malah meminta dipersulit. Hal ini sama dengan cerita ketika Nabi Muhammad didesak oleh sahabat2 dari kalangan muda untuk berperang ke luar Madinah. Sebenarnya Nabi kurang sreg. Tapi karena ditanya2 terus dan didesak .. akhirnya diputuskan untuk berperang ke luar Madinah.

Seperti yang saya katakan tadi .. saya mendengar ceramah tidak dalam konsentrasi penuh. Maklum kawan, sedang nyetir. Kebetulan jalanan macet. Jadi kalau pas sedang berhenti, bisa konsentrasi. Tapi kalau sedang jalan .. lebih konsentrasi untuk mengemudi. Apabila ada teman2 yang mengetahui cerita di atas yang lebih pas .. mohon dikoreksi ya. Saya ga ingin terjadi polemik pada jalan ceritanya.

Esensi yang ingin saya sampaikan adalah kata2 dari sang penceramah : “Jangan terlalu banyak bertanya” .. sedangkan cerita yang disampaikan oleh penceramah sore itu sebagai ilustrasi bagaimana dampaknya kalau kita terlalu banyak bertanya. Bukan kemudahan yang didapat tapi malah kesulitan. Tapi beliau juga tidak melarang untuk banyak bertanya apabila hasilnya mendapatkan kemudahan dan semakin mendekatkan diri pada Sang Khaliq.

Aku baru tersadarkan dari cerita tersebut .. bukankah di dalam Al Qur’an lebih sering dikatakan .. berpikirlah!! bukan bertanya?? Aku tiba2 malu pada diri ku sendiri. Aku tiba2 baru memahami komentar2 keluarga dan sahabat ku .. kalau aku terlalu banyak bertanya.

Bertanya boleh saja .. tapi jangan terlalu banyak. Bukankah Allah tidak suka dengan hal2 yang berlebihan?? .. Allah lebih senang kita berpikir. Tentu juga jangan terlalu banyak. Bisa2 aku ga percaya akan Dia. Karena semua2nya mesti diterima oleh akal. Padahal ada hal2 tertentu – terutama yang menyangkut soal keimanan – tidak perlu dijelaskan oleh akal atau tidak dapat di-logika-kan.

Subhanallah .. terasa plong hati ini. Allah memang tidak menghendaki aku untuk berlebih2an. Berpikir secukupnya. Bertanya secukupnya. Keimanan justru semakin bertambah. Semoga Allah mengampuni aku yang terlalu banyak bertanya. Beberapa kali, Allah cuma ingin aku mengikuti apa yang diperintahkan-Nya (ditakdirkan-Nya) tanpa perlu aku bertanya .. perintah itu untuk membuktikan .. apakah aku benar2 beriman kepada-Nya.

Kategori: Keheningan jiwa

32 tanggapan so far ↓

  • Hanna // Sabtu, 3 November, 2007 pada 12:01

    Vertamaxnya di sini aja.
    ———————–

    Kalo begitu .. Pertamax di sana aja.

  • Hanna // Sabtu, 3 November, 2007 pada 12:04

    Terlalu banyak tidak baik. Terlalu sedikit juga ga bagus. Ya, sedang-sedang sajalah. Tanya seperlunya, jawab seadanya. Postingan bagus, nih. Mengingatkan kita.
    ———————–

    Jadi ingat lagu .. ya sedang2 saja. Ma kasih

  • hoek // Sabtu, 3 November, 2007 pada 14:22

    Hmm … kalo bgidu banyak bertanya dan banyak berpikir, lbih baek lage malah! mhuahuahua .. be te we, itu ummat nabi Musa afa yah? .. bani Israel afa yah? .. kalo ndak salah sih, mereka emang fada finter-finter sangadh, skarang juga kliatan ko’ ..
    ————————

    Kalo emang bisa .. good banget. Bertanya diimbangi dengan berpikir.

    Benar, aku baru ingat sekarang .. kisah itu ada di Al Baqarah ayat 67 s/d 73. Dan kejadian itu pada saat jaman Nabi Musa dengan bani Israel. Bani Israel itu suka banyak nanya ya?? .. apa karena mereka terlalu pintar kurang beriman ya? sehingga semua mesti dibuktikan??

  • deKing // Sabtu, 3 November, 2007 pada 17:01

    Bertanya itu tidak jelek…. asal… tahu batas dan alasan dalam mengajukan pertanyaan

    BTW saya suka kalimat yang ini:

    semula adalah kemudahan yang ingin diberikan tapi karena ditanya terus malah jadi makin sulit dan tidak punya pilihan lain

  • 'K, // Sabtu, 3 November, 2007 pada 20:19

    as they say bang,
    to much of something will kill u ^_^
    ————————

    Ya ‘K .. jadi, jangan terlalu banyak ya?

  • Anang // Sabtu, 3 November, 2007 pada 20:56

    Malu bertanya sesat di jalan
    ———————–

    Entu dia .. jadi ingat kisah seorang artis pendatang baru yang baru tiba di ibukota. Ketika dia bertanya dengan seseorang di pinggir jalan di sekitar Blok M tentang daerah Radio Dalam .. orang tersebut mengatakan, ga terlalu jauh sambil memberikan petunjuk yang jelas.

    Karena si artis itu ga pede dan ga yakin .. beberapa meter kemudian, dia bertanya lagi pada orang lain di pinggir jalan. Nah, orang itu kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan ke Radio Dalam. Singkat cerita .. si artis itu dibawa ke tempat mangkalnya teman2 di orang itu, yang ternyata seorang preman. Jadilah dia “santapan lezat” buat dikuras. Mungkin karena terlalu banyak bertanya .. bukan saja sesat tapi juga juga terkuras.

  • morishige // Minggu, 4 November, 2007 pada 00:36

    Kalo menurut saya, sih .. orang yang berpikir pasti bertanya ..
    *bukan pertanyaan OOT gak jelas tapi ..
    ———————–

    Tapi apa Mas Mor?? .. koq kalimatnya terputus??

    Tergantung sih mas Mor .. ada kalanya, ketika jawaban telah ditemukan dalam proses berpikir .. kita ga perlu bertanya lagi. Kalaupun kita bertanya, mungkin hanya untuk konfirmasi atau memastikan apakah jawaban dari proses berpikir kita itu sudah pas atau tepat.

    Dalam konteks pembelajaran .. bertanya itu perlu. Tapi dalam konteks keimanan .. sering kali tak perlu bertanya. Karena yang dituntut bukan penjelasan ilmiahnya tapi tentang keimanan. Karena .. walaupun sudah dijelaskan secara ilmiah, orang itu akan terus bertanya tanpa pernah beriman walaupun sudah diberikan jawabannya. Untuk sementara, tanggapan saya begitu.

  • GRaK // Minggu, 4 November, 2007 pada 01:12

    “berfikirlah sebelum bertanya”

    Orang yang berfikir dulu tentunya akan memberikan pertanyaan yang berbobot sehingga orang-orang akan merasa baik. Tetapi ketika bertanya tanpa berfikir dulu, pastinya orang-orang itu malas menjawab :)
    ————————

    Saya cenderung setuju dengan GRak .. kalau pertanyaan yang dilontarkan relevan dan ga ngeyel .. diskusi malah makin asik. Membuat wawasan makin bertambah. Sering kali, pertanyaan terlalu investigative .. membuat diskusi menjadi tak nyaman.

  • qzink666 // Minggu, 4 November, 2007 pada 07:10

    Peluklah semua tanyaku ..
    Jawablah dengan caramu ..
    (OST. 9 Naga)
    ———————–

    *searching lirik lengkapnya*

  • cK // Minggu, 4 November, 2007 pada 10:11

    Banyak bertanya itu berarti kritis. Bagus kok. Tapi kadang yang ditanya itu malah merasa disudutkan, makanya mereka protes.

    Beda lagi dengan pertanyaan ga mutu atau ga penting, kadang bikin ngeselin atau males ngejawab. Misalnya .. saya baru bangun dan keluar kamar. Kemudian ditanya, “udah bangun chik?”

    Dan saya dengan santai menjawab “Belum. Chika masih tidur tuh. Lihat aja di kamar.” :mrgreen:
    ————————

    Hwakakak :lol: kebayang deh gimana cara cK ngejawabnya .. rambut awut2an, mata masih belekan trus ngomong pula ..

  • baliazura // Minggu, 4 November, 2007 pada 10:39

    Saya mikir .. apakah saya boleh bertanya..?
    ———————–

    Saya juga mikir .. apakah saya boleh menjawab ..?

  • azer10 // Minggu, 4 November, 2007 pada 11:56

    Wah ga tau .. apakah si abang nyindir saya atau ga ?! Soalnya .. saya sering banget nanya sama abang yang satu ini! .. klo lagi OL pasti langsung di brendel pertanyaan2!! hehehe ..

    Good posting bang :)
    ———————–

    Yang pasti .. postingan diatas gara2 dengar siaran radio. Trus jadi tersadar aja .. kalo agama itu tidak semata2 soal logika tapi juga soal keimanan. So .. kalo bertanya soal pelajaran, soal ilmu pengetahuan, soal investigasi kasus, soal yang duniawi .. abang pikir .. malah sangat baik kalo banyak bertanya. Jadi .. jangan kawatir bro buat mem-brondong abang dengan pertanyaan2 .. sepanjang abang bisa jawab .. Insya Allah akan abang ladeni. Gimana? mau tanya apa? hwakakak :lol:

  • Mrs. Yusuf // Minggu, 4 November, 2007 pada 12:47

    Banyak bertanya bagus kok, dengan catatan : bertanya karena ingin mengerti ..

    Inti dari kisah ini maksudnya .. Gak boleh banyak bertanya kalau pertanyaan itu maksudnya mencari kesalahan orang .. dan di kisah ini Bani Israil itu nanya terus karena mereka sebenernya gak mau menjalankan perintah ini. Jadi .. kira-kira .. ujung dari pertanyaan itu begini “ah, sapi seperti itu susah dicari..”

    Hehehe .. kira-kira begitu penjelasan guru agama saya waktu es-em-a. Kisah ini juga ada di hadist. Jadi .. waktu itu lagi bahas hadist ini di es-em-a .. maaf kalo salah, soalnya lupa, jaman es-em-a siihh .. shishishi :)
    ————————

    Walah .. pake echo (gema) segala hehehe :D

    Good point .. Pak Ibu Yusuf emang oke. Postingan ini lebih pada bertanya tentang agama .. makanya saya kategorikan dalam tag keheningan jiwa.

  • daeng limpo // Minggu, 4 November, 2007 pada 14:59

    Seperti syair lagu dangdut

    terlalu banyak .. jangan!
    terlalu sedikit .. jangan!
    yang sedang-sedang saja .. oya
    yang sedang-sedang saja ..
    ————————

    *joged-joged dengar Daeng Limpo nge-dang dut*

  • cewektulenkebangetan // Minggu, 4 November, 2007 pada 15:51

    Semua yang terlalu memang tidak baik .. :P
    ————————

    Bagaimana kalo terlalu cantik??

  • maisya // Minggu, 4 November, 2007 pada 16:00

    Banyak yang merasa ga nyaman ketika ada orang banyak nanya. Cobain kalo km bnyak nanya about dirinya sendiri and masalah2nya. Dia pasti cerita banyak. Stiap orang butuh phatian dari yang lain. Kalo dia diperhatiin, dia juga merhatiin qta.
    Dont be sad, OK!
    ———————–

    Oya?? saya justru sering “didamprat” gara2 nanya mulu tentang about seseorang .. dia bilang .. ini soal pribadi. Ga usah ikut campur. Nah loh .. piye toh mbak Maisya?? kalo banyak nanya tentang diri seseorang .. ntar dikira wartawan infotainment hwakakak :lol:

  • blogkeimanan // Senin, 5 November, 2007 pada 00:12

    Bertanya itu bagus..
    Terlalu banyak bertanya “kelihatan begonya” ..

    *hehe .. ja-im mode on*
    ———————–

    Entu dia bos ..

  • Adit // Senin, 5 November, 2007 pada 06:49

    Ada pepatah mengatakan “Malu Bertanya Sesat Di Jalan” .. Emangnya enak sesat di jalan. Masih mending sesat di jalan .. klo sesatnya di hutan?? kan berabe … He … he … ya ga bang??
    ———————–

    Iya Dit .. untung abang pernah ke Balikpapan. Jadi ga sesat lagi. Habis .. sudah dua minggu lebih disini, dirimu ga pernah muncul. Emang kemana aja??

  • alex // Senin, 5 November, 2007 pada 15:06

    Allah lebih senang kita berpikir. Tentu juga jangan terlalu banyak. Bisa2 aku ga percaya akan Dia. Karena semua2nya mesti diterima oleh akal. Padahal ada hal2 tertentu – terutama yang menyangkut soal keimanan – tidak perlu dijelaskan oleh akal atau tidak dapat di-logika-kan.

    Idem.

    Iman dan akal itu seiring-sejalan. Yang satu merangkul yang lainnya, kalo bagi saya sih begitu. Jadi…. ketika menemui hal yang otak saya ndak mampu menjangkau, ya iman yang menjelaskan.

    Bertanya itu benarnya bagus, Bang. Cuma terkadang pertanyaan dalam bidang agama lebih sering menjadi semacam pencari-cari pembenaran belaka daripada mencari titik yang tertentu dimana kita bisa sepakat.

    Batasan saya masih jelas satu hal: jangan bertanya zat Tuhan. Itu sudah terlalu angkuh namanya.

    Lha… yang ditubuh sendiri saja manusia banyak ndak paham kok :roll:
    ————————

    Itu dia Lex .. ibarat semut diseberang laut tampak. Gajah dipelupuk mata ga kelihatan.

  • kangguru // Senin, 5 November, 2007 pada 18:04

    Waduh .. sebagai guru saya justru harus memancing murid supaya bertanya pak ..
    ———————–

    Woalah pak pak e .. sampeyan emang kudu memancing murid bertanya sebagai umpan balik apakah mereka paham atau enggak dengan yang sudah bapak terang kan. Kalo murid bapak ga banyak bertanya .. kan bapak ga tahu isi pikiran dan hati mereka. Kirain sudah paham .. eh, giliran ujian dapat 100 jeblok semua.

    Tapi tenang pak .. masih ada kambing hitam. Bapak ga salah koq .. yang salah mereka, koq ga nanya kalo belum ngerti hwakakak :lol: ??

    Beda sama Tuhan pak .. walau bapak diam atau bertanya .. Dia tetap tahu isi hati dan pikiran bapak.

  • extremusmilitis // Senin, 5 November, 2007 pada 23:19

    Bertanya boleh kok bro .. asal emang nanya-nya tulus dan bukan sekedar menanyakan untuk akhir-nya di-jawab sendiri (sering terjadi pada sebagian besar manusia saat ini) :roll:
    ———————–

    Wah kalo yang entu sih nge-test namanya bro hahaha :lol:

  • Mrs. Yusuf // Selasa, 6 November, 2007 pada 08:35

    Waaahh … komennya di taro di atas .. Jadi Maluu Sayah… :oops:
    ———————–

    Koq malu mbak?? kan sekalian promosi blog nya hehehe :D .. komentar mbak itu paling pas dengan ending postingan saya.

  • Shelling Ford // Selasa, 6 November, 2007 pada 10:21

    Bertanya dan berusaha mencari jawabannya, sih, kalo menurut saya. Bukan bertanya lalu cuma menunggu jawabannya.
    ———————–

    Mencari jawaban .. hmm .. kaya’nya lebih menantang adrenalin pikiran kita dibandingkan harus menunggu. Setuju Sat.

  • morishige // Selasa, 6 November, 2007 pada 12:04

    Wehehe .. lanjutan tapi nya saya lupa, om.. hehe.. :-D

    ada kalanya, ketika jawaban telah ditemukan dalam proses berpikir .. kita ga perlu bertanya lagi.

    Pada beberapa kasus, memang pantas untuk seperti itu. Contohnya hal-hal yang menyangkut akidah. :-D Namun .. pada kasus lain, contohnya pada dunia sains, malah sikap selalu bertanya – tentang hal lain – sangat perlu dikembangkan. Hal itulah yang membuat dunia kita berkembang .. dari peradaban seadanya menjadi high tech seperti sekarang.. :-D
    ————————

    Saya setuju aja. Bukankah pikiran adalah karunia Allah yang harus kita gunakan untuk kemajuan mutu kehidupan?? So .. kalo mau belajar, ya memang harus bertanya..

  • almascatie // Selasa, 6 November, 2007 pada 15:08

    Kadang .. dengan bertanya, kecerdasan seseorang dapat diketahui .. namun bisa juga kebodohan seseorang terbayangkan dari pertanyaan yang dikemukakan .. dan masuk jenis apakah pada saat pertanyaan kita lontarkan … hehehheheheh
    ————————

    Apa ya? .. wah bisa jadi bahan postingan tuh.

  • alex // Selasa, 6 November, 2007 pada 16:28

    Kalo menurut komennya extremusmilitis dan almas di atas, maka saya menyimpulkan bahwa pertanyaan paling membosankan adalah pertanyaan retoris :lol:

    Itu lho, jenis pertanyaan yang biasanya dilemparkan saat kampanye :mrgreen:
    ————————

    Hahaha :lol: padahal sebentar lagi musim-nya akan tiba loh .. jadi siap2 bosan deh.

  • yudha // Senin, 12 November, 2007 pada 23:01

    Dari sebuah pertanyaan, akan lahir banyak jawaban, pemikiran, harapan, pembelajaran etc .. seperti masa kecil kita yang penuh tanya .. asal kepada siapakan pertanyaan itu tepat untuk diutarakan??
    ————————

    Masalahnya .. apakah kita menemukan orang yang tepat?? .. dan kalo itu menjadi hambatan. Kita justru tak pernah bertanya.

  • Agama dan Spiritualitas « Fortynine’s Notes // Kamis, 15 November, 2007 pada 12:56

    [...] dan Spiritualitas Ada apa dengan agama? Melihat pertanyaan panjang dari Bang Fertob, Difo, tulisan tulisan di bataknews dan Sora9n di sini. Saya menjadi [...]

  • mataharicinta // Selasa, 20 November, 2007 pada 16:43

    Mau tanya, om/abang (yang mana yang bener nih), gimana caranya supaya tetep dapat duit biarpun gak kerja ya? halah!

    Btw, memang katanya kalo kita kebanyakan nanya, kita sama aja kaya bani Israil. Banyak bertanya, tapi miskin tindakan.
    ————————

    Abang aja kaleee ..

    Hmm … bagaimana caranya kenyang tapi ga makan atau bagaimana caranya ga haus tapi ga minum atau bagaimana hadir di dunia ini tanpa dilahirkan?? halah! :mrgreen:

  • Agama dan Spiritualitas « Generasi Biru // Senin, 10 Desember, 2007 pada 18:54

    [...] Ditulis pada November 15, 2007 oleh Neo Fortynine Ada apa dengan agama? Melihat pertanyaan panjang dari Bang Fertob, Difo, tulisan tulisan di bataknews dan Sora9n di sini. Saya menjadi [...]

  • Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir? « Manajemen Amal // Rabu, 23 Januari, 2008 pada 06:04

    [...] tersebut membawa saya pada pertanyaan: sebaiknya mengubah ataukah memilih takdir? Saya pikir, pertanyaan ini sangat menarik. Karena itu, [...]

  • bedh // Senin, 4 Februari, 2008 pada 00:41

    Yah .. postingan ini sedikit membikin plong bang
    Makasih.
    :D
    ————————

    Gimana Bedh?? sudah sembuh kan??

Tinggalkan sebuah Komentar