Matahari baru muncul di ufuk barat menyinari bumi negeri antah berantah yang kemarin barusan diguyur hujan lebat semalaman. Sinar matahari yang hangat seakan-akan memberikan harapan baru bagi negeri tersebut. Walaupun matahari itu terbit disisi yang tidak lazim, rakyat negeri tersebut tetap saja merayakannya dengan gegap gempita dan mengharapkan sang matahari dapat menuntaskan genangan air akibat hujan semalaman.
Belum satu jam sinar matahari memanggang bumi, rakyat negeri antah berantah itu mulai merasa gerah. Satu persatu pakaian lengkap mereka tanggalkan. Air akibat hujan semalaman perlahan mulai surut. Sebagian rakyat mulai membenah rumah mereka. Menata ulang keporakporandaan.
Dua jam kemudian berlalu, satu dua penduduk mulai merasa perut mereka keroncongan. Menyusul satu dua penduduk lainnya. Dan dalam sekejap sebagian besar rakyat negeri antah berantah itu merasa kelaparan. Sisa makanan yang tidak tersapu air hujan dan air sungai yang meluap tidak mampu memenuhi perut-perut kosong mereka.
Mulai terdengar satu dua orang berteriak. Menyalahkan matahari. Menyalahkan hujan. Menyalahkan semua yang bisa dapat disalahkan. Mereka ingin segera. Mereka ingin keajaiban. Mereka tidak peduli apa artinya rahmat air hujan. Apa artinya sinar matahari. Karena mereka lapar. Karena mereka hanya ingin hidup. Satu dua orang terus bertembah. Hingga akhirnya hampir semua penduduk berteriak.
Bosan teriak, karena tidak ada yang mendengar. Mereka kemudian berkumpul. Menyingsingkan lengan baju. Bukan, bukan untuk bekerja .. bukan untuk memperbaiki tempat tinggal mereka yang hancur karena air hujan semalaman. Tapi mereka unjuk kekuatan. Mereka merasa mereka bisa mengatur negeri ini. Satu kumpulan beranak pinak jadi beribu kumpulan. Saling dorong. Saling injak. Dan akhirnya negeri antah berantah itu berubah menjadi negeri chaos.














22 tanggapan so far ↓
Nayantaka // Jumat, 2 Mei, 2008 pada 23:23
Kelaparan, bisa memunculkan energi yang luar biasa dahsyatnya ya
————————–
NdaruAlqaz // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 0:22
Saya jadi inget nenek saya yang satire banget.
Ada sebuah meja unik di kebudayaan Jawa, namanya Bodak. Meja ini biasanya berlubang di tengah, untuk menyimpan padi dan bahan makanan cadangan. Konon ketika dulu jaman Jepang … bodak digunakan untuk menyembunyikan bahan pangan dari Jepang.
Hingga sekarang ini, nenek saya mungkin satu-satunya orang di desa yang masih punya bodak ini. Di dalamnya ada padi yang umurnya sudah belasan tahun.
Setiap saya tanya … kenapa kok masih aja di simpan, padahal sudah busuk, lagian sekarang udah merdeka. Dengan optimis nenek menjawab “Dasar gak tau sengsaranya jaman Jepang dulu … kalau negara ini masih kayak sekarang, ada kemungkinan Jepang balik lagi.”
What the …
—————————
aRuL // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 1:53
Cerita tentang negeri mana bang?
Saya tidak berharap itu negara Indonesia lho
—————————-
hanggadamai // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 7:34
Semua itu terjadi mungkin karena kurang bersyukur …
————————–
cK // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 7:53
Jangan-jangan ini gambaran negeri kita di masa depan nanti??
————————–
danalingga // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 8:08
Betapa kasihannya Elang dan kawan kawan. Reformasi … oh … reformasi.
—————————
det // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 10:54
Semoga itu tadi hanya bunga tidur
—————————
ckasih // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 11:35
===============================================
NOW AVAILABLE CHRISTIANITY MADE IN MALAYSIA!!!
===============================================
EVERY CHRISTIAN NOW MUST LEARN ARABIC.
THE FIRST LESSON IS SAY “ALLAH” AND NOT “GOD”.
This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.
Get the full story here: http://ckasih.blogspot.com
daeng limpo // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 11:58
Saya berharap kisah ini tidak terjadi di negri ini
————————–
edratna // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 12:06
Mungkin perlu gebrakan kayak dulu ya …
Saat saya SMP kelas 1, saat itu bung Karno mempersiapkan bangsa Indonesia — jika terpaksa berdikari. Murid sekolah digerakkan menanam jagung, umbi-umbian dipekarangan rumah, dan seminggu sekali dicatat berapa tingginya, lebar daunnya .. intinya adalah semua lapisan masyarakat dipersiapkan.
Kalau setiap jengkal tanah ditanami tanaman pangan — termasuk taman-taman kota — mungkin kita tak kelaparan. Tapi apa mungkin???
—————————-
dobelden // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 15:18
Waduh …
Kayaknya dah chaos bener nih
—————————
nindityo // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 18:14
Betul sekali pak.
Indonesia itu di bentuk dari chaos dan stabil dalam keadaan itu. Situasi yang tenang seperti jaman orde baru itu lah yang berpotensi chaos.
—————————
Haniifa // Sabtu, 3 Mei, 2008 pada 22:58
Jadi inget jaman “Repot” NASI … rame-rame buat “Rapot” BASI
————————–
realylife // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 11:52
Maaf pak, chaos artinya apaan ya ?
*masih jetlag dan lagi nda mudeng nich*
—————————
maxbreaker // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 14:19
Negeri ini memang kacau Mas.
Butuh pemimpin dari golongan muda yang fresh.
—————————
aminhers // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 15:18
What’s a pity this chaos nation, to more peoples have not a good conviction and confidence so They’re very weak. Allah is only one way !
Trust !
agusrdh // Minggu, 4 Mei, 2008 pada 17:44
Setuju mas …
Buat mengingatkan kita. Dan semua bisa terjadi di ranah tempat kita hidup sekarang. Moga gak ya …
—————————
tomy // Senin, 5 Mei, 2008 pada 7:51
lalu kulihat seorang badut
wajahnya dipulas dipatut-patut
seringai serigala namun terlihat selalu tertawa
“Aku telah datang membawa kesenangan dan kegembiraan
hidup hanya sekedar permainan mari jadikan sebagai panggung hiburan”
Gegap gempita seluruh negeri
badut diangkat didudukkan kursi
“jadilah pemimpin kami
terima hormat daulat kami”
hancur hatiku melihat itu
dengan menangis aku berlalu
bangsaku oh bangsaku
mengapa kalian begitu dungu?
nindityo // Senin, 5 Mei, 2008 pada 8:55
Tentang teori chaos
http://nindityo.wordpress.com/2008/04/22/teori-chaos-api-olimpiade/
Sebab kalo dinalar aja .. udah dari jaman kuda gigit besi Indonesia sudah terpecah-pecah tapi kan enggak .. hebat kan
—————————-
Yoga // Senin, 5 Mei, 2008 pada 15:10
+ Seandainya negeri kita aman, makmur, tentram, dan damai seperti negeri para raksasa.
- Jangan kau bandingkan negeri kita dengan negeri para raksasa. Bagaimanapun aku akan kembali ke antah berantah. Apa pun yang terjadi aku akan mengabdi.
+ Tapi disini banjir, ibu pertiwi telah sering menangis meratapi simbol hijau yang ditebang semena-mena oleh para cukong dan tengkulak, jalan kuda macet, sandang, pangan dan papan sulit, minyak dan gas dikandungan ibu pertiwi begitu sampai dilahirkan menguap entah kemana. Para pamongpraja hanya tahu hidup di kayangan kakinya halus tak pernah menjejak bumi.
- Tapi aku akan tetap kembali. Hujan emas di negeri raksasa tidak seindah hujan derita di antah berantah. Aku rindu wajah-wajah pribumi para kurcaci, demi mereka aku akan kembali. Disini tidak ada wajah gadis secantik gadis-gadis antah berantah. Lagipula aku rindu sambal buatan simbok.
+ Jika tekadmu sudah bulat…
Percakapan imajiner via ym
dua warga antah berantah, yang satu sedang melanglang buana ke negeri raksasa nan sentosa.
Begitulah saya rasa bagaimanapun selalu ada cinta untuk tanah tumpah darah.
achoey sang khilaf // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:54
ehmmm
ngeri juga
stey // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 10:07
apa yang chaos disini?
Tinggalkan Komentar