Malam ini, begitu business meeting di Bali ditutup, aku langsung berbaur dengan teman-teman di lobby hotel Sanur Paradise Plaza Hotel. Banyak kisah mengalir dari mulut kami masing-masing. Maklum, sudah 3 tahun tidak ketemu, bahkan ada yang sudah 7 tahun tidak ketemu. Kami saling berbagi cerita tentang takdir yang sedang kami jalani. Ada yang dulunya masih belum apa-apa, sekarang sudah jadi bos
dan yang dulunya sudah jadi bos, ya tetap juga jadi bos .. belum kemana-mana hehehe .. padahal, jika dilihat dari pengalaman dan kepintaran, yang karir-nya melejit tidak lebih hebat dari yang posisinya tetap.
Salah seorang teman kemudian bercerita, bahwa dia sudah mendapat surat mutasi ke Pekanbaru. Dia merasa enggan untuk berangkat. Karena pangkat-nya sama dengan posisi nya saat ini di Tasikmalaya. Memang, di Pekanbaru, jabatannya meningkat dari pimpinan area menjadi pimpinan region. Tapi dia berpikir, akan banyak cost yang mesti dia keluarkan sedangkan salary-nya relative sama.
Tapi .. sejurus kemudian dia berkata : “Tapi kesempatannya itu yang ga bisa dinilai dengan uang. Walaupun salary sama, tapi gengsinya beda. Yang satu pimpinan area, sedangkan yang satunya pimpinan region. Dari struktur organisasi aja sudah beda. Dan tentu, hal ini menjadi point penting dalam pilihan karir”
Aku terdiam sejenak. Pikiran ku melayang pada seorang sahabat yang sedang menghadapi dua pilihan pekerjaan .. apakah menerima kerja di perusahaan otomotif atau di perusahaan perdagangan komoditi. Memang kedua posisinya sama, yaitu Asisten Administrasi. Tapi tentu, kesempatan di kedua perusahaan itu akan memiliki dampak yang berbeda.
Sering kali .. tidak tanpa sadar telah menulis takdir kita, ketika sebuah kesempatan datang, kita tolak atau kita terima. Seperti seorang teman lain, yang menolak di mutasi kan ke kota lain. Dengan alasan saat ini dia sudah merasa comfort dengan yang sekarang. Atau seorang sahabat satu nya lagi yang sudah kemana-mana tapi jabatannya ga naik-naik.
Begitulah hidup .. tak pernah kita mengerti tapi bisa kita pelajari. Tak pernah kita pahami tapi bisa kita renungkan.














18 tanggapan so far ↓
Mrs. Fortynine // Rabu, 30 April, 2008 pada 23:08
Weeew … reuni! salah satu momen favoritku Bang
Dan pada saat itu, terkuak bermacam misteri yang kembali menyadarkan kita
Hidup memang sulit dimengerti, tapi … kenapa repot repot mengerti hidup? karena hidup bukan untuk dimengerti, melainkan untuk diberi arti …
*ceilaaah …*
—————————–
aminhers // Rabu, 30 April, 2008 pada 23:46
Assalamu’alaikum wr wb
Saya selalu percaya pada kata hati, ketika harus memilih dalam keadaan darurat.
—————————
NdaruAlqaz // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 0:46
… jadi inget sebuah hal yang sampai sekarang dianggap fiksi, time travel.
Jika kita kembali ke masa lalu di saat, misalnya ketika ratu Belanda memerintahkan untuk menjajah Indonesia, kita bunuh atau culik tu ratu, mungkin bangsa kita tak akan se-terpuruk ini.
Tapi mungkin juga kita tak akan lahir, karena ada “sesuatu” yang mengubah jalan kehidupan.
Apa yang bisa saya pelajari dari khayalan fiksi ini, mungkin kejadian ter-sepele yang kita lakukan sebenarnya adalah sebuah batu lompatan besar tentang apa yang akan kita dapatkan di masa depan.
Jika saja saya tak kuliah di Solo … mungkin saya tak akan jadi Web Programmer
dan banyak duit, bisa aja saya jauh lebih sukses, atau malah tak bisa mencapai apa-apa.Tapi, tak ada gunanya berandai andai … apa yang kita lakukan sekarang adalah yang terbaik. Yang kita dapatkan dari apa yang telah kita lakukan, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin mengambil keputusan untuk masa depan yang lebih baik.
—————————–
deteksi // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 6:57
Manusia berkehendak, Tuhan yang menentukan …
Skenario-skenario yang sudah kita susun bagus dalam menghadapi hidup terkadang menyimpang sedikit .. sedikit .. sedikit lagi ..
Dan akhirnya pada jarak yang jauh, penyimpangan tersebut ternyata sudah jauh ..
—————————-
edratna // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 10:54
Hehehe … kenapa kita menulis hal yang mirip, tapi dari sudut pandang berbeda?
Sama seperti komentarnya pak Guntar di blog saya, sama-sama membaca “Blink” .. tapi hasil yang dituangkan berbeda … saya melihatnya dari produk dan manajemen, pak Guntar melihatnya dalam cara pengambilan keputusan.
Justru inilah seninya …
—————————-
cK // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 11:15
Ah … pilihan pekerjaan. Saya juga pernah dihadapkan seperti itu bang …
Keputusan itu harus dipikirkan secara matang karena dari inilah keputusan yang akan membawa kita ke takdir yang lain …
—————————-
aRuL // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 18:47
Kesempatan selalu ada, makanya shalat istikharah aja hehehe
————————-
AgusBin // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 21:05
Aduh pak, saya sih maunya dapat kesempatan terus … tapi kenapa saya dapatnya dana umum melulu ya pak!
Eh salah dikirain lagi main monopoli huehe ..
—————————
geMbel elite™ // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 21:44
Namun ada seorang abang sayah nyang selalu ngingetin,
Kartu yang kita pegang boleh bergonta-ganti, tapi tidak boleh kartu mati, kita harus pinter memainkannya …
————————–
hanggadamai // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 22:59
Hidup ini memang sangat sulit tuk dimengerti bang ..
Hidup ini memang penuh dengan pilihan ..
————————–
almascatie // Kamis, 1 Mei, 2008 pada 23:56
hmmmmmmmmm…………..
*masih belom menemukan jawaban*
—————————-
chuanwei // Jumat, 2 Mei, 2008 pada 6:26
==============================================
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI:
http://www.leoxa.com/
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
==============================================
Rame … yang udah berpindah dari pada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren ..
—————————
Rindu // Jumat, 2 Mei, 2008 pada 9:31
Dulu, Ayah saya pernah bilang bahwa apa yang saya ucapkan [keluar dari bibir saya] adalah do’a … jadi hati-hati, akan dikabulkan … mungkin ini hampir sama dengan takdir yang tertulis oleh tangan kita sendiri.
—————————
arifrahmanlubis // Jumat, 2 Mei, 2008 pada 11:05
Istikharah dan musyawarah dengan orang-orang baik terpercaya yang mengerti duduk persoalan
————————–
itikkecil // Jumat, 2 Mei, 2008 pada 11:11
Saya percaya ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Salah satunya kesempatan itu.
————————–
agoyyoga // Senin, 5 Mei, 2008 pada 13:20
Tidak ada kesempatan yang sama untuk kedua kalinya? Betulkah? Yang saya rasakan dan saya lihat Allah selalu memberikan optional, pilihan-pilihan dalam setiap kesempatan yang dihadapi manusia.
Dan persoalan secara nggak sengaja kita turut menuliskan takdir kita sendiri itu betul rasanya, masih ada kok takdir yang masih bisa diubah, seperti disebutkan bahwa tidak akan berubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya.
Wassalam
—————————-
pitiksekolah // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 16:28
Hidup memang harus memilih, dan setiap pilihan ada Harganya. Ada harga yang harus dibayar dari pilihan yang kita ambil :
Menjadi pegawai, punya konsekuensi harus rela melepaskan kemerdekaan waktunya yang terkadang ‘berlebihan’ kepada perusahaan tempat kita kerja. Harus siap berlaku sebagaimana bidak catur — yang sewaktu-waktu bisa dipindah posisi atau lokasi kerja sesuai keinginan perusahaan, sesuai kebutuhan perusahaan. Harus bekerja sesuai ketentuan perusahaan. Menjadi pegawai juga memiliki keterbatasan penghasilan, karena besarnya penghasilan sudah pasti dapat ditebak.
Menjadi pengusaha / self empoyee juga memiliki harga sendiri. Memiliki kebebasan mengatur irama kerja yang terkadang — dan seringnya — lebih lama waktu kerjanya dari pegawai kantoran. Besarnya penghasilan bisa divariasikan sesuai keinginan kita. Semakin rajin, semakin ulet, semakin banyak proyek, dan bisa semakin banyak pemasukan.
Menjadi pengusaha bisa mendapatkan percepatan mendapatkan rejeki, yang selanjutnya bisa lebih banyak dalam bersedekah-berbagi rejeki dengan sesama. Menjadi pengusaha, mendapatkan akses pelatihan langsung menjadi pemimpin, karena tiap hari harus melakukan pengaturan sedemikian sehingga perusahaannya tetap berjalan.
Itulah contoh perbandingan pegawai VS pengusaha, dua buah hal yang berbeda.
Dan kita sebagai manusia, harusnya sangat menyadari .. tiap orang itu beda, tiap orang itu ‘hands on’ pada bidangnya masing-masing. Tidak semua orang cocok jadi pegawai, tidak semua orang bisa menjalani bisnis MLM, tidak semua orang bisa jadi wiraswasta.
Dari koment para wordpresser di sini … ada dua golongan, yang pertama adalah golongan yang percaya bahwa kita harus jalan lurus seperti apa posisi kita sekarang. Yang kedua adalah golongan yang memiliki pilihan, lalu memilih pilihan yang lain.
Saya bisa menangkap sedikit hal tersembunyi … bahwa golongan pertama, yang mengharuskan kita lurus, jalan sesuai posisi kita … sepertinya secara tidak langsung mengatakan adalah menyalahi takdir saat kita menyudahi lakon kita di pilihan pertama lalu switch ke pilihan lain.
Sedangkan golongan dua adalah orang yang berpendapat bahwa takdir masih bisa dirubah, karena adanya pilihan-pilihannya itu.
Jadi seperti mas Eby bilang : “.. Jadi sebenarnya kita mengubah takdir, memilih takdir, menjemput takdir atau .. hmm, ga usaha dibahas deh ntar malah pusing …” Memang gak usah dibahas … ntar malah pusing ..
—————————-
heryazwan // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 9:18
Kesempatan tergantung dari orang yang melihatnya. Sebuah ancaman juga dapat diubah menjadi peluang.
Gigi tongos bisa menjadi berkah di tangan Mandra, Bokir, dll … Kulit hitam dan gemuk menjadi rezeki bagi Oprah, Tika Panggabean, dsb. Terus, yang biasa-biasa aja gimana dong?
—————————
Tinggalkan Komentar