KU LETAK KAN KATA DISINI

Menjadi kaya ..

Senin, 17 Desember, 2007 · & Komentar

gold.jpg Mengapa tidak?? .. tapi jalan menuju kesana banyak caranya. Ada yang mengikuti takdir seperti aliran sungai yang meliuk2 menuruni kontur bumi dari puncak gunung hingga terdampar dimuara sungai dan bergabung di lautan luas. Ada yang potong kompas .. menerabas semak belukar yang penting segera tiba di kelimpahan materi. Atau .. ada juga yang mencari jalan beraspal. Selain nyaman, tidak perlu berlama2 atau terluka. Bahkan ada juga yang bisa bertambah kaya akibat kenaikan harga komoditi. Apapun – sepertinya – hidup cuma diisi hanya buat mencari kekakayaan.

Menjadi kaya tidak dosa. Apalagi kalau menjadi kaya karena bertindak kaya .. yaitu tindakan yang di dasari pada ide2 besar, pikiran serta visi besar dan kaya inspirasi, seperti dalam buku Act Rich, Become Rich, karya Michael Masterson. Dan itu adalah hal yang mulia. Bahkan banyak dipuji2 orang. Masalahnya .. tidak semua orang bisa menjadi kaya dengan tindakan2 yang positip tersebut.

Seperti yang dikatakan oleh Marshall Goldman, ahli Uni Soviet (pemantau Rusia) dari Amerika Serikat, tentang istilah ‘robber baron’ yang artinya : adalah orang yang menjadi kaya karena perbuatan yang ‘tidak kaya’. Hmm, apa pula ini?? Goldman menjelaskan .. para baron menjadi kaya dari apa yang sudah ada di negaranya. Misalnya perusahan minyak negara Yukos senilai 3 milyar dollar AS menjadi milik Mikhail Khodorkovsky hanya dengan modal awal 100 juta dollar AS. Ini bisa terjadi, karena prinsip loan for share, alias pinjaman bank milik Khodorkovsky menjadi saham di Yukos.

Jadi .. menjadi kaya karena praktik baik atau buruk, dapat menghasilkan persoalan tersendiri. Menjadi kaya karena kebiasaan baik, tentu tidak akan jadi masalah. Persoalan muncul jika seseorang menjadi kaya karena kebiasaan keburukan, ditambah lagi .. kekayaan tersebut di keep hanya untuk dirinya sendiri .. dengan harapan agar semakin kaya dan bisa masuk dalam urutan TOP 100 orang2 kaya.

Ada satu kalimat yang menggelitik dari Novel Lelakon, karya Lan Fang di halaman 77 “Dalam hidup yang ditakuti bukan kematian, cacat, sakit dan tua. Tetapi justru jatuh miskin! Mati dan tua adalah kodrat. Cacat dan sakit adalah musibah. Tetapi miskin menjadi kaya .. itu usaha yang bisa direncanakan. Makanya .. hidup harus ditata.”

Wah .. apakah menjadi kaya itu mutlak?? jika iya .. jalan mana yang akan kalian pilih??

Kategori: Begini menurutku · Hari yang kulalui · Ku kutip kata

29 tanggapan so far ↓

  • verlita // Senin, 17 Desember, 2007 pada 11:05

    Mo lewat jalan yang biasa-biasa aja … (kayak gimana yah yang biasa2 itu? :D )

    Yang penting .. supaya aman dan tentram di bumi dan aman dan tentram “disana” nanti juga :P

    *sok lurus banget ga sech gw??????*
    ——————————-

    Yang biasa tuh .. hidup hemat tapi tidak pelit. Rajin bekerja tapi tidak gila kerja. Selalu menolong tapi tidak sosialis. Mau berbagi tapi tidak murahan. Pintar tapi tidak membodohi. Menupuk harta untu dibagi2kan lagi. Gitu deh kira2.

  • cK // Senin, 17 Desember, 2007 pada 11:08

    Setiap orang mempunyai hak untuk berusaha membuat dirinya menjadi kaya. Tapi .. kadang jalan yang ditempuh tidak selalu benar bahkan tidak halal.

    Sekarang .. balik lagi ke pribadi masing-masing. Jalan apa yang mereka tempuh demi mendapatkan kekayaan tersebut? .. Mana yang lebih dibanggakan .. kaya harta miskin hati, atau kaya hati miskin harta?

    Saya sih pengennya kaya harta dan kaya hati .. :mrgreen:
    ——————————–

    Good. Btw .. ada ga ya batasan kaya harta?? apa kah kaya harta itu artinya cukup punya asset Rp.1 milyar, Rp.1 triliun atau berapa?? tapi kalo kaya hati .. bisa seluas samudra dan tak ternilai .. sebab kaya hati dapat melahirkan orang2 baru yang merasa dihargai, ditolong, dianggap dlsbnya yang nantinya lahir orang yang kaya hati baru.

  • Hoek Soegirang // Senin, 17 Desember, 2007 pada 11:18

    Hmm … kalo saia milih jalan menjadi kaya dengan cara menjadi miskin
    Jahhh? ngesok misterius sangadh …
    ——————————-

    Seperti dialog antara Mon dan Bulan dalam novel Lelakon karya Lan Nang ..

    “Segala dalam hidup ku sudah ku rencanakan dengan baik dan berjalan lancar. Lihat, aku punya rumah, mobil, kedudukan, suami yang baik, anak2 yang lucu, lingkungan yang menyenangkan, pekerjaan ku punya posisi, uang yang berkecukupan, berlibur ke luar negeri dan masa depan yang bagus! .. Ya! hidupku sudah lengkap!”
    “Oh .. Masih ada yang kurang. Masih ada yang tidak kau miliki.”
    “Apa?”
    “Aku tidak tahu. Kau rasakan lah sendiri.”

    Ketika kemudian Bulan terdepak dari kehidupan serba adanya ..
    “Sekarang aku tidak punya apa2.”
    “Justru sekarang kau memiliki apa yang selama ini tidak kau miliki.”

  • Praditya // Senin, 17 Desember, 2007 pada 11:32

    Yang jelas lebih enak menjadi kaya dan menikmati uang halal… :D
    ——————————-

    Gemah ripah loh jinawi.

  • azer10 // Senin, 17 Desember, 2007 pada 19:03

    Saya yakin bang .. semua orang pada awalnya akan memilih jalan yang lurus. Namun .. pada saat tertentu, mereka menemukan jalan yang mudah tanpa mempertimbangan apakah jalan itu baik atau tidak

    Nah .. kembali ke pertanyaan abang .. jalan mana yang akan dipilih?! Apakah tetap konsisten atau malah melenceng jauh?! seperti kata cK .. kembali ke pribadi masing-masing

    *dingin banget bang disini!*
    ————————-

    Mungkin ada kaitannya dengan keimanan kali ya. Yang bisa turun naik. Ketika lagi bagus .. bisa di jalan yang lurus. Ketika lagi ga bagus .. yaa .. melenceng deh :)

    *lumayan .. ga perlu pake AC kan??*

  • pr4s // Senin, 17 Desember, 2007 pada 20:18

    Menurut saya, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Menjadi kaya akan lebih baik dari pada miskin.

    Tangan diatas lebih baik dari pada di bawah kan ..
    ————————

    Wah .. tepat sekali bapak yang satu ini. Semenjak di Papua .. kaya’nya jadi semakin bijak deh :) btw .. ntar bikin posting tentang lebaran haji di Papua ya.

  • itsme231019 // Senin, 17 Desember, 2007 pada 21:33

    Salam.
    Tapi ada sebagian orang yang berfikir .. entah benar atau salah .. sebagian kelompok agama percaya, bahwa di dunia kemiskinan akan menjadi sahabat karibnya karena kemiskinan di dunia membuatnya yakin bahwa kebahagian akan menjadi balasan di akhirat nanti.

    Sementara .. kekayaan dan kemajuan gak apa-apa berpihak pada “mereka” .. karena itu hanya cobaan saja dan akan membuat mereka mendapatkan kemiskinan di akhirat nanti. Saya tidak tahu .. bagaimana cara pandang ini bisa terjadi.

    Tapi .. saya sejenak berfikir, apakah betul agama mengajarkan hidup dengan kemiskinan? sehingga membuat pemeluknya kagak mau berusaha .. ah masa sih?? Bukankah agama mengajarkan umatnya untuk menjadi tangan diatas, untuk bisa berzakat.

    Bukankah itu artinya .. agama menyuruh umatnya untuk kaya .. tapi tunggu dulu, agama juga mengajarkan empati kemanusiaan. Maka .. ketika kekayaan itu berpihak pada kita, maka kita harus empati sama orang-orang disekitar kita. Biar tidak terjadi akumulasi kekayaan pada segelintir orang.

    Betul gak sobat. So .. kita harus kaya materi dan kaya hati. Sehingga .. kaya hati menjadi guide ketika kita memburu materi. any way .. good stimulation from your posting.
    ——————————–

    Sepertinya .. ga gitu deh. Tapi, yang namanya keyakinan .. susah juga untuk diyakinkan bahwa tidak begitu. Bukankah alam semesta diciptakan oleh-Nya untuk kita pergunakan sebaik2nya untuk kemaslahatan bersama.

    Masalahnya adalah .. kita – manusia – sering kemaruk dalam mengeruk isi alam semesta ini. Maka berlakulah hukam alam, sebab akibat, sunnatullah.

  • Moerz // Senin, 17 Desember, 2007 pada 23:23

    Materi bukan segalanya kan …
    Jadi buat apa kaya kalo kikir …
    ——————————-

    Faktanya .. tetap aja ada orang yang seperti itu kan??

  • deKing yang biasa2 saja // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 00:17

    Kaya yang dalam artian apa Bang?
    Material atau spiritual? Ataukah keduanya?

    Jalan mana? Yang jelas .. jalan yang baik dan benar :D

    BTW kalau kaya(k) monyet gimana ya Bang? :mrgreen:
    ——————————-

    Setahu abang, kalo material itu bahan bangunan .. hwakaka :lol: trus menjadi kaya ke-dua2nya gpp kan?? malah lebih bagus toh?? masalahnya jalan yang baik dan benar itu sering ga ketemu.

    Kalo kuma kaya(k) monyet mah .. gpp deKing ..
    Asal jangan kaya(k) manusia aja kalee.

  • Mrs. 49 Lagi di Lab // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 01:18

    Seorang bisa dikatakan kaya karena ada pembanding.

    Bisa jadi .. saya dikatakan miskin meskipun aset saya 900 M *mau saya traktir dimana Bang?* :cool: .. hal itu bisa terjadi karena di sekitar saya adalah orang orang dengan aset minimal 20 Trilyun .. ada gak ya *ngiler* itu contoh yang berhubungan dengan harta sih …

    Kalo kekayaan dalam arti luas, waaah .. susah bikin parameternya. Kaya hati? kaya teman? ato malah kaya monyet? :lol:

    Tapi, yang jelas .. menjadi kaya itu sepertinya tidak mudah .. :D
    —————————

    Mungkin harus dijelaskan juga .. yang 900 M itu dalam Dollar / Euro dan 20 Trilyun itu dalam Rupiah atau gimana?? kan sekarang mata uang itu banyak jenisnya.

    *ngebayangin Chiw traktir di Hanamasa*

  • nw354 // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 03:16

    Gak puguh,
    Gak bermanfraat,

    Jeduk, jeduk, jeduk,
    Sorry deh kaka, maas maas ..
    ——————————

    Hahaha :lol:

    Apa sih maksudnya?? koq pake jeduk2 segala.

  • n0vri // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 08:35

    Ada yang lagi heboh Bang, investasi Dinar Iraq, .. katanya sih bisa untung berlipat :)
    ——————————-

    Wah .. peluang jadi kaya tuh?? cuma masalahnya duit buat beli dinar itu yang ga ada :lol: .. ga jadi kaya deh.

  • extremusmilitis // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 10:40

    Siapa sih yang tidak ingin men-jadi kaya? Tapi aku memilih sedang-sedang aja, tapi aku bisa menikmati hidup-ku tanpa harus khawatir dengan semua yang aku miliki bang.

    Sering aku melihat, kekayaan justru membuat orang-orang tidak tenang, dan was-was, takut kehilangan apa yang dimiliki-nya saat ini :roll:
    ——————————–

    Yups .. memang hidup itu pilihan bung. Memilih mau jadi apapun, silakan. Termasuk menjadi sedang2 saja.

  • Ndoro Seten // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 14:37

    Kaya atau miskin itu relatip mah ..

    Orang miskin, semiskin-miskinnya orang hingga ia tidak membutuhkan sesuatu apapun .. dialah orang kaya sejati.

    Orang kaya, sekaya-kayanya orang hingga ia senantiasa merasa kekurangan .. dialah orang miskin sejati.

    Ok?
    ——————————-

    Ok .. Ok ..

    *diucapkan seperti iklan okzone*

  • undercover // Selasa, 18 Desember, 2007 pada 18:47

    Iya ya … gimana ya jadi kaya? Saya juga pengin jadi kaya bang, he..
    ——————————-

    Kaya apa Her?? .. kaya hati atau kaya??

  • mathematicse // Rabu, 19 Desember, 2007 pada 00:54

    Saya harus kaya … (kaya segalanya. Amin). :D
    ——————————-

    Kalo dalam bahasa matematika-nya .. tak terhingga ya pak??

  • mathematicse // Rabu, 19 Desember, 2007 pada 00:55

    Kaya yang saya maksud bukan hanya kaya akan harta saja … dan memperolehnya harus dengan jalan yang benar dan baik. :D
    ——————————-

    Jadi .. dalam istilah matematikanya .. rumusnya kudu bener ya pak?

  • aRuL // Rabu, 19 Desember, 2007 pada 02:56

    Jadi kaya apa jadi orang baik?
    ——————————-

    Itu pilihan .. up to you.

    Heeii .. lama nian ga muncul. Ga ke LN lagi?? Gimana kabar teman2 di Surabaya. Abang sekarang sudah diseberang lautan nih. Jadi ga bisa ngumpul bareng lagi hik hik :D

  • Yari NK // Rabu, 19 Desember, 2007 pada 07:08

    Kaya harta … kaya ilmu … kaya amal … ya itu harus dikombinasikan. Dan yang penting kekayaan itu dicapai dengan cara yang diridhoi dan digunakan bukan untuk membuat kerusakan atau kerugian di muka bumi ini.

    Bagi saya .. harta bukan satu2nya tujuan hidup saya namun juga prestasi untuk menjadi ‘paling baik’ yang diikuti menjadi ‘paling beramal’ (nah yg ini yg agak sulit!) :mrgreen:

    Prestasi dan kualitas atau skill pribadi yang baik dan prima membuat saya merasa bahwa saya ‘patut’ dihargai dengan kekayaan yang banyak dan bukan hanya makan gaji atau duit buta.

    Sedangkan beramal menjadi penting karena saya merasa menjadi berguna bagi orang lain dan tentu juga mengharapkan keridhoan Illahi semata.
    ——————————–

    Alasan yang cerdas .. kaya adalah penghargaan atas prestasi dan kualitas. Good. Dalam kata lain, wajar dong kalo orang kaya karena kerja keras dan prestasi. Kalo yang kaya bukan karena prestasi apalagi bukan karena kerja keras .. itu gimana ya kang??

  • edratna // Rabu, 19 Desember, 2007 pada 08:12

    Menjadi kaya tidak dosa, apalagi jika kekayaannya sebagian digunakan untuk beramal, menolong anak-anak kurang mampu untuk meningkatkan ketrampilannya.
    ——————————-

    Ibu bijak sekali .. saya suka komentar ibu. Kaya tidak dosa. Apalagi digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Persis seperti di Surah Al-Fajr ayat 15 sd 20 (yang sudah saya letakkan di halaman Aku) .. bahwa kita akan menjadi mulia apabila kita memuliakan anak yatim, memberi makan orang miskin.

  • urie // Rabu, 19 Desember, 2007 pada 09:36

    Kalau buat saya maaah .. kaya itu gak penting, yang penting serba berkecukupan … mau makan enak .. cukup .. mau beli mobil mewah .. cukup .. mau jalan2 ke LN .. cukup .. :-) ;-) *padha bae ya ..*

    Btw .. menurut pengamatan saya tuh Bang .. rumah-rumah mewah di Jakarta itu, rata2 yang punya orang Jawa lulusan SD atau malah belum lulus lho .. Kalo mau bukti, coba aja datang .. pasti yang bukain pintu mbak2 .. he ..he ..

    So buat apa beli rumah mewah kalo gak bisa menikmati .. paling2 numpang tidur beberapa saat. Waktu liburan .. pergi keluar rumah .. mau makan enak, kena kolesterol ato asam urat .. capeeee dehhhhhh
    ———————————

    Sama dengan hidup pas-pas dong Rie .. pas mau makan, ada uang. Pas mau ke LN, ada uang. Pas mau beli rumah, ada uang .. :lol: jadi ga perlu kaya dong ya??

    Jadi ingat kata seorang sahabat *dia malu nulis disini* .. “Aku ga perlu kaya. Yang penting .. apa2 gratis. Mau ke LN dapat tiket gratis. Mau makan ada yang bayarin. Mau rumah atau mobil dapat hadiah.” .. aya-aya wae :mrgreen:

  • Kurt // Kamis, 20 Desember, 2007 pada 19:34

    Kaya-kayanya kita semua sudah kaya, tinggal bagaimana memaknai kekayaan itu agar tidak berputar pada “poros setan” tapi pada poros yang lebih luas jangkauannya … seperti kang Erander, bisa meluaskan dirinya dari pulau ke pulau … sementara ada yang masih dari pintu ke pintu .. heheh :)
    ————————

    Kalo pintunya berada di Amerika dan satunya lagi di Eropa .. itu gimana pak??

  • Who am I // Jumat, 21 Desember, 2007 pada 12:36

    Jalan ke Surga ?

    ribuan bahkan jutaan kambing dan sapi tergolek tak berdaya meregang nyawa. tanah merah itu makin memerah ditumpahi tetesan darah yg terus muncrat. kulitnya disayat, dagingnya dicabik, kepalanya ntah dikemanakan. semua itu terjadi untuk “memuaskan…

  • Menggugat Mualaf // Sabtu, 22 Desember, 2007 pada 14:16

    Kalo saya sih sudah kaya. Jadi bingung kalo ditanya .. pake jalan apa kalo mau kaya.
    ———————–

    Alhamdulillah kalau bapak sudah kaya. Itu artinya Allah telah memberikan nikmatnya pada bapak. Dan bapak telah dimuliakan. Tapi bapak mudah2an ingat surah Al Fajr ayat 15 sd 20 yang berbunyi :

    Adapun manusia apabila Tuhan-nya Mengujinya lalu Dimuliakan-Nya dan Diberi-nya Kesenangan, maka dia berkata, “Tuhan-ku telah Memuliakanku.” Adapun bila Tuhan-nya Mengujinya lalu Membatasi Rezekinya, maka dia berkata, “Tuhan-ku Menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

    Jadi .. kaya is the best .. tapi hal yang paling mulia seperti ayat tersebut diatas.

  • kabayan // Kamis, 3 Januari, 2008 pada 22:47

    Salam sejahtera,

    Kaya beserta amalan .. yes, bekal untuk perjalanan panjang dimana kita takkan pernah kembali lagi.
    ————————-

    Oleh karena itu, bekal harus benar2 dipersiapkan ya pak?

  • multipletalent // Jumat, 4 Januari, 2008 pada 23:22

    Menjadi kaya atau menjadi miskin adalah pilihan. Pilihan dari tindakan kita. Mau jadi kaya jadilah pengusaha. Mau hidup nyaman (tapi mungkin) tidak kaya jadilah karyawan.

    Kenapa yang kaya makin kaya, karena si Kaya selalu melakukan tindakan2 orang kaya. si Kaya ternyata telah bekerja lebih dari yang lain, telah berusaha lebih dari yang lain, telah belajar lebih dari yang lain, telah tahu lebih banyak dari yang lain, dan telah lebih gagal dari yang lain .. pantaslah si kaya menjadi makin kaya..

    Tapi kira2 pegawai bisa kaya ngga ya … kan terima tiap bulannya tetap … makin naik gaji … pajak makin besar … he he he
    ————————-

    Sepanjang menjadi kaya tidak menghilangkan kesempatan orang lain, rasa2nya ga masalah untuk jadi kaya. Yang sering terjadi .. ketika orang menjadi kaya, maka cenderung ingin memonopoli alias menutup kesempatan orang lain.

    Soal pegawai .. tergantung. Pegawai negeri atau pegawai swasta?? Trus, perusahaannya apa?? kalo yang kerjanya di perusahaan tambang minyak, rata2 gajinya gede dan bisa kaya. Teman ku yang baru bekerja 1 tahun di Chevron .. sudah bisa beli gadget termukhtahir serta jalan2 ke Singapura.

  • multipletalent // Jumat, 4 Januari, 2008 pada 23:44

    pegawai (bukan) perusahaan minyak pun bisa jalan jalan juga kok … jalan ditempat … he he he.

    Salah satu alasan saya pengin tambah kaya, yaa biar bisa bantu lebih banyak ke orang lain …
    ————————

    Saya jadi ingat kata2 ustadz Mansur .. kalo mau membantu (sedekah) orang ga perlu menunggu kaya dulu baru menolong. Selagi kita berpunya, ya tetap membantu.

  • multipletalent // Sabtu, 5 Januari, 2008 pada 00:20

    Betul boss ..

    Coba deh .. ikhlaskan anda kasih 100rb untuk sedekah??

    Terkadang .. tidak berapa lama saya terima 1 juta …

    KH.Yusuf Mansur ya Bang … itu salah satu sumber ilmu saya.
    —————————

    Ya ya .. bener banget.

  • daeng limpo // Sabtu, 5 Januari, 2008 pada 08:56

    Betul kang, miskin menjadi kaya bisa direncanakan .. namun dari ratusan juta orang yang merencanakan hidupnya sebagian besar gagal dan frustasi. Why?
    ————————

    Karena yang dicarinya adalah hal2 duniawi seperti kedudukan / jabatan, harta, wanita dan lain2nya. Padahal itu tidak pernah memuaskan ‘dahaga’ kita dalam menjalani hidup. Sudah jadi manager, pengen jadi vice president. Sudah dapat istri cantik dan baik, pengen ngerasain artis. Sudah punya segalanya, bingung belanjaan duit, akhirnya beli hal2 yang ga perlu. Gitu deh.

Tinggalkan sebuah Komentar