KU LETAK KAN KATA DISINI

Negeri chaos …

Jumat, 2 Mei, 2008 · & Komentar

blok.jpg

Matahari baru muncul di ufuk barat menyinari bumi negeri antah berantah yang kemarin barusan diguyur hujan lebat semalaman. Sinar matahari yang hangat seakan-akan memberikan harapan baru bagi negeri tersebut. Walaupun matahari itu terbit disisi yang tidak lazim, rakyat negeri tersebut tetap saja merayakannya dengan gegap gempita dan mengharapkan sang matahari dapat menuntaskan genangan air akibat hujan semalaman.

Belum satu jam sinar matahari memanggang bumi, rakyat negeri antah berantah itu mulai merasa gerah. Satu persatu pakaian lengkap mereka tanggalkan. Air akibat hujan semalaman perlahan mulai surut. Sebagian rakyat mulai membenah rumah mereka. Menata ulang keporakporandaan.

Dua jam kemudian berlalu, satu dua penduduk mulai merasa perut mereka keroncongan. Menyusul satu dua penduduk lainnya. Dan dalam sekejap sebagian besar rakyat negeri antah berantah itu merasa kelaparan. Sisa makanan yang tidak tersapu air hujan dan air sungai yang meluap tidak mampu memenuhi perut-perut kosong mereka.

Mulai terdengar satu dua orang berteriak. Menyalahkan matahari. Menyalahkan hujan. Menyalahkan semua yang bisa dapat disalahkan. Mereka ingin segera. Mereka ingin keajaiban. Mereka tidak peduli apa artinya rahmat air hujan. Apa artinya sinar matahari. Karena mereka lapar. Karena mereka hanya ingin hidup. Satu dua orang terus bertembah. Hingga akhirnya hampir semua penduduk berteriak.

Bosan teriak, karena tidak ada yang mendengar. Mereka kemudian berkumpul. Menyingsingkan lengan baju. Bukan, bukan untuk bekerja .. bukan untuk memperbaiki tempat tinggal mereka yang hancur karena air hujan semalaman. Tapi mereka unjuk kekuatan. Mereka merasa mereka bisa mengatur negeri ini. Satu kumpulan beranak pinak jadi beribu kumpulan. Saling dorong. Saling injak. Dan akhirnya negeri antah berantah itu berubah menjadi negeri chaos.

Kategori: Begini menurutku · Kata yang ku tuliskan
yang berkaitan: , ,

22 tanggapan so far ↓

  • Nayantaka // Jumat, 2 Mei, 2008 pada 23:23

    Kelaparan, bisa memunculkan energi yang luar biasa dahsyatnya ya
    ————————–

    Betul pak .. makanya, dalam beberapa komentar dan pendapat para cerdik cendikiawan, telah diingatkan bahwa bencana pangan dapat menimbulkan revolusi bahkan yang lebih radikal lagi adalah pemicu perang dunia. OMG !!

  • NdaruAlqaz // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 0:22

    Saya jadi inget nenek saya yang satire banget.

    Ada sebuah meja unik di kebudayaan Jawa, namanya Bodak. Meja ini biasanya berlubang di tengah, untuk menyimpan padi dan bahan makanan cadangan. Konon ketika dulu jaman Jepang … bodak digunakan untuk menyembunyikan bahan pangan dari Jepang.

    Hingga sekarang ini, nenek saya mungkin satu-satunya orang di desa yang masih punya bodak ini. Di dalamnya ada padi yang umurnya sudah belasan tahun.

    Setiap saya tanya … kenapa kok masih aja di simpan, padahal sudah busuk, lagian sekarang udah merdeka. Dengan optimis nenek menjawab “Dasar gak tau sengsaranya jaman Jepang dulu … kalau negara ini masih kayak sekarang, ada kemungkinan Jepang balik lagi.”

    What the …
    —————————

    Belajar dari orang bijak .. membuat kita menemukan kesejatian dan kearifan tentang kehidupan. Masalahnya, kita merasa terlalu pintar untuk belajar dengan orang bijak.

    Salam takzim abang buat neneknda. Semoga beliau selalu dalam keadaan sehat walafi’at dan dilindungi oleh Allah.

  • aRuL // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 1:53

    Cerita tentang negeri mana bang?

    Saya tidak berharap itu negara Indonesia lho :D
    —————————-

    Oh .. itu negara antah berantah, yang letaknya di lokasi yang sangat indah dan dilimpahi rahmat oleh Allah dengan sumber daya alam yang beraneka ragam.

    Sayang, rakyat-nya tidak pernah merasa bersyukur dengan nikmat-Nya. Hidupnya selalu mengeluh dan menunggu pertolongan negara-negara lain. Selalu saja ada alasan mereka untuk tidak berbuat sesuatu.

    Sehingga .. kekayaan alam, justru dinikmati oleh negara-negara yang membantu negeri antah berantah tersebut. Kekuatan sudah menjadi yang berkuasa. Siapa kuat, itu yang menang. Persis seperti kisah di hutan belantara.

  • hanggadamai // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 7:34

    Semua itu terjadi mungkin karena kurang bersyukur …
    ————————–

    Ya .. rasanya, mengeluh itu lebih indah dari pada bersyukur. Dengan mengeluh, seakan-akan, diluar sana lah yang menyebabkan semua ini .. dengan mengeluh, seakan-akan, kita tidak bertanggung jawab dengan semua yang terjadi.

  • cK // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 7:53

    Jangan-jangan ini gambaran negeri kita di masa depan nanti?? :roll:
    ————————–

    Audzubillahiminzaliq .. semoga kisah di atas dapat menghindarkan negeri ini menjadi seperti itu. Ketika otot lebih hebat dari otak. Ketika duit lebih sakti dari hati nurani. Ketika orang asing lebih dihormati dari pribumi.

  • danalingga // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 8:08

    Betapa kasihannya Elang dan kawan kawan. Reformasi … oh … reformasi.
    —————————

    Begitulah .. ketika manusia hanya menjadi angka-angka. Ketika manusia hanya buat dikenang. Ketika manusia hanya menjadi tumbal.

    Selama kita tak pernah mau belajar, tak pernah mau mengambil hikmahnya, tak pernah mau mendengar .. maka manusia akan tinggal menjadi angka.

  • det // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 10:54

    Semoga itu tadi hanya bunga tidur :mrgreen:
    —————————

    Buru-buru bangun .. :)

  • ckasih // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 11:35

    ===============================================
    NOW AVAILABLE CHRISTIANITY MADE IN MALAYSIA!!!
    ===============================================
    EVERY CHRISTIAN NOW MUST LEARN ARABIC.
    THE FIRST LESSON IS SAY “ALLAH” AND NOT “GOD”.
    This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.

    Get the full story here: http://ckasih.blogspot.com

  • daeng limpo // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 11:58

    Saya berharap kisah ini tidak terjadi di negri ini
    ————————–

    Amin. Ceritanya terjadi di antah berantah koq pak?

  • edratna // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 12:06

    Mungkin perlu gebrakan kayak dulu ya …

    Saat saya SMP kelas 1, saat itu bung Karno mempersiapkan bangsa Indonesia — jika terpaksa berdikari. Murid sekolah digerakkan menanam jagung, umbi-umbian dipekarangan rumah, dan seminggu sekali dicatat berapa tingginya, lebar daunnya .. intinya adalah semua lapisan masyarakat dipersiapkan.

    Kalau setiap jengkal tanah ditanami tanaman pangan — termasuk taman-taman kota — mungkin kita tak kelaparan. Tapi apa mungkin???
    —————————-

    Olivier de Schutter, warga Perancis yang menjabat sebagai penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pangan mengatakan bahwa kemelut pangan global kini karena kesalahan kebijakan global, yang sudah tertanam lama yaitu 20 tahun.

    Dimana Schutter mengatakan bahwa Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menyepelekan pentingnya investasi di sektor pertanian. Salah satu contohnya adalah desakan dua lembaga itu kepada negara berkembang untuk menghasilkan komoditas berorientasi ekspor, dengan mengabaikan ketahanan pangan.

  • dobelden // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 15:18

    Waduh …

    Kayaknya dah chaos bener nih :(
    —————————

    *siap-siap kabur ke LN* :evil:

  • nindityo // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 18:14

    Betul sekali pak.

    Indonesia itu di bentuk dari chaos dan stabil dalam keadaan itu. Situasi yang tenang seperti jaman orde baru itu lah yang berpotensi chaos.
    —————————

    Hmmm … no comment :|

  • Haniifa // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 22:58

    Jadi inget jaman “Repot” NASI … rame-rame buat “Rapot” BASI :D
    ————————–

    Maksudnya apa ya pak?? :|

  • realylife // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 11:52

    Maaf pak, chaos artinya apaan ya ?
    *masih jetlag dan lagi nda mudeng nich*
    —————————

    Yang pasti bukan kaos Id hahaha :lol:

  • maxbreaker // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 14:19

    Negeri ini memang kacau Mas.

    Butuh pemimpin dari golongan muda yang fresh.
    —————————

    Apakah kita yakin .. akan lebih baik? Tapi bukan berarti yang tua juga akan lebih baik dari yang muda.

  • aminhers // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 15:18

    What’s a pity this chaos nation, to more peoples have not a good conviction and confidence so They’re very weak. Allah is only one way !

    Trust !

  • agusrdh // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 17:44

    Setuju mas …

    Buat mengingatkan kita. Dan semua bisa terjadi di ranah tempat kita hidup sekarang. Moga gak ya …
    —————————

    Insya Allah .. kalo kita semua sadar .. pasti ga terjadi lah. Saya cuma kawatir, jika kita gak sadar hahaha :lol:

  • tomy // Senin, 5 Mei, 2008 pada 7:51

    lalu kulihat seorang badut

    wajahnya dipulas dipatut-patut

    seringai serigala namun terlihat selalu tertawa

    “Aku telah datang membawa kesenangan dan kegembiraan

    hidup hanya sekedar permainan mari jadikan sebagai panggung hiburan”

    Gegap gempita seluruh negeri

    badut diangkat didudukkan kursi

    “jadilah pemimpin kami

    terima hormat daulat kami”

    hancur hatiku melihat itu

    dengan menangis aku berlalu

    bangsaku oh bangsaku

    mengapa kalian begitu dungu?

  • nindityo // Senin, 5 Mei, 2008 pada 8:55

    Tentang teori chaos

    http://nindityo.wordpress.com/2008/04/22/teori-chaos-api-olimpiade/

    Sebab kalo dinalar aja .. udah dari jaman kuda gigit besi Indonesia sudah terpecah-pecah tapi kan enggak .. hebat kan :D
    —————————-

    Indonesia emang hebat euy .. thanks ya sudah sharing teori disini. Nanti saya mampir ke postingan mu.

  • Yoga // Senin, 5 Mei, 2008 pada 15:10

    + Seandainya negeri kita aman, makmur, tentram, dan damai seperti negeri para raksasa.

    - Jangan kau bandingkan negeri kita dengan negeri para raksasa. Bagaimanapun aku akan kembali ke antah berantah. Apa pun yang terjadi aku akan mengabdi.

    + Tapi disini banjir, ibu pertiwi telah sering menangis meratapi simbol hijau yang ditebang semena-mena oleh para cukong dan tengkulak, jalan kuda macet, sandang, pangan dan papan sulit, minyak dan gas dikandungan ibu pertiwi begitu sampai dilahirkan menguap entah kemana. Para pamongpraja hanya tahu hidup di kayangan kakinya halus tak pernah menjejak bumi.

    - Tapi aku akan tetap kembali. Hujan emas di negeri raksasa tidak seindah hujan derita di antah berantah. Aku rindu wajah-wajah pribumi para kurcaci, demi mereka aku akan kembali. Disini tidak ada wajah gadis secantik gadis-gadis antah berantah. Lagipula aku rindu sambal buatan simbok.

    + Jika tekadmu sudah bulat…

    Percakapan imajiner via ym :mrgreen: dua warga antah berantah, yang satu sedang melanglang buana ke negeri raksasa nan sentosa.

    Begitulah saya rasa bagaimanapun selalu ada cinta untuk tanah tumpah darah. :D

  • achoey sang khilaf // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:54

    ehmmm

    ngeri juga :(

  • stey // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 10:07

    apa yang chaos disini?

Tinggalkan Komentar