Mungkin saat ini banyak teman2 blogger yang sedang berjuang merebut gelar sarjana-nya. Ada yang anteng2 aja, ada yang berjuang mati2an sesuai dengan kapasitas yang dimiliki dan cita2 yang tergenggam didada. Apapun .. dimasa datang, perjuangan tidak akan semakin mudah. Yang menyandang gelar makin kesulitan mencari pekerjaan. Karena gelar sarjana tidak otomatis menjamin masa depan, jika kita tidak memiliki ketrampilan apa-pun .. aku jadi teringat kata Gede Prama .. hal yang dapat menyelamatkan hidup kita, bukanlah gelar pendidikan tapi ketrampilan, kira2 begitu kata beliau. Dan aku juga masih ingat kata Tantri Abeng .. bahwa gelar sarjana itu hanyalah anak kunci untuk masuk dalam ruangan. Ketika sudah ada di dalam ruangan .. kita tak perlu anak kunci lagi.
Postingan kali ini, tidak menganjurkan teman2 untuk tidak kuliah dan melupakan gelar sarjana. Tapi tidak juga membiarkan teman2 mensyakralkan gelar sarjana seperti kata2 sakti, abrakadabra, untuk mewujudkan semua keinginan yang ada. Disini, aku hanya menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan kata sarjana yang ku alami.
GELAR HANYA UNTUK MENYENANGKAN ORANG TUA
Ada seorang teman, yang mendapat gelar seabreg ketika wisuda. Selain gelar Sarjana Hukum (SH) yang disandang-nya, teman ku itu juga mendapat gelar wisudawan termuda (waktu itu usianya baru 21 tahunan), gelar wisudawan tercepat (hanya kuliah 3 tahun kurang dikit) dan gelar wisudawan terpintar (IP mendekati 4,00) .. praktis gelar terhormat itu diborong oleh satu orang. Gile beneeerr ..
Sampai pada suatu hari, aku bertanya pada temanku itu tentang masalah ilmu hukum – kan dia seorang sarjana hukum – apa perbedaan hipotik dan creditverbang. Dan, ketika dia menjawab pertanyaan ku itu, aku sepertinya mau pingsan mendapat jawabannya, yang kira2nya begini *maklum kejadian ini sudah 17 tahun lalu*
“Wadoh sorry bang .. aku ga ngerti. Soalnya, aku cuma belajar pas mau ujian. Kebetulan aku mudah menghafal pelajaran. Sehingga ketika menjawab ujian, aku mudah menjawabnya. Sekarang aku sudah lupa bang.” dia juga menjelaskan bahwa dia belajar giat agar lulus terbaik untuk membuat orang tua-nya bangga.
GELAR DIIKUTI DENGAN PERUBAHAN SIKAP
Kejadian ini sudah sekitar 15 tahun, tapi cukup berbekas buat ku dan membuat ku sadar arti sebuah penyesuaian sikap. Waktu itu, ada acara kantor .. kalo ga salah Malam Pisah Sambut pemimpin lama ke yang baru. Karena kerjaan ku banyak, aku telat pulang untuk mandi dan ganti pakaian. Begitu tiba ditempat acara, wakil pemimpin ku berkata :
“Kamu kan sarjana .. seharusnya memberikan contoh bagi teman2 yang tidak sarjana.” aku kaget mendengarnya. Aku lihat jam tanganku .. aku telat 5 menit dan acara pun memang belum mulai dan hanya segelintir orang yang datang. Tapi mengapa hanya aku saja yang ditegurnya??
Belakangan aku sadar, waktu itu – dikantor ku – yang bergelar sarjana baru beberapa orang saja .. ya sekitar 15% dari seluruh pegawai, sisanya tamatan SMU. Beliau ingin aku yang sarjana ini memberikan teladan kepada pegawai lainnya walaupun mereka lebih senior dari ku. Dan bagi .. teguran itu telah membangun jiwa ku untuk selalu – berusaha – on time.
MENCANTUMKAN GELAR
Ketika aku baru lulus dan diterima kerja, teman2 pada membuat kartu nama dan mencantumkan gelar mereka. Sementara aku tidak. Ketika ada yang bertanya, mengapa aku tidak mencantumkan gelar SE-ku dibelakang nama ku?? Aku cuma berkata, aku belum sanggup untuk menanggung beban gelar itu. Aku kawatir .. karena orang melihat gelar ku kemudian bertanya soal Ekonomi, aku tidak dapat menjawab. Alangkah malu-nya diri ku. Aku jadi ingat cerita teman ku yang sarjana hukum itu.
GELAR TIDAK SESUAI DENGAN PROFESI
Pada pertengahan tahun 90-an menjelang akhir abad 20, perusahaan tempat ku bekerja banyak merekrut sarjana2 baru. Biasanya .. sarjana lulusan tertentu saja yang diterima diperusahaan ku ini. Tapi entah kenapa, tiba2 muncul ketentuan dapat menerima segala macam jurusan. Akhirnya masukan Sarjana Perkapalan – padahal perusahaan ku bukan dibidang perkapalan, Sarjana Sastra – padahal di perusahaan ku bukan dibidang percetakan atau penerbitan, Sarjana Kimia – apalagi ini, wong perusahaan ku bukan pabrik koq .. tapi begitulah. Jangan tanya2 saya kerja dimana ya. *siapin kertas buat ngelempar*
GELAR?? PENTING GA SIH??
Tergantung ..
Ada seorang teman yang merampungkan gelarnya hingga 10 tahun dan nyaris DO gara-garanya keasikan bekerja. Ceritanya, dia sudah bekerja walaupun dengan ijazah SMA. Ketika perusahaan mulai memberlakukan syarat pendidikan minimal sarjana untuk bisa naik menjadi manager .. maka teman ku itu keblingsatan untuk menyelesaikan sarjananya. Hasilnya, ya gitu deh.
Ada lagi .. ada pekerja senior yang sangat menguasai bidang kerjanya. Sayang beliau tidak sarjana. Beliau menjadi ahli, karena pengalaman. Ketika perusahaan mulai menerima sarjana2 baru, kedudukan beliau terancam akan digantikan oleh sarjana2 yang belum punya pengalaman sama sekali. Beliau menghadapi dilema. Jika dia menularkan ilmunya, maka dapat dipastikan posisi beliau akan digeser oleh anak kemarin sore itu.
Syukurnya .. beliau berbesar hati, mau transfer knowledge *halah* membagi ilmunya kepada anak2 baru itu. Anak2 baru itu justru respek dengan beliau, walaupun ada juga yang melecehkan senior itu .. fresh graduate, bisa langsung jadi asisten manager gitu loh hehehe sementara si bapak mesti dari clerk dulu dan setelah bertahun2 baru bisa jadi asisten manager.
GELAR TAK SELAMANYA MENGERTI
Sudah menjadi kebiasaan ku, setiap meninggal satu unit kerja ke unit kerja yang lain karena mutasi, aku selalu minta feedback dari teman2 sekerja. Ada satu masukan yang menarik yang sampai saat ini aku selalu ingat terus.
“Bapak kalo memberi pengarahan, sering membuat kita tidak mengerti. Terlalu tinggi bahasanya,” wadoh .. kaget aku. Padahal mereka semua yang jadi staf ku – waktu itu – adalah sarjana. Aku baru sadar, bahwa walaupun mereka itu sarjana, ternyata tidak pasti dapat memahami apa yang ingin saya sampaikan. Sejak saat itu, aku selalu menakar2 pembicaraan tidak berdasarkan gelar. Karena bisa menyesatkan. Justru yang tamatan SMA sering kali malah dapat menangkap apa maksud ku. Atau jangan2 .. aku kali ya .. yang emang bolot hahaha
ampun deh.
Sebenarnya masih banyak kisah yang berkaitan dengan gelar. Sebelum kalian bosen dan speed reading, mending aku udahin dulu. Kalo yang rajin membaca silakan klik tulisan terkait lainnya ya. Urun rembug-nya sangat diharapkan terutama teman2 yang sudah sarjana, biar sharing ke teman2 yang sedang mau sarjana atau tidak mau jadi sarjana.
Tulisan terkait :
1. Kompas cetak : Makin tinggi pendidikan makin gampang menganggur.
2. Afatih : Mengapa saya tidak pakai gelar akademis
3. Rovicky : Indeks prestasi untuk apa
4. Wiyanto : Sarjana nganggur melonjak
5. Priandoyo : Kuliah, Kerja plus Nikah.
6. Aku : Memilih berubah



Menurut saya gelar sarjana sekarang udah kayak kacang goreng. Tapi sedihnya, gelar sarjana tidak menjamin akan mendapat pekerjaannya bagus dan layak. Bahkan ada juga yang lulusan S1, tapi gajinya lebih besar dari yang lulusan S2.
Semua itu tergantung performa kerja dan ketekunan. Kalau gelar tinggi tapi ternyata belum tahu apa-apa, ya susah juga.
————————-
Wew..
Iya ya. Mungkin perlu diperbaiki niat kita ke kuliahan. Mau ngejar nilai atau ngejar pengetahuan. Udah gitu kalau pernah kuliah harusnya ga jumawa. Ilmu kan ga sekedar di kuliah aja @_@
Makasih nasihatnya, Bang!
——————————
Hm … antara penting dan nggak penting sih …
Memang .. kebanyakan orangtua di Indonesia (termasuk orangtua saya lho Bang), bakal lebih seneng dan bangga kalo anaknya bergelar sarjana
dan saya rasa mereka bakalan seneng dengan dua calon gelar sarjanaku iniSayangnya .. sudah sangat sedikit yang bener-bener nyari ilmu di bangku kuliah. Hanyalah segelintir orang yang mencari ilmu di bangku kuliah,
hingga harus mengulang Tugas Merancangseperti sayaAh, saya memang anak idaman semua orangtua di muka bumi ini …
Sebenernya, kuliah juga nggak jaminan sukses di dunia kerja .. memang sih, membuka peluang lebih besar … tapi coba tengok programmer kita, yang ndak perlu kuliah buat mencapai ke-sukses-annya … *lirik seseorang
dengan mesra*Liat juga Hermawan Kertajaya, Bill Gates, sama pemilik Kebab Turki Baba Rafi *
weh, Chiw … itu mah, orang orang DO yang sukses*———————————
Saya sebenarnya nggak terlalu ngerti apakah sebenarnya gelar masih berguna atau tidak untuk mencari pekerjaan. Karena dalam beberapa pengalaman [sebagai HRD] terkadang lulusan SMA lebih punya ketrampilan dibandingkan lulusan D3/S1.
Tapi menurut saya, gelar masih dianggap penting di negeri ini, setidaknya untuk mendongkrak gengsi. Nggak heran banyak institusi-institusi pendidikan siluman yang memberikan gelar2 instan asal ada duit sekian juta. Bahkan PhD dan Profesor-pun bisa dibeli.
Tapi saya suka protes kalau ada yang bilang pendidikan nggak penting. Terus mengambil contoh Bill Gates yang pernah DO tapi sukses jadi pengusaha. Itu contoh yang salah, karena yang dilihat dari Bill Gates cuma DO-nya saja dan bukan kerja dan usahanya yang luar biasa. Pendidikan sangat penting, dan gelar hanya akibat sampingannya saja. IMHO.
——————————–
Wah, betul Pak .. banyak sarjana yang nganggur dan melupakan ke-ilmuan-nya. Ilmu yang didapat di bangku kuliah cuma sebatas hafalan ..
*saya malu baca yang pengalaman SH temen bapak.*
Saya khawatir, jangan-jangan saya juga seperti itu …
Waduh saya jadi malu, takut jadi nambahin pengangguran …
——————————–
Ayoo … siapa yang masih jadi pengangguran unjuk tangan?
*liat kanan kiri sambil unjuk tangan*
——————————-
Ada beberapa hal yang patut dipahami, saat seseorang meneruskan kuliah, tak semuanya paham atas jurusan apa yang sebetulnya diinginkan. Ada yang sesuai, karena ternyata saat kuliah, mata kuliah yang diberikan sesuai apa yang diharapkan, dan ada yang merasa tak sesuai tapi harus terus dilanjutkan karena sudah tanggung.
Bidang pekerjaan sekarang, memerlukan disiplin ilmu dari berbagai bidang … itu pun sudah disadari para pimpinan perusahaan saat saya lulus kuliah tahun 76.
Seseorang bisa bekerja dibidang apa saja .. memang ada sih bidang tertentu yang tak mudah dimasuki, seperti kedokteran, kalau bukan kuliah di kedokteran kan tak mungkin berpraktek sebagai dokter.
Perbankan? .. bisa dimasuki dari berbagai latar belakang, karena bidang bisnis, harus bisa menilai bidang usaha nasabah, yang berbagai variasi. Ilmunya? setelah lulus seleksi, di pekerjaan dilatih terus menerus, ada tingkatannya … dan kadang yang lulusan Psikologi mendapatkan nilai tertinggi, karena memang serius (atau memang ternyata pekerjaan sesuai dengan minat dan bakatnya)
Jadi mohon maaf, mathematics … tak selalu seseorang harus bekerja sesuai latar belakang pendidikannya. Suami saya dosen seni, dulunya S1 dari Teknik mesin ITB .. juga coba lihat riwayat bu Tuti Herati, pernah kuliah kedokteran, belok ke psikologi, filsafat, kemudian seni .. sekarang memimpin kantor Patent diantara seabreg kesibukan lain.
Dan benar .. gelar sarjana hanya merupakan kunci masuk untuk ikut seleksi (kalau tak dibatasi, stadion Senayan pun tak muat untuk menampung peserta test) … setelah bekerja, gelar hanya untuk mengisi curriculum vitae di HRD ..
Sehari-hari tak pake gelar … kecuali yang kerja dibidang pendidikan mungkin ya … yang penting adalah kinerjanya. Biarpun MBA dari universitas terkenal di Amrik, kalau kinerja jelek … ya bisa kalah dengan S1, karena ukurannya pencapaian target.
Yang menentukan? Kinerja kita saat bekerja, bukan kepandaaian saat kuliah … apakah kita berkinerja baik, bisa mencapai target keuntungan perusahaan yang ditetapkan, serta target lainnya seperti : memimpin anak buah dll … yang ada nilainya.
——————————–
@edratna:
Iya Bu, banyak orang yang bekerja bukan sesuai keahliannya.
Tapi, saya khawatir, saya takut bila pekerjaan yang diserahkan bukan pada ahlinya, maka kehancuran akan menanti di kemudian hari.
Mungkin negeri kita susah majunya karena banyak orang yang bekerja bukan sesuai keahliannya. Makanya hancur terus negeri ini.
Betul ga?
Jadi curhat nih bang,
Sampe sekarang .. di kartu nama saya gak pernah nyantumin gelar sarjana saya. Bukan apa-apa .. saya kerja di lembaga multinasional di mana masih banyak orang-orang yang bahkan gelar PhD nya itu gak dicantumin. Apalagi saya yang cuma S1 dan gelar sarjana gak sesuai sama bidang pekerjaan saya sekarang.
Saya ini anak teknik mesin tapi nyasar
.. Makanya kalo tanya soal vibrasi ataupun soal turbin sekarang ke saya pasti saya jawab, meneketehe 
ke lembah hitamngurusin AIDS yang jelas-jelas gak nyambung sama kuliah saya————————–
Memprihatinkan memang.
Yu deh, sambil tunggu kalo emang ada yang ditunggu, kita lakukan sesuatu yang manfaat buat diri-sendiri, semoga juga buat yang lain.
————————
Sarjana sarjana-an sekarang juga banyak. Tinggal sedia-in Rupiah aja ST, SE, MT, dll bisa ditambahkan ke nama
Hmm .. saya sendiri .. lagi ngejar sarjana nih pak
————————
Gelar sarjana mungkin sekedar penanda saja, bahwa kita pernah belajar satu disiplin ilmu di perguruan tinggi. Sekalipun ane sepakat ama abang, kalo gelar kesarjanaan tidak serta merta jadi jaminan kalo kita ahli dalam bidang tersebut.
Penanda ini bisa penting, bisa enggak .. tergantung situasi dan kepentingannya. Ane sendiri kayak-na kagak ngerasa nyaman nyantumin gelar S1-S2 di belakang nama …
Ane masih lama nih bang kuliahna …
————————-
Jadi kerja dimana sebenarnya Bang??
*dilempar kertas*
__________________________
hohoho, memang dilema sih ya …
Sarjana bisa memudahkan, merepotkan …
Namun .. ini layaknya pintu gerbang …
Yang setelah dibuka, harus dilewati …
*ah, opo iki*
————————-
Udahlah … gak terlalu dipikirin … sebab pakai / gak pakai gelar .. toh sama aja. Pada akhirnya juga hanya Sarjana yang “Pinter” lah yang mampu menjawab tantangan hidup.
————————
Hohoho .. betul itu, gelar hanya untuk menyenangkan orang tua, tapi ndak tahu kayak apa anaknya pas kuliah .. Yang nyontek-lah, yang njoki-lah ..
————————
Yang link sama dunia bisnis dan industri kayaknya sarjana yang memiliki kemampuan, kemauan, keahlian, keterampilan, rajin, giat, baik hati, tidak sombong, pekerja keras, inovatif, inisiatif tinggi, dan kreatif .. hikz hikz hikz. Double degree aja gak cukup kalo gak punya semua di atas. Bener gak seh?
————————
Setuju ama yang diatas sayah. Gelar sarjana kalo ilmunya dapet n di pake ama orangnya dengan baik pula lebih mantep.
Sayah nyasar disini karna liat di dasbor, soalnya lagi mau mencapai sarjana ini, bukan demi ortu, tapi demi diri sendiri. Sayah juga nantinya g mau ah nyantumin gelar.
Kalo masalah g sesuai dengan profesi banyak banget. Teman sayah banyak yang capek2 kuliah di teknik .. pada di bank semua *hikz…* di Indo gelar penting deh buat naek jabatan / pangkat.
Banyak om dan tante yang sekolah lagi malah cuman buat dapet gelarnya, ilmunya belakangan. Btw, tulisan ini menyadarkan sayah yang baru mau mendapat sarjana. Tengkyu.
————————-
Wah, postingannya menyadarkanku akan pentingnya ketrampilan dan keahlian, melebihi segalanya. Ini baru tahap awal saya belajar di bangku kuliah.
Saya jadi merinding dengan cerita di atas yang tentang SH itu. Mudah-mudahan, saya tak seperti itu.
Selama 2 tahun sejak menjadi pesuruh (office boy) sungguh, begitulah jika tak punya ketrampilan. Pelajaran di SMA serasa tak ada manfaatnya. Apa to definisi ketrampilan???
Kadang saya berpikir, apa to hakikat kita kuliah???
Sampai sekarang (semester 2) belum ku temukan makna kuliah sebenarnya, hanya mengikuti arus kehidupan yang harus dijalani. Kadang, merasa jenuh juga belajar hafalan, itungan angka, apakah nilai A atau B yang kita kejar??? Lulus cepat dengan nilai cumlaude dan IPK yang tinggi???
Ternyata, kita harus benar-benar menguasai konsep agar bila ditanya di kemudian hari nyambung.
Saya jadi teringat, kata seseorang yang pernah mengajak ku berbisnis MLM, “Pendidikan tidak menjamin kita sukses. Kesuksesan bisa kita raih dengan cara bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada! Dan KESEMPATAN selalu ada di sekeliling kita dan selalu ada setiap saat.”
KESEMPATAN TIDAK DATANG 2 KALI.
Apa maksudnya yah …???
Kok saya masih tolol gini …???
—————————
Haduh .. kalo soal ini saya ndak bisa komeng. Maklum saya sarjana acakadut. Untung sekarang dibayar mahal .. Tuhan memang sayang sama saya …
————————
Saya tertarik dengan kecenderungan untuk bekerja saat kuliah, hingga kuliah bisa sampai 10 tahun ..
Nah, sekarang di kampusku, lulus aja dikejar-kejar. Lama lulus dibilang “Tertinggal”.
Nah, masalah pencantuman gelar di kartu nama .. hmm … kayaknya enggak deh ya, beban terlalu berat.
————————-
Saya ga punya gelar
Jadi gimana dunkkkkkk
————————
Wah .. baca tulisan ini beserta komenya bikin saya sedikit bersemangat dan tidak pesimis lagi. maklum saya ini cuma lulusan SMA dan ga mampu nerusin kuliah, cuma ambil kursus sana sini yang harganya murah menjangkau saku celana.
Belakangan ini .. saya mudah sekali putus asa dan ragu, tiap kalee interview atau bahkan mau ngajuin lamaran kerja. Maklum, sempat ditolak hanya karena saya bukan D3/S1 meski seberapapun saya bisa mengerjakan pekerjaan itu.
Pede saya anjlok sampe level yang paling bawah. Jadi suka ngiri sama yang bergelar sarjana, apalagi klo ketemu temen lama / baru yang nanyain ‘kuliah dimana’ .. paling bisa meringis ajah ..
Meski ga bergelar apapun bukan berarti saya ga punya arah. Saat ini .. saya sedang menyusun rencana masa depan. Yang pasti .. saya ga boleh jadi pengangguran 1 detikpun … hehehehe
————————-
Kalo wanita kerja, pendidikan tinggi … yang susah malah dapet pasangan hidup sah bang
————————
Kayaknya .. lebih baik kerja sambil kuliah dari pada kuliah sambil kerja …
————————
Menyesal ..??? tentunya bukan solusi, bersukur bisa kuliah, walaupun yang bergelar sarjana sudah seabrek banyaknya .. ya mereka sodara kita .. semoga Tuhan selalu melapangkan rezeki bagi kita semua .. aminnn
————————
Gelar akademis kalo di Indonesia sih masih ngaruh. Paling gak buat reputasi di hadapan publik. Terkesan wah, mewah, atau dianggep pasti pinter.
Di dalam dunia kerja .. ada yang biar-pun jadi S3, tapi cuma kelas pekerja. Ada juga cuma tamatan SMP, tapi bisa menghidupi tamatan sekolah apa pun.
————————
Saya sarjana apa ya?
Menurut saya kuliah adalah subject to discuss … artinya kalau seseorang sudah fokus dan tahu dengan baik apa yang akan dikerjakan dan konsekuensinya di masa mendatang … dia bisa saja memutuskan untuk tidak kuliah supaya lebih fokus pada bidang yang dikejarnya, contohnya Bill Gates … seandainya Bill Gates lulus kuliah belum tentu sekarang ada Microsoft …
Tapi ketika belum tahu yakin dengan sesuatu dan tidak paham konsekuensinya di masa mendatang, maka belajar lah lebih dulu. Entah dengan kuliah atau melalui jalur yang lain …
Toh di dunia kerja gelar dan keahlian tidak selalu significant, bahkan gelar master dari lulusan S2 di Indonesia tidak otomatis mendongkrak karir di Indonesia. Seperti yang disampaikan Ibu Edratna, di Indonesia yang dinilai adalah performa kerja, dan ternyata performa kerja ini lebih didominasi oleh kemampuan komunikasi dibanding keahlian khusus seseorang.
Bekerja tidak sesuai dengan jurusan waktu kuliah dulu, no problem, banyak sarjana sipil yang jadi GM di perusahaan IT … Jadi??? gelar tidak penting-penting amat tuh …
————————-
Kalu saya termasuk yang kejar target lulus, soalnya sambil kerja jadi capek sekali .. karena full sabtu minggu masuk semua sampe malemm … sering ketiduran di kelas.
Namun setelah semua itu berhasil dilewati .. masuk kerja cepet sih .. namun setelah sekian lama ternyata sarjana itu buruh seperti tulisan saya klik ini yah Sarjana alias Buruh
————————-
Jadi blogger ajah, biar dapet duit …
———————–
Artikel yang menarik bang..
Saya juga sangat menikmati komentar dari rekan-rekan bloger yang antusias sekali menyampaikan perspektifnya.
Tapi lepas seperti abang bilang, meski kadang perannya hanya sebagai anak kunci doang, tetap aja gelar akademik jadi menentukan bagi pencari kerja pemula untuk meraih pekerjaan yang diharapkan.
Namun bagi rekan-rekan yang tidak memiliki gelar akademik yang terlalu tinggi seperti saya misalnya, toh gak bijak jika terus berkecil hati. Semakin kompetitif dalam hal mencari pekerjaan itu pasti, tapi peluang kan banyak juga, tetap terbuka lebar. Jadi, kenapa gak optimis aja saya rasa. Wong untuk exist dalam hidup itu gak ada sekolahnya kok.
————————
Gelar penting buat awal perkenalan, selanjutnya terserah anda
———————–
Walofun gelar sebenernya ndak fenting, tafi kondisi sekarang ini membuadh gelar seakan menjadi kunci utama untuk terjun ke dunia kerja. Liat aja lowongan kerja sekarang ..
*mbaca lowongan kerja dengan syarat S-1 sambil nangis*
Huff … saia sendiri walofun ndenger sarjana ndak fenting, tafi ya tetef kuliah, biar begimanafun, fendidikan itu tetef fenting sangadh!
*berkobar-kobar*
Tafi kenafa sekarang ko ya mahal sangadh … huh!
————————-
Ijazah sayah nganggur dari semenjak dikluwarkeun dari pabriknya di UGM taon 96 lalu.
Maklum, Sayah Orang Nyang Ndak Ada Kerjaan.
Ada nyang berminant mbeli ijazah sayah ??? Mereknya UGM looohh,…
(barangkalee ada calon anggota dewan ato pejabat nyang ndak punya ijazah PT)
————————-
Saya blom sempet selesai sarjana, tapi klo menurut sepengetahuan … saya gelar itu diperlukan dalam dunia kerja (struktur) .. tapi klo dia berwiraswasta .. saya rasa tidak perlu gelar untuk profesional dibidangnya.
————————
Gelar .. gue aja kuliah di jurusan yang gue nggak sukain .. dan berkarir di bidang yang gue nggak sukain .. ujung2nya nggak cucok …
Gue sekarang kuliah lagi pada sesuatu yang dimana gue ada passion didalamnya … karena kalo nggak cocok … buat apa?
————————
Tu semua kembali dari apa motivasi tuk kuliah. Jadi, sebenarnya peran ortu sangat besar tapi malah kebablasan .. Itulah yang menyebabkan banyak sarjana yang tidak berkualitas sehingga bukan hanya menjadi dilema individu tapi nasional. Mengapa???
Karena banyak ortu yang memaksakan kehendaknya pada saat menentukan jurusan yang akan diambil. Sehingga di bangku kuliah bukan-nya belajar tapi malah pada ngeceng bahkan sampai jadi ayam kampus, gigolo dengan berbagai macam alibi.
————————
Saya bukan sarjana, dan saya tetap bisa berkarya. Yang penting bisa pinter dan bisa hidup udah cukup, gelar sarjana gak perlu2 amat.
———————–
Wah, liat banyak sekali yang beri komentar. Jadi nimbrung aja sebentar. Baru aja sempat liat “AKU”, jadi saya panggil Mas aja, de .. Rasanya saya lebih senior usianya.
Saya ikut prihatin dengan dunia pendidikan, terus terang, rasanya ini terjadi di-mana2, kalu udah lulus uni, bukan bahagia tapi lebih punyeng, alias no job, no work. Kalu ada kuliah .. masih ada alasan ngerjaiin sesuatu. Kalu nganggur, wah ya, stress nyari kerjaan.
Artikel asli di atas ga sempat saya baca,
Cuma selayang baca komentar sana sini.
Pandangan saya .. gelar sarjana sekedar memberi kita pegangan hidup dan pegangan pengetahuan dasar. Biar bagaimanapun juga pengalaman ril di lapangan kerja baru betul2 mendapatkan kepandaian. Memang kwalitas pendidikan kita kurang, tapi yang saya liat, selama itu mempelajarin teori, ya, semua sama membosankan.
S2 .. barulah bisa dibilang mempelajari teori dan menerapkan dalam lingkup yang kecil banget. S3 baru mendapatkan ilmu yang lumayan lengkap (ada ga S4, profesor mungkin ya) baru kemudian bisa jadi profesional yang lumayan bisa dibanggain.
Sebaliknya, apa memang perlu dapat titel tinggi2 baru memiliki kemampuan. Ga betul tuh! banyak bukti lulusan SD pun bisa sukses dan jadi pencipta, dan yang lebih penting lagi, sukses business. Rasanya hidup yang ril yang patut dilihat, kehidupan kampus sekedar stasiun yang mesti dibayar.
Sekian Mas, trima kasih udah numpang komentar.
————————–
Kesummon
Yah, itulah pentingnya softskill selain hardskill dari kampus.
————————
Orang kuliahan yang malas .. bilang nilai ma IP ga ada gunanya …
Orang yang ga bisa kuliah karena males ato ga da money .. bilang ga kuliah ga ada gunanya …
Orang yang ga punya gelar karena sudah putus asa mencarinya .. bilang gelar ga pengaruh …
Orang yang sudah kerja dan mapan dan tidak pernah kuliah bilang jika lulus kuliah aja belum cukup, ketrampilan yang perlu (merasa jurmawa karena tidak pernah kuliah tapi bisa bekerja dengan layak) ..
Orang yang merasa mencari pekerjaan itu sulit dan mengatakan lapangan pekerjaan itu sedikit dan membutuhkan ketrampilan yang ekstra hanyalah orang yang gagal dan pesimis nan negatif …
Pekerjaan itu banyak, man!! jangan jadikan semuanya apologi terhadap keadaan yang sedang terjadi, “ah ga berguna, ah ga ngaruh, ah .. ah .. dan ah …”
————————-
Yups, penghasilan saya dari blog dan online earning lainnya lebih besar dari gaji kantoran saya
————————
Sepertinya gelar sertifikasi akan mengalahkan gelar kesarjanaan
————————
Orang yang malas biasanya pintar, mereka cuma cenderung meremehkan (makanya jadi malas) ha .. ha .. ha ..
———————–
Jadi sarjana (juga pascasarjana) bukan berarti tahu segalanya. Seorang rekan blogger yang lulusan Fakultas Ekonomi juga nggak ngerti masalah globalisasi, asal nuduh globalisasi biang perusak. Terlepas globalisasi adalah sistem yang tidak sempurna (tentu tidak ada sistem yang sempurna), globalisasi juga banyak memberi manfaat pada negara berkembang. Bukan itu aja rekan blogger kita itu juga bahkan tidak bisa membedakan ceteris paribus dan equilibrium dengan alasan lupa juga!
Nggak penting kita sarjana atau bukan, pengangguran atau sudah bekerja yang penting kita terus menerus mengasah kemampuan kita dalam arti luas dan mengacu kepada sikap profesionalisme. Dengan begitu mudah2an yang penggangguran dapat segera mendapatkan pekerjaan dan yang sudah bekerja mudah2an perusahaan tempat mereka bekerja benar2 mendapatkan eksekutif yang kelas 1, bukan eksekutif kelas teri!
Maklum walaupun sudah melalui proses seleksi, bisa jadi teri2 ikut terambil, sama seperti UMPTN yang katanya menjaring calon2 mahasiswa terbaik ternyata banyak juga yang DO di tengah jalan. Mangkannya untuk jangan jadi ‘teri’ kita tetap bersikap profesional dalam pekerjaan dan tetap mengasah kemampuan kita dengan belajar dan belajar terus (dalam arti luas).
Bagi para eksekutif S1 biasanya juga banyak terjadi kemunafikan, mereka biasanya bersemangat merombak tembok pemisah antara S1 dan S2/S3 dalam arti dalam perlombaan meniti karier. Mereka semangat untuk tidak membedakan antara S1 dan S2/S3. Tetapi anehnya mereka menutup pintu rapat2 untuk mereka yang non-sarjana atau yang hanya bergelar Diploma atau lulusan SMU.
Nah, itulah manusia, kalau IPK-nya rendah pasti teriak2 “ah … IPK sih nggak penting”, atau bagi mereka yang berijazah S1 bersaing dengan mereka yang S2 : “Ah, ijzah sih nggak penting”, tetapi mereka yang S1 kalau melihat yang lulusan SMU berada pada satu jalur karir yang sejajar “Ah, lu kan cuma lulusan SMU!”
Hmmm pikir sendiri deh!
Sebenernya masih banyak sih yang mau ditulis cuma lagi males ngetiknya.
————————-
Bukan ngomongin guru doank bang,..
Sertifikasi yang saya maksud .. sertifikasi profesional dan berlaku internasional .. misalnya di bidang IT .. banyak banget sertifikasi mulai dari database (OCA, OCP dkk), jaringan (CCNA, CCDA, CCIE dkk), dan bidang2 lainnya.
Semua itu tanpa melalui jalur akademik. Anak SMP pun klo berkompeten bisa aja ngambil. Dan lebih wah lagi klo bersertifikasi, justru gaji lebih besar. So, bisa aja tanpa kuliah langsung kerja, dan bisa mengalahkan orang yang berstatus sarjana.
—————————
Assalamu’alaikum bang …
Lama gak mampir nih. Hm … nice postin bro. Jadi mikir lagi tentang gelar yang mulai nempel dibelakang nama.
Sekedar share aja ya bang .. dikantorku yang sekarang, karena orang2 tau neng lulusan hukum, mereka juga sering nanya tentang aspek hukum (maklum, sekarang kerja di sekuritas).
Tapi syukurlah, sejauh ini aku masih bisa jawab apa2 yang ditanya mereka. Waduh, gak terbayang deh kalo kita nya ngaku sarjana tapi gak bisa jawab apa yang jadi bidang kita.
Tips neng sih .. waktu masih jadi mahasiswa dulu, yah banyak baca aja. Tapi memang kebiasaan kita ini memang suka nunda2 ya bang. Beli ato minjem buku, tapi jarang dibaca. Alhasil, jadilah kebanyakan mahasiswa sekarang ya gitu deh.
Dah ah, kebanyakan ini.
————————–
Hehehe, iya .. neng mank lagi sibuk gak menentu nih bang. Sibuk pindahan dari Padang ke Medan, sibuk cari kerja yang cocok.
Tapi setelah keterima kerja .. kok rasanya masih belum cocok juga ya. Neng ini orangnya agak bosenan sih bro. Punya tips gak ya, biar gak jadi kutu loncat?
————————
Saya juga udah memikirkan hal yang sama sejak awal saya kuliah Pak. Bingung. Hidup ini terlalu banyak pilihan dan godaan (??).
Jurusan yang saya pilih sekarang kayaknya cocok, tapi tetep ajah … kalo udah ngeliat dunia kerja, saya sering pikir2 ulang. Oooohh … masa depanku, dimanakah kau …
… Nnggg ….
Memangnya Pak Erander kerja di mana?
*dilempar pake gulungan kertas*
————————–
Saya malah calon sarjana sastra yang lagi ngelamar kerja di perusahaan minyak.. hahaha
Bagus pak blognya :’)
Memacu saya untuk cepet lulus ^^
—————————
Salam kenal!
Habis maen² ke blog mas Anjar, ketemu blog ini. Wah tulisannya bagus. Ijinkan saya sumbang komentar tentng topik ini.
Gelar sarjana untuk di Indonesia, masih menjadi KUNCI untuk bisa diterima di pekerjaan. So, mau ngga mau gelar ini musti dipegang, sekalipun apa yang dipelajari di kampus — dan ini sesuai dengan kenyataan — sering ngga match dengan yang dipekerjaan.
Masih perlu ditambah dengan skill dong, yang wajib diantaranya: bahasa Inggris dan aplikasi komputer.
Pengalaman saya interview, begitu masuk sesi bahasa Inggris, lancarr .. (nyombong dikit aah
) Komputer, sekarang semua udah serba computerized, jadi ngga ada alasan ngga bisa pake komputer.
Masalah utamanya sebenernya begini: pada saat kita mau kuliah, kita sadar ngga sih dengan pilihan hidup yang kita ambil? Apakah kelak jadi seorang pekerja, jadi guru/dosen, jadi pengusaha, dll.
Masalahnya sering kita masih terlalu ‘hijau’ untuk memahami pilihan² tersebut. Dan di saat sudah terlanjur kuliah, tiba² pengen buka usaha bareng temen. Tiba² ngerasa bidang yang diambil ngga cocok.
Atau merasa minder, karna mungkin bidang kuliah tidak punya prospek kerja yang ‘cerah’. Buat yang tidak punya masalah² tsb, syukurlah .. bisa jadi gelar sarjana memang target utama yang ingin diraih secepat²nya .. ngapain juga lama² di kampus.
—————————