Niat baik belum tentu pas. Seperti keinginan pemkot Batu, Malang – Jawa timur untuk mengantisipasi maraknya praktek esek-esek terselubung di sejumlah panti pijat yang terjadi di wilayah kekuasaan-nya dengan menerapkan peraturan baru bagi para peramu pijat — khususnya yang wanita — untuk mengunci rok dan celana dalam yang dipakai pada saat melayani tamu-tamunya. Apalagi, dalam waktu dekat Dinas Pariwisata DKI juga akan menjajaki kemungkinan kebijakan Pemkot Batu itu diadopsi di Jakarta.
Berita ini tentu sebentar lagi akan menjadi kehebohan baru — mungkin juga di jagad blogsphere. Yang pasti akan ada pro dan kontra. Dalam kolom komentar yang terdapat di situs Kompas.Com, sebagian besar menyatakan keheranan atau ketidaksetujuan dengan niat baik pemkot Batu tersebut.
Aku cuma kasihan dengan pramu pijat wanita tersebut, ketika mereka kebelet mau ke belakang, tentu amat sangat merepotkan mereka. Ku pikir bukan kah lebih baik mereka hanya menerima tamu perempuan saja. Sehingga mereka tidak perlu repot-repot untuk menggembok celana dalam mereka. Sedangkan untuk tamu laki-laki, biarlah pramu pijat laki-laki yang menangani-nya.
Bagaimana dengan pendapat teman-teman?
UPDATE 7 APRIL 2008
Tadi pagi, RCTI menyiarkan berita liputan di salah satu panti pijat yang ada di daerah Ciledug, Tangerang dan melakukan wawancara dengan mbak Novi, salah satu pramu pijat disana tentang akan diterapkannya celana bergembok. Mbak Novi langsung protes keras karena dianggap melecehkan kaum perempuan. Dan mengatakan bahwa yang harusnya digembok adalah penjahat
bukan pramu pijat !!! .. hahaha
jika berita di Kompas yang digembok adalah celana dalam, maka berita di RCTI mengatakan yang digembok adalah celana saja. Lihat skrinsut disamping.
UPDATE 8 APRIL 2008
Ini ada cerita dari Balikpapan tentang panti pijat yang saya kutip dari koran Kaltim Pos edisi hari ini.
Sepinya pelanggan akibat persaingan bisnis, menjadi alasan bagi para pemijat plus untuk giat “kejar setoran.” Tak peduli trik halus atau kasar. Semuanya dipakai yang penting uang mengalir ke kantong. Bahkan, ada yang selalu nekat memaksa pelanggan menggunakan layanan “plus.” Yang penting yakin jika pelanggan itu berkantong tebal.
Tuh .. yang konyolnya lagi, ketika si pramu pijat langsung menanggalkan seluruh pakaiannya. si tamu komentarnya gini : “Namanya monyet dikasi pisang, yah mau ndak mau diembat,” dan ketika ditagih Rp.250 ribu, ogah bayar karena cuma bawa Rp.100 ribu. Cape deeee
Disamping itu, Satpol PP Batu membantah telah menerapkan peraturan tersebut.
UPDATE 9 APRIL 2008
Berita yang disiarkan di TransTV tadi bagi menyiarkan peliputan di salah satu panti pijat Batu, Malang – Jawa Timur yang sudah menerapkan pramu pijat-nya menggunakan gembok. Dan itu sudah dilakukan sang pemilik panti sejak 2002. Sebelum menerapkan peraturan tersebut, sang pemilik mendiskusikan terlebih dahulu dengan pramu pijat-nya. Yang digembok adalah celananya — lihat skrinsut — bukan celana dalamnya. Kunci gembok dititipkan di resepsionis. Panti pijat yang berdiri sejak tahun 2000 itu kemudian dikenal dengan sebutan panti pijat gembok. Gimana?? mau mencoba??
UPDATE 20 JANUARI 2010
Sedang blogwalking malah ketemu blog yang memuat foto-foto contoh celana dalam bergembok yang justru sebagian besar contoh tersebut diperuntukan celana dalam buat lelaki alias cowok .. hmm, kepikiran bagaimana kalo sedang ‘stand up’ ya ??





Posted by AgusBin on Minggu, 6 April, 2008 at 07:11
Ah pertanyaannya … apakah metode gembok itu udh terbukti efektif pak? kalo belum hanya keliatan tambah konyol aja.
Pemijat sesama jenis? nanti yang dateng yang homo sama lesbi semua hahaha sama juga boong … semua berpaling pada kita sendiri pak.
Jujur lah jangan munafik, apakah kita hanya benar-benar ingin pijat atau ingin yang lain ..
—————————-
Posted by cK on Minggu, 6 April, 2008 at 09:31
Keren amat digembok-gembok begitu? kalau pelanggannya tukang gembok gimana?
—————————
Posted by deteksi on Minggu, 6 April, 2008 at 10:03
ahahaha … memang aneh-aneh saja kok ..
Niatnya baik, untuk mengurangi kemaksiatan, tapi caranya masih kurang aplicable
[ngakak baca komen cK]
—————————-
Posted by rumahkayubekas on Minggu, 6 April, 2008 at 13:16
Ide dan kreatifitasnya koq suka aneh bin nyeleneh ya?
Aya’ aya’ wae,
—————————–
Posted by Landy on Minggu, 6 April, 2008 at 15:16
He .. he .. he .. di gembok tar kalau mau pipis trus lupa bawa kunci gimana donk
————————–
Posted by “Prof UIN Jakarta Halalkan Homoseksual” « The Hermawanov on Minggu, 6 April, 2008 at 15:23
[...] . Mungkin sebenernya pemikiran-pemikiran seperti inilah yang perlu untuk turut diblokir dan digembok layaknya situs porno dan kekerasan yang juga meracuni anak bangsa dan seperti CD dan rok para [...]
Posted by Donny Reza on Minggu, 6 April, 2008 at 17:26
Duh, ada-ada saja … bukti pemerintah sudah tidak sanggup mengurusi masalah esek-esek?
—————————
Posted by Ratna on Minggu, 6 April, 2008 at 22:04
Tapi bajunya ngga di gembok tuh …
Masih ada kesempatan yang lain >:)
————————–
Posted by hariadhi on Minggu, 6 April, 2008 at 22:11
Hore….. pemerintah kita sukses “memajukan” peradaban kita hingga kembali ke zaman batu!!!!!
Kalau ga salah gembok celana dalam itu cara kuno di Cina yang dilakukan para pria untuk menghalangi istrinya selingkuh, kan?
Beberapa bulan lalu saya juga baca pramugari dari Indonesia yang kemaluannya dilakban suaminya yang kurang waras. Jadi sebenarnya pemerintah kita sama kurang warasnya dengan si suami itu yah?
—————————-
Posted by hariadhi on Minggu, 6 April, 2008 at 22:13
Bang … pelanggan bisnis esek-esek begitu bukannya banyak pejabat dan para direktur? Jadi harusnya merekalah yang kena peraturan gembok celana dalam.
Itu usul saya, adil kan?
—————————-
Posted by NdaruAlqaz on Minggu, 6 April, 2008 at 23:45
Wah, saya langsung membayangkan … kalo nanti di depan panti pijat akan muncul lapangan kerja baru, “Ahli Kunci, Tukang Kunci, Penjual Jimat BUka kunci Tinggal Tiup, Tukang Bongkar Gembok” dll.
Kakakakaka…
*pikir-pikir banting usaha jadi pengusaha pakaian dalam dengan merek “gembok super”*
—————————-
Posted by RawkchitecT on Senin, 7 April, 2008 at 06:18
Hahahaha ..
Mending minta pijat sama istri sendiri aja deh Pak!! lebih aman .. malah jadi tambah sayang deh ..
tapi ntar gantian ..
—————————-
Posted by Adit on Senin, 7 April, 2008 at 06:27
Ga jaman pakai kunci, yang modern dikit .. pakai Password doooooong !!!
—————————
Posted by singowoh on Senin, 7 April, 2008 at 07:59
Aduh pemimpin kita kok seperti ini, apa karena negara semakin susah maka mikir juga seadanya, hihihi.
Banyak banget celahnya dan tentunya merepotkan sipemijat. Pijat plus-plus kan tidak sekedar ‘dibalik celana, rok, atau apalah itu’ doang.
Semoga sih tetap ada nilai positifnya.
—————————–
Posted by Yoga on Senin, 7 April, 2008 at 08:28
Kenapa gak sama-sama digembok biar adil.
*ini cuma komentar iseng, gak ditanggapi gak papa Bang*
—————————–
Posted by edratna on Senin, 7 April, 2008 at 08:48
Hehehe … saya kok jadi geli … ada-ada aja.
Bagaimana dengan mbok-mbok pijat yang dipanggil ke rumah … tak perlu gembok kah?
Terus pijat refleksi? Yang cuma dipijat kaki dan tangannya, serta dilakukan ditempat terbuka? Dan yang memijat sebagian besar laki-laki.
—————————-
Posted by Rindu on Senin, 7 April, 2008 at 10:07
*membayangkan kalo celana saya tergembok .. dan gemboknya hilang*
—————————-
Posted by tukangkopi on Senin, 7 April, 2008 at 10:11
Yang jelas saya makin penasaran buat ngebukanya
—————————
Posted by DensS cessario on Senin, 7 April, 2008 at 11:09
Buakakka … iya iya kemarin kemarin kemarin gw baca di forum. Wakakak. Kacau emang …
Kek di film Meet The Spartans, wkowkow sama film Robin Hood plesetannya .. awjuawjuawjwau!!
—————————
Posted by Yoga on Senin, 7 April, 2008 at 11:37
Keknya cuma nguntungin Pampers huehehehe …
Peace!
—————————-
Posted by Nazieb on Senin, 7 April, 2008 at 14:01
Yah, mungkin cara paling ampuh … ya semua laki-laki itu harus dikebiri, pasti ndak akan ada kasus pornografi & pornoaksi lagi ..
—————————
Posted by itikkecil on Senin, 7 April, 2008 at 15:16
Akal manusia itu kan kadang lebih canggih dari peraturan. Jangan-jangan masih bisa diakali
————————–
Posted by Ibn Abd Muis on Senin, 7 April, 2008 at 15:27
Hik .. hik .. hik .. kaya’nya nggak akan pengaruh tuh, kecuali yang digembok yang ada di dalam celana-nya …
Tapi gimana caranya ya .. ???

#mikir mode : off#
—————————
Posted by Hoek Soegirang on Senin, 7 April, 2008 at 20:47
Jahhh … saia ngakak tafi sumfah, saia jengah!
1. kenafa harus wanitanya?
2. bukannya mbenerin moral, malah cuma digembok doank…
3. bukannya masih ada cara laen : oral, eh?
Ah ya, femerintah ko ya aneh-aneh sangadh ya bang? ko ya rasanya makin kacau gini ya?
—————————
Posted by yanti on Selasa, 8 April, 2008 at 05:52
Salam kenal …
Hmmm ada ada saja ya … Kalau gak keberatan tolong baca pendapat saya tentang hal ini di “Celana Bergembok dari Kota Batu” di :
http://maaini.wordpress.com/2008/04/07/celana-bergembok-dari-kota-batu/
Makasi ya … udah boleh ikutan nimbrung
—————————
Posted by RawkchitecT on Selasa, 8 April, 2008 at 06:07
Hahaha .. klo yang belom punya istri macam saya ini .. ya minta dipijetin temennya ajalah .. hiee .. tapi bahaya juga ding .. tapi emang lebih baek mengurus diri sendiri .. klo capek / pegel-pegel mending dikasih minyak gosok, trus ditinggal tidur .. hehehe
—————————
Posted by singowoh on Selasa, 8 April, 2008 at 06:23
Aduh dipanggil mbak .. wakakaka
————————–
Posted by almanfaluthi on Selasa, 8 April, 2008 at 06:31
Wahhh kasian dunkk cew nya yang digembok tuhh … kalo kebelet pipih eh pipis gimana?
wakakakakak
————————–
Posted by Goenawan Lee on Selasa, 8 April, 2008 at 06:52
Jujur sayah heran, makin dekat ke 2009 kok ya ‘kebijakan’ pemerintah (pusat maupun daerah) makin ngaco aja rasanya …
—————————
Posted by My breakfast on Selasa, 8 April, 2008 at 07:48
Yang butuh gembok sebenarnya hawa nafsu. Adakah yang menyediakan “gembok hawa nafsu”?
————————–
Posted by haniifa on Selasa, 8 April, 2008 at 08:22
Waahh … saya pikir Dinas Pariwisata DKI jangan mengadobsi tapi sebaiknya bikin gebrakan baru misalnya pramu pijat diwajibkan mengenakan baju ala “GLADIATOR” demi kenyamanan.
————————–
Posted by nh18 on Selasa, 8 April, 2008 at 12:05
Hmm … di gembok …
Apa lantas setelah digembok bisa hilang perilaku yang aneh-aneh itu …? Rasanya kok tidak ya pak ?? Masalahnya masih “banyak cara jalan ke roma” … Ah ada ada saja …
BTW Salam kenal pak Erander …
nh18
—————————-
Posted by reza on Selasa, 8 April, 2008 at 19:03
Jujur bang … saya mencari sesuatu dari tadi sampai-sampai saya baca dua kali tapi ternyata ga ketemu!!!
Btw yang megang kuncinya siapa bang?! … apa pemilik pemijatan? … atau malah pemkotnya?
atau malah jangan-jangan abang yang megang kuncinya?!
Salam kenal pak
—————————
Posted by mbelgedez on Selasa, 8 April, 2008 at 19:35
Tamu lelaki nya ajah nyang digembok, gimana hayooo …
—————————
Posted by heryazwan on Rabu, 9 April, 2008 at 09:52
Urusan pijat-memijat memang buat repot.
Dari singkatan-nya saja memang sudah masalah.
Coba lihat, PIJAT= PIkiran JAhaT. Jadi, memang asosiasinya sudah ke “sana” … He he .. maksa ya?
*Kabur …*
—————————
Posted by DensS cessario on Rabu, 9 April, 2008 at 16:01
Dah nonton film Meet the Spartans?
—————————
Posted by blueliquor on Kamis, 10 April, 2008 at 16:23
Ternyata yang mijit bawa kunci cadangan boss …
1 kunci buat mami, 1 buat reception, 1 lagi dipegang pemijatnya … jadi gemboknya buat siapa ..?????
—————————-
Posted by akhyari on Jumat, 11 April, 2008 at 09:50
Masalahnya juga, kita terlalu lama dan terlalu sering berpolemik masalah masalah seperti ini.
Terus terang, saya selalu melihat semua hal dari kacamata agama. Dan dalam level dan skala apapun, pemerintah harus berupaya maksimal memberantas kemaksiatan, meski kadang terlihat konyol, kasih lah kesempatan .. siapa tau berhasil.
Sebenarnya, menurut saya, gembok apapun tidak akan berhasil kalau transaksi sex berdasar suka sama suka, gembok hanya sebuah simbol, banyak makna. Makna bahwa pemerintah paling tidak sudah berusaha, di level paling bawah.
Lalu simbol bahwa perempuan pemijat, tidak semuanya mau direndahkan harga dirinya, lalu simbol bahwa laki laki hidung belang, mulai terbatas ruang geraknya.
Salam
—————————-
Posted by neng ika on Minggu, 13 April, 2008 at 21:21
Wah, Indonesia raya kita ada-ada aja ya bang … pramu pijat bergembok? … Kalo gitu mestinya di gedung Senayan ada juga donk ya yang pake gembok? … ato di BPK mungkin?
—————————
Posted by Prof UIN Jakarta Halalkan Homoseksual” « Muslim in Suffer on Sabtu, 19 April, 2008 at 09:14
[...] . Mungkin sebenernya pemikiran-pemikiran seperti inilah yang perlu untuk turut diblokir dan digembok layaknya situs porno dan kekerasan yang juga meracuni anak bangsa dan seperti CD dan rok para [...]
Posted by dongky on Senin, 23 Juni, 2008 at 20:19
Lebih baik tempat pijatnya di basmi biar ga da yang berniat jelek lagi … klo begitu banyak yang berpikiran kotor lah …
Dukung … untuk memberantas tempat pemijatan² ..
Merdeka !!!
————————–
Posted by dongky on Senin, 23 Juni, 2008 at 20:23
Saya malah punya pendapat lebih ‘extrim’ jika dikaitkan dengan agama. Yaitu melarang pramu pijat memijat yang bukan muhrim-nya alias pramu pijat perempuan hanya boleh memijat tamu perempuan saja, dilarang memijat tamu laki-laki.
Tapi tetap aja pak ada yang komentar : “Ntar gimana kalo mereka itu lesbian atau homosex.” Jadi susah juga kan? padahal niat-nya kan sudah baik untuk mencegah kemaksiatan. Ya dari pada pusing .. panti pijat dilarang aja sekalian pak.
*pikiran loh jorok sih makanya ga beres-beres masalah ini, jangan kau yang buka tempat kayak gini …*
—————————-
Posted by ara on Sabtu, 6 September, 2008 at 12:24
Kalo pemijitnya pake rok gimana? hahaha
—————————
Posted by andi on Jumat, 19 Desember, 2008 at 18:15
Semua tergantung … niat bukan pada gembok.
Kalo memang diterapkan system gembok, itu hanya menunjukan bahwa pejabat yang berwenang tidak pernah berpikir / tidak punya pikiran yang panjang mengenai hal tersebut.
Gembok hanyalah normatif .. tapi tidak efektif. Coba jujur pada diri sendiri … terutama bagi mereka yang sedang memiliki kewenangan mengenai hal tersebut.
—————————-
Posted by Belajar SEO Para Pemula on Kamis, 16 Juli, 2009 at 21:06
Wahahaa … ada² aja … tapi ga tau deh, no komen aja soal efektif atau tidaknya … hehe ..
————————–
Posted by marcell on Rabu, 12 Agustus, 2009 at 01:34
Wah pas baca artikel ini lucu juga ..
Hanya kasian aja tukang pijatnya kalau kebelet ke WC. Yang ada bisa² ngompol di celana … atau sebaiknya pake popok aja kali ya?
—————————
Posted by urie on Kamis, 22 Oktober, 2009 at 08:09
Aku masih penasaran … bahan celananya dari apa ya?
Kalo dari besi atau plat … memang pramunya bisa mijit, duduk aja susah kali … kalau dari kain tinggal … aja kali.
—————————
Posted by pelanggan panti pijat on Sabtu, 24 Oktober, 2009 at 16:19
Masih bisa ciuman, buka baju n karaoke pake mulut ..
Walau di gembok … bisa di raba pake tangan. Saya udah pernah sama Vivi, Yani, Icha, Wulan dan Yenni.
Mereka mengaku mijit 10 orang per hari, jadi 1 tahun 3.000 orang dengan tips Rp.100 ribu. Total penghasilan Rp. 300 juta /tahun dan gaji pokok Rp.1,7 juta.
—————————-
Posted by Kemas Yustiar on Senin, 21 Desember, 2009 at 01:15
Aneh-aneh komentar yang ada, cobalah menghormati niat baik orang, kalau yang menggembok & yang digembok sudah sama-sama setuju kenapa harus diributkan ?
Yang penting tidak ada paksaan, sedangkan tamunya tentu juga yang setuju, sebab kalau tidak tentu akan memilih panti yang lain tul gak ???!!!
—————————-
Posted by dewa on Selasa, 22 Desember, 2009 at 11:19
Harusnya pejabat dan yang buat aturan pake gembok lah yang harus di gembok celananya … bukan hanya salahkan rakyat kecil … jangan jadi orang sok alim.
————————–
Posted by yuki kun on Senin, 29 Maret, 2010 at 13:14
Kalo kurang bayarnya dan cuma bisa bayar Rp.100.000 sisanya (Rp.150.000) potong aja ituannya hahahahaa …
Saya heran kenapa ya di Indonesia yg kena peraturan kaya gini perempuan terus! Emang yg mesum tuch perempuan aja … yg laki² gimana?! Hukum harus adil dong!!!
——————————
Posted by sodiqpraja on Sabtu, 11 Desember, 2010 at 02:08
lebih bagus,jangan celana gembok mendingan masukin peti baru digembok plus rante amankan…………
Posted by Joenearto on Selasa, 11 Januari, 2011 at 23:34
MARI MARI KEMARI OBRAL PANGLARIS SILAHKAN MAMPIR SEBELUM DI GEMBOK