KU LETAK KAN KATA DISINI

Harga BBM akan naik

Selasa, 6 Mei, 2008 · & Komentar

blok.jpg

Apa yang terbayang dalam benak mu, seandainya harga bensin Rp.7.500 per liter dan harga minyak tanah Rp.8.000 per liter. Apakah kamu akan tetap membelinya seperti biasanya, atau tetap membelinya tapi jumlahnya hanya setengah dari biasanya, atau tidak mau membelinya dan akan melakukan unjuk rasa? atau diam saja? .. Ya, berita hari ini mengabarkan kalau orang nomor satu di Indonesia akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi secara terbatas. Berapa kenaikannya dan kapan?? … Menko Perekonomian Boediono hanya mengatakan, masih dihitung rinci dan pada waktunya akan segera diumumkan.

Aku jadi teringat kisah tentang seorang bapak yang selalu menolong anaknya dalam keadaan apapun juga. Ketika anaknya tidak dapat mengisi pekerjaan rumah (PR), dengan senang hati, sang bapak mengisikan jawabannya. Ketika anaknya akan ujian, dengan susah payah, sang bapak melobi guru untuk membantu si anak.

Bantuan-bantuan tersebut terus berlanjut hingga si anak remaja dan dewasa. Mulai dari kuliah hingga bekerja, selalu sang bapak ikut terlibat sibuk-sibuk. Sehingga sampai pada suatu waktu, sang bapak sudah tua dan tidak kuat lagi untuk ikut sibuk-sibuk dengan dunia anaknya. Anaknya gelagapan dan protes.

“Bapak sudah tidak sayang dengan saya ya?” kata si anak kepada sang bapak. Bapaknya tidak dapat berkata apa-apa, karena terbaring lemas ditempat tidur dengan selang oksigen didepan hidung. Si anak juga tidak bisa berbuat apa-apa .. karena selama ini selalu mendapatkan fasilitas kemudahan dari si bapak.

blok.jpg

UPDATE 8 MEI 2008

Jika melihat trend kenaikan harga minyak mentah dunia yang hanya dalam waktu 12 bulan sudah mencapai dua kali lipat maka diperkirakan harga minyak dunia bisa menembus angka USD 200 per barel pada tahun 2010. Dan hal tersebut akan bertambah pada krisis perekonomian yang semakin dalam. Padahal, dengan kenaikan BBM dalam negeri sampai 30% saja, jumlah penduduk miskin — diperkirakan — akan bertambah 15,68 juta jiwa. Astagfirullah .. semoga Allah mengampun kita semua dan menguatkan kita untuk tabah dan sabar.

UPDATE 10 MEI 2008

Kategori: Begini menurutku · Ku kutip kata
yang berkaitan: , ,

48 tanggapan so far ↓

  • indra kh // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 16:39

    Pasrah bang; BBM naik, gas susah didapat, minah alias minyak tanah entah kemana, mau kayu bakar .. hutannya juga habis dijarah. Yang bisa dilakukan adalah meminta kepada Yang Maha Memelihara kita. Insya Allah mudah-mudahan dimudahkan rejekinya.
    —————————-

    Kata-kata yang bijaksana sekali mas Indra. Memang sudah sepantasnya, kita meminta pada Sang Pemberi Rejeki. Agar kesulitan hidup yang diberi-Nya dapat kita lewati dengan baik.

  • edy // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 16:47

    Mesti makin pinter ngelola keuangan dan gaya hidup, bang … kalo maksain tetep dengan gaya lama bisa berabe ..

    *pasang status libur turing* :cry:
    —————————

    Komentar mu bijaksana sekali Ed .. memang benar. Ketika kita menghadapi kesulitan atau hambatan maka perlu dilakukan terobosan untuk memecahkan masalah bukan dengan cara menyalahkan hal-hal yang berada diluar jangkauan kita.

    Kesulitan hidup sejogjanya menjadikan kita menjadi kreatif. Bukan begitu Ed? .. fakta berbicara, bahwa produk-produk inovasi jaman sekarang berawal dari kesulitan / hambatan yang terjadi pada masa lampau.

    Semoga .. apa yang dialami bangsa ini, akan menciptakan Indonesia baru yang lebih tangguh dan memilki daya saing yang lebih joss dimasa datang.

  • hanggadamai // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 17:31

    Iya nih bisa gaswat klo naik … :shock:
    ————————–

    Gaswat itu dua kata, yaitu Gas dan Watt .. yang satu sebagai bahan bakar buat masak dan satunya lagi listrik (PLN) .. tentu kalo gas dan tarif PLN naik, baru benar-benar gaswat hahahaha :lol:

  • edratna // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 18:26

    Hidup harus lebih efisien, memperhitungkan waktu dan buat planning yang jelas, agar waktu tak habis di jalan.
    ————————–

    Terima kasih tips-nya bu .. memang benar, dengan harga BBM yang mahal tentu hidup harus lebih efisien. Kalo bisa, naik kendaraan rame-rame .. nebeng teman kalo mau ke kantor atau perusahaan menyediakan angkutan khusus karyawan.

  • Penyair Gadungan // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 18:37

    Nah itu dia masalahnya …

    Mau jadi apa rakyat kita … mending kalau BBM naik, kita naik sepeda yang bebas BBM … :D :D :D
    ————————–

    Masalahnya .. walau kita naik sepeda, tapi tetap aja perlu BBM yaitu buat yang mengayuh pedal sepeda alias perlu makan. Nah, makanan itu baru bisa dikonsumsi setelah dimasak terlebih dahulu dengan menggunakan BBM .. cape deee :mrgreen:

  • itikkecil // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 18:59

    Saya takut efeknya bang, semua pasti akan naik.
    *tambah rajin mengorek celengan*
    ————————–

    Sudah pasti mbak. Siap-siap dah.
    *celengannya sudah kosong*

  • det // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 19:07

    Transportasi massal akan jadi idola lagi .. dan rasanya kejahatan di dalam angkutan umum juga akan marak lagi .. :mrgreen:
    ————————–

    Sepertinya demikian .. karena dari beberapa pendapat para ahli kriminologi, bahwa kejahatan akan meningkat akibat kenaikan biaya hidup. OMG !!! *tepuk jidat*

    Saya doa kan agar bangsa ini belajar dari kesulitan hidup dengan menjadi lebih inovatif — bukan dalam melakukan kejahatan — untuk mengatasi tantangan hidup yang ada.

  • cK // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 20:42

    Waduh … kasihan yang punya kendaraan …

    *mengurungkan niat beli mobil*
    —————————

    *melihat-lihat brosur sepeda motor*

  • danalingga // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 21:43

    *lirik komen diatas*

    *ikut mengurungkan niat beli mobil*

    *mengurangi jalan-jalan*
    ————————–

    *jalan-jalan di blogsphere aja*

    *berdoa agar tarif speedy ga naik*

  • aRuL // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 23:04

    Mau buat tulisan seperti ini tapi blum sempat :D
    ————————-

    Buruan, ntar keburu naik loh :mrgreen:

  • NdaruAlqaz // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 0:37

    Gampang solusinya,

    Mulai sekarang kita pakai saja kendaraan berbahan bakar air.
    *tiap pagi ke kampus jalan kaki berbekal sebotol air putih* :lol:
    —————————

    Masalahnya .. sebentar lagi air putih kemasan juga bakalan naik. Kecuali kalo pake air dari sumur sendiri hehehe :)

  • winsolu // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 5:39

    Boleh juga …
    Salam kenal … :D
    Tukeran link dong?
    —————————

    Boleh juga apa pak? .. boleh harga BBM dinaikan atau boleh menggunakan kendaraan alternatif lainnya??

  • Adit // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 7:01

    Kalo BBM naik, berarti gaji bakal naik juga dong … untuk mengimbangi pengeluaran yang ada …
    ————————–

    *berdoa agar gaji benar-benar naik*

    *berdoa lagi .. agar BBM tidak jadi naik* :mrgreen:

  • indra1082 // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 7:15

    Naik-naik kepuncak gunung
    BBM naik setinggi gunung
    Liat kiri liat kanan
    Rakyat tercekik harga-harga

    Naik-naik kepuncak gunung
    BBM naik gak tanggung-tanggung
    Liat kiri liat kanan
    Rakyat panik dimana-mana

    Naik terus gak pernah turun
    Naik melulu gak mau turun
    —————————

    *ambil gitar, buat ngiringi mas Indra nyanyi*

  • serdadu95 // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 8:18

    Subsidi itu emang mengenakan sangat … tapi begitu dicabut … nyeseknya emang terasa sangat juga.

    Jah … kalo ada cara lain … saya yakin cara lain itu yang akan ditempuh … tapi mo gemana lagi … Sepertinya emang kita harus lebih berhemat.

    *pusing mikirin tiket pesawat tuk mudik ke Yk*
    —————————-

    Subsidi sejatinya untuk menolong perekonomian suatu bangsa ketika masih lemah, tapi faktanya malah menjadi ‘alat’ untuk melanggengkan kekuasaan dan kebablasan. Akhirnya, yang menderita .. rakyat sendiri.

    Tidak ada yang salah dengan subsidi. Sejogja-nya, sudah harus dikurangi secara bertahap sejak tahun 1980 ketika semua masih dalam keadaan stabil. :|

    *mikirin alternatif angkutan lain buat mudik*

  • AgusBin // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 8:33

    Sedih ya pak … negeri yang katanya penghasil minyak tapi tidak ada daya untuk mengontrol harga minyak.

    Begitulah pak .. kalo negri ini 80% diisi oleh orang-orang ga mutu seperti saya ini. Lebih celaka lagi jikalau yang 20% pada lari ke luar negri .. bisa-bisa bukan harga minyak aja yang naik, tapi semuanya akan tergantung dari luar negri.
    ————————–

    *otokritik buat saya juga*

    Seandainya memang benar data tersebut, 80% rakyat kita itu tidak bermutu .. bukan alasan buat pemimpin bangsa ini untuk ‘menggadai’kan ibu pertiwi pada bangsa lain. Untuk sementara, memang kita masih tergantung dengan luar negeri, tapi kita lupa .. Allah mewariskan ‘kekayaan’ alam yang beraneka ragam buat bangsa ini agar kita keluar dari keterbelakangan.

    Begitulah rahmat yang diberikan Allah kepada kita, bukan untuk memanjakan kita tapi justru sebagai modal buat bangsa ini untuk membalik keadaan dari 80:20 menjadi 20:80 .. jadi kuncinya ada pada pemimpin bangsa ini. Apakah memiliki visi dan misi untuk menyelamatkan rakyatnya atau kepentingan kelompok tertentu??

  • adipati kademangan // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 8:33

    Krisis hanya berlaku bagi mereka yang merasakan terkena dampaknya.

    Ingat, hanya bagi mereka yang merasa! … entah itu orang kaya, golongan menengah, golongan miskin, kalo mereka menjerit berarti mereka sedang terkena dampak krisis.

    Fakta :
    Minyak goreng: berapapun harganya masih tetep terbeli. BBM: berapapun harganya dari dulu hingga sekarang tetep laris manis. Bahkan sampai sekarang pun endonesah masih bisa makan ..
    *meski di beberapa tempat sampai makan gaplex*

    Nah kenaikan BBM sekarang menuntut semua orang kreatif untuk lebih menghasilkan agar krisis tidak berdampak sedikitpun. Maka jangan merasa krisis mengenai kita.

    Ibarat orang dipukul, sakit itu pasti tapi jangan sampai merasa sengsara karena sakit.
    —————————-

    Wah .. mencerahkan sekali .. jadi ingat kata bijak: ‘Jangan mengeluh dalam keadaan apapun juga. Keluhan malah membuat kita kehilangan semangat.’ Bukan begitu pak?

    Saya setuju sekali .. jika semua hal disikapi dengan positive thinking, insya Allah .. setiap musibah selalu terkandung hikmah. Semua indah pada waktunya. :cool: Cool.

  • arifrahmanlubis // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 9:07

    Di Indonesia hemat bukan lagi pangkal kaya. Hemat pangkal “tidak miskin”. Yang mau berhemat yang terhindar dari kemiskinan.

    Mari berhemat.
    -salam-
    —————————

    Dengan kata lain, bahwa rakyat bangsa ini sudah kaya-kaya semua ya pak? sehingga jika tidak ingin jatuh miskin, maka harus berhemat? :mrgreen:

  • Rindu // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 11:39

    Sedang berhitung kalo ongkos gak ditambah, terpaksa kuliah naek busway, gak bisa bawa mobil lagi … SEDIH :(
    ————————–

    Kira-kira .. bapak-bapak wakil rakyat dan para pemimpin bangsa mau ga ya naik busway hihikhik .. terharu :(

  • kang4roo // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:00

    Makasih .. Info yang menarik …

    Kalo Mau Blog, Coba Liat Situs “Leoxa.Com”
    (Themenya Keren Abiss)
    ————————–

    Kang .. mohon maaf, untuk selanjutnya .. akan saya delete, karena info ini sudah muncul beberapa kali disini. Kang sendiri tidak punya URL leoxa .. tapi koq malah mempromosikan leoxa ya??

  • Hedwig™ // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:06

    Semoga tarif kereta api dan KRL tidak naik, secara itu kendaraan andalan selain sepeda :)
    —————————

    Amin .. sehingga kita punya pilihan lain ya pak.

  • ckasih // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:40

    Shocked: MALAYSIA MAKE NEW RULES FOR CHRISTIANS!!

    EVERY CHRISTIANS MUST SAY “ALLAH” RATHER THAN “GOD” & DONT SAY “TRINITY” ANYMORE .. This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.

    The full story is here: ckasih.blogspot.com

  • Donny Reza // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:47

    Saya pilih jalan kaki aja untuk jarak-jarak yang bisa dilalui dalam waktu setengah jam dengan jalan kaki :(

    Cuma yang bikin bete itu, yang balap-balapan motor gak jelas tuh bang … :(
    ————————–

    Salut !!! two thumb .. waktu tempuh setengah jam, kira-kira sekitar 2-3 km ya bro. Lumayan. Asal ga hujan atau panas terik bro. :)

    Masih mending balap-balapan .. ini terkadang mereka juga lewat diatas torotoar yang seharusnya merupakan hak pejalan kaki. Belum lagi PKL dan parkir kendaraan. :evil:

  • warmorning // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 13:41

    ,, sungguh bapak yang kurang bertanggung jawab kan? anaknya belum siap-siap, eh udeh dilepas aje di hutan rimba :( ,,
    ————————–

    Wadoh .. masa sang bapak sudah sekarat juga harus tetap bertanggung jawab? padahal si anak sudah dewasa, sarjana dan bekerja .. kalo begitu kapan dong si anak bisa mandiri :(

  • nizaminz // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 15:19

    Jangan Naikkan Harga BBM untuk Rakyat Miskin

    Setelah muncul “desakan” dari organisasi seperti KADIN dan HIPMI — di mana Menko Kesra Aburizal pernah jadi ketua — untuk menaikan harga, akhirnya Menko Perekonomian Boediono menaikan harga BBM sebesar 30%. Alasannya subsidi BBM terlalu besar dan bisa dialihkan jadi subsidi langsung untuk rakyat.

    Pendapat ini keliru dan membuat rakyat menderita. Dari berbagai kliping artikel di media massa seperti Kompas, Tempo, Republika, dsb yang saya kumpulkan di http://www.infoindonesia.wordpress.com, didapat fakta sebagai berikut:

    Pertama
    Karena produksi minyak lebih besar dari impor — produksi minyak 977 ribu bph dan ekspor 500 ribu bph — sementara biaya perolehan BBM hanya US$ 15/barrel dan harga penjualan domestik US$ 77/barrel pemerintah tetap untung meski harga Internasional naik hingga US$ 200/barrel. Simulasi jumlah produksi minyak, impor, dan ekspor serta harga minyak domestik dan internasional di situs itu membuktikan hal ini. Kwik Kian Gie menyatakan bahwa TAK ADA SUBSIDI BBM karena pemerintah sebenarnya sudah untung dengan harga sekarang.

    Kedua
    Kenaikan harga BBM bukan cuma sekali-dua kali. Tapi sudah berkali-kali dari harga premium Rp 450/liter, kemudian naik jadi Rp 700 hingga jadi Rp 4.500/liter seperti sekarang. Bukannya sejahtera, rakyat justru makin menderita karena kenaikan harga barang yang ditimbulkan. Harga pangan otomatis naik sebab pangan didistribusikan pakai kendaraan dengan BBM.

    Apakah setelah kenaikan semua rakyat miskin dapat subsidi? Saat ini 5 juta BALITA mengalami kurang gizi/busung lapar karena kelaparan.

    Menaikan harga BBM adalah kebijakan ”bagus” untuk MEMISKINKAN RAKYAT. Kenapa? Karena itu sama dengan menaikan harga barang sementara penghasilan rakyat tetap. Bahkan mungkin berkurang/hilang karena perusahaan-perusahaan yang saat ini hidup seperti Zombie gulung tikar hingga terjadi PHK massal. Ini mengurangi penerimaan pemerintah di sektor pajak!

    Subsidi langsung tak jalan karena kriteria orang miskin di Indonesia terlalu rendah. Kriteria miskin di Indonesia adalah jika pendapatan kurang dari Rp 167 ribu/bulan. Jika penghasilan Rp 200 ribu/bulan tidak dapat bantuan karena tidak tergolong miskin. Dengan garis kemiskinan yang rendah ini jumlah orang miskin di Indonesia hanya 37 juta jiwa.

    Menurut standar Bank Dunia, Garis Kemiskinan Absolut adalah US$ 1/hari per orang dan Moderat US$ 2/hari. Dengan standar itu jumlah orang miskin absolut di Indonesia ada 62 juta jiwa dan orang miskin moderat sekitar 123 juta. Dari kriteria garis kemiskinan ini saja sudah ada 25 juta rakyat miskin absolut yang tak dapat bantuan dan bisa kelaparan!

    Pemerintah tidak mampu memberikan bantuan langsung. Hal ini terbukti dari tidak terdatanya 50% penduduk miskin di Kalsel dan adanya kasus ribuan penderita gizi buruk di wilayah Metropolitan Jabodetabek seperti Depok dan Tangerang. Apalagi di berbagai tempat ditemukan pejabat yang mengkorup BLT atau operasi pasar. Jika di wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Jakarta terjadi kelaparan, apalagi di daerah lain.

    Pemerintah dan para ekonom Neoliberalis selalu berasumsi bahwa ”subsidi BBM” hanya dinikmati orang kaya karena pemilik kendaraan pasti orang kaya. Karena itu harga BBM harus dinaikan mengikuti harga Internasional.

    Asumsi itu keliru. Banyak sopir angkutan umum seperti bis kota, Metromini, Mikrolet yang memakai BBM. Mereka miskin dan akan terpukul dengan kenaikan harga BBM. Para penumpang angkutan umum dari kalangan bawah menderita jika harga BBM naik karena ongkos juga naik. Saat ini para pekerja dengan gaji UMR menghabiskan sekitar 30% dari gajinya untuk transportasi.

    Seharusnya pemerintah mengambil kebijakan yang lebih baik. Jika produksi BBM dalam negeri 1 juta bph dan kebutuhan 1,2 juta bph, maka dengan harga US$ 77/barrel (Rp 4.500/liter) pemerintah sudah untung US$ 62/barrel karena biaya pengadaan minyak domestik hanya US$ 15/barrel.

    Orang-orang kaya harus beli BBM impor sebesar 200 ribu bph dengan harga Internasional ditambah PPN BBM 10-20%.

    Sebaliknya, pemerintah jangan menaikan harga BBM untuk rakyat kecil karena rakyat sudah cukup menderita dengan berbagai kenaikan harga seperti minyak goreng dari Rp 6.000 jadi Rp 16.000/kg.

    Berikan harga lebih rendah untuk kendaraan plat kuning seperti angkutan umum bis, mikrolet dan truk pengangkut barang agar rakyat kecil yang menggunakannya tidak menderita. Pemerintah minta rakyat hemat sementara pemerintah justru menjual sebagian besar energi ke luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Korsel, dan sebagainya.

    Meski saat ini produksi BBM turun jadi 977 ribu bph, pemerintah tetap mengekspor 500 ribu bph ke luar negeri. Indonesia merupakan eksportir LNG terbesar di dunia! Indonesia mengekspor 70% produksi batu bara ke luar negeri. Sementara listrik di berbagai tempat padam dan rakyat terbuang waktunya untuk antre gas, minyak tanah, dan BBM.

    Apa ini tidak tragis? Jepang, Taiwan, dan Korsel meski tidak punya sumber energi rakyatnya tidak kekurangan, sementara Indonesia yang kaya energi rakyatnya menderita kekurangan gas dan BBM.

  • NdaruAlqaz // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 15:22

    Harga air kemasan naik … OH TIDAK !!!!
    ————————–

    *simbuk menimbun air kemasan* :evil:

  • Alex // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 17:29

    Assalamu’alaikum …

    Pemerintah kadang sok jaga image di mata internasional, sok jadi eksportir minyak, padahal udah jadi importir minyak. Sekarang rakyat juga jadi korban.

    Daya beli masyarakat masih rendah, beda dengan India … BBM disana sudah lebih mahal ketimbang disini, tapi mereka juga banyak naik bajaj yang ramah lingkungan.

    Moga saja semua ini bisa teratasi dengan terbaik.
    —————————

    Wa’alaikumsalam …

    Amin .. semoga semua dapat diatasi tanpa ada yang dirugikan.

    Btw, orang nomor satu di Indonesia sudah mewacanakan agar Indonesia keluar dari anggota OPEC karena sudah tidak menjadi negara eksportir minyak lagi. Kaya’nya saran Pak Alex didengar tuh ama beliau :)

    Btw juga, kemaren saya lihat berita di TV .. orang nomor satu di Jakarta memusnahkan bajaj lama dan segera diganti dengan bajaj baru yang ramah lingkungan. Wah .. lagi-lagi, saran Pak Alex ditindaklanjuti tuh ama beliau :)

  • natazya // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 17:32

    Hmmm … lagi fenomenal sekali rupanya BBM naik ini …

    Gimana dong? pasti terjadi kan? susah juga … kaya Sheila on 7 harusnya … BERHENTI BERHARAP ..
    ————————–

    ♪ ♫ ♪ ♫ Aku tak percaya lagi dengan apa yang kau beri,
    Aku terdampar di sini, tersudut menunggu mati,
    Aku tak percaya lagi akan guna matahari,
    Yang dulu mampu terangi sudut gelap hati ini … ♪ ♫ ♪ ♫

  • syahrizal pulungan // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 17:44

    Kabar lanjutan mengenai BBM coba ke

    http://asahannews.wordpress.com
    —————————

    Siap bos .. segera meluncur ke lokasi

  • kangguru // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:06

    Maaf bang Eby … yang mempromosikan leoxa diatas bukan saya. Maaf atas ketidak nyamanan ini ..
    ————————–

    Kang, saya tahu koq kalo itu bukan Kang Guru .. soalnya alamat email nya beda dan tidak ada URL-nya. Akang ga perlu minta maaf. Seharusnya yang mempromosikan leoxa itu yang meminta maaf sudah menginterupsi diskusi disini :)

  • kangguru // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:25

    Yang jelas … BBM naik, rakyat kecil jua yang menanggung derita bang, ach ada untungnya juga masih pake kayu bakar heheheheh …
    ————————–

    Kayu bakar dapatnya dari mana kang? .. ati-ati loh, nanti dituduh pembalakan liar alias ilegal logging hahaha :lol: .. cape deeee

  • achoey sang khilaf // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:49

    Lebih parah lagi … ternyata tidak hanya tambah mahal tapi juga langka :evil:
    ————————–

    Biasanya barang langka, akan lebih mahal lagi. Jadi kenaikan harganya jadi double pak hik hik hik :(

  • Yoga // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 19:28

    Hm Mas Agus Bin dan Bang Eby ngomongin Pareto nih.

    Kalau seandainya 20% dari rakyat Indonesia yang super kaya mau merubah gaya hidup jadi lebih sederhana wah hebat itu! Efeknya insya Allah bisa dirasakan oleh 80% rakyat kebanyakan.

    Ngomong-ngomong tentang analogi Bapak yang tak berdaya, seolah-olah Bang Eby ingin mengatakan: mau bagaimana lagi?
    —————————-

    Boleh jadi kata itu hanya untuk bapaknya, bukan untuk anaknya. Seharusnya si anak sadar, bahwa tak selamanya dia bisa bergantung pada sang bapak. So, yang harusnya berubah adalah si anak bukan sang bapak. :)

  • hariadhi // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 2:45

    Alhamdulillah, ga pernah bermewah-mewah dengan mobil atau motor, Bang. Jadi ga ngaruh biar dinaikin sampai 10 ribu juga.

    Saya senang dinaikin, biar ga ada lagi yang berani naik mobil mewah di Indonesia ini, Bang. Kebayang ga mobil-mobil ber-CC besar dengan angkuhnya setiap hari seliweran di Jakarta? Mereka bisa ngabisin 1 liter bensin hanya untuk 4 kilometer.

    Biarlah mereka yang belingsatan karena BBM naik. Ndak usah dipercaya kalau mereka demo bawa-bawa nama rakyat kecil.
    —————————-

    Masalah sebenarnya bukan soal harga BBM yang naik, tapi ikutannya itu loh Har. Kalo cuma BBM naik aja sih, gpp Har .. tapi coba lihat, bentar lagi ongkos angkot bakal naik, lalu diikuti harga sayur, buah, bahan makanan pasti juga naik karena ongkos transport yang naik :(

    Belum lagi yang lain .. yang juga menggunakan BBM kaya’ listrik, barang-barang produksi pabrikan, biaya jasa lainnya yang menggunakan tenaga manusia karena manusia perlu makan yang harganya juga sudah naik.

  • warmorning // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 7:59

    Tapi anaknya belom ngerasa dewasa dan belom pernah didewasakan bapaknya yang terlalu manjain hingga ketergantungan menjadi addicted …
    ————————–

    Jadi yang keliru dari kisah diatas siapa? apakah bapaknya yang terlalu memanjakan anaknya atau kah si anak yang tidak mau mandiri?

  • RawkchitecT // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 8:02

    Sudah saatnya beralih sumber bahan bakar .. asal jangan bio-fuel aja .. bahan bakar ini bener-benar gak masuk akal .. masak kita harus rebutan tanah untuk menanam tanaman pangan .. yang satu buat pangan manusia .. yang satu buat pangan mesin ..

    Indonesia tu kaya akan matahari .. kenapa gak dimanfaatkan?? misalnya bikin pembangkit listrik tenaga matahari .. yang prinsipnya seperti ketel air raksasa yang dipanaskan oleh panas matahari .. kemudian uapnya mengerakkan turbin yang membangkitkan listrik ..

    Indonesia juga kaya akan laut .. kenapa gak bikin pembangkit listrik tenaga ombak banyak-banyak??

    Indonesia kaya akan angin .. kenapa gak bikin pembangkit listrik tenaga angin banyak-banyak??

    Ah .. saya cuma pemuda belia yang gak tau apa-apa .. hidup dalam mimpi ..
    —————————

    Benar sekali Bim .. kita kaya dengan limpahan sinar matahari, desiran angin dan gelombang laut. Masalahnya, ketika kita akan memanfaatkan kelimpahan tersebut, ternyata nilai ke-ekonomi-annya rendah.

    Matahari tak selamanya bersinar dan diperlukan panel surya yang begitu besar dan banyak. Angin tidak selalu berubah badai, lebih banyak sepoi-sepoi sehingga kincir angin lebih banyak istirahat dari pada berputar.

    Ombak juga begitu .. hanya ganas pada bulan-bulan tertentu saja, selebihnya tenang menghanyutkan. Jadi, saya pikir bukan ga mau menggunakan tenaga-tenaga alternatif tersebut, mungkin sedang dikembangkan lebih lanjut agar memiliki nilai ke-ekonomi-an.

  • yudhistira // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 9:39

    BBM naik karena pemerintah nga becus … mereka menggunakan dana dengan tidak efesien. Kebocoran dana disana sini … intinya korupsi menyebabkan BBM naik bukan harga minyak dunia.

    Kalau pemerintah disiplin dan tegas, pasti masih punya dana buat subsidi yang cuma 30 milyar dolar. Masih kalah sama kasus BLBI yang sampai 100 milyar dolar. Bukan soal rakyat kita manja … bukankah memang tugas pemerintah menyejahterakan rakyatnya?

    Pemerintah kita tidak bisa di ibaratkan sebagai orang tua yang sudah lemas yang tidak bisa membantu anaknya, pemerintah masih bisa karena masih banyak potensi .. pemerintah hanya mengambil jalan pintas dan satu hal yang penting: pemerintah tidak peduli dengan rakyat.
    —————————-

    Memang salah satu faktor keterpurukan adalah korupsi. Faktor lainnya adalah penyelenggaraan negara yang tidak sesuai dengan amanat yang diembankan. Lebih banyak mementingkan kelompok / golongan dari pada rakyatnya.

    Seperti orang tua, yang mementingkan dirinya sendiri .. memaksa anaknya untuk pintar, hebat dlsbnya karena ga ingin malu pada tetangga atau keluarga lainnya .. sehingga lupa dengan tugas utama sebagai orang tua untuk melindungi dan memastikan anaknya tumbuh alamiah.

  • yudhistira // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 10:07

    Pemerintah menaikkan harga BBM bukan untuk mendidik kita menjadi disiplin, tapi karena pemerintah sudah terpojok. Mereka seperti atlet yang tidak pernah latihan tapi harus ikut olimpiade.

    Pemerintah jelas kalah … karena persiapan mereka untuk rakyat tidak cukup. Mereka cenderung berhura-hura dan tidak disiplin menghadapi gejolak harga minyak .. dan kita harus sadar bahwa yang kena akibat kenaikan harga BBM bukanlah orang kaya yang naik mobil mewah.

    Mau harga BBM naik sampai Rp 10.000 juga mereka masih tetap bisa beli. Bagi mereka kenaikan harga BBM hanyalah seperti kenaikan harga minyak tanah atau beras. Mereka toh masih bisa beli.

    Siapa yang kena dampak? … kita semua. Yang hidup dengan pendapatan pas-pasan. Kita yang naik motor, bis kota, sepeda bahkan jalan kaki. Kenaikan BBM akan menaikkan harga kebutuhan lain … dari sembako sampai rokok kretek.

    Jangan kan buat sekolah anak atau menabung … untuk makan saja kita akan kesulitan. Jadi … saya mohon kenaikan BBM adalah hal yang serius bukan bahan obrolan biasa yang harus ditanggapi dengan guyonan ..

    Rakyat sudah mau mati … rakyat bukan seorang anak yang manja dengan ayah yang sakit-sakitan .. rakyat Indonesia lebih persis seperti anak terlantar yang tidak diasuh atau dibuang oleh orangtua-nya dan trus dimanja dengan kehidupan jalanan yang keras …

    Stop kebohongan … katakan tidak pada kenaikan BBM.
    —————————

    Terima kasih pak masukkannya .. saya sepakat, bahwa ini masalah serius. Masalah yang menyangkut hidup mati bangsa ini. Tapi tentu tidak harus diselesaikan dengan kekerasan bukan? .. atau .. memang harus? karena tidak ada jalan lain !!!

  • AyahRadit // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 16:08

    BBM naek lagi …. cabe dech …

    Belum naek aja hidup ini sudah ngos .. ngosan .. apalagi kalau udah naek??? Anyway … segini juga sudah alhamdulillah masih punya kerjaan meski gajinya pas-pasan … yang penting anak istri ga kelaparan …
    —————————

    Cabe juga sudah pada naek koq pak hehehe :mrgreen: wah, kalo sudah naek, bukan ngos-ngosan lagi pak .. *speechless*

  • hariadhi // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 22:12

    Masalah sebenarnya bukan soal harga BBM yang naik, tapi ikutannya itu loh Har. Kalo cuma BBM naik aja sih, gpp Har .. tapi coba lihat, bentar lagi ongkos angkot bakal naik, lalu diikuti harga sayur, buah, bahan makanan pasti juga naik karena ongkos transport yang naik :(

    Kalau jawaban ndablegnya gini aja, Bang:

    Ya sudah, berarti memang kita diajak hidup alami. Ke mana-mana jalan kaki. Buah dan sayuran tanam sendiri di pekarangan, padi ditumbuk sendiri.

    Gaya hidup sehat yang sengsara, eh? :lol:
    —————————–

    *ngakak sambil guling-guling* :lol:

    Wah .. Hariadi pundung !!
    *sambil membayangkan hidup dijaman Flinstone*

  • alex® // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 2:18

    Dinaikin terus, Bang?

    Kavan turunnya? Kavan??

    *miris*
    —————————

    Tergantung Lex .. boleh aja naik. Tapi pendapatan juga kudu naik. Jika BBM naik 20%, pendapatan naik 30% hehehe :)

    Yang jadi masalah kan .. ketika BBM naik, harga-harga pada naik .. pendapatan tetap. Nah, seharusnya pemerintah tidak hanya berpikir menaikan BBM tapi juga menaikan pendapatan masyarakat. :)

  • Masalah Tanpa Solusi « A Journal of A Not-Superman Human // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 9:26

    [...] Bang Eby, dengan analogi Bapak - Anak mengisyaratkan selama ini rakyat Indonesia memang sudah sangat tergantung pada Pemerintah. Seperti seorang anak yang begitu dimanja sang ayah sampai ketika si ayah wafat, si anak menjadi sosok tidak berguna yang tidak bisa apa-apa. [...]
    ————————–

    Memang betul, seorang bapak tidak menarik pajak pada si anak. Tapi dia ‘menuntut’ si anak untuk ‘menyetor’ nilai ujian yang bagus. Jika nilai ujian tidak bagus, si bapak masih dapat memaafkan si anak. Malah melobi guru untuk mengampunkan.

    Memang betul, seorang bapak tidak menarik retribusi pada si anak. Tapi dia ‘menuntut’ si anak untuk ’selalu rapi’ sehingga segala keperluan dibelikan, pembantu disediakan untuk membersikan kamar.

    Memang betul, seorang bapak tidak menyuruh anaknya bayar uang sekolah sendiri. Tapi dia ‘menuntut’ si anak untuk bekerja sebagai balas jasa. Jika tidak dapat pekerjaan, maka dicarikan kerja.

    Abang sadar .. untuk menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia saat ini sangat kompleks. Oleh karena itu, abang mencoba menyederhanakan bukan bermaksud untuk menutup mata pada kenyataan yang ada.

    Ketika kita menentang kenaikan BBM pun, apakah akan menyelesaikan masalah? Katakanlah BBM tidak naik … apakah kemudian semua akan baik-baik saja, ketika harga BBM dalam negeri lebih rendah, sementara diluar negeri sangat tinggi??

    Apakah kita pura-pura tidak tahu, kalo kemudian BBM tersebut dilego ke LN karena memiliki nilai yang lebih menguntungkan? baik diseludupkan maupun yang resmi? .. tidak terlalu sederhana memang.

    Yang paling masuk akal .. jika pengeluaran meningkat, maka penghasilan harus ditingkatkan. Jika pemerintah akan menaikan BBM 20% maka penghasilan harus dinaikan oleh pemerintah 30% .. jadi moral ceritanya adalah : semua harus diperlakukan sesuai porsinya.

    Masalahnya adalah .. pemerintah belum mengoptimalkan peningkatan penghasilan masyarakat. Bukan belum ada program2 tersebut. Tapi masih belum optimal.

    Karena … apabila penghasilan masyarakat Indonesia sudah tinggi, maka harga naik berapa pun tidak masalah. Jadi, sejatinya harus dipikirkan bagaimana agar penghasilan rakyat kita bisa tinggi.

    Sama halnya orang tua yang memikirkan bagaimana anaknya bisa mandiri. Sehingga ketika ditinggal mati oleh orang tuanya tetap bisa berdiri tegak.

    Kurang lebih nya .. abang mohon maaf, jika pendapat abang melukai hati siapa pun. Abang cuma fokus pada bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan tinggi. Sehingga dikemudian hari bangsa ini tidak perlu lagi sengsara. Amin.

  • stey // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 9:58

    Dan tidak bisa dipastikan kapan ini berakhir .. duuuhhh ..
    ————————–

    Jangan putus asa sobat. Bukan kah Allah mencintai orang-orang yang sabar. Insya Allah .. semua dapat dilewati dengan baik sekiranya semua pihak mau saling mengerti dan memahami. Tanpa terkecuali.

  • alex® // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 10:51

    Yang jadi masalah kan .. ketika BBM naik, harga-harga pada naik .. pendapatan tetap. Nah, seharusnya pemerintah tidak hanya berpikir menaikan BBM tapi juga menaikan pendapatan masyarakat. :)

    Ah … saya sama pemerintah ini kadar kepercayaan saya sudah mendekati titik nadir, Bang.

    Saya pesimis benar — dengan sekian skandal yang menampakkan bobrok mereka secara moral dan intelektual — apa mereka masih punya “the so-called pemikiran” itu ? :|

    Kebijakan pemerintah cenderung sebelah pihak. Mengingatkan saya sama tukang palak pedagang emperen di pasar-pasar kota yang bisa seenaknya menaikkan tarif setoran, tapi sama trantib takut :lol:

    Ya begitu itu kan persisnya. Beraninya menaikkan di dalam negeri. Naikkan untuk nilai ekspor, berani tidak? Kenapa sih bangganya cuma kalau bisa re-schedule utang atau senyum kalau dapat penambahan utang di Paris Club, tapi tak punya kebanggaan utk bersikap sebagai negara besar yang punya hak menentukan harga di dunia karena memiliki dapur minyak bumi?

    Ah … ya … pikiran saya memang terlalu naif :|
    —————————

    Abang juga ikut prihatin dan sedih dengan kondisi negara ini. Punya kekayaan alam .. tapi koq sama seperti negara yang tidak punya kekayaan alam. Benar-benar tragis.

    Bukan saatnya untuk saling menyalahkan memang. Ibarat sedang diujung tanduk, yang diperlukan adalah solusinya, agar tidak tergelincir jatuh.

    Ajaibnya .. kita tak pernah mau belajar dari kesalahan masa lalu. Selalu berulang dan berulang. Dan yang paling sengsara adalah orang-orang yang bekerja sehari untuk makan sehari. Mereka pasti tidak punya ’simpanan’ untuk melanjutkan hidup.

    Sudah saatnya pemerintah memiliki ’simpanan’ untuk orang-orang seperti itu. Setiap tahun harus dianggarkan, tidak setiap tahun anggaran habis untuk segala macam proyek. Harus ada dana sosial abadi untuk menyanggah rakyat yang seharusnya dipelihara oleh negara.

  • gagah77 + black77 // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 16:37

    SEKILAS INFO:

    Buat Bikers dan pecinta otomotif yang berdomisili di JABODETABEK agar datang beramai-ramai ke Senayan:

    Hari : Sabtu - Minggu
    Tanggal : 10 - 11 Mei 2008
    Pukul : 09.00 s/d 21.00 WIB

    Ada acara menarik nih. Bursa barang-barang langka hingga barang-barang termukhtahir :D

    Datang ya …
    —————————-

    Sekalian kopdar hehehe :D eit .. hati-hati dijalan ya.

    Jangan lupa, pake helm dan cek kelaikan jalan kendaraan. Semoga selamat sampai ditujuan. Kita buktikan bahwa para bikers juga bisa sopan dijalan.

    Hidup bikers !!!

  • Rafki RS // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 0:00

    Subsidi BBM memang salah arah dan salah kaprah. Jika tidak segera dicabut maka bangsa ini akan jatuh ke krisis ekonomi kedua. Sungguh mengerikan.
    ————————–

    Salah arah bukan berarti tidak bisa diperbaikan pak? misalnya berputar arah ato berbelok arah hehehe :mrgreen .. dan kaloh salah kaprah, mungkin sudah saatnya mindset kita ubah. Bukan begitu pak?

  • hana // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 17:50

    Salam .. ;)

    Kebijakan mengenai BBM memang dilematis … kenaikan BBM pasti mengakibatkan efek domino, yang berakibat inflasi, terakhir penduduk miskin bertambah banyak.

    Tetapi … jika pemerintah memberikan subsidi terus menerus juga salah, seperti cerita bapak diatas tentang seorang ayah yang selalu membantu anaknya, akhirnya anaknya nggak mandiri.

    Begitupun rakyat, dana APBN sebaiknya dianggarkan dalam jumlah yang besar untuk pendidikan …
    —————————

    Mungkin sudah saat nya, bangsa ini bangkit untuk kedua kalinya, seperti 100 tahun yang lalu. Mengubah mindset dan paradigma, agar kelak kita menjadi bangsa yang tangguh. Baik di dalam maupun di luar.

    Kalian lah, generasi muda saat ini yang akan menentukan jalannya bangsa ini. Apakah akan menjadi bangsa yang besar dan disegani atau menjadi bangsa pecundang. Saya setuju, saat ini generasi muda lah yang harus memimpin.

  • nindityo // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:43

    Tetap semangat …

    Naik berapa pun tetap kita buru kan? .. secara motor dirumah tetep perlu bensin. Yang musti dipikirin, ngapain aja pemerintah kok gak bikin terobosan yang jelas .. ato karena gak ada duitnya?

    Dalam jangka pendek aku setuju naik .. cuma jangka panjang dipikirin juga dong ..
    —————————

    Benar .. karena masalah ini adalah kenyataan hidup. Bagaimana pun juga, sumber daya alam akan semakin berkurang dan langka. Cepat atau lambat, harganya juga akan semakin mahal.

    Saya cenderung, mengatasi masalah kenaikan semua komoditi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat. Sehingga, dengan pendapatan yang tinggi, kenaikan komoditi dapat diimbangi.

Tinggalkan Komentar