indonesia_04.jpg Ada apa dengan tanah air ku, Indonesia? Apa yang terjadi dengan dirimu? mengapa kau begitu bermuram durja? Bukankah engkau jambrut Khatulistiwa yang menghiasi bumi? Bukankah ribuan pulau terbentang ditubuhmu dari fajar timur hingga senja barat? Bukankah ibu pertiwi mengandung begitu banyak isi perut bumi yang tak ternilai harganya? Bukankah engkau memiliki kekayaan yang terhampar di lembah2, di gunung2, di pesisir2, di dasar laut dan sejauh mata memandang sinar matahari melimpah ruah ditingkahi hujan sesuai musim. Bukankah tidak ada alasan dirimu bersedih? Ada apa dengan mu dikau Indonesia ku?

Sekiranya ibu Soed yang melahirkan lagu Tanah Airku masih berkarya, tentu beliau akan menciptakan lebih banyak lagu indah tentangmu. Agar didalam dada ini selalu ada rindu pada dirimu, Indonesiaku ..

Tanah airku tidak kulupakan; Kan terkenang selama hidupku; Biarpun saya pergi jauh; Tidak kan hilang dari kalbu; Tanah ku yang kucintai; Engkau kuhargai ..

Walaupun banyak negri kujalani; Yang masyhur permai dikata orang; Tetapi kampung dan rumahku; Di sanalah kurasa senang; Tanahku tak kulupakan; Engkau kubanggakan ..

Seandainya bapak Ismail Marzuki yang mengarang lagu Indonesia Pusaka masih hidup, tentu akan dibuatnya komposisi lagu yang lebih indah dari keelokan paras mu, Indonesia ku ..

Indonesia tanah air beta; Pusaka abadi nan jaya; Indonesia sejak dulu kala; Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta; Dibuai dibesarkan bunda; Tempat berlindung di hari tua; Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta; Tiada bandingnya di dunia; Karya indah Tuhan Maha Kuasa; Bagi bangsa yang memujanya

Indonesia ibu pertiwi; Kau kupuja kau kukasihi; Tenagaku bahkan pun jiwaku; Kepadamu rela kuberi

Kau kini seperti tak berdaya. Kalah dari negeri tetangga yang ukuran tubuhnya lebih kecil darimu. Loyo menghadapi sang singa yang miskin alamnya. Menyerah dengan serumpun yang miskin tanahnya. Tak berdaya menghadapi si kulit putih yang miskin warnanya. Ada apa denganmu, Indonesia ku??

Mengapa kau biarkan rakyatmu mengimpor kedele, padahal kau tahu, sebagian besar rakyatmu suka tempe dan tahu. Dan saat ini, rakyat mu berhenti makan tempe karena harganya sudah menyusul Pertamax. Apakah tubuhmu tidak dapat melahirkan kedele bermutu tinggi? Apakah kau biarkan kita mengimpor sesuatu yang sebenarnya bisa kau hasilkan dari tanah mu yang subur??

Mengapa kau biarkan rakyatmu mengantri bahan bakar minyak? bukan karena dari dalam tubuhmu sudah tidak menetes minyak lagi .. apakah kau biarkan isi perutmu dikuras oleh jiran2 jauh atas nama bagi hasil karena rakyat mu dianggap tidak mampu menetek pada bumi mu? Mengapa Indonesia ku?

Aku tahu, kau pernah marah. Pesisir Aceh dan ujung selatan Jawa kau sapu rata. Beberapa pulau kau goyang dengan getaran mautmu. Dan sampai sekarang, kau biarkan lumpur membuncah dari perutmu. Mungkin karena kau muak dengan tingkah laku rakyatmu. Yang membiarkan jiran dekat dan jiran jauh, berpesta pora mengaduk2 perutmu. Yang membagi2 kekayaan mu, dibawa pulang oleh jiran dekat dan jiran jauh. Yang menyerahkan perawan mu diperkosa oleh jiran dekat dan jiran jauh.

Maaf kan Indonesia ku .. bangsa ini masih silau dengan kekayaan sehingga lupa, kau tidak perhatikan dan tidak dirawat dengan layak. Indonesia ku .. maaf kan bangsa ini, karena masih silau dengan kekuasaan sehingga lupa, kau diterlantarkan dan diinjak harga dirimu. Maaf. Maaf.

About these ads