Apa kamu punya sahabat atau teman dekat?? seberapa dekat satu sama lain dan seberapa jauh saling mempengaruhi?? .. dan berapa banyak, kamu punya sahabat?? satu, dua atau banyak?? Bagaimana hubungan kamu dengan mereka?? saling mendukung, mencontoh atau apa?? .. Siapa pun teman atau sahabat, sedikit banyak terjadi saling mempengaruhi, minimal dalam bentuk solidaritas. Seperti perumpaan tentang teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap.
Tapi, bukan kah kita harus berteman dengan siapa saja. Kalau kita hanya memilih berteman dengan yang pintar, kuat, kaya, juara dan baik-baik saja .. bagaimana dengan orang yang kurang pintar, lemah, miskin, pecundang dan tersisihkan?? apakah kita tidak boleh berteman dengan mereka dan menjadi kan mereka sahabat. Bukankah kita juga bisa belajar dari kesalahan orang lain, agar tidak terjadi pada diri kita??
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Surah Al Hujuraat ayat 13
Aku jadi ingat dengan sahabat-sahabat rasul yang telah banyak membawa kebaikan dan ajaran-ajaran yang dicontohkan rasul pada mereka. Sampai-sampai Taufik Wijaya menulis di detik.com edisi 21 Maret 2008 bahwa negara ini butuh presiden seperti sahabat rasul yaitu Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan Abubakar ash-Shiddiq.
Menurut tulisan tersebut — terlepas dari pro dan kontra — negara ini sudah pernah dipimpin mereka yang mirip para sahabat nabi Muhammad tersebut. Seperti bung Karno, yang katanya mirip dengan Umar, sahabat rasul yang membangun karakter bangsa. Lalu BJ Habibie yang dianggap sama dengan Syaidina Ali yang cerdas. Dan Pak Harto dipadankan dengan Usman yang memakmurkan.
Bagaimana dengan pemimpin yang mirip dengan Abubakar ash-Shiddiq? Yang berani mengatakan Indonesia ini miskin, yang berani mengatakan dirinya pernah melakukan kesalahan, yang berani mengakui dirinya manusia biasa. Kaya’nya belum ada .. mudah-mudahan dimasa datang ada pemimpin yang seperti Abubakar. Walahualam.





22 tanggapan so far ↓
admin // Sabtu, 22 Maret, 2008 pada 23:01
Pernah ditanya kepada Hassan Basri rahimahullah, oleh seorang lelaki tentang perbezaan di antara status sahabat dan Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah. Lelaki itu bertanya — mungkin kerana kagumnya, malahan sesetengah ilmuan mengatakan Khulafar Ar Rasyidin itu ada lima, dan yang kelima ialah Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah …
Soalannya kepada Hasan Basri, “Di antara Umar ibn Abdul Aziz dan Muawiyah radiyallahu anhu, siapakah yang lebih utama?”
Maka jawab Hasan Basri, “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya nilaian beratnya bulu hidung Muawiyah itu lebih berat dan lebih mulia daripada Umar Ibn Abdul Aziz.”
Wallahu ‘alam.
Blog yang bagus, terima kasih, saya mendapat manfaat daripada blog saudara.
————————–
aRuL // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 00:47
Bang erander kan juga sahabat saya, seperti sahabat-sahabat rosul memberikan banyak ilmu-nya kepada saya
————————
RawkchitecT // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 05:02
Woww .. tulisan yang hebat Sobat!!
Saya juga memiliki sahabat2 yang baek .. selalu mengingatkan akan kesalahan2 saya .. mendorong langkah perjuangan saya .. memberikan kekuatan saat saya terpuruk ..
Yah .. mereka tidak terganti kan!!! semua tulisan tentang sahabat, bisa Sobat lihat di blog saya .. di folder sahabat dan saya … btw thanx udah mampir dan comment di blog saya!!! semoga hari ini kebahagiaan selalu menyelimuti anda .. sukses selalu!!
————————–
Landy // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 05:38
Sepertinya sangat jauh kalau pemimpin-peminpin diatas di samakan dengan para sahabat rasulullah saw, seujung kuku pun tidak ada. Sedikit contoh para sahabat nabi selalu merendahkan diri dan meninggikan muslim yang lain, tetapi kita hari ini … ketika berpolitik merendahkan orang lain, saling mencaci, saling kritik dan yang terparah saling meninggikan diri sendiri seolah kita yang terbaik.
Berambisi ingin menurunkan orang lain dan menaikan diri sendiri. Fanatisme di kobarkan secara membabi buta. Pihak yang diatas akan berteriak senang sambil tertawa-tawa … Yang berada di bawah angin, diam menabung dendam. Mereka yang terluka secara politik melakukan konsolidasi untuk menjatuhkan yang menang
Yang menang akan dapat menikmati hidup … yang kalah akan terkapar, terhempas, letih, tersingkir dan makin tersingkir. Tidak ada yang peduli, hilang, sendiri, menderita, lapar, sakit dan akhirnya mati.
Sangat jauh sahabat nabi dengan kita http://harapandiri.wordpress.com/2008/03/21/sahabat-nabi-dan-kita/
————————–
edratna // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 09:05
Dalam berteman tetap harus memilih, orang-orang yang berbudi baik.
Kalau berteman dengan golongan orang yang kurang baik, maka kitapun bisa dianggap sebagai mereka, kecuali kalau memang berniat memperbaiki akhlak mereka, dan ini hanya dapat dilaksanakan bagi orang tertentu yang mempunyai iman kuat dan mempunyai pengaruh/wibawa untuk mempengaruhi mereka ke jalan yang benar.
————————-
Reza // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 12:27
Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tidak bisa dipukul rata! .. kalo orang baik — baik di lihat dari harta, keilmuan, keindahan paras, dll — akan selalu baik begitupun sebalik nya.
Disinilah akal berperan untuk menjadi pemilah mana yang baik dan buruk … sok tau ya!!!
Iya bang … lagi sibuk banget, lagi ngumpulin buat modal kuliah nih! .. Mohon bantuan doanya bang!

*dananya sekalian bang!*
—————————-
daeng limpo // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 12:45
Thanks atas pencerahannya pak Erander … good posting.
———————–
Hanna // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 16:28
Kita semua adalah sahabat. Dan saya mencintai persahabatan.
Satu hal lagi, Bang.
Rasullulah mengizinkan para sahabatnya bertanya apa saja yang mereka bingungkan dan apa saja yang belum meraka pahami. Beliau tidak pernah marah dan menjawab semua dengan bijak tanpa berkilah.
Sedangkan pemimpin kita belum tentu bisa mencontohi ini. Jangankan tidak marah atau menjawab, mendengarkan saja sudah enggan.
Ya, Allah, jangan jadikan kami masuk dalam kelompok mereka, tapi jadikanlah kami semua berada di atas jalan Nabi-Mu.
Amin ya dzal jalali wal ikram!
————————-
serdadu95 // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 17:52
Selama ini … jujur aja Kang … dalam per-teman-an saya selalu pilih-pilih. Terutama dalam kaitannya dengan sifat-sifat seseorang yang akan saya jadikan teman.
Kalo orang itu mempunyai sifat jahat dan akan membawa saya ke kubangan dosa hinga meyebabkan saya merana tujuh turunan … akan saya hindari dan sudah pasti kagak pernah akan saya jadikan teman.
Bahkan kalo boleh berharap … jangan pernah saya dipertemukan dengan orang-orang yang menjadi sahabatnya setan … gendruwo … iblis dan sejenisnya.
Tapi untuk “berbuat baik” saya kagak pernah pilih-pilih. Saya selalu “berusaha” untuk berbuat baik kepada setiap orang … sekalipun itu musuh saya …
Btw.., thanks atas pencerahannya.
—————————-
Ratu Gosip // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 18:05
Thanks for sharing ….
http://gosipseleb.wordpress.com/
————————-
realylife // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 18:20
Insya Allah, moga-moga ada bang …
Tapi … ngomong-ngomong ane kangen sama abang nich, sahabat dan teman saya … kapan bisa ketemu lagi ya bang?
————————-
grandchief // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 19:39
Terima kasih pak atau mas atas kampanye-nya mengenai kelaparan.
Semoga bumi kita bertambah kaya dan tak ada lagi kelaparan. Salam kenal kapan-kapan mampir ke blog ku ya.
———————–
DensS cessario // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 19:50
Sahabat … hmm … teman … hmm
Jika seseorang tersebut itu masih bersekolah, dan otomatis bergaul dan berteman dengan yang sesama sekolah, dan tentu tergantung lingkungan sekolah.
Kalau sekolahnya berisi orang orang $%&#$*? .. ahahah … nevermind … saya jadi binggung ahaha!
—————————
theloebizz // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 22:33
Semoga kita dilimpahkan rejeki bertemu dengan orang-orang yang bersedia tulus menjadi sahabat di kala duka dan senang ..
————————
peyek // Minggu, 23 Maret, 2008 pada 23:10
Saya jarang pilih-pilih teman, karena memilih pun bukan hal yang mudah.
Belum membaca tulisan Taufik Wijaya, tapi apa benar ada yang bisa mewarisi sepenuhnya sifat para sahabat itu?
Saya hanya menebak ngawur, kira-kira, apa berarti kita perlu ulama yang terjun ke dunia politik praktis di negeri ini untuk menjadi pemimpin? seperti kita tahu, bukankah jalan menuju RI 1 (satu) itu ditempuh lewat jalur ini?
Maaf kalo komen saya nggak nyambung, lantaran campur dengan opini pribadi, hehehe…
————————–
Ciri Ciri Orang Ber — IMAN (IMAN ISLAM) « wak AbduLSomad // Senin, 24 Maret, 2008 pada 19:04
[...] mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridla kepada-Nya”.. Mereka adalah Sahabat – sahabat Nabi Muhammad [...]
Agoy // Rabu, 26 Maret, 2008 pada 12:14
Saya baru tahu sahabat saya di kala kesusahan, alhamdulillah selama ini susah senang ketemunya orang-orang yang sama, malah terkadang ketika senang .. beliau-beliau ini tidak muncul, tapi ketika saya kesusahan .. mereka muncul dan mensupport saya.
Sedangkan sahabat sejati yang tidak pernah saya ragukan adalah orang tua saya.
Bagi saya, persahabatan dan silahturahmi adalah teman dekat, jadi siapa yang ingin banyak sahabat harus mau bersilahturahmi.
————————
Biyung Nana // Rabu, 26 Maret, 2008 pada 15:35
Bagi saya, Bersahabat itu memang harus pilih-pilih … bukan dari fisik, materi, pintar dan bodohnya etcetera .. tapi pilih-pilih hatinya.
Klo dia miskin tapi hatinya tulus … ya mariii bersahabat, kalo dia bodoh tapi jujur akhlaknya … ya mariii bersahabat, kalo dia pintar tapi sombong dan egois … duh anggep aja ga kenal
————————-
hilda alexander // Rabu, 26 Maret, 2008 pada 19:30
Seringkali kita memilih, tapi jarang sekali kita dipilih hehehehe … (maksudnya saya, bukan kita. Kalau ‘kita’ berarti Anda dan saya dunk) …
Anyway, teman dan sahabat merefleksikan kita (all). Analogi-kan saja seperti ini Saya adalah Apa yang saya ucapkan, atau Saya adalah apa yang saya makan … maka teman dan sahabat pun demikian.
Perkara memilih … haruskah kita memilih. Memang seh, hidup itu adalah sekumpulan pilihan. Namun, Apakah pilihan kita sudah tepat? Belum tentu kan? Menurut saya seh berteman dan bersahabat dengan siapa saja dari strata dan kalangan bervariasi .. Dunia akan menjadi lebih luas …
————————–
yellashakti // Minggu, 30 Maret, 2008 pada 10:01
Saya punya banyak sahabat dari berbagai bidang.
Sahabat di bidang komputer, tempat saya nanya2 n diskusi tentang virus dan software. Kalau ada hard disk murah ya saling tuker info.
Ada sahabat spiritual yang selalu mengingatkan dan menasehati dari sudut spiritual. Ada sahabat karakter yang selalu mengingatkan saya harus punya pendirian dan karakter yang jelas terhadap permasalahan. Ada sahabat psikologi yang selalu membincangkan masalah-masalah dari sisi psikologi, ada sahabat bisnis yang setia melakukan hubungan bisnis dengan saya.
Ada sahabat yang cuma buat ngobrol iseng gak karuan .. ada sahabat yang ngomongin soal laki-laki melulu, fashion, salon, gitu deh .. ada sahabat yang selalu tahu kalau saya ada masalah, padahal saya tidak cerita. Dia selalu datang di saat sedih dan lelah. Tiba-tiba saja dia menyapa dalam SMS. Ini sahabat terbaik yang saya miliki.
Di atas itu semua … sahabat-sahabat saya berasal dari berbagai jenis agama — islam, katolik, kristen, hindu — berbagai kalangan — pengajian, guru, pemusik, fotografer, geng nongkrong, geng musik black metal, pengusaha sukses, PNS, buruh pabrik, pelayan warung makan, dosen, pemain saham — semua sahabat saya memberi kontribusi sudut pandang berbeda. Hingga saya bisa memandang sesuatu dari berbagai sudut.
Kenikmatan ini sangat saya syukuri. Saya adalah orang yang sangat beruntung.
————————–
Citra Dewi // Selasa, 1 April, 2008 pada 18:36
Wah soal sahabat saya punyak banyak yang baik-baik hati en sayang sama saya dan setiya. Dalam hal sahabat, saia sanghat beruntung dan besyukur.
Btw saia pingin liburan ke Balikpapan … tapie apa sich yang menarik dari situ. Ech, abang saat ini si situ toch berdomisilinya?
————————
Jingga // Senin, 14 April, 2008 pada 11:24
Saya punya teman baik, tapi orang-orang disekitar saya gak begitu suka sama dia — coz reputasi masa lalunya yang ‘gak gitu baik’ — sedangkan perasaan saya bilang, nih ce fine-fine aja, nice & moddest.
Yang terakhir … senior saya bilang ‘Kalo kamu terus bergaul sama dia, nanti kamu bisa jadi seperti dia’. Mmmm … saya sih gak ngasih tanggapan apa-apa sama mereka, tapi saya ikutan jadi ‘bahan gunjingan’ tiap kali jalan sama dia.
Pasang mode cuek, cuman kadang mengganggu juga, any idea mas erander ?
*komentar gak nyambung, ngasih komen kok malah curhat
– semoga suksess mas !!! *
—————————-