Coba diingat .. apakah kamu masih ingat teman-teman masa kecil mu yang bukan teman akrab mu? baik sewaktu kamu di TK, SD, SMP maupun SMA? .. Well, apa yang membuat kamu mengingat mereka? .. Pasti ada yang special pada diri mereka, sehingga kamu dapat mengingat mereka sampai saat ini, walaupun waktu sudah berlalu sejak lama. Kalo boleh aku menyimpulkan .. secara garis besar, teman-teman lama yang masih kamu ingat adalah orang-orang yang menonjol dilingkunganmu. Baik karena kepintarannya maupun ke-oon-annya, baik karena kepeduliaannya maupun karena ke-super cue’-annya.
Nah, bagaimana dengan yang lainnya, teman-teman yang memiliki sifat atau talenta biasa saja, seperti orang kebanyakan .. mungkin kita masih ingat pada mereka hanya satu dua orang saja. Selebihnya, lupa blas.
Kita masih ingat bagaimana si Fulan yang tubuhnya sangat tinggi, sehingga kalo sedang upacara, kepala si Fulan langsung terlihat inspektur upacara … atau si Anu yang paling pendiam, walaupun teman sekelas tertawa terpingkal-pingkal karena ada teman yang membanyol, si Anu tetap aja diam.
Menjadi manusia biasa .. dalam arti seperti orang kebanyakan, sering kali tidak terperhatikan bukan berarti tidak ada. Coba cek .. ketika kita sedang berkumpul, tiba-tiba ada yang bertanya : “Si Fulan kemana ya? kalo ga ada dia ga seru nih” .. walah, emangnya kita dianggap apa ya?
Ada yang punya pengalaman dan mau sharing? atau apakah kamu hanya orang biasa saja. Yang diam disudut tak terperhatikan kehadiranmu? Come on .. silakan bergabung. Tunjukkan bahwa kamu bukan orang biasa.
UPDATE 9 MEI 2008 !!!
Tahu kan Bill Gates — kebangetan deh kalo anak jaman sekarang kagak tahu. Sejak kemaren dia ada di Indonesia loh. Dan hari ini menghadiri acara Presidential Lecturer di Jakarta Convention Center. Seandainya dia menyelesaikan kuliahnya mungkin dia akan menjadi manusia biasa saja.
Makanya, meskipun dia tidak menyelesaikan kuliahnya, Bill Gates tidak menyarankan tindakannya itu untuk diikuti. “Saya sangat merekomendasikan untuk menyelesaikan kuliah, raih gelar akademis Anda. Saya ini contoh yang buruk,” ujar Chairman Microsoft Corp. ini sambil cengar-cengir.














35 tanggapan so far ↓
itikkecil // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 12:17
Kayaknya saya biasa-biasa aja deh. Gak ada yang bakalan kehilangan kalo saya gak muncul.
—————————
ManusiaSuper // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 12:21
Saya dulu pernah jadi manusia biasa — sebelum jadi manusiasuper
… Ada atau tidak ada saya … sepertinya tidak ada pengaruhnya bagi dunia dan orang-orang disekitar saya.
Mulanya saya menikmatinya bang, secara saya suka kesendirian. Tapi lama-lama kok berasa hidup saya sia-sia dan tidak berguna kalau begitu. Jadilah sekarang mencoba menjadi ’sesuatu’
—————————-
dani // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 13:02
Ah siapa saya .. kecil kurus, mungkin ngga ada yang inget ..
————————–
hanggadamai // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 13:14
Kalo diriku hanya orang yang tak bermutu .. tapi diriku punya impian besar .. membuat semua orang didunia ini tersenyum bangga kepadaku …
—————————
Yoga // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 13:15
Bang Eby mengajak sharing nih ceritanya?
Begini Bang, pada awalnya saya merasa biasa-biasa saja dalam aktivitas sekolah, kegiatan, dan bergaul, tapi ada aja teman yang bertanya tentang networking teman-teman sekolah /kuliah baik yang seangkatan maupun tidak ke saya tapi tidak ke yang lain. Seolah saya ini node penghubung.
Lantas dikesempatan yang lain saya merasa, kalau nggak ada saya .. teman-teman saya juga baik-baik aja dan gak bakalan merasa kehilangan saya. Suatu ketika .. ada satu momen dimana saya bisa tahu mana teman sejati mana yang bukan.
Ceritanya … saya lagi sakit dan diam-diam aja nggak cerita ke teman-teman, tapi tetep ada yang tahu dan yang bikin terharu ada teman jaman SD, teman yang dari luar kota dan teman yang udah bertahun-tahun gak ketemu .. justru teman yang sering ketemu malah ada yang gak jenguk padahal tahu saya sakit.
Disitulah saya baru merasa pertemanan itu indah, dan keistimewaannya adalah bonding antara saya dan teman-teman saya. Apakah ini yang membuat kita bukan individu biasa? Saya tidak tahu, pokoknya yang penting silahturahminya.
—————————-
n0vri // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 14:08
Saya punya pengalaman Bang.
Waktu SMA dulu, saya baru tahu kalo ada satu anak di kelas saya yang gak berani ngomong sama saya, meski sudah hampir dua tahun satu kelas dengan saya.
Saya baru tahu ketika teman-teman lain menjadikan bahan candaan, dan itu hanya beberapa hari menjelang kelulusan … Mungkin karena ia “terlalu biasa”, dan saya juga ternyata manusia biasa yang mudah alpa …
—————————-
Alex // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 14:12
Assalamu’alaikum …
Saya cuma orang biasa, pria belajar dewasa yang harus banyak belajar dari siapa saja, dan punya penampilan biasa-biasa saja.
Tidak ada keistimewaaan apa-apa namun punya Ibu yang perkasa dan Ayah yang bijaksana serta istri dan anak yang luar biasa.
—————————-
Nayantaka // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 14:38
Manusia Biasa, deKing maksudnya???
————————–
dwibasukiwss // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 15:41
… aku, mungkin hanya manusia biasa …
tapi, pasti diriku tetap milikmu …
milikmu selama-lamanya …
Ku harap jangan pernah untuk merasa …
diriku selalu mencari godaan …
semua mungkin hanya singgah dan cepat berlalu …
tapi hatiku hanya untuk dirimu …
selalu … untuk selamanya …
(Manusia Biasa, Dewa 19, 1995)
—————————-
hanggadamai // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 15:46
Btw jangan panggil diriku bapak loh … lah wong masih perjaka ting ting
————————–
NdaruAlqaz // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 15:52
Walah, itu saya banget bang.
Kalau abang masih inget, tahun 2004 … SMA 3 Madiun kebakaran, nah itu yang bakar saya bang.
Dan gara-gara itu … saya diingat sama semua guru SMA saya, bahkan terkenal di kalangan adik kelas … hingga saat ini.
—————————-
serdadu95 // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 17:31
Saya dulu biasa-biasa aja … jade sangat wajar kalo sekarang banyak nyang melupakan saya … apalage pas mo masuk jade serdadu … “tahi lalat” nyang nempel dihidung … saya lenyapkan di meja operasi … sehingga tambah semakin wajar aja kalo temen-temen saya jadul pada kagak ngenali saya lage …
Saya tlah … berubah …!!!!
*Power Rangers mode : ON*
—————————
cK // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 18:33
Wah … saya pasti diinget waktu SD .. saya sering berantem sama temen-temen, pokoknya ribut deh … rusuh !!!
Waktu SMP, saya juga cuma manusia biasa. Tidak menonjol. Kalau SMA, sempat berorganisasi … jadi lumayan dikenal.
Waktu kuliah, biasa-biasa juga. Tapi teteup, kalau ga ada saya, ga rame.
*narsis mode : ON*
—————————
Hasan Seru // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 19:24
SMP pernah jadi orang luar biasa, kebetulan melejit gitu deh .. rehat bentar waktu SMA
————————–
Rita NI // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 22:10
Selagi SMU jadi kepala geng …
Btw salam kenal ya mas …
—————————
edratna // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 23:24
Orang yang biasa-biasa saja cocok jadi agen rahasia karena orang tak akan teringat … jadi menjadi orang biasa ada kelebihannya juga, mudah menyamar.
Kita biasanya mengingat teman dari beberapa hal yang menonjol … entah karena pintar sekali, atau bandel sekali, atau lucu, atau paling cantik … tapi yang biasa jauh lebih banyak … dan saya termasuk yang biasa-biasa aja.
—————————
Rafki RS // Jumat, 9 Mei, 2008 pada 23:50
Kalau saya lebih menyukai jadi orang biasa-biasa agar tidak menarik terlalu perhatian orang lain ketika saya hadir ke tengah mereka. Mungkin saya punya sifat sedikit pemalu kali ya? Atau malu-maluin?
—————————
adipati kademangan // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 7:58
Aku punya cerita, bang Ebi harus rela dengerin ya.
Sewaktu kuliah semester pertama, aku punya temen … seorang guru TK. Sebagai seorang guru TK dia sangat memahami anak-anak beserta tingkah lakunya.
Di sekolah TK tersebut pada setiap hari sabtu selalu diadakan acara di panggung aula. Meski penontonnya adalah siswa-siswa juga dan ibu-ibu penjemput. Atas ide-nya juga acara tersebut diakhiri pemberian piagam siswa ter …
Maka setiap hari sabtu itu pun selalu ada wajah-wajah ceria, puas, bangga sang siswa maupun orang tua. Kudengar sepintas kata-kata ibu dan anak nya …
“Mama, aku dapat piagam untuk tulisan telbaik lhoh, hebat kan”
“Aahh, anak mama memang rajin menulis, bla bla bla dst”
Saat selesai acara pun saya mendekati ibu guru
“Eh bu guru, aku mau nanya tentang acara itu boleh nggak ?”
“Oh ya, nanya apaan ?”
“Kok bisa sih kamu melakukan itu setiap hari sabtu ?”
“Oh itu. Sebenernya sih itu tidaklah sulit. Kamu bisa kok melihat potensi apa yang ada pada diri mereka masing-masing. Apalagi saya yang menjadi teman mereka sehari-hari”
“Coba jelaskan lebih lanjut”
“Begini, setiap anak-anak polos itu mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Ada yang pinter, suka nyanyi, melukis, pemberani, taktis, kuat mental, sabar, dll.”
Sejenak dia menoleh kepada siswa-siswanya yang berlarian pulang ..
“Tidak sulit menemukan potensi-potensi itu, kamu tahu kan, anak-anak itu adalah sebuah dunia yang unik dan jujur. Tidak ada yang tersembunyi, berterus terang.”
“Kalo ada seorang siswa yang tidak terlihat kelebihannya bagaimana ?” tanyaku menyelidik.
“Bahkan tidak mungkin seorang siswa tidak mempunyai kelebihan apapun meski dia seorang pendiam, tidak punya temen, duduk di pojokan, nggak mau bermain keluar kelas. Pasti ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yang lain” katanya dengan mantap.
“Jadi setelah akhir tahun ajaran, setiap siswa pasti mempunyai satu piagam dari sekolah ini. Dan aku tidak pernah kehabisan ide untuk itu. Seperti yang kukatakan tadi, anak-anak itu adalah dunia yang unik”
Jadi begitu rupanya, aku mengerti. Ternyata dia adalah bu guru yang cerdas.
—————————–
Biyung Nana // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 12:12
Mungkin karena gen narsis saya yang berlebihan, jadi dari kecil saya selalu ngerasa spesial dan berbeda.
————————–
realylife // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 14:11
Alhamdulillah, saya orang biasa-biasa nich
Amin.
————————–
MAW // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 15:25
Ah, saya tidak peduli apabila ada yang melupakan bahwa saya pernah menjadi temannya. Bagi saya yang penting saya tidak memiliki bekas teman.
Saya — dengan segala keterbatasan memori saya — selalu mencoba mengingat nama lengkap teman-teman saya, hal yang mungkin orang lain tidak memberi perhatian.
Saya coba sebutkan nama lengkap teman sekelas saya di SMP: Anton Wibowo, Dwi Ariestanto, Suhartopo, Rr.Chandra Dewi Rahmasari, Rr.Naning Novita, Marsiyati, Muh. Zulaini, Hidayat, Samukiyadi, Totok Handoko, Titik Herawati, Arni Kurnindyah, Suprihatin, Marsiyati, Nasip Mulyanto, Yulianto, Basuki Rustanto, Muhammad Arif Yasfani, Ratri Purwaning Warsi, Yunan Hernanto, Yuni Trimantoro, Siti Nurhasanah, Yuli Wuryantari, Rr.Sri Handayani, Aisah Aini, Nariswati, Eri Subono.
Karena kelemahan memori saya, ada beberapa nama lagi yang tidak mampu saya recall tetapi saya ingat wajah mereka.
Saya biasa saja, tidak memiliki sesuatu yang menonjol kecuali kekurangan-kekurangan: tidak bisa main voli, tidak pandai bergaul, tidak laku jadi anggota Tonpara / PKS di SMA karena tinggi rata-rata. Nilai akademik biasa saja.
Bahkan blogosfer pun tidak mengenal saya. Alangkah nikmatnya menjadi yang biasa saja walaupun bukan deKing atau olang biaca. Yang jelas bukan Manusia Super-lah.
—————————-
haniifa // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 15:30
Alhamdulillah …
Jadi mensyukuri kelulusan sekolah …
————————–
Nin // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 18:26
Kalo saya manusia biasa …
Wajah biasa, hobby biasa, suara biasa, mata biasa, yang luar bisa cuma satu, berat badan (baca: operweit)
————————–
hariadhi // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 19:07
Dari sisi intelektual … saya punya mimpi jadi orang berkapasitas luar biasa, bang. Tapi dari sisi pergaulan saya ingin jadi orang yang biasa-biasa aja. Habis hilang lalu dilupakan.
Mungkin karena saya orangnya melankolis yah?
————————–
M Shodiq Mustika // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 2:09
Yang luar biasa adalah orang yang tak sempat memikirkan apakah dirinya biasa-biasa saja ataukah luar biasa.
————————–
haniifa // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 13:49
“Congratulation .. sekarang, tinggal nyari kerja ato bikin lapangan pekerjaan. Sukses selalu ya Nif.” …. trim’s mas.
Dari nyari kerja, bekerja ditempat orang, bekerja plus bekerja — polygami bekerja —
… sampai bikin lapangan pekerjaan … Alhamdulillah… sudah dialami.
Justru itu saya ingin memahami “Market Strategist” tentu dalam perspektif “Sains” dan “Al Qur’an” …
Jujur neeh…
1. mas Erander
2. mas Aricloud
3. mas Agorsiloku
Potensi kearah itu …
Jadi nggak sabar menunggu peluncuran bukunya mas. Oh yach “Kiat” menjadi “Inspirasi” … lebih memaknai lho.
—————————-
haniifa // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 13:57
Nambah dikit … lupa.
Saya belum berpengalaman polygami … atu ajah udah masih kerepotan …
—————————
haniifa // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 15:57
ha.ha.ha
Coba mas Erander publish CV pogam, siapa tahu bisa niru “Aa Jimi” neeh …
—————————
nindityo // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:35
Saya orang biasa pak .. malah cenderung minder.
Mungkin ada yang masih inget … tapi sebatas orang kurus yang suka duduk di belakang
—————————
haniifa // Senin, 12 Mei, 2008 pada 18:30
@mas Erander
Ntar CV-nya buat ngelamar kemana dong?
Naah … ini, kalau saya sepertinya sudah melewati ambang batas anjuran pemerintah (baca : KB)
Kalau dari atu udah sekian … kali, nah kalau dari dua = sekian .. kali .. kali .. sekian .. kali dua
Gimana kalau CV-nya kirim ke yang hmm … Tentu hmm .. sesuai inspirasi khan !!!
—————————-
haniifa // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 11:05
Waahhh … trim’ lho mas.
Masudnya “kalkulator” yang ada di “Hati” dan “Akal pikiran” … khan ?!
—————————
haniifa // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 13:29
..
nyeraaahhhh .. 
————————–
haniifa // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 0:39
Alhamdulillah …
Akhirnya terpenuhi juga, janji saya sama mas Erander.
“Kalau penyimpangan genetika, sepertinya sampai saat ini belum terbukti…. menurut kata ahlinya seeh ada sekitar dari 30.000 kandidat gen yang salah satunya dituding sebagai pembawa schizophrenia. Pertanyaan berikut … insya Allah, saya jawab di postingan mas erander”
Kebetulan disini
Salam, Haniifa.
—————————-
haniifa // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 8:59
@mas Erander
Jadi .. yang menyebabkan gangguan pada schizophrenia itu apa ya?? apakah karena perkembangan gen yang menyimpang ketika masa pertumbuhan, ato yang lainnya.
Dan apakah schizophrenia itu sama dengan penyakit jiwa .. soalnya untuk melengkapi postingan saya di sini
@
Kalau penyimpangan genetika, sepertinya sampai saat ini belum terbukti…. menurut kata ahlinya seeh ada sekitar dari 30.000 kandidat gen yang salah satunya dituding sebagai pembawa schizophrenia.
Pertanyaan berikut insya Allah, saya jawab di postingan mas erander…
——————————————————————————–
1. Schizophrenia = depresi ….
2. Terganggunnya sistem kesimbangan di otak,
3. Masukan yang paling dominan ke otak adalah
a. hati : perasaan sendiri atau narkotika,
b. mata : pekerjaan numpuk, melihat gadis pujaan yang direbut orang … dsb
c. telinga : mendengar omelan, guncingan …
Coba simak komentar saya : Minggu, 11 Mei, 2008 at 13:49 sampai dengan Rabu, 14 Mei, 2008 at 13:29
——————————————————————————–
Pertanyaan terpenting mas Erander adalah : Jadi .. yang menyebabkan gangguan pada schizophrenia itu apa ya?? ha.ha.ha.
“Hati” mas terganggu khan, karena melihat pakai “mata” … kadang kesel, kadang seneng, kadang sebel, kadang bla.. bla ..
Gimana … saya juga nggak mudeng khok .. !?
———————————————————————————-
Selamat pagi mas, rajin betul …
—————————-
haniifa // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 10:29
Atau jangan-jangan bapak sedang bereksperimen ya??
Lha… piye toch !!
Semboyannya “sama” : pokoke”untung rame-rame”
Ide posting “sama”: ngebahas schizophrenia.
OOTnya “sama”: nggak mudeng-mudeng…
Saya udah dapet untung lho… nggak capeee dee
———————————————–
Sudilah mas Erader, memaafkan saya.
Tinggalkan Komentar