Seorang wanita berkulit putih mulus bak artis melintas di depan ku. Dari jarak tiga meter semerbak harum yang berasal dari tubuhnya menjajah indera penciuman ku dan menciptakan sejuta ilusi. Rambutnya yang tergerai lembut bak bintang iklan shampoo memaksa mata ku menghitung lembar-lembar rambutnya yang melayang lembut. Kakinya yang jenjang bak peragawati hanya dibalut dengan kain selutut dan membuat kerongkongan ku mendadak kering. Walau sang wanita itu hanya sekelebat melewati meja tempat ku nongkrong di sebuah cafe, telah mampu membuyarkan seluruh konsentrasi ku.
Well .. begitulah. Begitu mudahnya terpesona dengan raga. Aku tidak tahu, jiwa seperti apa yang bermukim dalam raga yang indah aduhai itu. Apakah jiwa malaikat atau jiwa setan penggoda?? .. Kerap kali, aku tertipu dengan raga. Raga yang membalut jiwa. Berapa banyak orang tertipu dengan raga?? .. itu baru satu perumpamaan saja. Masih ada perumpaan yang lain.
Seorang yang punya otak encer dengan apik-nya menjelaskan suatu permasalahan dengan runut dan kata-kata yang mudah dimengerti – apalagi dengan embel-embel tittle yang ada – pasti akan membuat kita langsung percaya, apapun yang dikatakan tanpa memeriksa kebenarannya. Atau seorang yang menggunakan perangkat pakaian keagamaan, dan menyampaikan pesan-pesan-nya, pasti juga akan membuat kita langsung percaya. Kita lebih mudah terpesona dengan raga. Kita memuja raga ..
Memang tidak dapat dipersalahkan dengan reaksi seperti itu. Karena jiwa tak kasat mata. Karena tingkah laku dapat dilatih dengan ikut sekolah kepribadian. Perbuatan baik dapat dimanipulasi dengan bentuk bhakti sosial. Ketika jiwa dipertanyakan .. raga dapat dipoles sedemikian rupa agar jiwa yang ‘rusak’ terlihat indah. Raga dipuja. Jiwa kemana???
Catatan : Gambaran tentang pertemuan dengan wanita tersebut tidak ada niat untuk melecehkan, tapi sebagai ilustrasi untuk postingan ini. Untuk pembaca wanita, bisa mengganti objek-nya dengan pria idaman
Postingan ini merupakan serial dari tulisan terdahulu :
1. Ketika jiwa tanpa raga
2. Ketika jiwa dengan raga




34 tanggapan so far ↓
almascatie // Senin, 10 Maret, 2008 pada 17:39
Biasanya sayah bersin kalo ketemu wanitah yang berbau harum ..

*alergi bang*
————————-
almascatie // Senin, 10 Maret, 2008 pada 17:41
Hmmmm … kata teman sayah … jika ingin melihat sifat asli seseorang … lihatlah waktu malam, apa yang dilakukan pada saat dia sendiri, saat itulah sifat asli seseorang muncul …
*ga tau bener apa tidak tapi mungkin pada saat malam seseorang menjelma menjadi dirinya sendiri kali yah*
————————
goop // Senin, 10 Maret, 2008 pada 18:08
Bukan hal yang mudah memang, karena setiap kita mengenakan topeng …
————————–
hilda alexander // Senin, 10 Maret, 2008 pada 18:50
*Gambaran tentang pertemuan dengan wanita tersebut tidak ada niat untuk melecehkan, tapi sebagai ilustrasi untuk postingan ini. Untuk pembaca wanita, bisa mengganti objek-nya dengan pria idaman *
Udah mencantumkan disclaimer duluan … takut ditimpuk para feminis ya hikz hikz hikz …
Masalahnya, adakah pria idaman yang berkulit putih, harum semerbak, kaki panjang, leher jenjang, rambut terurai yang mau lewat di depan saya?
Anyway, judging a book by its cover … masih subur tuh! (terutama di sekeliling kita)
————————-
realylife // Senin, 10 Maret, 2008 pada 19:11
Cuma mau bilang …
Aku nda bisa posting hari ini ..
Lagi ada trouble ..
Tolong dong bang ..
————————-
Cabe Rawit // Senin, 10 Maret, 2008 pada 19:22
Assalaamu’alaikum bang…
Kalo menurut ane… cara kita menilai sesuatu termasuk manusia adalah secara lahiriahnya terlebih dahulu. Seperti kata Nabi, “fahkum bi adzdzawaahir” … Hukumilah atau nilailah sesuatu berdasarkan dzahirnya.
Ini tidak lain mengingat manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat apa yang “bersemayam di dalamnya”. Bang erander bilang, “jiwa apa yang bersemayam di dalamnya”.
Persoalan hatinya seperti apa, itu bukan persoalan kita. Kita cuma perlu mawas diri dan bersikap secara proporsional dan seimbang dalam menilai orang lain.
*lagi belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar*
————————–
roughtorer // Senin, 10 Maret, 2008 pada 20:54
Bukan memuja raga. Kita memuja kulit. Yang tidak sampai 1 mm ketebalannya.
Coba kupas kulitnya, apa masih dipuja? … walau raganya yang lain masih lengkap, tangan, kaki, payudara, pantat, kelamin, kalau kulitnya udah dikupas … hiiiiii …
————————-
Pyrrho // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 01:45
Pandangan pertama … memang selalu menyangkut raga. Pandangan kedua … berhubungan dengan bukan raga. Tapi kalau masih menyangkut raga, berarti dia memang memuja raga.
Jiwa manusia memang nggak bisa kelihatan. Tapi jiwa blog bisa kelihatan kan Bang ?
—————————
Adit // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 06:53
Alhamdullilah … itu rejeki abang …. bisa ngeliat cewek yang sempurna … Tapi!!!! Apakah kesempurnaan fisik bisa kita jatuh terlena? (untuk para cowok!!)
————————
Edratna // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 07:39
Hmm itu masih manusia bang … saya-pun masih suka lihat cewek cantik, penampilan menarik … lihat cowok ganteng? tentu aja suka.
Tinggal kalau jadi pasangan pilih mana? Karena yang cantik dan ganteng itu juga kemungkinan berbiaya tinggi … (biaya untuk beli shampo, untuk facial wajah, untuk luluran dsb nya) …
————————-
Agoy // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 09:21
Kalau ketemu yang indah-indah saya langsung bilang subhanallah… supaya dikasih lihat yang indah-indah terus (maunya) …
Ini dalam arti jiwa dan raga ya Bang, sayangnya jiwa yang indah baru tampak setelah kita mengobservasi ybs dan butuh waktu untuk interaksi yang terkadang membuat kita sudah tidak objective lagi.
————————
aNita // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 09:50
Aduh … bang Eby, yang lewat di kafe Pelangi waktu ntu kan Nita … pangling ya? Hehehe … ternyata aku mampu membuat dia terpesona juga !!
————————-
n0vri // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 10:36
Wah, kalo saya sih smart is beautiful Bang. Wanita itu akan cantik di mata saya kalo dia terbukti smart alias cerdas. Ini sih soal selera personal aja
————————-
brainstorm // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 11:25
Apa boleh buat, Tuhan menciptakan raga di luar jiwa .. dan Tuhan pun melarang masuk lebih dalam kedalam jiwa wanita sebelum memuhrimkan-nya .. ah dasar wanita ..
————————–
cewektulen // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 11:50
Jadi … kemolekan raga juga harus diikuti dengan kemolekan jiwa ya??
————————
Kapan Iman memerlukan Logika? — (Part satoe..) « wak AbduLSomad // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 12:12
[...] bila dikelilingi oleh kebendaan, bila disekitarnya banyak benda benda, seperti uang, rumah, mobil, kecantikan, dan segala macam [...]
indra1082 // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 13:03
Kata kerennya Inner beauty gitu ya pak??
Cantik luar dalam …
————————-
hanna // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 13:26
Lho, katanya mata ini diciptakan untuk menikmati keindahan, hehe. Kalau jiwa kita cantik aura yang terpancar juga akan cantik. Ya, kan, Bang?
————————-
Mihael Ellinsworth // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 14:21
Mata lelaki mencari yang cantik, biasanya terjadi karena dalam pikirannya tertambat hal-hal berbau wanita dan seks. Aku pernah membaca salah satunya dalam buku.
————————
tukangkopi // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 14:39
Kalo mo mengenali jiwa … mungkin harus menutup semua indera, bang. Karena indera itu cenderung menipu. Kalo kita bisa mengenali kata hati dan bercakap dengan hati … mungkin disitu kita bisa mengenal jiwa.
*aahhh .. ngomong apa ini??*
————————–
Moerz // Selasa, 11 Maret, 2008 pada 21:16
Yang cantik itu emak saya …
Tiap hari saya pandangin trus …
Sayaaaaaang bangetttttt …
Emakkkkkkkk …
————————-
ndarualqaz // Rabu, 12 Maret, 2008 pada 02:42
Begitu awak buka blog ini, seorang temen yang ngikut baca langsung ngomong : “Haha, kena lu Ru … jangan suka memuja tubuh indah wanita”
Awak protes … awak tak pernah memuja raga indah wanita … awak hanya menikmatinya saja.
*waduh, suara ribut apa ya dibelakang, hahaha …. ternyata ada satpam lagi karaoke*
————————-
stey // Rabu, 12 Maret, 2008 pada 08:31
Anuuu .. saya juga wanita kok ..
————————-
fit // Rabu, 12 Maret, 2008 pada 10:52
Ga usa terlalu dipikirin …
Katanya mau cuci mata … he …
————————-
n0vri // Rabu, 12 Maret, 2008 pada 14:55
Agak repot ya, Bang …
Soalnya … manusia ini kan fisikal, interaksi dengan sesama juga berkait yang fisikal. Gimana mau tahu jiwa seseorang sehingga kita bisa memutuskan untuk suka atau gak suka?
Menurut Bang Eby sendiri gimana? … Posting di atas kan baru bilang “kita jangan terjebak pesona raga”, trus how to avid it? … gimana kita bisa menilai “jiwa” seseorang ketika kita terbatas segala sesuatu yang bersifat fisikal?
*mohon pencerahan, maklum saya gak pinter*
————————–
ndarualqaz // Rabu, 12 Maret, 2008 pada 17:49
Awak pernah dikira seles pakaian pas masuk kantor TELKOM Madiun dan hampir di usir sama satpam.
Di mana-mana … fisik jadi penilaian pertama bang, terus kita mau apa? coba pak SBY dateng ke pasar diam-diam pake pakaian compang-camping, pasti diciduk sama kamtibmas … terkadang emang fisik penting juga bang … (keliahanate)
*padahal saat masuk kantor TELKOM itu, saya lagi jadi seles bendera tujuh belasan …*
)
————————–
icozya // Rabu, 12 Maret, 2008 pada 18:13
Menikmati keindahan kan udah fitrahnya manusia
*membela diri*
Tapi … memang berat ga meleng kalo liat yang cling, ya walo dengan tarohan di pelototin ma disebelah ato dicubit ato …
padahal setelah itu … sadar … berat dikantong itu 
————————–
itikkecil // Kamis, 13 Maret, 2008 pada 11:45
Saya punya prinsip, don’t judge the book by the cover … tapi sayangnya banyak yang lebih menilai ke tampilan fisik …
———————–
olangbiaca // Kamis, 13 Maret, 2008 pada 13:32
Assalamu’alaikum .. mas
Kok error saya komen ya mas? … setuju mas, kadang kita selalu tertipu dengan tampilan luar / fisik seseorang, ketika kita memilih pasangan hidup misalnya.
Moga kita orang-orang yang tidak tertipu dengan fatamorgana …
————————–
gempur // Kamis, 13 Maret, 2008 pada 16:16
Peradaban materi tentu saja mengesahkan pandangan tentang raga lebih utama .. bagaimanapun raga yang berwujud itu lebih tinggi daripada jiwa yang absurd ..
Kalo Islam yang bilang: “Budak hitam legam tapi beriman itu lebih berharga dan jauh lebih baik daripada wanita cantik sedunia tapi tidak beriman”
Hemmmm … kesimpulan?
————————–
extremusmilitis // Kamis, 13 Maret, 2008 pada 17:11
Ini penyakit kebanyakan orang Bang … lebih melihat ke penampak-an daripada yang seharus-nya ter-lihat, padahal sering sekali itu semua kamuflase dari ke-bodoh-an yang melihat timbal seperti permata
Btw … sah-sah aja sih bang sekedar ngelihat seperti itu, apalagi kalau udah atas nama nafsu, tapi buat lebih dalem-nya ya emang kita harus belajar buat me-mahami dari sudut yang benar-benar ber-beda. Iya kan bang?
So, persis seperti apa yang itikkecil bilang: Don’t judge the book by the cover
————————–
NdaruAlqaz // Kamis, 13 Maret, 2008 pada 19:12
Sekarang saya udah balik ke Solo pak, dan ini mau mbuka software house, jadi gak sempet jalan2 di WordPress. Baru2 ini aja saya bisa jalan2 lagi …
————————
cK // Kamis, 13 Maret, 2008 pada 23:49
Ga tau kenapa orang pada lebih suka menilai dari fisik ya?
————————
azer10 // Jumat, 14 Maret, 2008 pada 21:08
Jadi inget pesen abang …
Klo fisik hanya nilai plus .. plus .. plus …
Yang penting dalemnya (jiwa maksudnya!!!)
Apa kabar bang? .. saya dah dimuntahkan lagi dari bumi!!!
————————-