Ini tidak ada hubungan dengan video Fitna yang telah bikin ‘geger’ umat muslim seluruh dunia. Tapi ada hubungannya dengan pertanyaan seorang sahabat : “Btw, kalo ayat yang bilang kalau anak dan istri juga bisa jadi fitnah, disitu fitnah berarti apa ya?” .. dan berita tentang seorang anak berumur 9 tahun yang kabur dari rumah selama empat hari dengan membawa uang USD 10,000 setara Rp.92 juta serta dua postingan sahabat-sahabat saya tentang pertanyaan anaknya soal Tuhan dan cara mengatasi kekawatiran terhadap anak.
Entah mengapa, masalah anak tersebut menyita pikiran ku dua hari belakangan ini. Tadi nya tak ada niat untuk menulis tentang anak-anak. Tapi .. saat berangkat ke kantor, aku sempat menyaksikan berita di TransTV mengenai seorang anak yang kabur dari rumah dengan membawa serta uang orang tuanya. Masalahnya adalah anak tersebut baru berusia 9 tahun !!! OMG
Mengapa anak sekecil itu sudah bisa melakukan hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya?? apakah pengaruh lingkungan?? sekolah?? atau masalah cara mendidik anak?? .. ga gampang memang mendidik anak jaman sekarang. Karena salah-salah bisa menjadi fitnah.
Ketika saya mencari ayat yang menyatakan bahwa anak adalah fitnah di Al Qur’an digital ternyata tidak saya temukan, tapi saya malah temukan ayat tersebut di situs Syariah Online yang menulis tentang meraih pahala dari fitnah harta dan anak :
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” Al-Anfal (8) ayat 28
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” At-Taghabun (64) ayat 15
Sedangkan di Al Quran Digital .. kedua ayat tersebut diterjemahkan menjadi :
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” Al-Anfaal (8) ayat 28
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” At-Taghabun (64) ayat 15
Jadi .. jika melihat perbandingan ke dua terjemahan ayat Al Qur’an tersebut diatas bisa diartikan bahwa fitnah adalah cobaan.





23 responses so far ↓
itikkecil // Wednesday, 2 April, 2008 at 13:35
Ngomong-ngomong soal anak, saya jadi inget kejengkelan saya ketika seorang anak yang umurnya masih di bawah tujuh belas tahun melecehkan teman perempuan saya.
Saya jadi bertanya-tanya, salah siapa anak ini jadi berani kurang ajar seperti itu. orang tuanya atau lingkungan sekitarnya.
————————
cK // Wednesday, 2 April, 2008 at 15:16
Hhmm … ini balik lagi ke cara bagaimana orang tua membesarkan anak mereka. Emosi anak pun biasanya tumbuh dari lingkungan sekitar.
Mengenai cobaan, menurut saya anak itu berkah yang dititipkan dari Tuhan dan harus dijaga sebaik-baiknya.
————————
daeng limpo // Wednesday, 2 April, 2008 at 15:26
Like son like father.
Anak adalah titipan Ilahi. Bukankah menjaga Titipan adalah tugas mulia?
————————-
indra kh // Wednesday, 2 April, 2008 at 15:30
Mengurus anak itu ternyata memang tidak gampang, pak. Saya baru merasakannya setelah jadi orang tua. Benar-benar amanah yang berat.
Tapi … jika kita diberikan karunia kemudahan mengurus mereka untuk menjadi anak-anak yang shaleh, kita juga yang akan menuai untungnya di akherat kelak.
————————-
Yoga // Wednesday, 2 April, 2008 at 15:50
Perbedaan terjemahan kata fitnah di dalam surah al Anfaal dan at Taghabun di atas mesti dikembalikan kepada orang yang paham mengenai bahasa ya Bang, sebab menurut saya arti “fitnah” dan “cobaan” secara leksikal dalam bahasa Indonesia saja sudah jauh berbeda. Sebaiknya kita berhati-hati disini.
###
Tentang anak kecil itu … ehm, saya baru tau siang ini (telat ya). Apakah dia mencoba menarik perhatian orang tuanya ya?
I answer your question with a question
—————————
raddtuww tebbu // Wednesday, 2 April, 2008 at 17:33
*lirik komen diatas*
Mudah2an kemurnian Al-Qur’an selalu terjaga ..
Soal anak itu .. fenomena sekarang>> orang tua bekerja .. anak dirumah sama pembantu .. sedih ya??
————————-
antown // Wednesday, 2 April, 2008 at 17:46
Fitnah lebih kejam daripada fitness
————————
anggara // Wednesday, 2 April, 2008 at 18:59
Kaget saya lihat judunya … ternyata …
————————
danalingga // Wednesday, 2 April, 2008 at 19:51
Sepertinya perlu manual cara mendidik anak yang terperinci dan disesuaikan dengan sifat anak nih.
*ngubek ngubek gramedia nyari bukunya*
————————-
realylife // Wednesday, 2 April, 2008 at 20:33
Setuju bang ..
Fitnah adalah cobaan .. dan sabarlah dengan cobaan yang diberikan sekarang. Semoga ada hikmahnya ya.
————————-
restlessangel // Wednesday, 2 April, 2008 at 21:02
Yup, bang, saya se7. Mereka adalah cobaan. Semua benernya juga cobaan.
Kalo saya amati dari obrolan para ortu, kalo ketemu, topik anak adalah topik wajib. Palagi ortu-ortu baru (seperti temen-temen aku T_T). Wuah … anak ternyata bisa jadi sumber kebanggaan. Sering malah, saling membanggakannya itu, menjurus ke sikap ‘pride’ dan jadi ga obyektip.
Duh … moga saya kalo jadi ortu kelak (amin, moga dipercaya dikasi titipan) bisa bersikap proporsional.
Oia, anak emang punya karakter bawaan dari bayi kok. Ini berdasar pengamatan atas ponakan kembar saya sedari bayi-3 tahun lo^^
————————–
aRuL // Thursday, 3 April, 2008 at 01:22
Jadi paham .. makanya kita perlu memahami secara dalam itu Al-Qur’an kalo setengah-setengah … yah jadinya kayak film fitna itu yakz
————————
Hoek Soegirang // Thursday, 3 April, 2008 at 01:53
Hmm .. mungkin itulah kenafa Abu Nawas bilang kalo anak dan keluarga adalah fitnah, afabila mereka membuat kita terjerumus kedalam afi neraka.
Soale, kalo kita ndak isa ndidik anak kita dengan bener, kita juga yang bakal kena getahnya? ah ya, itu sih hanya sekedar femikiran saia yang asal sangadh.
—————————-
Rindu // Thursday, 3 April, 2008 at 08:44
Menurut saya .. anak akan menjadi fitnah jika “cinta kepada anak melebihi cinta kita kepada ALLAH” pernah dengar kata-kata “tunggulah hukuman ALLAH jika kita lebih mencintai dunia” … ah, saya sok tahu.
————————
aNita // Thursday, 3 April, 2008 at 08:50
Ngomong-ngomong soal anak, saya ini bang … lagi getol-getol-nya bikin anak — maklum manten baru hehe … Aduh jadi inget ga sempat ngasi undangan via email.
————————
Yoga // Thursday, 3 April, 2008 at 09:05
=D>
iya, pas kuliah kemarin ndak menyimak betul-betul … ngantuk sih hehehe …
Benar Bang, saya tahu kok Bang Eby kutip dari Quran digital, saya juga lihat sendiri di Quran digital terjemahannya begitu. Ini jadi sedikit merepotkan buat kita karena harus cross check dengan terjemahan yang lain.
————————-
edratna // Thursday, 3 April, 2008 at 11:15
Semua kembali pada cara mendidik orangtua terhadap anaknya, karena sebetulnya anak itu adalah amanah dari Allah swt.
Memang sulit untuk mendidik anak hidup sederhana, di saat kita berkecukupan. Saat anak kecil, kalau meminta sesuatu di luar buku pelajaran, saya selalu bilang …“Nak, tunggu ibu gajian ya, dan harus menabung dulu…”
Rasanya sedih sekali, karena permintaannya sepele, tetapi saya harus mendidik bahwa mendapatkan uang halal tidak mudah. Syukurlah anakku bisa menerima, padahal saya dulunya tinggal kompleks perumahan dinas yang semuanya mampu, dan banyak yang memberi mainan anaknya yang mahal-mahal.
Hanya dengan kekuatan hati kita, agar anak tetap bersikap sederhana, yang membuat saya kuat untuk meminta anak menunda permintaannya.
Btw, saya heran ada orang sekaya itu … lha dirumah kok sampai ada uang dolar segitu banyak … Jadi ingat tetanggaku pernah kehilangan perhiasan digondol pembantu sebesar Rp.60 juta (tahun 90 an)
Komentar teman-teman … kenapa nggak ditaruh di Safe Deposit Box. Dan saya ingat pesan mertua sepupuku …“Ojo ngiming-ngimingi” .. maksudnya jangan menaruh uang atau barang berharga sembarangan, karena bagi orang yang kepepet, walau asalnya orang baik, bisa punya godaan untuk mengambil.
Saya malah prihatin pada anak tadi, semuda itu umurnya, tapi telah berperilaku buruk … mudah-mudahan orangtua menyadari dan bisa membawa anaknya ke jalan kebaikan.
————————-
Yoga // Thursday, 3 April, 2008 at 13:48
Ampun Pak … yang ngasih kuliah udah semangat kok, tapi emang mahasiswi yang ini suka begadang walhasil … gitu deh … :angry:
Ngomong-ngomong, saya yang masih belum berkeluarga jadi agak miris ngebayangin “kehebohan” seperti ini dan “kehebohan-kehebohan” yang lainnya. Susahnya mendidik anak di jaman ini. Mudah-mudahan ndak jadi phobia.
:nono:
————————-
edratna // Thursday, 3 April, 2008 at 20:55
@ Mas Danalingga,
Ada pendapat — psikiater yang lain — tahun emas adalah umur anak s/d 10 tahun, saat ini adalah saatnya orangtua memberi sangu pendidikan baik jasmani maupun rochani. Setelah itu anak mulai ABG, memang benar yang berat sekitar umur 13-14 tahun … dan berat lagi saat remaja — usia SMA.
Prakteknya setiap kali memang selalu ada kendala, bahkan saat udah jadi mahasiswa … jadi kayaknya orangtua harus bisa menjadi teman anak, supaya setiap langkahnya kita tahu.
Selain berusaha memantau, tapi tak mengekang, berusaha memahami … juga harus diiringi doa yang tak putus-putus., semoga Allah swt selalu melindungi dari perbuatan yang tercela.
————————-
haniifa // Thursday, 3 April, 2008 at 23:28
Sewaktu membaca komentar dari mas Guh: “Btw, kalo ayat yang bilang kalau anak dan istri juga bisa jadi fitnah, disitu fitnah berarti apa ya?” … Kok rasa-rasanya ada di juz’amma …
Tapi dasar mulai pikun saya lupa nama surahnya. Lalu penasaran …
Searching … kata “fitnah” pada Al Quran Digital memang nggak ketemu, trus nyari di terjemahan depag er-ri … juga nggak ketemu.
Yooo wiies … jump to conclution.
Tulisan : Hadis, hadiz, hadist atau hadits mestinya saya ngerti yang dimaksud sunnah rasul, tapi kalau ditulis “Hadi” saya maknai mungkin Mas Hadi. Video Fitna = pideonya mba Fitna … biar kelihatannya sedikit Oon tapi hati ini adem lho
————————
Santri Gundhul // Saturday, 5 April, 2008 at 00:06
Yah .. yah … Anak-anak dalam pandangan umum merupakan AMANAH dari Tuhan yang seolah-olah BAIK dan BURUK mereka adalah Tanggung Jawab Orang tua.
Apa iya yah ..???
Hmmm … hmmm …. mikir, mencermati dan mencoba MEMAHAMI … Kok saya gak sepaham dengan terminologi umum itu yah … Sepertinya kita-kita ini menjadi lebih tahu tentang KEBENARAN dari pada Tuhan sendiri heks .. heks .. Bukankah anak-anak itu telah dilengkapi dengan bekal KODRAT dan IRODAT Tuhan??.
Setiap DIRI akan menanggung DIRINYA sendiri, begitu bunyi AQ. dan lebih tegas dikatakan dalam Al Isro’ 84. Jadi ?? setiap sang DIRI itu telah memiliki STEMPEL ke ILLAHIAN. Masih ingat kita kisah si Siti Zahra sang Pelacur ?? Masih ingat kita kisah Al Mubarak sang Penceramah Agama ??.
Mungkin hanya CONTOH perilaku dalam tindakan dan perbuatan NYATA yang bisa kita tunjukkan kepada si Kecil yang memang masih kuat MENIRU-NIRU segala apa yang bisa dilihat dilingkungan terdekatnya.
Semoga kita bisa memberikan contoh dan suri tauladan yang BAIK menurut ukuran kita masing-masing.
Salam
————————–
Menangkal Film “Fitna” 2 « Haniifa // Sunday, 6 April, 2008 at 21:53
[...] by haniifa on April 6, 2008 Salam, Sewaktu membaca komentar dalam suatu postingan : “Btw, kalo ayat yang bilang kalau anak dan istri juga bisa jadi fitnah, disitu fitnah berarti [...]
Al Faruq // Wednesday, 9 April, 2008 at 22:54
Assalamu’alaikum
Setuju Mas, fitnah dalam konteks ayat itu adalah cobaan. Dan karena cobaan itu dari Allah, maka fitnah itu bermakna dicobakan — ia dicobakan kepada Al insan atau manusia; atau, manusia yang dicoba.
Ilustrasi lain yang dapat ditambahkan adalah ANIS, HARBEN dan AMSAL.
ANIS adalah anak dan istri, HARBEN adalah harta benda; sedangkan AMSAL adalah amal sholeh. Maksud fitnah untuk ilustrasi ini adalah bahwa ANIS, HARBEN dan AMSAL dibersandingkan kepada Al insan untuk melihat kecendrungan Al insan kepada ketiganya.
Apakah kecendrungan keseharian kita kepada ANIS, HARBEN ataukah kepada AMSAL? Btw, apapun kecendrungan kita, sebaiknya tetap dalam rangka beribadah kepada Allah; karena “wamaa kholaqtul jinna wal insaana illa liya’buduun”.
Wassalamu’alaikum
—————————