KU LETAK KAN KATA DISINI

Paradigma baru

Friday, 4 January, 2008 · 28 Comments

outofbox.jpg Sebelum memasuki tahun 2008, banyak teman2 blogger yang membuat resolusi. Tapi ada juga yang tidak membuat resolusi. Apapun .. intinya adalah ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik di tahun 2008. Keinginan2 tersebut sah2 saja. Karena perubahan dapat dilakukan kapan saja .. ada yang mengambil momentum pergantian tahun, ada yang berdasarkan shock moment, ada juga karena ‘terpaksa’ dan lain sebagainya. Hanya saja .. sering kali perubahan itu sulit serta merta diwujudkan. Bahkan .. ada yang kembali ke habit yang semula setelah sempat berubah. Apa yang menyebabkan, resolusi tidak terwujudkan dan hanya tinggal kata2 diatas kertas atau tertulis di blog saja??

Menurut ku .. semua itu disebabkan karena keinginan berubah tidak diikuti dengan perubahan paradigma. Kita menuliskan resolusi atau mempunyai niat untuk berubah – biasanya – karena kita merasa apa yang kita jalani saat ini, ada yang kurang ‘beres’ sehingga kita ingin memperbaikinya. Sayangnya .. keinginan tersebut – sering kali – banyak tantangan dan berat. Dan ujung2nya .. gagal untuk mewujudkan resolusi. Kegagalan tersebut dapat terjadi .. antara lain karena kita masih terbelenggu dengan kebiasaan yang lama atau paradigma yang lama.

Oleh karena itu – empat hari belakangan ini – aku memposting hal2 yang berkaitan dengan perubahan paradigma. Bagaimana menurut teman2??

Categories: Begini menurutku

28 responses so far ↓

  • itikkecil // Friday, 4 January, 2008 at 14:40

    Saya bikin resolusi itu .. soalnya ada dua yang nodong saya buat resolusi itu bang .. tapi soal paradigma, saya sepakat kalau membuat resolusi juga harus diikuti paradigma baru.

    eh, tapi paradigma itu apaan ya bang?
    *dihajar bang eby*
    ——————————–

    *jewer aja .. ga tega hajar itik kecil, ntar makin kecil*

    Loh .. kan abang sudah bikin link-nya tentang paradigma. Jadi bisa langsung dibaca dengan meng-klik tulisan paradigma yang pake garis itu loh :roll:

  • anggara // Friday, 4 January, 2008 at 14:43

    Menarik kang, ditunggu tulisannya ..
    ——————————-

    Loh .. kan udah. Yang berjudul : Tidak ada resolusi – tentang perubahan ga mesti nunggu ganti tahun, Lilia ga mau tiup lilin – tentang mengubah paradigma, Mengubah dunia – tentang perubahan dimulai dari diri sendiri dan terakhir .. ya postingan ini, sebagai pamungkas dari kiat untuk berubah.

  • Praditya // Friday, 4 January, 2008 at 15:09

    Mas Eby, mo request tulisan tentang paradigma itu sendiri dunk …

    Dijelaskan bagaimana membentuk suatu paradigma dan pandangan hidup seseorang untuk menjadi lebih baik lagi…

    Dan apa juga yang membedakan paradigma dengan lainnya …

    *blom mudeng inih.. :D
    ————————

    Dit .. kan abang sudah kasih link-nya. Tinggal klik .. jelas deh :lol:

    Atau .. abang kutip kan dikit ya .. “istilah paradigma berasal dari kata Yunani : paradeigma artinya memperagakan atau mendemonstrasikan. Istilah tersebut dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya berjudul The Structure of Scientific Revolutions. Dalam buku tersebut, Kuhn mendefinisikan sebuah paradigma ilmiah sebagai :
    - Apa yang diamati dengan cermat,
    - Jenis pertanyaan yang akan diajukan dan dijelajahI untuk menncari jawaban dalam kaitannya dengan subjek,
    - Bagaimana pertanyaan tersebut akan distruktur,
    - Bagaimana hasil kajian ilmiah akan ditafsirkan.

    Bila kita memeriksa Oxford English Dictionary, maka dalam entri paradigma dinyatakan sebagai sebuah model atau pola, sebuah contoh. Jadi bila tambahkan ke definisi Kuhn menyangkut batasan paradigma, maka hasilnya ialah bagaimana sebuah eksperimen dilakukan serta peralatan apa yang digunakan untuk melaksanakan eksperimen.

    Jadi dalam sains normal (normal science), paradigma merupakan himpunan eksperimen contoh yang mungkin akn akandigandakan atau diulang, Kuhn mengatakan konsep paradigma kurang cocok untuk ilmu pengetahuan sosial karena ilmuwan bidang tersebut tidak pernah sepakat mengenai teori atau konsep. Hal tersebut diperkuat oleh Mattei Dogan yang mengatakan tidak ada paradigma dalam ilmu pengetahuan sosial karena konsep paradigma bersifat polisemi artinya memiliki banyak makna.

    Bila pada ilmu pengetahuan sosial saja yang telah mapan dengan berbagai teori dibandingkan dengan ilmu perpustakaan dan informasi, maka dalam ilmu perpustakaan dan informasi tidak akan ada paradigma. Namun demikian pengertian paradigma dapat ditafsirkan sebagai kerangka berpikir dan pengertian itu lah yang diterapkan di sini menyangkut sikap pustakawan terhadap kegiatannya.”

    Tuh .. pusing kan?? lebih jelasnya baca disini aja deh.

  • anggara // Friday, 4 January, 2008 at 15:47

    Oya benar .. saya nggak baca kalimat “empat hari belakangan ini” mohon maaf kang
    ————————

    Ya ya .. sudah saya maaf kan.

    *sambil menyodorkan punggung tangan*

  • cK // Friday, 4 January, 2008 at 16:02

    hhhmm … saya sendiri membuat resolusi-resolusi tersebut dengan harapan agar bisa terkabul. Asal ada niat dan keinginan, insya Allah pasti bisa. Tapi semua tergantung juga dari support dan kehidupan sehari-hari. Bisa atau tidaknya kita menjalankan dan meraih apa yang kita inginkan …

    Duh .. postingan ini benar-benar bikin saya mikir … :roll:
    ————————–

    Wah .. jangan2 kalo gagal mewujudkan resolusinya, dukungan dan kehidupan sehari2 yang jadi kambing hitam. Padahal .. untuk berubah itu 100% tergantung diri kita sendiri .. sambil teriak : “Berubah”

    *kaya power ranger*

  • extremusmilitis // Friday, 4 January, 2008 at 17:43

    Seperti-nya salah satu tujuan-nya seperti yang abang katakan .. kalau keinginan untuk mem-perbaiki sesuatu yang belum “kelar” sebelum-nya, tentu saja plus meng-ubah pola pikir yang masih ber-tahan dari itu ke itu saja.

    Tapi apa-pun itu tetap saja usaha dan doa yang menentukan bang. Menurut-ku sih ;)
    ————————

    Doa mah kudu .. intinya .. out of box.

  • hanna Fransisca // Friday, 4 January, 2008 at 22:42

    Ehm … resolusiku bagian dari PR. ya, ya, ya … moga bisa terwujud.

    Banyak yang menyapa ‘Bang’, nih… Ikutan ah!!!

    Bang, penjelasannya tentang paradigma membuat saya terkagum-kagum. Pulang dulu ya .. membawa ilmunya itu. Makasih, Bang, makasih pijat2nya, eh, salah, ilmunya, wakakakaka. :lol:
    ————————-

    Koq buru2 pulang habis dipijitin .. bayarannya mana??

    *ganti profesi jadi kang pijat*

  • undercover // Friday, 4 January, 2008 at 22:43

    Soal paradigma, bisa jadi dengan banyak mendengar, banyak membaca, diskusi semuanya akan terbuka. Tak akan ada sebutan pemenang jika kita berlomba hanya kita saja pemainnya. Apa artinya, kita perlu orang lain sebagai parameter paradigma kita. Belajar dari kesuksesan sekaligus kegagalan orang lain akan membantu mengidentifikasi paradigma berpikir kita sudah tepat atau belum.

    Adanya resolusi artinya masih ada yang kurang, ada sesuatu yang masih belum membuat kita puas dan berharap hasil yang berbeda tapi kita tetap melakukan dengan cara yang sama tentu itu perbuatan konyol. Sedasyat apapun resolusi yang kita buat tak akan berarti apa2. Nah paradigma seperti itukah mungkin yang abang maksudkan untuk dikembangkan? Agar kita tidak seperti orang buta yang mengetahui gajah itu sebagai mahluk yang panjang bulat hanya karena kita memegang belalainya. Kita butuh sudut pandang orang lain agar kita bisa mengetahui gajah itu tidak hanya terdiri dari belalai, tapi juga kaki yang kokoh, badan yang besar, kuping yang lebar dsb.

    Semoga … karena lebih2 saya berharap terhadap diri saya sendiri agar paradigma yang sudah saya miliki dapat berkembang pula.
    —————————

    Benar Her .. sering kali kita terjebak dengan paradigma yang telah kita pegang berabad2 beberapa waktu lamanya. Misalnya .. kita menganggap perubahan itu sulit. Maka .. ketika kita membuat resolusi untuk berubah, kita – cenderung – akan menulis hal2 yang kita sendiri masih ragu. Contohnya .. ingin berhenti merokok. Karena kita sadar, merokok itu tidak baik buat kesehatan dan juga kantong tentunya. Dalam perjalanan waktu, kita ga kuat untuk tidak merokok jika dalam keadaan stress. Maka kita kembali merokok lagi.

    Hal ini bisa terjadi karena paradigma yang telah terbentuk. Kalo stress, ya ngerokok. Disamping itu, kita menganggap bahwa kita sudah kecanduan dan ga bisa lepas dari merokok. Pendapat ini masih debatable ..

  • multipletalent // Friday, 4 January, 2008 at 22:54

    Resolusi … saya terkadang buat, tapi sering juga tidak terpenuhi, karena beberapa hal dari dalam diri saya yang membuat tidak tercapai, tapi sekarang ini saya masuk ke zona kepepet, dan saya yakin ‘ resolusi’ yang dibuat .. karena saya masuk ke zona kepepet tadi akan dapat tercapai dengan tepat.
    ————————

    Entu dia .. salah satu, resolusi dapat tercapai .. ya karena kepepet (terpaksa) gitu.

  • tukangkopi // Friday, 4 January, 2008 at 23:31

    Loh? .. padahal menurut saya memang kalo mo berubah ke arah yang lebih baik itu memang harus merubah paradigma kita dulu.. :D
    ditunggu tulisannya bang. Bisa mencerahkan nih..
    ————————

    Tulisan yang mana?? .. wong ini tulisan terakhir dari empat tulisan yang ada. Coba deh, baca jawaban abang di komentarnya mas Anggara dan Praditya.

  • Hoek Soegirang // Saturday, 5 January, 2008 at 01:25

    wooohohohoho..

    faradigma!!! kacamata!!!! begimana cara kita memandang hidup!!! wohohohoho!!!

    saia tunggu bang!!! tentu saja, saia faling suka tentang fostingan fengembangan diri begini!!! *nggelar tikar*
    ————————-

    Kuliah sudah selesai .. kamu telat datang.

    *suruh Hoek berdiri di depan kelas, sambil angkat kaki satu*

  • almascatie // Saturday, 5 January, 2008 at 01:31

    Kayaknya .. sayah bener2 menunggu “paradigma” bang Eby untuk lebih memacu semangat mencapai resolusi … hehehehhehe resolusi dah punya, niat dah punya, tinggal paradigma untuk menjalaninya dengan semangat dan tahan goncangan kali nih ya bang ..
    :)
    ————————-

    Al .. komentar mu abang selamat kan dari jeratan askimet. Kira2 begitu deh paradigma. Terjerat dalam belenggu. Dan merasa nyaman didalamnya. Padahal diluar ’sana’ .. masih banyak keindahan yang menanti.

  • aRuL // Saturday, 5 January, 2008 at 01:37

    Saya sendiri nulis di resolusi saya “Saya jarang buat target .. karena sering ku langgar atau membebani” .. Saya lebih menjalankan apa adanya.
    Melakukan perubahan itu membutuhkan suatu moment yang berharga, bukan moment sekedar lewat.
    ———————–

    Yuups .. makanya, abang tuliskan juga salah satu perubahan adalah shock moment. Contohnya .. ditinggal mati kedua orang tua. Sehingga si anak yang tadinya bandel, langsung insyaf. Tapi – perubahan tersebut – ga mesti terjadi pada semua orang. Ada yang makin bandel karena merasa ga diawasi oleh kedua orang tuanya lagi.

  • suandana // Saturday, 5 January, 2008 at 02:52

    Setuju bang … (ikut-ikutan manggil ‘bang’)

    Perubahan paradigma adalah yang paling krusial dalam melakukan pengembangan dir i… Trus, kira-kira, paradigma yang bagus itu bagaimana ya?
    ————————

    Paradigma yang bagus adalah yang berasal dari kesadaran diri sendiri untuk berubah atau memandang kehidupan dari sisi yang berseberangan atau berbeda. Tapi itu dilakukan bukan karena paksaan orang lain. Bukan karena ikut2an. Bukan bukan pula karena ga ada pilihan.

  • Yari NK // Saturday, 5 January, 2008 at 07:39

    Hmmm … paradigma perubahan?? Yang nyata adalah kejujuran … walaupun kejujuran terkadang menyakitkan … Jangan hanya kata2 bagus saja yang diucapkan – kata2 bagus kebanyakan tidak membangun .. terutama kata2 bagus yang hanya ngegongin saja – tetapi juga tentu saja kritik2 pedas yang membangun, agar paradigma perubahan benar2 mengalami perubahan yang positif.
    ————————-

    Akur kang .. kalo cuma nge-gong-in aja, kan artinya paradigma-nya sama kang. Jadi .. kalo mau berubah, ya memang harus lewat kritikan. Karena kritikan – biasanya – berasal dari paradigma yang berbeda. Bukan begitu kang??

  • bedh // Saturday, 5 January, 2008 at 08:23

    kewl,
    ————————

    *kasih kapas ke Bedh buat nyumpelin telinga*

  • daeng limpo // Saturday, 5 January, 2008 at 08:52

    Memang diperlukan suatu paradigma baru dalam setiap perubahan waktu, tentunya untuk mencapai kualitas hidup yang jauh lebih baik.
    ————————

    Celakanya .. hal itu sering terlupakan, Daeng.

  • Donny Reza // Saturday, 5 January, 2008 at 09:00

    Juga biasanya karena tidak menuliskan atau menetapkan langkah-langkah kongkrit, jadinya memang pencapaiannya juga sulit. Pengalaman pribadi sih ini mah :)
    ————————

    Kalau selalu gagal dan gagal lagi. Coba lewat cara lain. Buang kebiasaan dan cara yang lama. Misalnya .. berteman dengan orang2 yang cerewet, yang 24 hours available buat ngingetin Donny. Gimana?? :twisted:

  • tukangkopi // Saturday, 5 January, 2008 at 10:27

    Lha..saya salah baca bang .. *ulang lagi baca postingan empat hari terakhir* .. tapi gpp kan bilang nunggu tulisan2 laen yang mencerahkan? :D
    ———————–

    Gpp .. asal sambil ngopi ya .. gimana??

  • tukangkopi // Saturday, 5 January, 2008 at 10:33

    Terus cara ngubah paradigma itu gimana bang?
    ————————

    Simak lagi jawaban abang atas komentar teman2 di atas. Caranya .. gunakan paradigma baru.

  • brainstorm // Saturday, 5 January, 2008 at 11:45

    Saya benci 2007 itu aja lah :(
    ————————

    That it .. ini contoh perubahan paradigma .. karena shock moment. Jadi 2007 telah menjadikan dirimu dapat melihat dari sisi yang berbeda tentang seseorang yang selama ini kamu anggap ’segala’nya dan kemudian ‘mengkhianati’ .. saya sudah baca ‘marah’ mu.

  • awaludin // Saturday, 5 January, 2008 at 16:56

    Keinginannya masih belum jadi tekad kali ya ..
    eh, tapi bagaimana caranya mengubah paradigma?
    ————————

    Gampang .. bukan caranya pak. Tapi mau ga mengubah paradigma??

  • StreetPunk // Saturday, 5 January, 2008 at 17:59

    Selain masalah susahnya mengubah paradigma lama menjadi paradigma baru, kadang-kadang seseorang tidak sadar bahwa paradigmanya kurang beres..
    ————————

    Hmmm .. boleh jadi begitu.

  • kurtubi // Saturday, 5 January, 2008 at 20:06

    Begitu lebih bagus bos. Sebab paradigma yang dibangun dalam bentuk tulisan lebih dinikmati dan dirasakan. Juga hasil dari endapan renungan2 *cieeeh*

    Tapi bang .. menurutku, paradigma itu juga bisa membantu alam pikir semacam saya. Sebab saya .. yang suka kelupaan, dengan menuliskannya tebal-tebal di jidat saya, mungkin ada rasa malu sedikit. Kalau pun nanti tidak sesuai target yaa .. itung2 belajar nulis aja deh heheh :)

    Selamat beraktivitas di awal tahun .. dan semoga terus mengalir the best paradigm.
    ————————

    Emang ga salah2 amat sih kang .. resolusi itu ditulis atau dibuat. Postingan saya, tujuannya, hanya ngingetin .. bahwa apa yang kita tulis dan yang kita resolusikan, harus diwujudkan. Dan biasanya .. kegagalan yang terjadi bukan karena ditulis atau tidak ditulis kang. Tapi sebagian besar karena kita masih menggunakan paradigma yang lama.

  • Agoy... // Monday, 7 January, 2008 at 14:01

    Mas,

    Saya masih belum punya waktu untuk membaca tulisan-tulisan sebelumnya. Terus terang sampai kini saya masih sulit mengaitkan antara “paradigm” dan “mindset” dan kaitannya dengan “change” ..

    Bisakah saya dibantu agar kedua istilah yang sedang “menari-nari” di benak saya ini bisa Menari dengan harmonis dan saya tidak bingung lagi … taratengkyu …
    ————————-

    Loh .. bukankah sudah banyak literatur yang menerangkan ke dua hal tersebut??

  • Herianto // Tuesday, 8 January, 2008 at 06:45

    @Agoy
    Saya tadi coba2 melakukan searching eh googling tentang masalah ini masing2 dgn keynote :

    define: paradigm
    define: mindset
    define: change

    lumayan dapatnya, tapi gak berani nyimpulkan sendiri… :)

    @bang Eby
    Ternyata makin lama makin mantap aja pembahasan di postingan abang.
    Waktu pertama membaca buku the 7 habits itu saya terkesima dengan konsep perubahan dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam. Saya membaca kalimat itu sangat berkaitan dengan prinsip ikhlas.
    Gmana menurut abang ? :D

    #Halah… malah nanya :)
    —————————

    Tuh .. sudah pinter :D .. bener koq. Ikhlas.

  • Agoy... // Wednesday, 9 January, 2008 at 10:42

    Pertanyaan saya belum di jawab, saya simpulkan sendiri yang punya blog sedang menyiapkan tulisan khusus untuk ini …

    *optimis habis* :-)
    ————————–

    *buka2 buku lagi deh*

  • bosen dengerin dosen yg nge-bosen-in karna nggak konsen | before the flu // Sunday, 22 February, 2009 at 00:26

    [...] sesi kempat, sesi penutup dan pembagian kisi2 bahan ujian. semua bahan ujian di ringkas dalam beberapa kalimat. berisi beberapa peringatan dan juga panduan ringkasan dari bahan kuliah sebelumnya. sang dosen sekali lagi menganjurkan untuk membangun dasar pengetahuan dengan benar. karna bangunan yang kokoh dimulai dari pondasi yang kuat. [...]

Leave a Comment