Apa yang terbayang dalam benak mu, seandainya harga bensin Rp.7.500 per liter dan harga minyak tanah Rp.8.000 per liter. Apakah kamu akan tetap membelinya seperti biasanya, atau tetap membelinya tapi jumlahnya hanya setengah dari biasanya, atau tidak mau membelinya dan akan melakukan unjuk rasa? atau diam saja? .. Ya, berita hari ini mengabarkan kalau orang nomor satu di Indonesia akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi secara terbatas. Berapa kenaikannya dan kapan?? … Menko Perekonomian Boediono hanya mengatakan, masih dihitung rinci dan pada waktunya akan segera diumumkan.
Aku jadi teringat kisah tentang seorang bapak yang selalu menolong anaknya dalam keadaan apapun juga. Ketika anaknya tidak dapat mengisi pekerjaan rumah (PR), dengan senang hati, sang bapak mengisikan jawabannya. Ketika anaknya akan ujian, dengan susah payah, sang bapak melobi guru untuk membantu si anak.
Bantuan-bantuan tersebut terus berlanjut hingga si anak remaja dan dewasa. Mulai dari kuliah hingga bekerja, selalu sang bapak ikut terlibat sibuk-sibuk. Sehingga sampai pada suatu waktu, sang bapak sudah tua dan tidak kuat lagi untuk ikut sibuk-sibuk dengan dunia anaknya. Anaknya gelagapan dan protes.
“Bapak sudah tidak sayang dengan saya ya?” kata si anak kepada sang bapak. Bapaknya tidak dapat berkata apa-apa, karena terbaring lemas ditempat tidur dengan selang oksigen didepan hidung. Si anak juga tidak bisa berbuat apa-apa .. karena selama ini selalu mendapatkan fasilitas kemudahan dari si bapak.
UPDATE 8 MEI 2008
Jika melihat trend kenaikan harga minyak mentah dunia yang hanya dalam waktu 12 bulan sudah mencapai dua kali lipat maka diperkirakan harga minyak dunia bisa menembus angka USD 200 per barel pada tahun 2010. Dan hal tersebut akan bertambah pada krisis perekonomian yang semakin dalam. Padahal, dengan kenaikan BBM dalam negeri sampai 30% saja, jumlah penduduk miskin — diperkirakan — akan bertambah 15,68 juta jiwa. Astagfirullah .. semoga Allah mengampun kita semua dan menguatkan kita untuk tabah dan sabar.
UPDATE 10 MEI 2008















48 tanggapan so far ↓
indra kh // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 16:39
Pasrah bang; BBM naik, gas susah didapat, minah alias minyak tanah entah kemana, mau kayu bakar .. hutannya juga habis dijarah. Yang bisa dilakukan adalah meminta kepada Yang Maha Memelihara kita. Insya Allah mudah-mudahan dimudahkan rejekinya.
—————————-
edy // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 16:47
Mesti makin pinter ngelola keuangan dan gaya hidup, bang … kalo maksain tetep dengan gaya lama bisa berabe ..
*pasang status libur turing*
—————————
hanggadamai // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 17:31
Iya nih bisa gaswat klo naik …
————————–
edratna // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 18:26
Hidup harus lebih efisien, memperhitungkan waktu dan buat planning yang jelas, agar waktu tak habis di jalan.
————————–
Penyair Gadungan // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 18:37
Nah itu dia masalahnya …
Mau jadi apa rakyat kita … mending kalau BBM naik, kita naik sepeda yang bebas BBM …

————————–
itikkecil // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 18:59
Saya takut efeknya bang, semua pasti akan naik.
*tambah rajin mengorek celengan*
————————–
det // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 19:07
Transportasi massal akan jadi idola lagi .. dan rasanya kejahatan di dalam angkutan umum juga akan marak lagi ..
————————–
cK // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 20:42
Waduh … kasihan yang punya kendaraan …
*mengurungkan niat beli mobil*
—————————
danalingga // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 21:43
*lirik komen diatas*
*ikut mengurungkan niat beli mobil*
*mengurangi jalan-jalan*
————————–
aRuL // Selasa, 6 Mei, 2008 pada 23:04
Mau buat tulisan seperti ini tapi blum sempat
————————-
NdaruAlqaz // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 0:37
Gampang solusinya,
Mulai sekarang kita pakai saja kendaraan berbahan bakar air.
*tiap pagi ke kampus jalan kaki berbekal sebotol air putih*
—————————
winsolu // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 5:39
Boleh juga …
Salam kenal …
Tukeran link dong?
—————————
Adit // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 7:01
Kalo BBM naik, berarti gaji bakal naik juga dong … untuk mengimbangi pengeluaran yang ada …
————————–
indra1082 // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 7:15
Naik-naik kepuncak gunung
BBM naik setinggi gunung
Liat kiri liat kanan
Rakyat tercekik harga-harga
Naik-naik kepuncak gunung
BBM naik gak tanggung-tanggung
Liat kiri liat kanan
Rakyat panik dimana-mana
Naik terus gak pernah turun
Naik melulu gak mau turun
—————————
serdadu95 // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 8:18
Subsidi itu emang mengenakan sangat … tapi begitu dicabut … nyeseknya emang terasa sangat juga.
Jah … kalo ada cara lain … saya yakin cara lain itu yang akan ditempuh … tapi mo gemana lagi … Sepertinya emang kita harus lebih berhemat.
*pusing mikirin tiket pesawat tuk mudik ke Yk*
—————————-
AgusBin // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 8:33
Sedih ya pak … negeri yang katanya penghasil minyak tapi tidak ada daya untuk mengontrol harga minyak.
Begitulah pak .. kalo negri ini 80% diisi oleh orang-orang ga mutu seperti saya ini. Lebih celaka lagi jikalau yang 20% pada lari ke luar negri .. bisa-bisa bukan harga minyak aja yang naik, tapi semuanya akan tergantung dari luar negri.
————————–
adipati kademangan // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 8:33
Krisis hanya berlaku bagi mereka yang merasakan terkena dampaknya.
Ingat, hanya bagi mereka yang merasa! … entah itu orang kaya, golongan menengah, golongan miskin, kalo mereka menjerit berarti mereka sedang terkena dampak krisis.
Fakta :
Minyak goreng: berapapun harganya masih tetep terbeli. BBM: berapapun harganya dari dulu hingga sekarang tetep laris manis. Bahkan sampai sekarang pun endonesah masih bisa makan ..
*meski di beberapa tempat sampai makan gaplex*
Nah kenaikan BBM sekarang menuntut semua orang kreatif untuk lebih menghasilkan agar krisis tidak berdampak sedikitpun. Maka jangan merasa krisis mengenai kita.
Ibarat orang dipukul, sakit itu pasti tapi jangan sampai merasa sengsara karena sakit.
—————————-
arifrahmanlubis // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 9:07
Di Indonesia hemat bukan lagi pangkal kaya. Hemat pangkal “tidak miskin”. Yang mau berhemat yang terhindar dari kemiskinan.
Mari berhemat.
-salam-
—————————
Rindu // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 11:39
Sedang berhitung kalo ongkos gak ditambah, terpaksa kuliah naek busway, gak bisa bawa mobil lagi … SEDIH
————————–
kang4roo // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:00
Makasih .. Info yang menarik …
Kalo Mau Blog, Coba Liat Situs “Leoxa.Com”
(Themenya Keren Abiss)
————————–
Hedwig™ // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:06
Semoga tarif kereta api dan KRL tidak naik, secara itu kendaraan andalan selain sepeda
—————————
ckasih // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:40
Shocked: MALAYSIA MAKE NEW RULES FOR CHRISTIANS!!
EVERY CHRISTIANS MUST SAY “ALLAH” RATHER THAN “GOD” & DONT SAY “TRINITY” ANYMORE .. This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.
The full story is here: ckasih.blogspot.com
Donny Reza // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 12:47
Saya pilih jalan kaki aja untuk jarak-jarak yang bisa dilalui dalam waktu setengah jam dengan jalan kaki
Cuma yang bikin bete itu, yang balap-balapan motor gak jelas tuh bang …
————————–
warmorning // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 13:41
,, sungguh bapak yang kurang bertanggung jawab kan? anaknya belum siap-siap, eh udeh dilepas aje di hutan rimba
,,
————————–
nizaminz // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 15:19
Jangan Naikkan Harga BBM untuk Rakyat Miskin
Setelah muncul “desakan” dari organisasi seperti KADIN dan HIPMI — di mana Menko Kesra Aburizal pernah jadi ketua — untuk menaikan harga, akhirnya Menko Perekonomian Boediono menaikan harga BBM sebesar 30%. Alasannya subsidi BBM terlalu besar dan bisa dialihkan jadi subsidi langsung untuk rakyat.
Pendapat ini keliru dan membuat rakyat menderita. Dari berbagai kliping artikel di media massa seperti Kompas, Tempo, Republika, dsb yang saya kumpulkan di http://www.infoindonesia.wordpress.com, didapat fakta sebagai berikut:
Pertama
Karena produksi minyak lebih besar dari impor — produksi minyak 977 ribu bph dan ekspor 500 ribu bph — sementara biaya perolehan BBM hanya US$ 15/barrel dan harga penjualan domestik US$ 77/barrel pemerintah tetap untung meski harga Internasional naik hingga US$ 200/barrel. Simulasi jumlah produksi minyak, impor, dan ekspor serta harga minyak domestik dan internasional di situs itu membuktikan hal ini. Kwik Kian Gie menyatakan bahwa TAK ADA SUBSIDI BBM karena pemerintah sebenarnya sudah untung dengan harga sekarang.
Kedua
Kenaikan harga BBM bukan cuma sekali-dua kali. Tapi sudah berkali-kali dari harga premium Rp 450/liter, kemudian naik jadi Rp 700 hingga jadi Rp 4.500/liter seperti sekarang. Bukannya sejahtera, rakyat justru makin menderita karena kenaikan harga barang yang ditimbulkan. Harga pangan otomatis naik sebab pangan didistribusikan pakai kendaraan dengan BBM.
Apakah setelah kenaikan semua rakyat miskin dapat subsidi? Saat ini 5 juta BALITA mengalami kurang gizi/busung lapar karena kelaparan.
Menaikan harga BBM adalah kebijakan ”bagus” untuk MEMISKINKAN RAKYAT. Kenapa? Karena itu sama dengan menaikan harga barang sementara penghasilan rakyat tetap. Bahkan mungkin berkurang/hilang karena perusahaan-perusahaan yang saat ini hidup seperti Zombie gulung tikar hingga terjadi PHK massal. Ini mengurangi penerimaan pemerintah di sektor pajak!
Subsidi langsung tak jalan karena kriteria orang miskin di Indonesia terlalu rendah. Kriteria miskin di Indonesia adalah jika pendapatan kurang dari Rp 167 ribu/bulan. Jika penghasilan Rp 200 ribu/bulan tidak dapat bantuan karena tidak tergolong miskin. Dengan garis kemiskinan yang rendah ini jumlah orang miskin di Indonesia hanya 37 juta jiwa.
Menurut standar Bank Dunia, Garis Kemiskinan Absolut adalah US$ 1/hari per orang dan Moderat US$ 2/hari. Dengan standar itu jumlah orang miskin absolut di Indonesia ada 62 juta jiwa dan orang miskin moderat sekitar 123 juta. Dari kriteria garis kemiskinan ini saja sudah ada 25 juta rakyat miskin absolut yang tak dapat bantuan dan bisa kelaparan!
Pemerintah tidak mampu memberikan bantuan langsung. Hal ini terbukti dari tidak terdatanya 50% penduduk miskin di Kalsel dan adanya kasus ribuan penderita gizi buruk di wilayah Metropolitan Jabodetabek seperti Depok dan Tangerang. Apalagi di berbagai tempat ditemukan pejabat yang mengkorup BLT atau operasi pasar. Jika di wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Jakarta terjadi kelaparan, apalagi di daerah lain.
Pemerintah dan para ekonom Neoliberalis selalu berasumsi bahwa ”subsidi BBM” hanya dinikmati orang kaya karena pemilik kendaraan pasti orang kaya. Karena itu harga BBM harus dinaikan mengikuti harga Internasional.
Asumsi itu keliru. Banyak sopir angkutan umum seperti bis kota, Metromini, Mikrolet yang memakai BBM. Mereka miskin dan akan terpukul dengan kenaikan harga BBM. Para penumpang angkutan umum dari kalangan bawah menderita jika harga BBM naik karena ongkos juga naik. Saat ini para pekerja dengan gaji UMR menghabiskan sekitar 30% dari gajinya untuk transportasi.
Seharusnya pemerintah mengambil kebijakan yang lebih baik. Jika produksi BBM dalam negeri 1 juta bph dan kebutuhan 1,2 juta bph, maka dengan harga US$ 77/barrel (Rp 4.500/liter) pemerintah sudah untung US$ 62/barrel karena biaya pengadaan minyak domestik hanya US$ 15/barrel.
Orang-orang kaya harus beli BBM impor sebesar 200 ribu bph dengan harga Internasional ditambah PPN BBM 10-20%.
Sebaliknya, pemerintah jangan menaikan harga BBM untuk rakyat kecil karena rakyat sudah cukup menderita dengan berbagai kenaikan harga seperti minyak goreng dari Rp 6.000 jadi Rp 16.000/kg.
Berikan harga lebih rendah untuk kendaraan plat kuning seperti angkutan umum bis, mikrolet dan truk pengangkut barang agar rakyat kecil yang menggunakannya tidak menderita. Pemerintah minta rakyat hemat sementara pemerintah justru menjual sebagian besar energi ke luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Korsel, dan sebagainya.
Meski saat ini produksi BBM turun jadi 977 ribu bph, pemerintah tetap mengekspor 500 ribu bph ke luar negeri. Indonesia merupakan eksportir LNG terbesar di dunia! Indonesia mengekspor 70% produksi batu bara ke luar negeri. Sementara listrik di berbagai tempat padam dan rakyat terbuang waktunya untuk antre gas, minyak tanah, dan BBM.
Apa ini tidak tragis? Jepang, Taiwan, dan Korsel meski tidak punya sumber energi rakyatnya tidak kekurangan, sementara Indonesia yang kaya energi rakyatnya menderita kekurangan gas dan BBM.
NdaruAlqaz // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 15:22
Harga air kemasan naik … OH TIDAK !!!!
————————–
Alex // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 17:29
Assalamu’alaikum …
Pemerintah kadang sok jaga image di mata internasional, sok jadi eksportir minyak, padahal udah jadi importir minyak. Sekarang rakyat juga jadi korban.
Daya beli masyarakat masih rendah, beda dengan India … BBM disana sudah lebih mahal ketimbang disini, tapi mereka juga banyak naik bajaj yang ramah lingkungan.
Moga saja semua ini bisa teratasi dengan terbaik.
—————————
natazya // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 17:32
Hmmm … lagi fenomenal sekali rupanya BBM naik ini …
Gimana dong? pasti terjadi kan? susah juga … kaya Sheila on 7 harusnya … BERHENTI BERHARAP ..
————————–
syahrizal pulungan // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 17:44
Kabar lanjutan mengenai BBM coba ke
http://asahannews.wordpress.com
—————————
kangguru // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:06
Maaf bang Eby … yang mempromosikan leoxa diatas bukan saya. Maaf atas ketidak nyamanan ini ..
————————–
kangguru // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:25
Yang jelas … BBM naik, rakyat kecil jua yang menanggung derita bang, ach ada untungnya juga masih pake kayu bakar heheheheh …
————————–
achoey sang khilaf // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 18:49
Lebih parah lagi … ternyata tidak hanya tambah mahal tapi juga langka
————————–
Yoga // Rabu, 7 Mei, 2008 pada 19:28
Hm Mas Agus Bin dan Bang Eby ngomongin Pareto nih.
Kalau seandainya 20% dari rakyat Indonesia yang super kaya mau merubah gaya hidup jadi lebih sederhana wah hebat itu! Efeknya insya Allah bisa dirasakan oleh 80% rakyat kebanyakan.
Ngomong-ngomong tentang analogi Bapak yang tak berdaya, seolah-olah Bang Eby ingin mengatakan: mau bagaimana lagi?
—————————-
hariadhi // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 2:45
Alhamdulillah, ga pernah bermewah-mewah dengan mobil atau motor, Bang. Jadi ga ngaruh biar dinaikin sampai 10 ribu juga.
Saya senang dinaikin, biar ga ada lagi yang berani naik mobil mewah di Indonesia ini, Bang. Kebayang ga mobil-mobil ber-CC besar dengan angkuhnya setiap hari seliweran di Jakarta? Mereka bisa ngabisin 1 liter bensin hanya untuk 4 kilometer.
Biarlah mereka yang belingsatan karena BBM naik. Ndak usah dipercaya kalau mereka demo bawa-bawa nama rakyat kecil.
—————————-
warmorning // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 7:59
Tapi anaknya belom ngerasa dewasa dan belom pernah didewasakan bapaknya yang terlalu manjain hingga ketergantungan menjadi addicted …
————————–
RawkchitecT // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 8:02
Sudah saatnya beralih sumber bahan bakar .. asal jangan bio-fuel aja .. bahan bakar ini bener-benar gak masuk akal .. masak kita harus rebutan tanah untuk menanam tanaman pangan .. yang satu buat pangan manusia .. yang satu buat pangan mesin ..
Indonesia tu kaya akan matahari .. kenapa gak dimanfaatkan?? misalnya bikin pembangkit listrik tenaga matahari .. yang prinsipnya seperti ketel air raksasa yang dipanaskan oleh panas matahari .. kemudian uapnya mengerakkan turbin yang membangkitkan listrik ..
Indonesia juga kaya akan laut .. kenapa gak bikin pembangkit listrik tenaga ombak banyak-banyak??
Indonesia kaya akan angin .. kenapa gak bikin pembangkit listrik tenaga angin banyak-banyak??
Ah .. saya cuma pemuda belia yang gak tau apa-apa .. hidup dalam mimpi ..
—————————
yudhistira // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 9:39
BBM naik karena pemerintah nga becus … mereka menggunakan dana dengan tidak efesien. Kebocoran dana disana sini … intinya korupsi menyebabkan BBM naik bukan harga minyak dunia.
Kalau pemerintah disiplin dan tegas, pasti masih punya dana buat subsidi yang cuma 30 milyar dolar. Masih kalah sama kasus BLBI yang sampai 100 milyar dolar. Bukan soal rakyat kita manja … bukankah memang tugas pemerintah menyejahterakan rakyatnya?
Pemerintah kita tidak bisa di ibaratkan sebagai orang tua yang sudah lemas yang tidak bisa membantu anaknya, pemerintah masih bisa karena masih banyak potensi .. pemerintah hanya mengambil jalan pintas dan satu hal yang penting: pemerintah tidak peduli dengan rakyat.
—————————-
yudhistira // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 10:07
Pemerintah menaikkan harga BBM bukan untuk mendidik kita menjadi disiplin, tapi karena pemerintah sudah terpojok. Mereka seperti atlet yang tidak pernah latihan tapi harus ikut olimpiade.
Pemerintah jelas kalah … karena persiapan mereka untuk rakyat tidak cukup. Mereka cenderung berhura-hura dan tidak disiplin menghadapi gejolak harga minyak .. dan kita harus sadar bahwa yang kena akibat kenaikan harga BBM bukanlah orang kaya yang naik mobil mewah.
Mau harga BBM naik sampai Rp 10.000 juga mereka masih tetap bisa beli. Bagi mereka kenaikan harga BBM hanyalah seperti kenaikan harga minyak tanah atau beras. Mereka toh masih bisa beli.
Siapa yang kena dampak? … kita semua. Yang hidup dengan pendapatan pas-pasan. Kita yang naik motor, bis kota, sepeda bahkan jalan kaki. Kenaikan BBM akan menaikkan harga kebutuhan lain … dari sembako sampai rokok kretek.
Jangan kan buat sekolah anak atau menabung … untuk makan saja kita akan kesulitan. Jadi … saya mohon kenaikan BBM adalah hal yang serius bukan bahan obrolan biasa yang harus ditanggapi dengan guyonan ..
Rakyat sudah mau mati … rakyat bukan seorang anak yang manja dengan ayah yang sakit-sakitan .. rakyat Indonesia lebih persis seperti anak terlantar yang tidak diasuh atau dibuang oleh orangtua-nya dan trus dimanja dengan kehidupan jalanan yang keras …
Stop kebohongan … katakan tidak pada kenaikan BBM.
—————————
AyahRadit // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 16:08
BBM naek lagi …. cabe dech …
Belum naek aja hidup ini sudah ngos .. ngosan .. apalagi kalau udah naek??? Anyway … segini juga sudah alhamdulillah masih punya kerjaan meski gajinya pas-pasan … yang penting anak istri ga kelaparan …
—————————
hariadhi // Kamis, 8 Mei, 2008 pada 22:12
Kalau jawaban ndablegnya gini aja, Bang:
Ya sudah, berarti memang kita diajak hidup alami. Ke mana-mana jalan kaki. Buah dan sayuran tanam sendiri di pekarangan, padi ditumbuk sendiri.
Gaya hidup sehat yang sengsara, eh?
—————————–
alex® // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 2:18
Dinaikin terus, Bang?
Kavan turunnya? Kavan??
*miris*
—————————
Masalah Tanpa Solusi « A Journal of A Not-Superman Human // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 9:26
[...] Bang Eby, dengan analogi Bapak - Anak mengisyaratkan selama ini rakyat Indonesia memang sudah sangat tergantung pada Pemerintah. Seperti seorang anak yang begitu dimanja sang ayah sampai ketika si ayah wafat, si anak menjadi sosok tidak berguna yang tidak bisa apa-apa. [...]
————————–
stey // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 9:58
Dan tidak bisa dipastikan kapan ini berakhir .. duuuhhh ..
————————–
alex® // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 10:51
Ah … saya sama pemerintah ini kadar kepercayaan saya sudah mendekati titik nadir, Bang.
Saya pesimis benar — dengan sekian skandal yang menampakkan bobrok mereka secara moral dan intelektual — apa mereka masih punya “the so-called pemikiran” itu ?
Kebijakan pemerintah cenderung sebelah pihak. Mengingatkan saya sama tukang palak pedagang emperen di pasar-pasar kota yang bisa seenaknya menaikkan tarif setoran, tapi sama trantib takut
Ya begitu itu kan persisnya. Beraninya menaikkan di dalam negeri. Naikkan untuk nilai ekspor, berani tidak? Kenapa sih bangganya cuma kalau bisa re-schedule utang atau senyum kalau dapat penambahan utang di Paris Club, tapi tak punya kebanggaan utk bersikap sebagai negara besar yang punya hak menentukan harga di dunia karena memiliki dapur minyak bumi?
Ah … ya … pikiran saya memang terlalu naif
—————————
gagah77 + black77 // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 16:37
SEKILAS INFO:
Buat Bikers dan pecinta otomotif yang berdomisili di JABODETABEK agar datang beramai-ramai ke Senayan:
Ada acara menarik nih. Bursa barang-barang langka hingga barang-barang termukhtahir
Datang ya …
—————————-
Rafki RS // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 0:00
Subsidi BBM memang salah arah dan salah kaprah. Jika tidak segera dicabut maka bangsa ini akan jatuh ke krisis ekonomi kedua. Sungguh mengerikan.
————————–
hana // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 17:50
Salam ..
Kebijakan mengenai BBM memang dilematis … kenaikan BBM pasti mengakibatkan efek domino, yang berakibat inflasi, terakhir penduduk miskin bertambah banyak.
Tetapi … jika pemerintah memberikan subsidi terus menerus juga salah, seperti cerita bapak diatas tentang seorang ayah yang selalu membantu anaknya, akhirnya anaknya nggak mandiri.
Begitupun rakyat, dana APBN sebaiknya dianggarkan dalam jumlah yang besar untuk pendidikan …
—————————
nindityo // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:43
Tetap semangat …
Naik berapa pun tetap kita buru kan? .. secara motor dirumah tetep perlu bensin. Yang musti dipikirin, ngapain aja pemerintah kok gak bikin terobosan yang jelas .. ato karena gak ada duitnya?
Dalam jangka pendek aku setuju naik .. cuma jangka panjang dipikirin juga dong ..
—————————
Tinggalkan Komentar