erander

Sinetron ayat-ayat cinta

In Begini menurutku on Sabtu, 23 Februari, 2008 at 16:41

Karena dipaksa-paksa, akhirnya aku meng-iyakan ketika diajak nonton film Ayat-ayat Cinta. Perjalanan menuju Plaza Senayan sempat bikin deg-deg an .. bukan karena penasaran buat nonton film itu, tapi karena jalanan macet cet. Sehingga kawatir telat aja. Syukurlah, tiba 15 menit sebelum film dimulai. Dan .. usai nonton, pendapat ku tentang film itu cuma satu. Seperti nonton sinetron Indonesia yang ada di televisi. Suer. Bukan mengolok-olok. Tapi itu kesan yang ku dapat. Dan menurutku, film ini adalah salah satu film terjelek yang pernah ku tonton. Maaf buat pemuja film ini.

Faktor-faktor yang menurut ku membuat film ini jelek di mata ku, pertama : bintang sinetron bintang film yang memerankan tokoh Fahri, amat sangat teramat cupu. Ga ada kesan dewasa, matang, bijak seperti dalam novelnya. Pemilihan bintang itu, membuat aku teringat dengan tokoh Boy dalam film Catatan si Boy yang diperankan oleh Ongky Alexander. Anak muda yang gaul tapi religius. Dan aku seperti melihat Boy dari pada Fahri.

Kedua : Heii .. aku sedang nonton film Indonesia ala Mesir atau film Mesir ala Indonesia ya?? Benar-benar ga ada usaha untuk menciptakan image atau kesan bahwa adegan itu dilakukan di Mesir. Snapshot-nya amat sangat teramat tidak mendukung. Ga ada pen-citra-an kota Mesir. Yang ada cuma snapshot Piramid, Gurun Pasir dan Sungai – ga ngerti apakah ini sungai Nil beneran atau cuma dibelakang rumah. Dan ku pikir, ini film dibuat berbudget rendah. Sehingga .. penata artistik-nya benar-benar ala kadarnya. Seandainya bisa, mereka bisa take kota Mesir atau jalan-jalan kota Mesir dan kemudian zoom ke arah flat. Untuk selanjutnya dibuat di studio, ku pikir gpp. Menurut teman ku, kota Mesir ga boleh di take. Apa iya??

Ketiga : Dialog-dialog hampir seluruhnya pake bahasa wong kito, maksudne basa dewe. Terutama dengan orang-orang Mesir. Kalo dialog sesama mahasiswa Indonesia, ku pikir gpp kalo pake bahasa Indonesia. Pasti mas Hanung punya alasan mengapa banyak mengunakan bahasa Indonesia.

Keempat : Ya ampun .. ini film apa sinetron ya?? Berlebih-lebihan. Dan terlalu didramatisir. Dikisahkan seorang Aisah yang ternyata seperti kebayakan wanita di Indonesia. Ga seperti orang Turki yang besar di Jerman. Benar-benar ajaib. Apakah Habibulraqhman meng-amin-kan perubahan karakter ini?? Dan serunya .. melihat Fahri kerepotan ketika harus ber-poligami yang di novel-nya tak sempat dilalui Fahri karena Maria telah ke ’surga’.

Kelima : Ga tahu ya .. apakah kualitas Hanung sedang drop atau gimana?? koq karakter Fahri yang top markotop seperti di novel-nya tak tampak. Malah terkesan Fahri itu orang yang emosional .. ngamuk-ngamuk dan ajaibnya malah dinasehatin sama ‘penjahat’ yang lebih paham soal surah Yusuf dari pada Fahri yang – konon – sangat paham tentang Al Qur’an.

Keenam : Filmnya kepanjangan. Mulai jam 21:05 .. usai jam 23:10 .. cape nontonnya dan ga ada nilai tambahnya. Cuma buang duit aja. Mungkin kalo dipaksa untuk mengambil sisi positip-nya adalah ternyata ayat-ayat cinta ga hanya bisa dibuat the movie nya tapi bisa juga dibikin sinetron *halah* ..

Oya supaya imbang, coba baca juga postingan-nya :
1. Hanung Bramantyo : Dari India menuju Jakarta
2. Hasan Junaidi : Kejanggalan film ayat-ayat cinta
3. Deteksi : Midnight ayat-ayat cinta
4. David : Film ayat-ayat cinta
5. Scooter : Film ayat-ayat cinta = buruk

UPDATE 7 MARET 2008!!!

080320081529.jpg Berita di Topik Malam ANTV pada hari ini, 7 Maret 2008, jam 23:00 WIB, menyiarkan wawancara dengan mas Hanung, sang sutradara sinetron film Ayat-ayat Cinta. Ketika ditanya mengapa membuat film Ayat-ayat Cinta, mas Hanung katakan bahwa beliau sudah muak melihat film Indonesia yang ber-genre horor dan cinta remaja. Sehingga mas Hanung berusaha membuat film yang bergenre lain dan ingin membuktikan bahwa film non horor dan non cinta ABG bisa juga laku dipasaran.

Maka diputuskanlah untuk mengangkat novel Ayat-ayat Cinta ke layar lebar yang menurut penilaian mas Hanung, novel tersebut dapat mewakili ‘keinginannya’ untuk mengangkat kisah yang bernuansa agama terutama tentang poligami. Jadi .. yang saya tangkap adalah bahwa novel itu memang hanya sebagai ide buat mas Hanung untuk membuat film diluar genre horor dan cinta ABG .. sehingga wajar kalo hasilnya memang tidak sama dengan novelnya karena sudah mendapatkan interpretasi tersendiri dari mas Hanung.

Pada kesempatan itu, penyiar juga bertanya pada Joko Anwar, dan mas Joko sepertinya keberatan jika merendahkan genre film lain. Beliau katakan, kalaupun film horor dibuat 100 film dalam setahun dan 100 film tersebut dibuat dengan kualitas yang bagus, kenapa tidak?? (maksudnya mengapa harus muak) .. saya setuju dengan mas Joko. Karena yang harus dinilai adalah kualitasnya.

  1. Yah … gitu ya bang filmnya. Bikin patah hati aja.

    Kenapa ya .. cerita2 bagus di novel gak pernah bagus kalo di-film-kan? Apa karena permintaan market? tapi kalo dibilang pasar, gak juga ya?

    Buktinya .. penonton kan semakin kritis aja. Memangnya para sineas mikirnya orang Indonesia ini masih bodoh2 aja? terima-terima aja nonton film yang gak ada mutunya. Sayang bangettttttttttttttttttt :(
    ————————

    Mbak Ika .. jika mbak pernah nonton film-film di era tahun 70-an dan 80-an, pasti mbak tahu .. bahwa pada masa itu ada beberapa film Indonesia yang diangkat dari Novel dan laris manis seperti Kabut Sutra Ungu yang menyabet beberapa piala Citra, Gita Cinta Dari SMA, Ali Topan Anak Jalanan dan Cintaku di Kampus Biru.

    Saya tidak ingin mengatakan bahwa sineas dulu lebih idealis dari sineas saat ini yang cenderung bourjouis. Mungkin karena memang sudah jamannya .. sama hal-nya ketika orang tua bilang ketika kita minta dibelikan kendaraan : “Dulu bapak ke sekolah jalan kaki”

    Kita selalu sinis memandang masa lalu. Tidak berusaha untuk mengambil kearifan dari masa lalu. Memang dunia saat ini sudah tidak ada batas-nya. Saling pengaruh mempengaruhi. Dan sulit mengatakan bodoh, jika ternyata tetap saja banyak orang yang mau menonton film tersebut. Mungkin termasuk saya, walaupun karena terpaksa.

  2. Waaah .. bang Eby udah di Jakarta? :D nonton kok ga ngajak2 saya
    *pengen nonton AAC juga*

    Saya siap2 kecewa deh. Tapi tetep mau nonton. Soalnya penasaran. :mrgreen:
    ————————–

    Bukan ga mau ngajak cK .. soalnya, saya kan juga diajak. Pake dipaksa-paksa pula hehehe :D .. oya, itu kan pendapat abang. Jadi kalo cK mau nonton, monggo silaken. Siapa tahu pendapat cK beda. Iya kan? trus bikin postingan film ini juga hehehe :mrgreen:

  3. Untung ajagh belum nonton … katanya filmnya ga bisa ngimbangin novel-nya yagh …

    Tapi dipikir-pikir sama ko kaya cK … tetap penasaran … xixixi …
    ————————-

    Menurut saya, nonton aja Zah .. sapa tahu, kamu punya pendapat berbeda dengan saya. Wong itu cuma pandangan pribadi saya aja koq. Jadi sangat subjektif sifatnya. Ntar kalo sudah nonton, bikin postingannya buat ngimbangin pendapat saya. Ok.

  4. Tapi kayaknya si Fachri sempurna banget ya pak?? .. pernah baca novelnya .. tapi ga sampe tamat.
    ————————

    Menurut saya bukan soal sempurna atau ga. Pastilah tidak ada manusia yang sempurna. Hanya saja, di dalam novel-nya kita bisa banyak mendapatkan sisi lain tentang seorang Fachri.

  5. hem, nonton apa ngga ya ? .. tapi apapun itu saya tetap harus nonton, khan berbeda pendapat bole toch ..

    Ntar aku kasih pendapat dech dari view ku. Jadi terinspirasi mo buat film yang jauh dari sinetron Indonesia yang kebanyakan itu.

    Gimana bang ? mau dukung saya ?
    ————————-

    Abang memang berharap, orang-orang tetap menonton film itu. Buat compare dengan view abang. Sapa tahu pendapat abang malah keliru.

    Abang pasti mendukung mu, untuk hal-hal yang positip. Memang sudah saat-nya kita punya sineas seperti Hong Kong, Taiwan, Korea, Timur Tengah .. sesama Asia.

  6. Sudah saya perkirakan sebelumnya. Novel yang dahsyat belum tentu asyik dijadikan film. Memoir of Geisha (MoG) itu contohnya. Begitu tahu dijadikan film, saya langsung nonton di hari pertama bersama nyonya mantan, ternyata amat sangat kecewa, penggambaran kapten Nobu, dan “Dr. Kepiting”, beda jauh dan banyak cerita yang “dihapus” dari MoG. Begitu liat baca review AAC dari bang Eby, kayaknya di-skip wae lah AAC ini.

    :roll:
    ————————-

    Mudah-mudahan .. bukan karena gara-gara kecewa dengan film Memoir of Geisha, sang nyonya jadi mantan .. :lol:

  7. Itu salahnya baca novel dulu sebelum nonton tapi gak open minded. Jadinya over expectation! Film dan novel itu karya yang berbeda.

    Sekelas LOTR pun juga gak sama persis dengan novelnya. Kalo baca novel, fantasi dimainkan setelah baca tulisan. Film, fantasi itu divisualkan. Tentu ada keterbatasan visualisasi ..
    ————————-

    Benar bos .. saya aja ga pernah baca novel-nya Harry Potter. Tapi semua film-nya saya nonton. Jadi saya ga tahu apakah sesuai dengan novel-nya apa kagak. Begitu juga dengan LOTR. Jadi no comment buat kedua film raksasa itu.

    Jujur .. seandainya pun saya ga baca novel AAC, pendapat saya kurang lebih sama. Mungkin bedanya cuma pemilihan pemain saja. Karena saya pasti ga tahu karakter Fahri sebenarnya.

  8. Makanya .. dari dulu saya gak suka nonton filem Indonesia gak pernah liat hasil yang memuaskan walau masuk nominasi gitu …

    Lah nyesal gak mas nontonnya? mau nonton lagi? hehehehe ..

    http://www.satyasembiring.co.cc
    ————————-

    Saya selalu berusaha untuk netral. Jika memang bagus, pasti saya akan katakan bagus. Tentunya dari kacamata saya. Duluuuuu … saya ogah nonton film India dan film Hong Kong alias film China.

    Tapi sekarang, dengan sentuhan yang lebih ok, saya bersedia untuk menonton film dari ke dua negara itu. Pun film-film Indonesia yang dianggap bagus oleh kritikus film, pasti saya tonton. Minimal belajar .. bagaimana seorang kritikus menilai sebuah film.

    Nyesal .. kaya’nya ga. Karena saya nonton untuk menyenangkan orang lain – terutama yang ngajak saya atau mentraktir saya. Baru nyesal .. kalo saya bayar sendiri hehehe :mrgreen:

  9. Pak Eby pandai mengkritik.
    Bagaimana dengan novelnya?
    Apa sajakah kritik Pak Eby terhadap novel AAC?
    ————————

    Waduh pak. Saya tidak dapat meng-arti-kan kata pandai mengkritik yang bapak maksud. Apakah itu sindiran buat saya atau malah sebaliknya. Tapi apapun, saya positip thinking aja dulu.

    Soal novel-nya .. memang ga terlalu excellent. Karena gampang ketebak dan gampang dipahami. *maklum biasanya kalo bahasanya berbelit dan vulgar – dibilang bagus* :mrgreen: .. Apalagi pada bagian akhir, plot-nya terasa kedodoran. Wadoh .. saya koq jadi sok seperti pakar aja ya. Maaf. Maaf. Ini cuma pendapat saya loh pak.

  10. Ane kira, industri film kita masih belum bisa memproduksi film bermutu, bukan cuman dari aspek cinematography-na, tafi hal paling mendasar laenna, seferti penulisan scene, keteletian dan detail setting gambar dan cerita, kekuatan akting dan tema.

    Ane masih suka liat dalam sinetron klasik / kerajaan, setting tempatnya kagak detail dan teliti. Masa zaman kerajaan sudah ada tiang listrik ama jam dinding … :mrgreen:

    Kekurangan laennya adalah, dalam film produksi kita, TIDAK ADA TEKS! Padahal, masyarakat kita sudah terbiasa menonton film luar negeri yang ada teks bahasa Indonesia-nya. Itu sebabnya, banyak orang Indonesia yang kagak ngerti kalo nonton produksi dalam negeri. Ya … mungkin salahsatunya karena persoalan teks itu … :mrgreen:

    *diajak casting Garin*
    —————————

    Saya ga terlalu paham. Jika dibilang film Indonesia ga bermutu, buktinya mereka bisa memboikot FFI hehehe .. tapi kalo dibilang baik-baik saja, koq masih kalah dengan film dari negara seperti Iran, Vietnam dan Taiwan.

    Masa sih hanya gara-gara teks? bukannya gara-gara terlalu banyak sinetron?? atau jangan-jangan masyarakat kita-nya sendiri yang suka film-film seperti itu?

  11. Positif kalo gitu, saya ga jadi nonton …
    ———————–

    Siapa yang telah berbuat pada mu Mansup??
    *sambil mencari penghulu*

  12. Nambah:

    Kalau saya lihat, pilem AAC ini memang lebih sinetron dibandingkan bukunya. Mungkin untuk menarik pangsa pasar yang lebih banyak. Hanung sendiri mengaku kalo pilem ini tidak akan se-islami bukunya kok.

    Takut ga diputar sama bioaskop-bioskop yang kebanyakan punya-nya non-muslim kali :mrgreen:

    Tapi kalau mau jujur, buku AAC juga ga bagus-bagus amat kok, terlalu utopis kalo menurut saya.
    ————————–

    Abang juga sepaham dengan pandangan mansup. Jika dilihat dari segi sastra-nya – menurut abang – koq belum dapatnya. Tapi kalo dari segi dakwah-nya .. dapet banget. Te O Pe. Abang lebih cenderung mengkategorikan sebagai novel dakwah populer.

  13. Seutudju… :D

    Hanung sepertinya setengah hati garapnya …
    ————————

    Masa sih dia setengah hati??

  14. Yah saya belum nonton, belum bisa memberikan tanggapan tentang filmnya. Sebagai bahan perbandingan .. bisa di buka di blognya mas Hanung, http://hanungbramantyo.multiply.com/
    ————————

    Ma kasih link-nya .. biar balance ya Rul.

  15. Kalo begitu novelnya Andrea Hirata jangan dibikin film ya? .. Kecuali kalo yang bikin produser dari Hollywood sekelas Newline Cinema, 21th Century Fox atau Universal Studios :-)

    *walaupun nggak njamin bisa seperti bukunya tapi minimal keluarnya nggak sekelas sinetron Akar Pun Jadi lah ..*
    ————————

    Ga mesti pesimis gitu kalee. Jika melihat era 70-an dan 80-an, banyak koq novel-novel yang di-film-kan dan bagus-bagus. Kalo ga pernah salah, kita ga pernah berhasil pak.

  16. Enak Bang, dipaksa-paksa diajak.
    Bukannya maksa-maksa minta diajak.
    Sayang ya Bang, masih saja seperti yg Abang bilang diatas film2 kita.
    Ato memang kita-nya yang maunya masih begitu?
    ————————

    Mungkin kita memang maunya seperti itu.
    Yang penting enak ditonton .. tak penting soal mutu.
    Soal kritikan biarkan saja berlalu.
    Bisa pulang modal dan film tetap laku.

  17. Udahlah nama nya juga film, jangan syirik. Bagaimana pun juga .. hargai karya orang. Kalu menurut anda film itu ga bagus .. ya udah cukup ngomong dalam hati aja.
    ————————

    Ya saya paham koq bos .. itu cuma film. Makanya saya nonton di bioskop bukan di VCD bajakan. Dan justru karena saya menghargai karya seni, maka saya berikan kesan saya. Bisa digunakan untuk masukan, jika mau. Kalo ga .. ya gpp.

    Makanya .. blog ini saya namanya KU LETAK KAN KATA DISINI. Ini ngomongan dalam hati saya .. yang saya letak kan disini. Bukan ingin sok pintar. Bukan karena ingin sok hebat. Tapi saya hanya meletakkan apa yang ada di hati dan pikiran saya bos.

    Maaf sangadh .. jika postingan saya kurang berkenan. Justru saya berharap semua pada nonton film itu. Biar paham bahwa pendapat saya ini salah besar bos. Saya akan berterima kasih sekali, jika ada contra pendapat. Bukan malah melarang orang berpendapat.

  18. Wahh .. enak nih ditraktir nonton … kayanya saya juga harus nonton filmnya, walaupun kecewa .. gak adil kan kalo bikin review tapi gak pernah nonton filmnya … :D
    *nyari yang mau nraktir nonton dulu ..* :P
    ————————

    Setuju bu .. saya malah berharap, ada teman yang sudah menonton film tersebut dan memberi komentar disini dari sudut pandang yang berbeda agar postingan ini bisa jadi pembelajaran buat saya tentang film yang baik itu seperti apa.

  19. Membaca novelnya .. membuat orang2 kehausan hilang hausnya … menonton pilem malah tambah dosa aja … gara2 abis nonton malah mencak2 hihiihhihiihii
    :lol:

    Bang .. kayaknya orang2 yang mbikin filem itu sekaligus yang buat novelnya harus sedikit mengerti tentang “mutu” sebuah karya .. mentang2 novelnya best seller langsung mo bikin film, yang aku liat malah bukan sebuah usaha pencerahan tetapi lebih pencarian popularitas secara instan ..
    :D
    —————————

    Eh .. ati-ati loh, ntar dibilang sirik :lol:

    Kita selalu hidup ditengah puja puji .. sehingga kritikan sebagai hinaan. Makanya tidak pernah menjadi lebih baik karena sudah puas dengan hasil yang ada. Sudah puas dan berhenti untuk berkarya lebih baik karena sudah dipuja puji bagus.

    Soal bermutu atau tidak. Susah ya. Ntar ber-polemik. Contohnya .. lagu Rehab-nya Amy Winehouse yang mendapat Grammy Award aja, tetap dikritik walaupun – menurut ku – lagunya bagus. Dan ada saja orang yang ga suka lagu dengan aliran seperti itu.

    Karya seni memang seperti itu Al. Beda aliran, beda penilaian. Tapi bukan berarti tidak boleh memberikan penilaian / pendapat kan? .. semakin kontroversial, semakin seru. Kaya lukisan senyum-nya Monalisa.

  20. Kesimpulannya : mengecewakan yah???
    Sudah saya duga.. :D

    best regards
    —————————

    Bapak sudah nonton belum?? kalo belum, jangan buru-buru menyimpulkan pak. Wong, saya yang sudah nonton aja, dibilang sirik je .. karena menyampaikan kesan saya usai nonton. Apalagi kalo belum menonton .. atau nonton tapi dari VCD bajakan. Wah .. bisa-bisa bapak nanti dihujat :)

  21. Saya baru baca novelnya saja sebulan yang lalu. Sekarang sudah ada filemnya ya? Memang nampaknya banyak kritik terhadap film ini karena hasilnya di luar bayangan seperti di novelnya.

    Namun, saya juga bersimpati pada mas Hanung yang dalam posisi “maju kena mundur kena” dalam menyelesaikan film ini.
    ————————-

    Sebenarnya sih sah-sah aja untuk improvisasi, sepanjang karakter dari masing-masing tokoh ga berubah. Terutama untuk Fahri dan Aisah.

  22. Kalo gak salah kan, mereka gak jadi syuting di Mesir .. soalnya gak dapet ijin. Makanya pindah ke Goa di India sana.
    Kalo pelem Indonesa .. saya lebih milih diputer di tipi aja bang :D
    ————————

    Iya .. kata teman abang juga gitu. Karena Mesir ga kasih ijin. Sayang memang. Tapi apa ga boleh cuma take gambar depan Universitas-nya aja atau jalan-jalan di kota Mesir aja??

  23. Udah baca novel-na truss penasaran pilemnya … dari awal waktu tau klo karakter Fahri diperanin sama abang ‘garasi’ saya dah lumayan kecewa … mukanya terlalu imut, terlalu kurus, ga keliatan pinternya … belum lagi celaan orang2 yang udah nonton. Wah keluar dari bioskop bakalan siap2 ngedumel niy saya.
    ————————-

    Hahaha .. jangan gitu. Ntar saya dituduh sirik *eh, sudah ding* gara-gara bikin postingan yang – bisa jadi – dianggap mempengaruhi opini publik haha .. padahal, saya ini bukan siapa-siapa. Cuma meletakkan kata yang ada dibenak saja.

  24. Hmm .. saya belum pernah baca bukunya, dan jadi ragu-ragu mau nonton. Pernah ada film yang dibintangi Nicholas Saputra, anakku bilang jelek, tapi saya malah pengin tahu seperti apa jeleknya … maklum selama ini Nico kan lumayan bagus aktingnya … ternyata jelek banget.

    Nonton … enggak … nonton … enggak … mendingan nunggu VCD nya aja …
    ————————-

    Asal jangan yang bajakan ya bu. Ntar, kalo sudah nonton .. bikin postingannya juga ya bu. Ditunggu :0

  25. Assalamu’alaikum wr wb ..

    Saya dari awal udah tau itu film nggak mutu, jauh banget dari novelnya kang Abik. Seandainya digarap dengan latar Mesir dan adegan2 yang ada dengan asli novelnya .. Insya Allah, itu film bakal laku keras.

    Contohnya : mas Erander aja bilang filmnya nggak jelek. Oiya salam kenal mas dari saya.
    ————————

    Wa’alaikumsalam wr wb ..

    Ya .. sebelum menilai sesuatu, emang sebaiknya kudu nonton dulu. Biar ga dibilang sirik, gara-gara memberikan kritikan. Serba salah memang.

  26. Saya pernah dengar dari teman yang novelholic kalau bukunya bagus, tapi tak ada waktu buat membacanya (mungkin terlalu malas) .. Jadi kemungkinan kecewa saya minim kalau nanti liat filmnya hehehe ..
    ————————

    Ya pak. Buat yang belum baca novel-nya, mungkin tidak terlalu menganggu terutama untuk karakter tokohnya. Kalo untuk alur cerita, memang biasanya disesuaikan antara format novel dengan format film.

  27. Ade belum nonton … ada yang mau nemenin? :) halah … GAK penting De.

    -Ade-
    ————————

    Saya mau koq De :)

    -Erander-

  28. Saya jarang banget nonton film Indonesia, apalagi yang adaptasi dari novel, pengecualian buat yang film2 jaman dulu. Gara2nya waktu Badai Pasti Berlalu .. duuhh kesel rasanya liat mereka ngrusak khayalan saya tentang Siska dan Leo, juga pas nonton Cintapuccino .. aduuuhh itu yang jadi Nimo ga banget deh .. hehe
    ————————–

    Film Badai Pasti Berlalu yang jaman dulu apa yang sekarang?? Kalo yang jaman dulu, itu bagus. Ga tahu ya kalo yang jaman sekarang. Soalnya saya belum nonton yang versi sekarang.

  29. [...] Ayat-Ayat Cinta = Buruk!Kejanggalan Film Ayat-ayat CintaSinetron ayat-ayat cintaPesan AAC : Mending Gak Usah Nonton Daripada KecewaReview : Ayat Ayat CintaAyat-ayat Cinta, antara [...]

  30. Yah, begitulah … film yang menurut saya paling mendekati novelnya ya cuma LOTR …

    *turut berduka atas kekecewaannya :D
    ——————————–

    Benar kata salah satu komentator, jika ga ingin kecewa .. jangan baca novel-nya. Seperti saya ga pernah baca novel Harry Potter dan LOTR .. dan bagi saya kedua film itu bagus hehehe :D .. tapi bagi penggemar beratnya, pada kecewa hehehe ..

  31. Aq bolEh ngasih saran ga’? gimana kalo film a2c ini segera di C-kan, soal-nya aq belom nonton langsung ceritanya sich. Kalo bisa segera ya!!!!!!!!!!!!!
    ———————–

    Di C-kan itu apa ya?? .. Ayu sudah membaca novel-nya kan?? nah, beda-nya itu cuma di karakter Fahri dan Aisah yang digambarkan tidak sereligius dan tidak sedewasa di novel. Selebihnya ada beberapa tokoh yang tidak ada, serta urutan kisah yang tidak seperti di novel.

    Pada akhir cerita, digambarkan Fahri merasakan hidup berpoligami dan kebingungan harus tidur dengan siapa malam ini yang akhirnya diputuskan untuk tidur di luar kamar.

  32. Jangankan nonton … Denger judulnya aja, saya udah takut Bang … Ayat-Ayat Cinta, gitu lho … :)
    ————————

    Koq takut?? bukan film horor koq. :mrgreen:

  33. Tapi tetep menghargai orang-orang yang berada di balik film ini kan?
    Harus dong….

    Semoga kritikan yang ada bisa memacu Mas Hanung untuk lebih baik. Kalo saya sih salut aja dengan perjuangannya (sudah baca kan yang di multiply).
    ————————-

    Saya sudah baca mbak .. behind the scene-nya ayat-ayat cinta di blog-nya mas Hanung. Sedih dan trenyuh juga membacanya. Tapi, saya bersyukur, saya menyampaikan keripik diatas sebelum membaca kisah-nya mas Hanung. Soalnya, kalo setelah membaca multiply beliau, bisa-bisa saya jadi tidak objektif lagi. Karena tertutup oleh rasa kasihan.

    Jujur .. apa yang saya sampaikan diatas, terjawab dengan sendirinya dari kisah dibelakang layar tersebut yaitu budget yang ketat dan kompromi berbagai pihak. Tapi saya pikir, karya seni bukan dinilai dari sejarah membuat karya tersebut tapi hasil akhir dari karya tersebut.

    Bisa jadi, perjuangan untuk menciptakan karya seni tersebut sampai ‘berdarah-darah’ tapi kalo hasil akhirnya flop, saya pikir tetap tidak dapat diapresiasi dengan baik. Tentang perjuangannya, itu bisa kita apresiasi bu. Kira-kira begitu bu. Terima kasih sudah turut berkomentar disini.

  34. Saya mau nonton .. maksa2 minta diajak, ngga ada yang mau ngajak. Gimana sih Bang kok hidup itu geto sih.
    *Nangis guling2 minta diajak nonton*

    Aduh mak nikmatnya bisa ke bioscoop.
    ————————-

    Loh emangnya Citra belum pernah ke bioskop?? ya udah .. nunggu di TV aja. Paling ntar juga bakal diputar di TV atau nunggu VCD asli beredar aja.

  35. Temen saya (cowok) seneng banget nih sama ayat-ayat cinta. Nonton film di bioskop sampai dua kali (dengan dua orang yang berbeda pastinya :D ).

    Punya novelnya 2 juga (yang satu edisi revisi katanya; weleh weleh). Dan aku tahu pasti hobinya apa: Nonton Film India (Semua artis bollywood dia hafal). Memang cocok berarti ..
    ————————-

    Kaya’ sinetron Indonesia ya??

  36. Temen saya pernah bilang, kalo tentang musik itu ga bisa bilang ‘bagus’ atau ‘jelek’, lebih tepat bilang ’suka’ atau ‘tidak suka’ … mungkin kalo tentang film begitu juga ya … hehe, pendapat orang emang bisa beda2 ya ..

    Salam kenal !
    ————————

    Akuuurr .. selanjutnya, saya akan menggunakan istilah ’suka’ atau ‘tidak suka’ untuk setiap postingan saya untuk meng-apresiasi karya seni. Ga hanya soal musik dan film. Tapi juga soal fotografi, lukisan, tarian, puisi atau sastra, dan lain sebagainya.

    Thanks ya Damar .. mudah2an ga cape berlari.

  37. Yach … lumayan … bos …
    ————————-

    Jadi .. bungkus mang.

  38. Hmm, aku belum nonton memang, tapi jujur … aku memang ga minat menontonnya, karena terlalu sering film Indonesia yang gaungnya sampai ke langit seakan-akan film itu bermutu … ternyata tidak.

    Trims untuk komentarnya, so i don’t have to watch that movie
    ————————–

    Masalahnya, sering kali kita menilai suatu karya seni melihat dari siapa yang membuatnya. Padahal, tidak selalu seorang seniman hebat selalu menghasilkan master piece setiap kali berkarya. Dan keripikan eh kritikan sangat diperlukan dalam berkarya.

    Dalam mengapresiasi karya seni .. tidak ada maksud untuk mengolok-olok. Justru saya ingin karya anak bangsa tidak hanya sekedar mengikuti selera pasar tapi benar-benar dapat dibanggakan tidak saja di dalam negeri, tapi juga tingkat dunia. Saya pikir, pasti bisa.

  39. Dulu … di tahun 80-an, saya paling males nonton film India. Namun sejak film Kuch kuch hota hai, sudah lumayan suka. Pun film gangster ala Hong Kong, wah .. aNe inget betul, di tahun 80-an paling gak demen. Namun .. sejak Jet Lee maen … jadi berubah.
    ————————

    Mereka berubah karena keripikan .. dulu saya ga suka nonton film India dan Hong Kong karena inti ceritanya selalu balas dendam. Diawal film ada yang ditindas. Kemudian diakhir film, orang yang tertindas itu balas dendam dan menang. Saya takut .. kalo sering-sering nonton film seperti itu, saya tumbuh jadi orang pendendam.

    Makanya, setelah corak film India dan Hong Kong mulai berubah. Lebih beragam dan malah banyak kejutan-nya, saya juga mau nonton film-film mereka. Sama dengan film Indonesia, kalo ceritanya asik .. pasti saya nonton juga.

  40. Eeehhh, saya udah ‘under estimate’ gt pas tau novel ini mo difilmkan. Selain itu, ga pernah tertarik ma ini novel, palagi setelah tau jalan ceritanya. Jadi pas tau mo di-film-kan, uda mbatin, pasti sinetron banget.

    Ternyata bener to …

    Tapi .. ya diapresiasi aja lah. Moga kru-kru film ga kapok untuk berkarya. Mending bikin karya seperti laptop si unyil, si bolang, jalan sesama, dll yang sering ditayangkan di Trans group itu loh ^^
    ————————-

    Makanya .. saya lebih setuju kalo dibuat sinetron-nya .. karena produsernya – yang kebetulan – sudah ahli dibidang sinetron. Ga perlu memaksa bikin film-nya kalo memang anggarannya pas.

    Menurut saya, kalo hanya ingin mem-film-kan dan kemudian dilakukan penyesuaian .. mengapa ga total aja. Jangan bikin setting-an di Mesir .. bisa aja di Malaysia. Fahri kuliah di Malaysia .. kan disana wanita – pada umumnya – berjilbab. Trus, ada orang hitam juga. Jadi rombak total.

  41. [...] mulai tidak ingin menonton setelah membaca komentar beberapa blogger seperti komentar kang erander dan beberapa link yang ada di blog beliau dan kontroversi yang ada di beberapa milis Islam yang [...]

  42. [...] masyarakat yang sudah menonton memang berbeda, ada yang memuji, mengkritik, kecewa, dan menghujat. Saya sendiri ingin memberikan kritik, namun rasanya tidak sah karena saya belum [...]

  43. Hehe, kalo aku sih suka aja ma film ini … banyak kasih wacana positip …
    ————————

    Bener mbak .. makanya saya pikir lebih baik dibuatkan sinetron-nya sehingga setiap minggu kita selalu mendapatkan wacana positip .. dan ceritanya bisa diperdalam dan diperluas untuk segala macam dakwah.

    Keripikan saya .. bukankah justru mendukung untuk memberikan wacana positip?? .. wong film Ada Apa Dengan Cinta dan Arisan aja sudah dibuatkan sinetronnya koq .. mengapa Ayat-ayat Cinta .. ga dibuatkan sinetronnya??

  44. Ada tips buat nonton film Indonesia biar gak kecewa.

    Lihat produsernya, kalo masih jaringan India-India itu, lebih baik gak usah deh! … tapi kalo ada campur tangan Mira Lesmana, Nia D, Garin, barisan Christine Hakim, Deddy Mizwar boleh lah … silakan aja nonton.

    Kalo nama-nama itu yang menggarap, aku rasa, masih bisa bangga bisa nonton film Indonesia. Tinggal menyesuaikan genre dan selera.

    Mira bikin AADC yang jelas-jelas ABG banget menjadi sesuatu yang klasik. Kemudian Arisan yang kontroversi, ternyata bisa lucu dan menggemaskan. Kalau Garin dan Christine, lebih ke film serius sih.

    Kalau Deddy Mizwar, masih perlu dipertanyakan setelah kehabisan stok Naga Bonar.

    Kalau yang keluaran Punjabi-punjabi atau Shankar-Shankar itu, siap-siap bawa pacar aja ke bioskopnya, jadi kalo bete sama filmnya, bisa pacaran … hehehehe
    ————————–

    *ngakak* :lol: :lol: :lol:

    Tips yang terakhir itu .. te o pe be ge te !!! kaya’nya lebih seru pacarannya dari pada nonton filmnya :evil: oya, waktu pergi ke bioskop, saya sama sekali tidak tahu kalo film Ayat-ayat Cinta itu diproduksi oleh MD .. ketika film dimulai dan logo MD muncul .. saya langsung terhenyak kaget. But it’s ok .. kalo emang bagus, napa ga?? eh .. tahu-nya .. gitu deh :(

  45. Makanya … quality never goes out of style
    ————————

    Tapi mengapa laris manis ya??? .. kata teman abang sih, siapa pun sutradara dan produser novel tersebut, dijamin pasti laris. Jadi film itu laris, bukan karena kehebatan sang sutradara.

  46. AFI juga laris, apalagi sinetron … laris banget. Laris gak menentukan qualitas kan? … Qualitas ditentukan selera, bener juga. Jadi bagi yang suka, itu film kualitas banget.

    Kayanya penerbit dan pihak publisher gak selektif memilih producer filmnya. Kasihan penulisnya yah …
    ————————-

    Ato jangan-jangan … justru mereka paham dengan kualitas penonton kita. Makanya dibuat yang kaya’ sinetron .. pasti langsung bisa diterima oleh pasar. Modal pasti balik. Untung malah. :mrgreen:

  47. Mengerikan bang … aku ikut nulis soal Ayat-ayat Cinta di blogku, hasilnya … hehehehe … ada comment gak sopan kaya berikut :

    “Jangan banyak komentar, kalau ada duit ya … nonton aja, orang-orang Indonesia emang sama seperti lo … bisanya cuman komentar aja .. kalau lo bisa bikin film, itu bru bagus … jangan bikin flm porno ya …

    BOMEL said this on March 12, 2008 at 1:04 pm (edit)”

    hebat kan ..
    ———————–

    Lai, lai .. jangan diambil hati ya. Begini lah dunia tulis menulis .. pasti isinya komentar dong. Soal pro kontra mah biasa lai. Gpp. Sepanjang itu memang baik untuk kemajuan kita, mengapa tidak??

    Minimal, dengan ada nya yang kontra, membuat kita akan meningkatkan mutu tulisan kita. Dan seharusnya pun, pihak yang mendapatkan komentar yang kontra dari kita juga dapat lebih baik lagi. Gitu aja koq repot lai :mrgreen:

  48. Commentnya hebat2 banget ya … jadi minder nehhh … kalau qw mah nonton film hanya hiburan aja … gak sampai diambil ati … syukur2 filmnya bagus kalau gak liat aja bintangnya yang cakep2 sekalian cuci mata he .. he ..

    *Bang, yayangnya hari ini berangkat tuh, udah pamitan belum?*
    ————————-

    Belum .. !!!

    Thanks info-nya. Barusan abang call dia. Dia saat ini sedang transit di Cangi Airport Singapore. Besok baru nyampe di New York. Trus, kapan Urie nyusul?? .. abang sih sudah lama mengubur mimpi itu ;) bahasa inggris-nya sudah ketelan sama bahasa Banjar dan bahasa Jawa Timuran hahaha :lol:

  49. Bener sekali mas, kasihan pengkritiknya kalo ditujukan ke Kevin. Kevin menulis buat diri sendiri. Ada yang kurang kerjaan … baca silakan. Mau nulis comment juga … pasti di approve. Mau jelek, mau bagus, semuanya datang dari hati kok.

    Jadi, gak ada yang mau repot. Repot itu tak ada gunanya. Tapi kalau di toko repot, aku justru senang karena berarti duit masuk ke laci … hehehe …

    Yah, akhirnya jelek tidak jelek yang penting laku. Biasanya yang bagus yang laku. Kalau yang jelek yang laku, itu wajib dipertanyakan.

    Atau standart jelek bagus-nya yang rancu?
    ————————–

    Ada pepatah mengatakan : “Ada rupa, ada harga” .. atau “Indah kabar dari rupa” .. atau “Besar pasak dari tiang” *halah* … asal, blas!!!

  50. woooiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….
    lo pkir bkin film gmpang
    jngan kan bkin film, buat suatu cerita fiktif aja gw yakin gak bkalan lo bs.
    lo gak mau gw blang anjing pnjilat pantat mas hanung kan….
    udh jlas2 tu film mecahin rekor tapi lo tu ye…
    dasar babi busuk, ngepet, jilat2 pantat orang, ampe pantat lo sndiri aja lo jilat….
    wakakakakakakaaa

  51. Commentnya mengerikan sekali mas, gak nyangka yah pecinta film ‘Ayat-ayat cinta’ bisa kaya gitu.

    Btw, kritik memperlihatkan mutu mas … sabar saja, paling dia gak bisa nulis kritik yang baik dan benar. Bahasa Indonesianya jeblok.
    ————————

    Gpp lae .. saya malah bingung. Yang ditujunya siapa?? .. lah, komentar-nya lae dan postingan saya, ga ada yang memuji mas Hanung?? .. ga jelas lae. :mrgreen:

    Benar lae .. seharusnya, ketika menyukai film Ayat-ayat Cinta, maka tingkah laku dan tutur kata mencontoh tingkah laku dan tutur kata Fahri .. :oops: ops, jangan-jangan meniru Bahadur kali ya?? OMG :mrgreen:

  52. Kekecewaan saya sama dengan yang anda sampaikan. Saya baca novel AAC sebulan lalu setelah ada ribut2 soal novel dan filmnya, walaupun istri saya sudah beli novel itu hampir setahun lalu.

    Interpretasi sutradara terhadap novel yang mau di visualisasi ke film tentu saja bebas-bebas saja, itu hak dia. Tapi kalo sampai mereduksi kekuatan tokoh-tokoh-nya tentu saja akan sangat mengecewakan penonton (terutama yang sudah baca novelnya). Tambahan komentar saya:

    1. Topik film ini bukan poligami, di novel Fachri berpoligami hanya untuk bisa berkomunikasi dengan Maria.
    2. Fachri bukan cuma terlihat culun, tapi juga bego.
    3. Aisha walaupun kaya raya tetapi tidak borju, di novel dia cuma naik mobil Terano bekas, di film pake new eyes *punjabi banget khan*. Trus … ada beberapa adegan terlihat dia bersikap agak kasar sama suami, wanita solekhah mestinya tidak berbuat begini.
    4. Saya sempat baca … kalo awalnya film ini akan menggunakan bahasa arab lebih banyak, tapi Punjabi gak setuju. Jadi ini bukan sepenuhnya kesalahan Hanung.

    Ya sudahlah … terlalu panjang kalo diterusin. Pasrah saja-lah sama film-film bikinan Punjabi.
    —————————

    Saya sependapat dengan bapak tentang interpretasi sutradara. Makanya, saya merasa .. lebih tepat sebagai sinetron dari pada film .. seperti kita ketahui, membuat film beda dengan membuat sinetron. Adalah idealisme dalam sebuah film.

    Dan lagi-lagi saya sependapat .. ya sudahlah .. karena apa pun keripikan yang ingin kita sampaikan demi kemajuan per-film-an di Indonesia, tetap aja akan dianggap sampah. Karena apa?? .. patokannya, terbukti film AAC laris manis hehehe jadi teringat dengan komentarnya Hanung yang katanya muak dengan film horor dan ABG yang sejati-nya juga laris manis .. tau ach .. gelap :mrgreen:

  53. Baca aja lah…

    Dari dulu saya memang bukan moviemania. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali saya nonton di bioskop. Itupun karena diajak orang, alias dibayarin.
    Saya juga tidak pernah penasaran dengan film selaris apapun. Termasuk film …

  54. Mengenai tulisan:

    Coba dengarkan ilustrasi musik film AAC di menit : 17, 37, 56. Ada agenda zionis dibalik film AAC. Ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. Coba cek di film karya sutradara yahudi, Steven Spielberg : Schindler List — film yang dilarang diputar di Indonesia oleh pemerintah tahun 97-an karena berisi kampanye zionisme dan ditolak umat islam.

    Song theme Schindler List sama persis dengan ilustrasi musik yang dipakai di ayat-ayat cinta — bukan yang lagunya Rosa. Coba search di youtube “Schindler List music” atau di
    http://www.youtube.com/watch?v=aX2qP3gP_Vs dan
    http://www.youtube.com/watch?v=ueWVV_GnRIA&feature=related

    Musik itu digubah komponis zion bernama Itzhak Perlman .. yang diperuntukan untuk kampanye zionisme internasional. Mengapa film Islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???

    Tanggapan saya:

    Benar, kalau kita perhatikan dengan seksama … ada musik yahudi di film itu. Saya udah cek di youtube. Dan saya sudah nonton film Schindler List dengan lengkap. Film itu sangat jewish sekali. Ada kesamaan dalam ilustrasi musiknya. Kalau film AAC sampai diketahui orang-orang jewish (yang nota bene sudah membunuh ratusan ribu muslim Palestina), mereka pasti sangat bangga, betapa film Islam yang ditonton oleh 3 juta (konon) orang menggunakan musik spiritual mereka.

    Kalo memang harus ada plagiat musik dalam film itu, kenapa yang dipilih lagu yahudi? kalo memang harus ada lagu yahudi di film itu … kenapa harus dipilih lagu SPIRITUAL yahudi? kan banyak musik-musik lainnya yang ngga provokatif yang bisa dibajak dan diplagiat.

    Kalo memang harus ada ilustrasi film lain yang disisipi AAC kenapa harus film Schindler List??. Pensisipan ilustrasi musik yahudi dalam AAC, saya yakin bukan unsur ketidaksengajaan. Ada hidden massage, ada pesan tersembunyi, ada komunikasi konspiratif. Film Schindler List memang awam dikalangan masyarakat Indonesia, karena film itu memang dilarang oleh MUI dan pemerintah Indonesia. Tapi dikalangan sineas? film itu bukan sesuatu yang asing.
    ————————-

    Maaf pak .. tulisan yang entu dikutip dari mana ya?? soalnya postingan saya malah ga ngebahas soal lagu tersebut. Apa bapak hanya ingin melengkapi postingan saya atau hanya untuk menginformasikan saja.

  55. Pendapat saya justru berbeda. Film ini mungkin memiliki banyak kekurangan, tapi tidak dipungkiri kelebihannya.

    Hanung mampu membuat setiap tokoh dalam AAC ini menjadi wajar dan lebih manusiawi. Tidak menjadi malaikat yang hanya miliki kelebihan saja.

    Coba lihat blognya Hanung, bagaimana dia memilih aktor untuk tokoh Fahri. Sangat filosofis dan mendalam, serta penuh penghayatan dan pemikiran.

    Fahri yang emosional dalam film, mungkin berbeda dengan Fahri dalam novel. Tapi, saya pikir itulah sebenarnya manusia. Emosi terkadang mengalahkan logika. Bisakah berikan contoh, manusia yang bisa mengatasi emosinya dengan baik selain para Nabi dan Rasul?

    Begitu pula dengan tokoh Aisha, terlihat lebih manusia. Wajar jika seorang istri cemburu atau merasa tidak mengenal suaminya pada awal-awal menjalani rumah tangga.

    Mengenai narapidana yang menasehati Fahri, justru itulah bagian yang paling saya sukai. Seperti hadits yang sering didengar “lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan”. Sebuah cerminan bagaimana terkadang kita merasa diri sombong dan paling beriman.

    Ini hanya sekedar pendapat saya. Setiap kekurangan itu jelas milik kita sebagai manusia. Kelebihan hanya milik Allah.
    ————————–

    Thanks bro sudah ikut menyeimbangkan opini saya. Saya justru senang, jika ada yang memiliki pendapat yang berbeda. Itu artinya, kita sadar bahwa sebuah karya seni bisa dinilai dari segala sudut.

    Point penting lainnya adalah .. sebaik apapun sebuah karya, tentu tetap harus dikritisi. Saya disini, setuju banget kalo sebuah novel tidak harus sama persis ketika diangkat dalam layar perak. Hanya saja, saya menilai .. lebih cocok untuk dihadirkan dilayar kaca.

  56. Betulll .. filmnya mengecewakan sangadddd ..
    ————————–

    Sisi positip-nya .. masih banyak yang belum baca novel-nya. Jadi cukup dengan nonton film-nya aja mereka sudah puaaaassss banget. Padahal kalo mereka membaca novel-nya lebih dahsyat dari film-nya.

  57. Ternyata masih ada orang yang menjadi pengkritik Ayat² Cinta .. hehehe … lucu

    Tapi toh … sebagai manusia perlu juga menghargai hasil karya orang lain belum tentu kalo abang yang bikin Ayat² Cinta bisa jadi sebagus seperti pemikiran orang lain.

    Ato … abang cemburu sama Ferdi Nuril, gara² waktu casting, abang ga kepilih jadi Fahri hahaha … becanda atuh

    Jangan pernah menyesal dengan sesuatu yang sudah abang jalani … ambil positifnya. Ya toh.

    Pake bawa² duit lagi .. ikhlasin aja kali .. gaji abang kan banyak
    *sok tau gw*

    Hidup abang”"”"”"”
    —————————

    Wah ternyata pendukung Film Ayat² Cinta juga ya? Cool :cool: .. sampe nonton berapa kali Cal? .. tentunya, sudah baca bukunya juga dong :)

    Well .. thanks atas masukannya buat abang. Tapi kalo Ical benar² memahami intisari postingan abang, Ical bisa menangkap maksud abang. Ato mungkin kita berada pada sudut pandang yang berbeda. It’s ok .. itulah keindahan hidup.

    Dan .. boleh jadi .. taste canda kita juga beda. Pemahaman tentang buang² duit dengan gaji tinggi .. rasa²nya perlu ditelaah ulang :)

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.