KU LETAK KAN KATA DISINI

Libur derita ..

Thursday, 20 March, 2008 · 12 Comments

laparan.jpg Perut ku keroncong. Hujan masih turun. Aku hanya bisa menatap pekatnya malam. Tak tahu bagaimana caranya agar perut ku dapat terisi. Perlahan badan ku mulai menggigil kedinginan. Aku coba mengosok-gosokan kedua telapak tanganku. Sehingga dingin dapat ku kurangi sedikit. Mata ku menangkap cahaya kecil diangkasa. Merangkak perlahan dari balik pohon kelapa .. terus membumbung tinggi dan kemudian menghilang. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh yang kemudian juga mereda. Cahaya-cahaya itu berulang dan ulang .. hanya berselang 15 menit. Aku semakin mengigil.

Tadi siang, uang terakhir ku telah ku beli kan sebungkus nasi rames sebagai makan terakhir ku. Aku tak dapat berpikir lagi. Karena rasanya tenaga ku telah terkuras habis. Aku cuma berharap, nanti malam aku masih bisa bertahan. Dan besok aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa memberiku makan.

Ketika aku sedang menghabiskan makan siang ku, aku mendengar supir-supir yang sedang makan disamping ku bercerita tentang bos-bos mereka yang hari ini sudah berangkat liburan. Ada yang ke luar negeri, ke Jakarta, ke Bali, ke Jogjakarta atau sekedar pulang kampung. Dan yang mencengangkan .. harga tiket yang biasanya sekitar Rp.500 ribu, melonjak menjadi Rp.1,5 juta.

Aku melongo mendengar ocehan para supir itu. Tapi ku tepis kan rasa kaget ku. Aku sadar, aku tidak akan mungkin bisa seperti mereka. Jangankan menjadi bos, untuk menjadi supir pun aku tak sanggup. Aku termenung tentang nasib ku. Ketika aku lahir, aku sudah tak mengenal kedua orang tua ku. Aku hidup dari satu keluarga ke keluarga yang lain.

Akhirnya, aku terdampar di rumah singgah, yang membuatku merasa nyaman dan diterima oleh orang-orang yang ada disitu. Tapi, aku tetap merasa sendiri. Aku tidak ingin tergantung dengan belas kasihan orang lain. Aku berusaha mencari uang hanya untuk sesuap nasi.

Hujan masih terus turun .. cahaya-cahaya yang menuju langit mulai berkurang. Pertanda pesawat-pesawat itu sudah selesai mengantarkan para pemilik uang untuk berlibur, menghabiskan uang yang mereka kumpulkan .. entah dari mana. Yang pasti tentu dari gaji mereka. Sementara aku, masih berusaha melawan rasa lapar ku.

Ku baring kan tubuh ku di ubin yang basah. Dingin begitu menusuk. Aku pikir, aku ingin liburan juga .. libur dari derita. Aku ingin merasa kan bebas dari derita. Walaupun cuma sehari.

Categories: Keheningan jiwa

12 responses so far ↓

  • deteksi // Thursday, 20 March, 2008 at 23:51

    Masih banyak di sekitar kita yang menderita kelaparan …

    Di balik tembok, juga banyak yang sedang bergelimang harta, bingung mau menghabiskan dengan liburan ke mana …
    ————————-

    Yang pasti bukan tembok besar (great wall) di China kan mbak?? .. liburan ke China sekarang sedang trend loh mbak.

  • Landy // Thursday, 20 March, 2008 at 23:55

    Kenapa rasa kebersamaan semakin hari semakin menipis ya ??
    ————————

    Karena kita ga pernah bersama-sama :(

  • NdaruAlqaz // Friday, 21 March, 2008 at 01:45

    aku sedih…
    sayapku kuncup
    tak semangat aku melaksanakan tugasku
    padahal tak pernah aku ingkar sekalipun
    tapi sekali ini aku ingin ingkar
    tapi aku tak sanggup
    ia masih kuncup
    tapi…
    aku tak pernah ingkar

    anak kecil berbaju lusuh berperut buncit
    berkata lirih dengan bibir mungil
    “daripada kelaparan terus
    aku ingin mati saja
    agar tak merasa lapar lagi”

    lalu kulihat ia menghembus napas
    kubuat secepat mungkin
    agar ia cepat lepas dari rasa lapar
    dan segera ia kubawa terbang
    ke tempat ia tak merasa lapar
    ketempat ia bisa minum susu dan madu sepuasnya
    —————————-

    linangan air mata ..
    tak cukup untuk mengobati rasa lapar
    tapi dapat membuat jiwa melayang
    merasakan kedekatan dengan Sang Khaliq
    terasa menerjang-nerjang dinding jantung
    mengalahkan sayat-sayat perih
    dalam perut yang belum terisi makanan

    linangan air mata ..
    melepaskan jiwa dari dalam raga
    raga yang cuma sementara tapi dipuja
    raga yang mengejar untuk dirawat
    sementara jiwa lepas tak bermakna
    padahal kelak ..
    jiwa lah yang dipertanyakan

  • DensS cessario // Friday, 21 March, 2008 at 14:11

    Tuhan, tolong berikan saya sebuah senjata sniper yang berisi peluru suntikan yang bisa membuat target menjadi ambeyen dan mandul … lalu akan saya tembakan senjata saya kepada para koruptor-koruptor dan semua yang terlibat kasus BLBI. Amin …

    Gw sih nyalahin koruptor …
    ————————–

    Biar tidak lahir anak-anak dari orang tua-nya yang koruptor ya?? .. apakah kemudian nantinya, koruptor akan hilang dari muka bumi?? .. ingat, kejahatan tidak saja dari niat para pelakunya .. tapi juga karena adanya kesempatan. Jadi .. waspadalah, waspadalah!!! *menirukan salah satu tayangan TV*

  • realylife // Friday, 21 March, 2008 at 15:19

    Masih bersyukur, bisa pulang kampung dengan harga tiket murah, berkumpul bersama keluarga dan saling bersilaturahmi …

    Ya Allah, aku bersyukur dengan semuanya …
    —————————

    Bener Id .. kemaren itu, harga tiket dengan pesawat yang Said tumpangi, sudah seharga Rp.1,5 juta untuk kelas yang sama dan cuma sampe Jakarta. Dan untuk pesawat unggulan Indonesia, kelas ekonomi sudah seharaga Rp.2,5 juta.

    Teman abang yang pulang ke Jakarta – PP, bertiga .. mesti membayar Rp.9 juta. Hanya buat 4 hari libur saja. Ah, ga kebayang deh. Harga sayur asam naik dari Rp.5 ribu menjadi Rp.8 ribu aja, rasanya sudah berat. :mrgreen:

  • Hanna // Saturday, 22 March, 2008 at 00:17

    Menyentuh, Bang.
    Andai tubuhku emas.
    Tak sanggup untuk menanggulangi kemiskinan yang terus menjerat.

    Kesadaran dan semangat kerja perlu terus dipupuk. Rezki urusan Allah, yang penting berusaha.
    ————————-

    Mungkin kita terus berusaha, tapi kerap kali ‘dirampas’ atas nama kapitalisme. Orang yang mencari rejeki dengan otak dihargai berpuluh-puluh kali lipat dari orang yang mencari rejeki dengan menguras tenaga. Semua atas nama perekonomian. Semakin banyak uang yang berhasil dikumpulkan, maka dunia ada dalam genggaman.

  • NdaruAlqaz // Saturday, 22 March, 2008 at 00:25

    Untung harga tempe di Solo gak naik, cuma ukurannya aja menyusut, tempenya dikecilin, tepungnya di banyakin, lumayan, buat menipu perut.
    ————————-

    Bagaimana jika harga tepungnya juga naik?? .. semua dikecilin, perut pun ikut-ikutan kecil. Badan semakin kecil .. dan jangan-jangan bangsa ini pun ikut-ikutan menjadi kecil.

    Luas wilayah sudah berkurang, karena Pulau Sipadan Ligitan jadi milik tetangga. Singapura reklamasi daratannya menuju ke perairan Indonesia. Tapal batas di Serawak telah bergeser. Lama-lama .. Indonesia semakin kecil. OMG !!! :eviL:

  • Ratna's Blog // Saturday, 22 March, 2008 at 03:46

    Miskin, no way!

    Tampaknya sekarang lagi musim kampanye anti kelaparan. Baca blog ini, itu, sana, sini, situ… dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, ternyata banyak blogger yang peduli terhadap penderitaan sesama.
    Mungkin dari para blogger tersebut sudah ada yang …

  • annie // Saturday, 22 March, 2008 at 11:53

    Ku juga ingin berlibur dari masalahku ….
    bagiku hidupku penat dan banyak masalah…

    Tapi sekarang ku sadar …
    yang bikin aku sedih ya diriku sendiri …
    yang bikin aku menderita ya diriku sendiri …

    Aku harus bisa lewati semuanya …
    karena semua masalaku justru menjadikan aku lebih kuat …

    Karena ternyata aku lebih beruntung dibanding yang lain dalam cerita hidupku …
    aku berjanji … aku akan lebih bersyukur dan lebih kuat lagi ….

    *ERROR*
    —————————

    Aku lapar ..
    tak berarti aku harus meminta
    tak berarti aku harus merampok
    tak berarti aku harus mati

    Aku lapar ..
    biarkan aku mencari rejeki-Mu ..
    bolehkan aku mengejar nasib ku ..
    ridhoi segala upaya ku ..

  • edratna // Saturday, 22 March, 2008 at 13:37

    Hidup harus selalu bersyukur, masih banyak orang yang kekurangan …
    ————————

    Aku lapar …
    setelah aku kenyang tak berarti semua usai
    setelah aku lega tak berarti telah selesai

    Aku lapar …
    ku penuhi kebutuhan ku dan kan ku bantu yang lain
    setelah lapar ku hilang dan aku tak ingin
    orang lain merasakan lapar seperti ku ..

  • aRuL // Sunday, 23 March, 2008 at 23:44

    Bang solusi terbaik buat menyelesaikan masalah ini apa yah?
    ————————

    Kemarin abang baca bedah buku di Kompas Minggu tentang Bunda Teresa yang banyak membantu orang-orang miskin dan kelaparan di India. Simak cuplikan berikut ini :

    **Sudah lama Teresa dituduh oleh para pengkritiknya, dengan bahasa sinis, ”hanya mengurusi korban tanpa membongkar akar persoalan” … terlalu berlebihan jika orang mengharapkan seseorang—betapapun dia santa atau santo—akan mampu menangani kompleksitas masalah kemiskinan.**

    Terbayangkan .. begitu beratnya untuk mengetaskan kemiskinan. Menurut abang, hal ini menyangkut sistem dan budaya. Baik secara agama, kenegaraan, politik dan ekonomi. Sejatinya .. jika kita sebagai umat Islam menyadari kekuatan zakat dan dapat dikelola dengan baik, maka masalah kemiskinan akan lebih ringan untuk diatasi.

    Atau kita mengkampanyekan 1 orang menolong 1 orang. Misalnya sebuah keluarga mampu terdiri dari 4 orang — suami, istri dan dua anak — maka keluarga tersebut menolong / menyantuni minimal 4 orang. Kelihatan berat ya?? .. tergantung niat sih.

  • Agoy // Wednesday, 26 March, 2008 at 12:54

    Aduh gak enak banget baca postingan ini setelah makan siang. Bukan, bukan, tulisannya bagus tapi isinya menyentuh sekali. Apalagi begitu selesai makan di pantry tadi langsung ngeloyor ke bilik lupa berucap alhamdulillah … Ya Allah Alhamdulillah, ampuni hamba yang sering lupa atas nikmat-Mu.
    ————————-

    Iya Goy .. abang juga tadi sempat lupa ngucapin alhamdulillah .. tapi wujud rasa syukur yang paling afdol adalah makan tidak berlebih-lebihan, tidak ada sisa makanan dan menerima makanan apa saja — tentunya yang layak makan.

Leave a Comment