KU LETAK KAN KATA DISINI

Lilia ga mau tiup lilin

Wednesday, 2 January, 2008 · 21 Comments

taufik-ismail.jpg Sebentar lagi Lilia berulang tahun yang ke 16. Menjelang perayaan ulang tahunnya tersebut, Lilia gelisah. Dia bertanya .. mengapa kalo dia berulang tahun, selalu ada kue dan lilin diatasnya. Jika lilin ditiup dalam sekali hembusan napas, maka segala permohonan akan terkabulkan dan hidup akan sukses. Sepanjang usianya masih dibawah 20 tahun, jumlah lilin tidak menjadi masalah untuk ditiup. Bagaimana seandainya usianya 40 tahun atau bahkan 60 tahun. Berapa banyak lilin yang harus dia ditiup dan harus dalam sekali hembusan?? .. disamping itu, mengapa setiap dia berulang tahun .. justru dia diberikan kado ulang tahun. Bukan kah, seharusnya yang menerima kado itu adalah sang ibu, yang telah melahirkan Lilia sampai berdarah2?? bukan kah, ibu yang lebih pantas menerima hadiah dari nya .. karena sudah melahirkan dia??

Untuk mencari jawaban pertama, Lilia mencari jawabannya dengan cara browsing di internet. Dari situ dia mendapat jawaban bahwa budaya membakar lilin adalah budaya Eropa kuno – dipercaya pada waktu itu – untuk mengusir mahluk2 halus, setan, iblis dan sebangsanya. Budaya tersebut berkembang terus sampai ke jaman Romawi. Hal ini membuat Lilia bertekad, pada saat hari ulang tahunnya dia ga mau tiup lilin. Karena itu adalah kepercayaan kuno. Mengapa dijaman yang modern, masih dipertahankan keyakinan seperti itu?? Bukankah .. keinginan kita dapat terkabul berkat kerja keras?? bukan karena berhasil meniup lilin dalam sekali hembusan?? dia merasa meniup lilin adalah hal yang konyol.

Jawaban atas pertanyaan kedua, juga didapatkan dari pencarian tersebut. Budaya memberikan kado, juga berasal dari Romawi kuno untuk memperingati dewa Ra yang dilaksanakan disetiap akhir tahun. Sehingga .. semakin yakinlah Lilia bahwa pesta ulang tahun tidak perlu tiup lilin dan menerima kado. Justru Lilia yang akan memberi kado kepada ibunda tercinta, yang sudah melahirkan Lilia dengan mempertaruhkan nyawa sang bunda. Lilia ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu nya. Karena ibu, Lilia lahir dan hadir di dunia hampir 16 tahun yang lalu.

Aku terkesima mendengar cerita sore itu. Kisah itu .. meluncur indah dari mulut Bapak Taufik Ismail pada acara penutupan ESQ Leadership Training for Executive di Jakarta Convention Centre, beberapa hari yang lalu. Aku begitu suprise, karena bisa bertatap langsung dengan budayawan tersebut dan mendengar suaranya yang benar2 dapat menyihir ketika membacakan cerita tentang Lilia. Dan aku tersadarkan .. bahwa tiup lilin dan menerima kado di saat berulang tahun, adalah budaya kuno. Mumpung tahun baru. Perlu paradigma baru tentang ulang tahun.

*mohon maaf jika rewrite kisah ini tidak seindah dan setepat yang di tutur kan oleh sang budayawan, bapak Taufik Ismail*

Categories: Keheningan jiwa · Ku kutip kata

21 responses so far ↓

  • peyek // Wednesday, 2 January, 2008 at 22:39

    Bukankah .. keinginan kita dapat terkabul berkat kerja keras?? bukan karena berhasil meniup lilin dalam sekali hembusan??

    mencerahkan sekali! hehehehe….
    ————————

    Iya Cak .. saya seperti tersadar dari mimpi panjang ketika pak Taufik berkisah tentang Lilia.

  • Praditya // Wednesday, 2 January, 2008 at 23:29

    Hmm… Iya juga..

    Dulu saya swaktu kecil gak bpikiran sprti itu.. :P
    Tapi emang baru tau klo tiup lilin itu budaya luar sana…
    ————————–

    Abang juga ga kepikiran. Mudah2an kisah Lilia menjadi kesadaran baru buat kita. Eh .. koq belum tidur?? Ini sudah hampir tengah malam. Buruan tidur gih.

  • cK // Thursday, 3 January, 2008 at 00:55

    saya malah jarang tiup lilin. biasanya colek kue ke muka huehehehe… :lol: :lol:
    ——————————-

    colak colek colak colek, hobby anak sekarang ..
    *goyang dangdut Camelia Malik*

  • ikhfa // Thursday, 3 January, 2008 at 01:05

    Subhanallah, pencerahan nih, padahal baru pertama kali berkunjung.. :-) sekalian salam kenal ..
    ——————————-

    Alhamdulillah .. saya juga tercerahkan dengan cerita Lilia tersebut.
    Salam kenal juga.

  • aRuL // Thursday, 3 January, 2008 at 02:15

    Ikut ESQ juga bang? alhamdulillah yah..
    ——————————-

    Yups .. karena ditugaskan oleh kantor.

  • Adit // Thursday, 3 January, 2008 at 07:06

    Udah jadi tradisi kalo ulang tahun pasti adanya tiup lilin … tapi yang lagi trend di Balikpapan, tiup lilin pada waktu lampu nyala … tau kan maksud Adit, bang ..
    ——————————–

    Ga tahu, suer .. abang ga tahu. :roll:

  • rumahkayubekas // Thursday, 3 January, 2008 at 09:05

    Salam selamat pagi,
    Sip Bang Eby,
    Rewritenya mencerahkan sekali,
    Kita-kita jadi tau sekarang ini,

    Tiup lilin sebaiknya ngga usah lagi,
    Tiup-tiup minuman yang panas pun katanya sebaiknya dihindari,
    Tiup balon ya juga bikin pegel pipi,
    Tiup-tiup kuping orang tidur ya apalagi,
    ——————————–

    Ngapain juga mesti tiup kuping orang,
    Karena kuping bukan lah barang,
    Makanya ga boleh meniup sembarang,
    Biar orang tidak meradang,

    Ga klop blas.

  • Sayap KU // Thursday, 3 January, 2008 at 09:36

    Make a wish itu tetap penting mas, bukan karena tiup lilinnya … jadi setiap ultah make a wish aja.

    -Ade-
    ——————————-

    Benar De .. semoga doa kita dikabulkan Allah.

  • verlita // Thursday, 3 January, 2008 at 10:17

    Aku tiap ultah memang ga pernah tiup lilin … (jarang maksudnya, terakhir kali waktu masih TK). Make a wish aja … trus usaha dech … semoga semua keinginan terkabul …

    Hmmm .. ultah tahun ini, mau beliin mama apa yah???
    ——————————-

    Berdoa itu lebih mujarab. Selain menebalkan iman. Juga memantapkan langkah. Semoga Allah mengabulkan doa kita setelah kita berupaya keras mewujudkannya.

    Bagaimana kalo seharian melayani mama, setelah sekian hari mama yang melayani kita??

  • aLia // Thursday, 3 January, 2008 at 10:20

    Dikasih kado tiap ultah juga gpp kan, karena udah sanggup bertahan hidup di dunia yg cheoz ini, hehehe..
    ——————————-

    Boleh lah alasan itu buat menerima kado .. :D

    Tapi point penting cerita diatas adalah mengubah paradigma.

  • Ram-Ram Muhammad // Thursday, 3 January, 2008 at 10:58

    Assalaamu’alaikum wr wb

    Saya seumur-umur belum pernah ngerayain ulangtahun dengan tiup lilin atau potong kue, paling bakar jagung sama kambing guling … mau niupnya susah … :mrgreen:

    Ya, saya sepakat sekali. Ketika seseorang memperingati hari kelahirannya, yang lebih berhak untuk mendapatkan ucapan selamat dan kado adalah orangtua …
    ——————————–

    Wah pesta ultahnya malah lebih meriah dong .. karena ga pake lilin, tapi pake api unggun buat bakar jagung sama kambing .. asiikkk .. ntar kalo ultah, undang2 ya bos.

    Dari cerita tersebut, saya juga tercerahkan .. bahwa yang berhak menerima ucapan selamat adalah ibunda tercinta. Yang telah melahirkan dan membesarkan kita hingga kita merayakan ulang tahun.

  • urie // Thursday, 3 January, 2008 at 11:42

    Sama duong … saya juga gak pernah tiup lilin kecuali pas mati lampu, soalnya dulu ortu gak kuat beliin kue ulang taon he .. he .. :)

    Tapi .. waktu masih anak2 pingin juga lho kalo ngeliat temen bisa tiup lilin :( … apa nggak kasian tuch … makanya biar anak saya gak kayak bapaknya, setiap ulang taon saya beliin kue ultah dan tiup lilin … sekalian biar tau dan tak hanya kenal lagunya saja …

    *tiup lilinnya 2x .. tiup lilinnya sekarang juga .. sekarang juga 2x*

    Syah-syah aja kan Bang … asal kita gak minta permohonan sama api lilin he .. he … kita kan masih punya Allah .. bukannya inamal a’malu bin niat ….

    *btw ESQ bareng bu Laliek ya?*
    ——————————-

    Sip lah ..

    Cerita di atas bukan berasal dari orang tua yang ingin membahagiakan anaknya. Justru berasal dari sang anak. Yang merasa bersalah atas budaya tiup lilin dan pemberian kado tersebut. Rasa2nya .. orang tua dimana pun, dan jika ada rejeki lebih, pasti lah ingin merayakan ulang tahun anaknya. Abang juga gitu koq :D

    ESQ yang kapan?? kalo yang kemaren cuma 5 orang aja. Semua dari RKC.

  • edratna // Thursday, 3 January, 2008 at 15:22

    Biasanya ultah pake tiup lilin saat anak-anak kecil, karena ultah nya sering dirayakan di sekolah. Semakin besar, biasanya cuma membuat nasi tumpeng, dilakukan doa bersama (di keluarga) agar kita selalu berbuat kebaikan. Bertambahnya umur, juga menuntut perilaku yang makin dewasa.

    Karena berjauhan, biasanya hadiah ultah sesuatu yang berguna, untuk tahun ini si sulung minta “Ensiklopedia Al Quran” .. biasanya mereka memang menginginkan hal-hal yang bermanfaat.
    ————————-

    Alhamdulillah ya bu .. punya anak2 yang sholeh dan dapat memberi arti kehidupan dengan hal2 yang bermanfaat. Karena ada sebagian teman2 mereka malah tenggelam dalam narkoba, sex bebas, hedonisme dan lain2.

  • nana // Thursday, 3 January, 2008 at 16:24

    Lilin, ulang tahun … jadi inget filosofi kopinya Dee

    “Lilin merah berdiri megah di atas galzur, kilau apinya menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai disembur napas, lilin tersungkur mati di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah sudah. Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari, kalori bagi kekuatan hati yang tak habis dicerna usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari. “

    *Filosofi Kopi-Lilin Merah (1998)*
    —————————-

    Wow .. thanks ya sudah memberi warna lain dipostingan ini.

  • undercover // Thursday, 3 January, 2008 at 18:18

    Wah, cerita Lilia nya menyentuh sekali bang ..

    Cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang jalan, udah selayaknya kita mengingat, berbakti disetiap kesuksesan kita, karena bagaimanapun keberadaan kita berkat kasih sayang ibu kita.

    Harusnya postingan ini edisi khusus untuk hari ibu bang, he ..
    ————————-

    Yaa .. pas tanggal segitu, abang sedang di Jakarta. Lagian, cerita-nya Pak Taufik Ismail itu baru abang dengar tanggal 30 Desember 2007. Jadi ga mungkin di posting hari ibu kemaren. Kalo nunggu hari ibu tahun ini. Apa ga kelamaan?? ntar, abangnya yang malah lupa.

  • Kurt // Thursday, 3 January, 2008 at 19:46

    Pak Taufik .. memang kisah2 dalam puisinya sangat menyentil sekaligus menyentuh … saya melihat rewrite ini tetap kuat di dalam idenya … dengan bahasa bang Eby yang sekarang tulisan2nya enak dibaca (heheh sok tahu), saya kira pemaknaanlah yang telah ditampilkan…

    Budaya di Indonesia .. akhirnya kemudian tidak dikenal di Eropah yaa saat ulang tahun itu bernama :SUngkem sama wong tuo .. :) malah diubah menjadi kado dan tiup lilin …

    Padahal .. kan kalau nyanyinya diubah jadi enak juga :

    sungkem simbahnya
    sungkem si mpoknya
    sungkem semua keluarga
    semwa keluraga
    semua keluarga… :)

    ————————-

    Lucu lagi .. lagu selamat ulang tahun diubah liriknya.

  • Anton_jb // Thursday, 3 January, 2008 at 20:41

    Saya sepertinya sependapat dengan cerita di atas.

    Kalo menurut saya .. budaya meniup lilin mengundang banyak orang dan membawa kado, kesannya menyusahkan orang laen.Terutama yang mendapatkan undangan. Tradisi ini menjamur juga di kalangan anak-anak. Seperti contoh : disaat seorang anak yang keadaan orang tuanya kurang mampu … pada saat si anak menerima undangan Ulang Tahun .. maka si anak akan meminta dibelikan kado kepada orang tuanya, seperti – yang nantinya – dibawa oleh teman-temannya di acara pesta …

    Tanpa kita sadari .. saat kita mengundang orang untuk datang ke suatu pesta kita atau anak kita, secara tidak langsung kita sudah menyulitkan mereka, terutama orang yang kurang mampu untuk membelikan sebuah kado. Tak pernah terbayangkan .. jika di dalam satu bulan kita mendapatkan 3 atau 4 undangan ulang tahun, dalam posisi yang krisis .. pasti kita akan berusaha untuk sebuah kado …

    Maka .. disini saya simpulkan bahwa pesta ulang tahun, tiup lilin dan juga kado. Tidak seharusnya dijadikan sebuah tradisi, karna akan berakibat kebiasaan yang mengharuskan … Dan saya rasa sebuah ucapan Selamat Dan Doa, itu udah lebih mewakili segalanya.

    Hanya sebuah pendapat Bang Eby dan tidak harus diiyakan … lho :)
    ————————-

    Iya koq .. mudah2an komentar mu turut mencerahkan bagi yang membacanya.

  • mybenjeng // Thursday, 3 January, 2008 at 22:00

    Saya yang ultah .. kenapa orang lain yang repot.
    Begitu ya lilia…? :)
    Salut …
    ————————

    Saya juga salut dengan komentar mu.

  • bosen dengerin dosen yg nge-bosen-in karna nggak konsen | before the flu // Saturday, 5 January, 2008 at 08:21

    [...] sesi kedua, segala keinginan dapat terkabul dengan kerja keras. Sang dosen berusaha dengan sangat untuk menjelaskan kepada muridnya perubahan yang hendak dilakukan itu hendaknya di ikuti dengan perubahan pola pikir dan membunuh semua bayang-bayang dan hantu belau yang mampu menahan laju gerak perubahan. dia sedikit memberikan peringatan bahwa hal tersebut sangat2 berat dan butuh kerja keras. [...]

  • bedh // Saturday, 5 January, 2008 at 08:33

    Duh muncul di sini yah …
    huhuhu jadi gak enak.
    ———————–

    Napa ga enak. Santai aja lagi.

  • azer10 // Saturday, 5 January, 2008 at 20:17

    Betul bang saya setuju dengan cerita itu, seharusnya kita bisa introspeksi diri dan jangan lupa berdoa, semoga kita diberikan umur yang panjang dan bermanfaat. Amin ….
    ————————

    *sambil menengadahkan kedua tangan*

Leave a Comment