KU LETAK KAN KATA DISINI

Childish banget !!

Sabtu, 10 Mei, 2008 · & Komentar

blok.jpg

Pernah bertemu dengan seseorang yang sudah berumur, tapi sering ngambek atau merajuk atau pundung?? Atau mempunyai atasan yang suka menyalahkan anak buahnya?? Atau seorang teman — yang kemana-mana — selalu ditemani oleh orang tuanya?? .. kalo ada atau pernah tahu, pasti kita berkomentar — dalam hati atau mengatakan langsung — bahwa orang tersebut childish banget atau ke-kanak-kanakan. Pertanyaannya adalah, mengapa sikap dewasa atau matang tidak sejalan dengan bertambahnya usia seseorang?

Bagi kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian untuk memasuki jenjang perkawinan, mempunyai penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua.

Namun — terutama — dalam situasi yang menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat meyadari atau menyaksikan bahwa respon individu sering menunjukkan ketidakdewasakan. Seperti yang aku ilustrasikan diawal postingan.

Apakah tingginya pendidikan dan kepintaran seseorang berkorelasi dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi di dalamnya dirinya secara berat sebelah? .. memang patut kita pertanyakan.

Dalam skala makro, ketidakmatangan seseorang sering terlihat pada ketidakberanian untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-’abuse’ kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antara manusia secara fair dan bertanggungjawab.

Menurut Eileen Rachman dan Sylvina Savitri dari Experd di harian Kompas edisi Sabtu 10 Mei 2008, dikatakan bahwa untuk mendefinisikan ‘maturitas’ atau ‘kematangan’ pribadi seseorang dapat dideskripsikan dalam lima persyaratan yaitu :
1. Berpikir objektif,
2. Berpikir positif,
3. Mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi,
4. Bertanggung jawab,
5. Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

Bagaimana dengan kamu? apakah deskripsi diatas ada pada dirimu?

Kategori: Hari yang kulalui · Ku kutip kata
yang berkaitan: , ,

51 tanggapan so far ↓

  • cK // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 22:27

    Wah … saya mungkin tengah-tengah. Antara dewasa dan childish. :mrgreen:

    Kadang saya bisa berpikir dewasa, tapi kadang juga bisa balik kayak anak-anak hehehe … :P tergantung sikon.
    —————————

    Tapi lebih banyak yang mana cK?

    Btw, kaya’ anak-anak dengan kekanak-kanakan beda ga ya? .. kalo kaya’ anak-anak mungkin lebih kepada gerak-gerik. Tapi kalo kekanak-kanakan, cenderung pada sifatnya.

  • Ersis Warmandyah Abbas // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 22:43

    Biarin saja …

    Pada dasarnya, setiap orang punya kodrat sendiri … justru dengan adanya orang yang childish kita dapat belajar … ambil hikmah untuk membangun diri, jangan risaukan kechildishan orang lain. Rebes.
    —————————

    Setuju pak.

    Pendapat yang disampaikan oleh teman-teman di Experd tersebut sebagai pembelajaran kita bukan untuk merisaukan kechildishan orang lain, tapi justru untuk belajar. Rebes, ga bakal ada UAN-nya pak.

    Jadi .. bapak jangan gusar pak ya pak. Salam.

  • AgusBin // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 23:08

    Si akang sering bilang sama saya … kalo orang yang dewasa itu adalah orang yang berani menilai diri sendiri secara obyektif. Tidak melulu menilai orang lain.

    Nah … sekarang saya mau dengar dulu dong sifat-sifat pak Eby sebelum pak Eby mengetahui sifat-sifat saya. Hehe .. Boleh kan?
    —————————

    Oh boleh …

    Masalanya adalah, apakah cukup fair untuk saya menuliskan sifat-sifat saya? secara mas Bin belum tahu saya secara langsung. Karena bisa saja, saya bilang bahwa saya sudah ‘matang’ :) atau malah childish :)

    Dan postingan ini tidak mengharuskan teman-teman untuk membeberkan sifat-sifat teman-teman disini. Jika memang deskripsi diatas tidak ada pada diri kalian, ya mungkin perlu dikoreksi atau ditambahkan.

    Yang pasti dari 5 persyaratan yang di-deskripsikan teman-teman dari Experd, ada satu persyaratan yang sedang saya perbaiki. Dan dengan nge-blog, saya perharap kekurangan satu persyaratan tersebut bisa saya koreksi.

  • Guh // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 23:14

    Menurut tulisan di atas saya masih belum dewasa, karena keberanian masuk ke perkawinan termasuk ukuran kedewasaan.

    Syukurlah dunia tetap akan baik-baik saja meski saya masih childish.
    —————————

    Itukan pendapat kebanyakan orang, mas. Tapi menurut teman-teman di Experd, kematangan seseorang tidak saja diukur dari perkawinan semata. Buktinya, banyak orang yang sudah nikah, tapi sifatnya masih kekanak-kanakan. Bukan begitu?

    Jadi .. boleh jadi, usia boleh muda dan masih lajang tapi sudah matang karena telah memenuhi lima persyaratan yang diperlukan untuk mendeskripsikan kematangan seseorang.

  • alex® // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 1:30

    Wah .. pertanyaan sulit, Bang.

    Maaf lho, saya pernah punya kenalan yang — entah karena banyak membaca dan kuliah di psikologi — kalau bicara dewaaaasaa banget.

    Padahal belum 1/4 abad umurnya. Tapi kalau dia ngomong, bijak benar. Seakan semua di dunia ini akan baik-baik saja.

    Tapi sejak saya melihat dia meledak dan bersikap kekanak-kanakan cuma karena dicueki oleh yang lain, respek saya pudar.

    Saya sadar satu hal: waktu dan sikon juga menentukan kedewasaan.

    Dan lebih tersadar lagi satu hal: sikap kenalan saya tak lain dari wishful thinking, dan bukan kedewasaan itu sendiri …
    —————————-

    Benar banget Lex … menurut teman-teman di Experd, kematangan itu bisa terkikis dan bisa pula menular. Karena kenyataannya, bahwa kematangan bukan bawaan sejak lahir, tapi benar-benar dipelajari dan dilatih.

    Seorang ahli psikologi sosial bahkan menuliskan bahwa kematangan dan ketidakmatangan bisa merupakan ciri sekelompok orang, misalnya kelompok orang yang terlalu fanatik sehingga mempunyai keyakinan yang tidak objektif lagi. Bahkan bangsa tertentu juga bisa secara tidak matang menetukan arah politiknya, sehingga mengakibatkan penderitaan jutaan orang.

    Btw .. menurut perhitungan WordPress, ternyata komentar mu ini adalah komentar yang ke 10.000 yang masuk ke blog abang .. wow, boleh dong abang berikan tanda mata buat mu??

    Kirimkan alamat Alex ke email abang ya.

  • rawkchitect // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 7:47

    Wahh .. keliatannya saya bakal selamanya berpikir kek anak kecil ..

    Yah … “simple tapi jujur” .. gak perlu pusing-pusing mikir .. klo saya rasa bener, saya lakukan ..

    Klo ternyata itu salah, ya saya siap hadapi resikonya ..
    —————————

    Mungkin, kalo kek anak kecil .. gpp kali Bim. Misalnya jujur, terus terang, apa adanya, rasa ingin tahu yang tinggi … abang pikir, justru oke-oke aja tuh.

    Beda hal-nya dengan kekanak-kanakan .. misalnya, hanya mau diperhatikan orang tapi enggan memperhatikan orang lain. Mudah terpancing emosi — misalnya gampang pundung dan lain sebagainya.

  • NdaruAlqaz // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 13:29

    Wah, kedewasaan kok ya ada deskripsinya, ada teorinya.

    Sulit bang kalo ngomomg soal kedewasaan. Banyak orang yang mengaku udah dewasa dan bahkan sudah diakui orang lain kalo sudah dewasa, tapi masih kayak anak kecil.

    Yang tahu kedewasaan kita adalah diri kita sendiri. Dengarkan kata hati terdalam apakah kita sudah dewasa. Kalo tak bisa dengar kata hati sendiri, gimana mo dewasa.

    *aku ingin jadi anak kecil selamanya*
    —————————-

    *kaya Peterpan dong*

    Iya, abang juga baru tahu kalo kedewasaan itu bisa dideskripsikan. Karena selama ini, anggapan abang bahwa orang dewasa itu sudah berumur sekian, sudah nikah, sudah punya anak, sudah mapan dlsbnya.

    Tapi setelah membaca artikel tersebut di Kompas dalam rubrik Klasika .. abang baru sadar, bahwa kedewasaan itu tidak ada hubungan dengan status perkawinan, umur seseorang, pendidikan dan sebagainya.

  • aRuL // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 14:47

    Kadang orang dewasa butuh kemanjaan … :D
    tapi kalo keterusan yahh itu yang aneh :D
    ————————–

    Benar Rul .. tapi untuk bermanja-manja ada tempatnya loh. Misalnya dengan pasangan kita sendiri, dengan keluarga sendiri atau dengan saudara sendiri.

  • haniifa // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 16:08

    Waahhhh bingung neeh .. :D
    Baca-baca dulu deh !!
    ————————–

    Waahhhh baca dulu deeh .. :D
    Ntar balik lagi kan ??

  • nurma // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 17:01

    Wah … saya gimana ya pak?! mungkin akan lebih objektif jika orang lain yang menilai :D

    Hmmmh … tegantung yang disebut “childish” itu yang bagaimana (kriteria-nya) sih …

    Kalo dari ‘kesadaran’ saya pribadi … ada kalanya saya “childish” — menghindari terciptanya ’suasana’ tertentu misalnya — itupun pada kakak, ortu, atau adek saya. Tapi kalo sikonnya lagi dikampus, atau lagi rapat redaksi misalnya, masa mo ditemenin bokap sih?

    Embarasing banget kan? masa masih ada orang yang kayak begitu?
    —————————-

    Supaya objektif, makanya teman-teman dari Experd berusaha untuk mendeskripsikan sikap kedewasaan (kematangan) dalam 5 persyaratan tersebut diatas. Sehingga .. kita pun dapat menilai diri kita sendiri .. apakah kita memenuhi kelima persyaratan itu atau tidak. Kalo Nur mau nambahkan persyaratannya, boleh juga :)

    Beda .. kemanjaan kita dengan pasangan kita, keluarga kita atau saudara kita. Karena itu bagian dari interaksi kita dengan orang-orang terdekat. Kematangan disini lebih pada proses manajerial seseorang untuk meng-handle suatu permasalahan.

  • realylife // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 18:21

    Saya termasuk ngga ya?
    ————————–

    Dari kelima persyaratan tersebut, kira-kira terpenuhi semuanya ga??

  • n0vri // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 20:01

    At a certain moment, saya juga pernah bertingkah childish, Bang; terlepas setelah itu menyesal.

    Semata karena saya — seperti postingan Abang kemarin — cuma manusia biasa …
    —————————

    Manusia biasa bukan berarti tidak bisa dewasa kan? .. tingkah seperti anak-anak itu mengasikan koq .. apalagi kalo kita lakukan pada orang yang kita cintai. Mesra gitu loh :)

  • AgusBin // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 20:32

    Kalo saya sih … kalo lagi emosi, biasanya jadi childish … karena saya ga bisa berpikir jernih.

    Tapi — menurut saya — itu masih dalam tahap normal kok … bahkan mungkin tiap orang pasti pernah childish. Bahkan saya yakin juga … bahwa orang-orang di Experd yang menulis tentang childish itu pasti pernah childish juga.
    —————————

    May be yes .. may be not :)

    Saya jadi teringat, bagaimana emosionalnya seorang kiai kondang yang menjadi konsumsi infotainment gara-gara isu tentang keluarganya .. atau orang pertama republik ini yang emosional ketika melihat peserta yang tertidur saat beliau sedang memberikan pengarahan.

    Apakah kemudian mereka dikategorikan childish?? .. hmm .. kaya’nya terlalu dini untuk melekatkan ‘gelar’ tersebut ke mereka.

    Mungkin gara-gara tidak terpenuhinya salah satu dari lima persyaratan yaitu ‘mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi’ tersebut membuat seseorang langsung dibilang childish??

  • GR // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 21:17

    Tubuh saya keliatan dewasa tapi sifat masih agak kekanak-kanakan. Soalnya sering suka berantem sama adek-adekku yang kecil-kecil itu tuh .. hee .. :D
    —————————

    Koq adek-nya diajak berantem?? kasihan dong Gie? hehehe .. bukankah sebagai kakak, kita justru harus menjadi pelindung buat adik-adik kita??

    Gimana .. seandainya Gie yang jadi adik. Trus .. kakak Gie, ngajakin berantem mulu?? Enak mana, punya kakak yang sayang sama adiknya ato kakak yang suka ‘mukulin’ adiknya? :D

    Peace !!!

  • john // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 21:51

    Ini cukup sensitif juga,

    Gimana dengan Paus Benediktus dan Paus Yohanes Paulus alm, yang sampai lanjut usianya gak berani menikah kah?

    Gimana dengan Yesus Kristus dan murid-muridnya … bahkan Rasul Paulus yang tidak ada catatan mereka menikah, apakah mereka juga bisa dianggap tidak dewasa? trims.
    —————————

    Menurut John sendiri gimana? apakah beliau-beliau memiliki 5 persyaratan tersebut di atas?? .. saya pikir mereka adalah orang-orang yang dewasa karena telah memiliki kelima persyaratan tersebut.

    Pernyataan bahwa kedewasaan diindikasikan dengan keberanian memasuki jenjang perkawinan adalah anggapan bagi kebanyakan orang .. oleh karena itu, postingan ini dibuat agar kita menyadari bahwa kedewasaan — menurut Experd — memiliki 5 persyaratan di atas. Gimana?

  • nindityo // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 21:58

    Wah saya jauh banget pak ..

    Sewaktu baca artikel itu … saya juga langsung ngaca .. ternyata jauh. Cuma masalahnya ada yang bilang kalo saya begitu. Nah lho ..

    Ternyata bisa dari banyak sisi orang dapat menilai kita. Mungkin untuk satu dua persoalan kita mumpuni tapi untuk jenis kasus yang lain, kita jauh dari mateng.

    Yang jelas kita musti semakin mateng .. ya musti lebih banyak belajar sama bapak lah .. :)
    —————————-

    Saya juga sedang memperbaiki diri untuk salah satu lima persyaratan kematangan tersebut diatas.

    Tentunya .. kita akan menjadi pribadi yang menyenangkan dan dewasa .. jika bisa berpikir objektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab dan mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

  • ManusiaSuper // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:00

    Idem GUH …
    *takut kawin*
    —————————

    Takut dan ogah .. sama ga ya artinya?? :mrgreen:

  • alex® // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:30

    Btw .. menurut perhitungan WordPress, ternyata komentar mu ini adalah komentar yang ke 10.000 yang masuk ke blog abang .. wow, boleh dong abang berikan tanda mata buat mu??

    Heh? Serius ini? :shock:
    Ahahaha … jadi malu :oops:
    Pake email yang buat YM saja, Bang :P

    *wink-wink*
    —————————-

    Loh koq mau dikasih tanda mata, malah malu??

    Ya .. masa abang ngirimnya ke YM sih? emang bisa nyampe tanda matanya?? ya kudu alamat rumah / kantor mu lah.

  • coekma // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:36

    Saya belum termasuk semuanya, tapi ada beberapa.

    Sebenarnya relatif .. tergantung yang memandang dan menilai. Benar salah pun relatip, tergantung orangnya juga. Begini benar begitu salah atau begini salah begitu benar, huehehehe
    —————————

    Saya pun jadi ikutan-ikutan serba salah .. mau saya tanggapin, ntar salah. Kalo ga ditanggpin, salah juga .. cape deee hahahaha :lol:

  • hariadhi // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:57

    Ngetawain saya, Bang? Hihihihihi

    Ga lah .. saya orangnya jarang tersinggung, kok. Beda pendapat ya biasa aja. :lol:

    Mungkin kelemahannya malah di poin “tidak mampu mengendalikan emosi”. Bukan berarti saya pemarah, tapi lebih ke “keliatan ga punya perasaan”, hehe …
    —————————

    Yakin kamu ga punya perasaan??

    Entu barusan .. Hari merasa abang ngetawain Har .. hehehe, itu cuma perasaan Hari aja :mrgreen: .. jadi, justru kamu punya perasaan sehingga gampang emosi hwakakak :lol:

    Emosi kan ada hubungannya dengan perasaan :mrgreen:

  • reza // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 23:17

    Pertanyaan yang bagus bang … tapi sepertinya tidak perlu dijawab, tapi kita introspeksi diri kita sama-sama …

    Introspeksi … mulai …!!!
    *mode hening : ON* :)
    —————————

    *Zzzzzzzzz*

  • hanggadamai // Senin, 12 Mei, 2008 pada 1:45

    Oo proses menuju pikiran yang dewasa ya …
    ————————–

    Yups .. agar kita bisa berpikir objektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab dan mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

  • edratna // Senin, 12 Mei, 2008 pada 7:52

    Di beberapa perusahaan, saat ini untuk menilai apakah seseorang mampu dinaikkan jabatannya, harus melalui program assessment center … bang Erander kalau dari Telkom pasti tahu hal ini.

    Assessment center ini juga berguna untuk melihat kedalaman kompetensi seseorang, dan yang sulit adalah mengukur kemampuan soft kompetensinya. Yang ditulis Eileen Rahman di Kompas betul, bahwa bertambahnya umur, tak selalu sejalan dengan tingkat kematangan …

    Kadang tingkatan itu hanya mandeg pada peran manager, dan tak bisa naik lagi pada peran General Manager.

    Sebetulnya saya sudah lama ingin membuat postingan tentang soft kompetnsi ini, misalnya kompetensi apa yang dibutuhkan untuk manajer pemasaran, manager SDM, atau manager bisnis … yang semuanya berbeda, demikian juga kedalamannya.
    —————————-

    Komentar ibu di blog saya, selalu tepat bu. Hebat. Two thumbs !! memang, kematangan yang saya tuliskan diatas untuk mencari calon pemimpin bu. Dan saat ini, sudah banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan — seperti yang ibu katakan — melalui assessment centre.

    Tulisan ini saya dedikasikan buat bangsa ini — dalam rangka menyambut 100 tahun kebangkitan nasional — agar memiliki pemimpin yang matang. Pemimpin yang dapat berpikir objektif, selalu berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab dan mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

    Insya Allah .. bangsa ini akan keluar dari keterpurukan saat ini. Dan saya optimis, dari 250 juta rakyat Indonesia, ada yang memenuhi kriteria seperti itu bu.

  • adipati kademangan // Senin, 12 Mei, 2008 pada 8:43

    Pada beberapa kasus, pola pikir kekanak-kanakan sangat diperlukan. Khayalan dan imajinasi kanak-kanak sanggup mendobrak pola pikir linier orang dewasa.

    Sebagai contoh … komunikasi GSM CDMA berawal dari imajinasi kanak-kanak untuk berhubungan jarak jauh. Bentuk mobil sekarang juga hasil dari daya kreasi orang dewasa yang “menjelma” menjadi kanak-kanak.

    Kalo abang sendiri — waktu kecil — pernah nggak maen-maen keluar tanpa pake sandal .. istilahnya “nyeker”? … padahal, sekarang model terapi nginjak-nginjak batu di taman … istilahnya “nyeker juga” … mbayar lhoh.

    Yang awalnya dari pemikiran kanak-kanak bisa menjadi problem solving for human beeing *halah* .. ini ngomongin apa sih, pemikiran anak-anak, ato sifat, ato sikap? kok saya jadi salah fokus gini sih??

    -ini email saya bang-
    ————————–

    Never mind bro .. ga fokus juga gpp koq. Biar lebih seru hehe :)

    Abang setuju, sifat anak-anak seperti : jujur, apa adanya, rasa ingin tahu yang tinggi, suka mengkhayal, senang bermain dan sebagainya memang patut untuk kita pertahankan sampai usia senja.

    Tapi tidak semua sifat anak-anak patut kita pelihara terus sampai tua. Kebayangkan kalo melihat orang tua yang ngambek sampai guling-guling dilantai? ato ogah makan kalo ga dibeliin sesuatu? ato mau menangnya sendiri?

  • anas // Senin, 12 Mei, 2008 pada 9:11

    Kalo ngeliat hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya … kok saya keliatannya masih cildish juga ya :P
    ————————–

    Kalo cuma bermanja-manja aja sih gpp Nas .. asal selalu dapat berpikir objektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab dan mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang .. itu sudah cukup untuk menjadi matang.

  • Donny Reza // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:07

    Masih berusaha dan belum sepenuhnya dewasa :D
    —————————

    Sama .. abang juga demikian :D

  • AgusBin // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:39

    Kalo saya pak … suka pundung sama orang-orang yang saya sayangi.

    Kalo sama orang yang biasa-biasa aja sih … jarang pundung justru. Tapi celakanya makin pundung biasanya makin dicuekin … akhirnya malah mencari perhatian! hahaha ..

    Nasib deh! kayak gitu childish ya pak? biarin deh, egp.
    —————————-

    Oala .. kalo kaya’ gitu sih namanya manja, minta dikeloni dan disayang hahaha :D bukan childish. Saya juga sering koq kaya’ gitu sama adinda dirumah.

    Postingan diatas mah, buat mencari calon pemimpin yang kuat dan berkarakter. Kalo pemimpinnya pundung .. gimana dong anak buahnya :lol:

  • itikkecil // Senin, 12 Mei, 2008 pada 11:09

    Soal pundung itu, saya melihat masih banyak di sekitar saya yang sudah tua bangka dan punya jabatan penting tapi masih suka pundung soal-soal sepele.
    ————————–

    Asal bukan pundung karena pengen dikeloni atau dibelai-belai loh ya gpp mbak :mrgreen: … kaya’ mas Bin — yang komentar diatas — yang suka pundung buat nyari perhatian pacarnya. Biar tambah mesra. :)

  • Jendral Bayut // Senin, 12 Mei, 2008 pada 12:02

    Sayah juga masih pundungan …

    Tapi kadang-kadang bisa dewasa juga sih — terutama kalo ada cewe cantik, sexy, dan bisa dikaryakan — jadi gimana yah …
    ————————–

    Koq dewasa kadang-kadang sih?? kaya’ musiman aja :mrgreen:

    Oh .. saya tahu .. kalo ada cewe cantik dan sexy, bersikap dewasa trus kalo ada cowo cakep dan macho, bersikap pundung .. begitu ya Jend?

    *dikeroyok prajurit bayut* :lol:

  • nh18 // Senin, 12 Mei, 2008 pada 13:09

    Yang jelas … Trainer manusia biasa … maunya objective dewasa mature dan yang sejenisnya … namun apa daya … mood kadang berulah …

    But … Yang jelas kita harus turn our mind into positive thinking … Walaupun Trainer sadar ini bukan sesuatu yang mudah …

    But bukan sesuatu yang mustahil bukan ??

    Thanks pak Erander …
    ————————–

    Seperti iman ya pak .. turun naik? Kadang bagus, kadang bad mood hehehe .. tapi benang merahnya kan terlihat pak?

    Seorang yang sudah mateng *halah* .. walaupun bisa emosional, pasti dia milih-milih. Kalo pun jadi emosi, selalu ada cara untuk melampiaskannya. Bukan begitu pak?

  • Rindu // Senin, 12 Mei, 2008 pada 14:13

    Katanya … menjadi dewasa itu pilihan — mau dewasa atau tidak .. :) saya sih merasa dewasa walaupun cengeng !! hahaha …
    ————————–

    Cengeng itu pertanda perasaannya halus. Perasaan halus bukan berarti tidak dewasa loh sepanjang kita tetap berpikir objektif, selalu berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

  • Alex Abdillah // Senin, 12 Mei, 2008 pada 16:38

    Assalamu’alaikum

    “konsisten dalam waktu yang relatif panjang”

    Bahasa Al-Qur’an-nya adalah “Istiqomah” … inilah yang menjadi inti semuanya … dan ini pulalah yang ditekankan oleh Rasulullah, Istiqomah dalam kebaikan dan Istiqomah dalam ketaatan. Sampai ajal menjelang.

    Moga kita bisa. Amin.
    —————————-

    Wa’alaikumsalam ..

    Terima kasih sudah berbagi ilmu disini .. saya sampai merinding membaca komentar bapak. Ternyata apa yang diajarkan Rasulullah itu merupakan persyaratan yang akan membawa kita menjadi manusia yang matang.

  • indra kh // Senin, 12 Mei, 2008 pada 16:54

    Sifat kekanak-kanakan pada setiap orang pasti ada. Tak terkecuali orang dewasa, mungkin level-nya ini yang berbeda. Bahkan saya melihat orang yang semakin sepuh seseorang kadang porsi pundung-nya kian bertambah.

    Ini hanya hasil pengamatan saya, bisa juga keliru sih, pak.
    —————————

    Iya pak .. sisi anak-anak selalu ada pada diri manusia. Terutama sifat yang suka bermain-main. Coba aja kita lihat pada acara kuiz, game, pelatihan-pelatihan dan sebagainya yang diikuti oleh orang-orang dewasa.

    Tapi saya pikir itu bukan berarti mereka childish pak. Jika dikaitkan dengan pundung, sekali lagi, selama itu dilakukan dilingkungan terdekat — keluarga — saya pikir gpp. Tapi kalo seorang pemimpin yang pundung .. bapak bisa dong mengira-ngira dampaknya :)

  • am I mature? « nurma rachman // Senin, 12 Mei, 2008 pada 17:37

    [...] 12 May 2008 by nurma Pertanyaannya dicomot dari sini: [...]

  • nurma // Senin, 12 Mei, 2008 pada 17:41

    Wah pak, kalo persyaratan itu kudu:

    Mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi

    Kayaknya saya belum “mature” deh pak, apalagi kalo jadwalnya ‘dateng’ :wink:
    Apalagi syarat yang atu ini:

    Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang

    Panjang itu berapa lama pak? lha kalo orang-nya bosenan kayak sayah pripun?
    —————————-

    Kembali lagi pada diri mu, jika Nur merasa nyaman untuk marah-marah terus dan ga mau membina hubungan yang harmonis, tapi tetap ingin dianggap dewasa .. ya monggo Nur.

    Btw .. emang ada ya? orang yang matang suka marah-marah dan tidak suka hubungan jangka panjang??

  • goldfriend // Senin, 12 Mei, 2008 pada 17:54

    Saya kurang setuju dengan point ke-5 dari Eileen dan Sylvina di atas :

    Pertama,
    Hubungan interpersonal seperti apa yang dimaksud ? Apakah pacaran, pernikahan, dll ?

    Kedua,
    Apakah batasan “waktu relatif lama”, dan “konsisten dan harmonis” di atas ?

    Ketiga,
    Point 5 ini sangat aplikatif sementara yang 4 sebelumnya itu normatif. Karena bisa jadi letak masalah ketidakmampuan itu bukan terletak pada “maturity” tetapi pada “personality” alias adanya kecenderungan-kecenderungan untuk gangguan dan sulit membangun relasi dengan orang lain.

    Dan ada keberatan yang lain :)

    Menurut saya, malah lebih cocok kalau kategori-kategori kematangan/kedewasaan pribadi itu ditambah dengan hal-hal misalnya :

    - mampu merencanakan/mengarahkan/ melaksanakan maksud dan tujuan dalam hidupnya.
    - mampu berkomitmen pada suatu janji atau ikatan … dalam batas hal-hal yang berada diluar kemampuannya.
    - mampu bersikap terhadap sebuah perbedaan … dimana saja, baik itu dalam keluarga, kerja, sekolah, dll.
    - atau yang lainnya… ;)

    *sorry pak, kalau kepanjangan*
    *nelepon sylvina dulu…* :lol:
    —————————

    Terima kasih mas Fer sudah urun ilmu disini.

    Perbedaan pandangan dapat terjadi, karena ilustrasi pembuka postingan ini berbeda dengan paparan pendapat dari teman-teman di Experd. Saya mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari .. sedangkan pendapat Experd dilatarbelakangi oleh ‘order’ untuk mencari pemimpin yang memiliki kematangan pribadi.

    Tapi tidak mengapa .. pendapat siapa pun, menurut saya, patut untuk direnungkan. Bukan pada soal benar atau salah untuk mendiskripsikan tentang kematangan seseorang. Yang menurut saya, merupakan kebalikan dari sifat kekanak-kanakan atau childish.

  • Yoga // Senin, 12 Mei, 2008 pada 19:04

    Katanya didalam jiwa setiap laki-laki selalu ada sisi anak-anaknya maka dari itu jangan heran kalau mereka masih suka dengan segala bentuk permainan.

    *pasti Bang Eby udah merah duluan telinganya nih* :mrgreen:

    Tapi kenyataannya, didalam diri seorang wanita pun juga ada jiwa anak-anaknya contohnya saya yang masih suka game, perang-perangan (airsoft/paintball), kadang-kadang ke Dufan rame-rame nyobain mainan ekstrim, wah kagak ada matinya deh paling nggak sampai sekarang. Tapi itu tidak berarti saya tidak dewasa.

    Being mature is a process. Point-point yang disampaikan ibu Eileen tersebut benar. Yang banyak menempa kedewasaan saya adalah pengalaman hidup, lingkungan, dan kesadaran beribadah dimana itu semua adalah rentetan proses-proses yang mahal dan tak terulang.

    Wassalam :)
    —————————

    *telinga bang Eby membiru karena dingin*

    Kaya’nya .. senang bermain-main tidak ada hubungan dengan kelima persyaratan tersebut. Ga masalah koq, kalo suka main game .. tapi tetap bisa secara objektif untuk menghentikan permainan game, ketika ada tugas penting sebagai bentuk tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

    Ketika semua tugas sudah selesai, main game dapat dilanjutkan lagi. Dan ketika harus bersosialisasi dengan lingkungan, misalnya ada kondangan .. hentikan dulu main game .. well, itu menurut abang adalah tindakan yang dewasa.

    Jadi .. main game tidak identik dengan childish .. baru menjadi childish, ketika sedang main game ga mau diganggu. Tugas dan tanggungjawab terabaikan. Tidak mau bersosialisasi. Kerjaan dari pagi sampai malam, cuma main game mulu.

  • heryazwan // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 11:11

    Kematangan pribadi ini bisa nggak diterapkan untuk mengukur kematangan sebuah negara? Kalau ya, kayaknya negara kita masih childish kali ye?

    Atau mungkin sebagian masyarakatnya? Terutama dalam hal fanatisme. Lihat saja supporter bola, supporter partai anu, kyai itu, dsb.
    —————————

    Mungkin kalau digeneralisir, ada yang tersinggung kalo dibilang bangsa ini masih childish .. karena lain orang lain pendapat.

    Tapi kita bisa merasakan sendiri koq .. bagaimana sebuah negara harus bersikap. Ketika batas negaranya diambil negara lain, perusahaan penting diakuisisi pemodal asing dan sebagainya.

  • desmeli // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 14:39

    Tua itu pasti, dewasa pilihan ..

    Jadi menurut saya usia tidak menjamin kedewasaan seseorang pak :P, karena saya sudah bertemu orang-orang yang seperti Bapak sebutkan pada awal paragraf … heuheu :P
    —————————

    Dan penilaian mu terhadap orang-orang tersebut??

    Ya .. seperti kata iklan .. bahwa dewasa adalah pilihan.

  • goldfriend // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 18:09

    Hehehe … maaf Bang kalau saya kelihatan bersemangat. Memang beberapa kali saya sering berbeda pendapat dengan teman-teman dari Experd :)

    Kalau bicara tentang dewasa dan kedewasaan, saya jadi teringat dengan arti dan filosofi pendidikan yang sering dilupakan orang. Misalnya … orang sering lupa apa tujuan dari pendidikan. Padahal jawabannya sederhana : mendewasakan peserta didik.

    Dalam kata “dewasa”, sudah tercakup semua kualitas manusia … mulai dari kecerdasan, kematangan emosi, kematangan fisik, dll.

    Tapi apa pemimpin-pemimpin diatas sana tahu tentang arti pendidikan bagi kedewasaan ? :)
    —————————

    Fer .. abang senang kamu semangat. Abang suka kamu berbeda pendapat. Jadi ga perlu minta maaf hehehe :)

    Bagi abang … beda pendapat itu rahmat. Asal jangan ‘asal beda’ .. itulah kedewasaan. Yang menurut pendapat abang pribadi, cukup satu kalimat untuk mendeskripsikan tentang kedewasaan yaitu :

    Berani mengakui kebenaran dan mau mengalah untuk kebenaran.™

    Mengapa abang tekankan pada kebenaran? .. mudah-mudahan tahu apa yang abang maksud. Karena kalimat tersebut diatas sangat dalam .. dan membuat kita nyaman untuk meminta maaf atas kekeliruan sekiranya kebenaran itu datang.

    Abang sangat, sangat setuju dengan pendapat mu tentang dunia pendidikan .. memang seharusnya begitulah hasil dari pendidikan .. bukan ‘melahirkan’ manusia ‘robot’ tapi melahirkan manusia-manusia yang dewasa.

  • nurma // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 19:51

    :) Ah iya, ternyata saya memang masih “setengah matang”
    *telor ceplok kale..*

    Maksudnya … yah belum bener2 mateng gitu :mrgreen:
    *pulang sambil emut jempol*
    —————————

    Hahahaha :lol:
    *ngeliat nurma ngemut jempol*

    Belum mimik cucu ya?? hahaha .. btw, telor setengah mateng enak juga loh buat memulihkan stamina.

  • dwibasukiwss // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 20:59

    Merajuk kadang bukan berarti childish .. tapi terkadang artinya lagi sayang banget … :)
    *baru sampai di Ho Chi Minh City*
    —————————

    Benar Wi .. merajuk atau pundung sama orang yang kita cintai, itu artinya ingin diperhatikan lebih .. alias sayaaaaangggg banget :)

    Oya .. sudah nyoba Pho Hoa-nya Vietnam belom .. Wi, kalo sempat wisata kuliner, cerita-cerita ke abang ya .. ato ada yang bisa dikirim ke Balikpapan, abang juga ga nolak hahaha :)

    Btw .. sekalian honey moon ya?? ;)

  • achoey sang khilaf // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 9:30

    Kalo saya amat dewasa :lol:
    —————————

    Amat apa Amir ?? .. :lol:

  • Biyung Nana // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 15:42

    Sepertinya Nana belum cukup dewasa,

    Emosinya masih meletup-letup. Pengendalian emosinya masih kurang … apalagi kalo PMS bulanan dateng Huaaaa … parah :lol:

    *ngeles untuk point nomor 3* :D
    —————————-

    Tapi nomor 1, 2, 3 dan 5 sudah terpenuhi kan? ;)

  • natazya // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 17:36

    5. Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

    Masih juga usaha! :D
    ————————–

    Yups .. memang perlu waktu, namanya juga jangka panjang.

  • Yari NK // Rabu, 21 Mei, 2008 pada 10:22

    Huahahahaha…. kok saya baru tahu ada postingan ini…..

    Hayo…. pengin nyindir yaa?? :mrgreen:

    Kalo saya sering pundung ngga mas?? Sering ngga memperhatikan teman ya?? Sering ngga merhatiin mas Eby ya?? :mrgreen:

    Awas…. jawabannya nggak pakai ribet yaa! :evil:

  • Yari NK // Kamis, 22 Mei, 2008 pada 10:09

    Hmmmm … kenapa nih?? lagi pundung nih ceritanya??

    Yaa udah … silahkan deh berpundung2 seperti childish dalam tulisan ini … sekarang tahu kan … siapa yang childish, siapa yang nggak?? Siapa yang hanya cuma pandai ngomong bikin artikel tapi realitanya …

    Ah … udah deh … silahkan aja … aku nggak berhak ikut campur … selamat berpundung ria ya mas! ;)
    —————————

    Huahahahaha … kok saya baru tahu ada komentar ini …
    *copy paste komentar akang diatas* :mrgreen:

    Suer .. setelah mempostingkan tulisan tentang American Idol barusan, saya lihat ada komentar akang masuk, tapi koq di postingan childish?? bukan kah itu sudah beberapa hari yang lalu ??

    Ketika saya baca … eala, saya malah dibilang pundung :oops: … hahaha :lol: padahal saya baru tahu kalo akang kirim komentar disini, saat ini …

    Seingat saya, komentar terakhir akang itu ada di postingan saya yang disini … itu pun ditujukan buat mas Bin .. bukan buat saya .. ;)

    Jadi .. masih kekeh bilang saya pundung?? Ya gpp deh .. itung-itung amal hehehe :) … oya, akang baik-baik aja kan??

  • ratnarespati.com» Arsip Blog » Jangan coba-coba bunuh diri! // Kamis, 22 Mei, 2008 pada 19:39

    [...] Apa gara-gara saya perempuan kebanyakan atau apa. Yang pasti bukan karena Pre Menstrual Syndrome, karena saya masih aktif memberi ASI eksklusif buat bayi saya. Bukan pula baby blues, karena saya melahirkan udah lebih dari dua bulan. Ya… dasar sayanya aja kali yang childish. [...]

  • Yari NK // Jumat, 23 Mei, 2008 pada 1:01

    Kalau masalah percaya apa nggak, itu sama dengan masalah bohong atau nggak, nah itu urusan mas Eby dengan Yang Di Atas. Itu di luar kekuasaan saya dan juga manusia2 lainnya. Jadi itu bukan urusan saya. Namun yang penting bagi saya adalah apakah mas Eby datang dengan jawaban/argumentasi yang bodoh atau tidak!

    Nah, kebodohan (sorry agak kasar, tapi saya nggak bisa menemukan sinonim lain yang cocok) argumentasi Mas Eby ini adalah:

    satu, sepertinya terlalu absurd (bodoh) untuk mengatakan tidak melihat komentar saya yang masuk tanggal 21 lalu kecuali kalau mas Eby adalah seorang blogger pemula. Banyak kok indikasi komen saya masuk seperti di Recent Comments atau di Comment Dashboard atau bisa jadi di YM. Kemungkinannya sungguh kecil terlewatkan (kecuali kalau orangnya adidas*) ;) ). Kemungkinannya ada dua, mas Eby lagi pundung atau Mas Eby pura2 tidak memperhatikan agar terkesan tidak perlu perhatian, sebuah trik psikologis yang kuno dan klise ;)

    kedua, Mas Eby tidak berani menjawab pertanyaan saya di komen yang tanggal 21. Alasannya apa lagi?? Nggak kelihatan?? Lupa ngejawab?? atau buta huruf?? ;) Ya…. sudah….. udah nggak perlu jawaban lagi kok, dengan nggak dijawabnya pertanyaan saya pada kesempatan pertama, orang yang pandai sudah tahu jawabannya ;)

    Ketiga Toh dulu mas Eby juga pernah menyindir saya dan masih saya ingat dan simpan sindiran itu (diskrinsut dari blognya mas Eby sendiri)karena saya tahu suatu saat pasti mas Eby akan menarik perhatian menyindir saya lagi! ;)

    Ya udah mas, saya kan dulu pernah bilang waktu disindir mas Eby, kalau saya senang disindir2 sama mas Eby, saya nggak marah kan?? Malah saya ajak becanda. Lagian saya nanyanya di atas juga pakai becanda nggak serius 100%, biar yang lagi pundung dan pura2 jual mahal nggak terlalu stres ngejawabnya. ;)

    Ya udah, saya minta maaf kalau saya punya salah, dan alhamdulillah saya baik2 saja… thanks for asking and I hope you and yours are fit as a fiddle too. ;)

    *) adidas = aikyu di bawah dasar :mrgreen:
    ——————————

    *ngakak* :lol:

    Ternyata .. akang itu emosional ya orangnya .. benar koq kang, bahwa bohong atau tidak, jujur atau tidak, hanya Tuhan lah Yang Tahu, seperti hal-nya apa yang akang anggap kepada saya, apa yang ada dibenak akang tentang saya, hanya Allah lah Yang Maha Tahu.

    Terima kasih sudah mau mengatakan saya bodoh. Dan jujur, saya suka dengan merk Adidas. Dan faktanya — aikyu saya memang di bawah, buktinya .. saya terus belajar tapi ga mudeng-mudeng. Telmi kata orang sekarang. Lemot kata teman saya.

    Biarlah teman-teman lain menilai, apakah saya pundung apa tidak. Kalo iya .. ya gpp. Paling cuma dibilang childish hehehe :) .. saya mohon maaf kalo kang Yari merasa ga dianggap. Sorry, mungkin saya bukan seperti teman-teman kang Yari yang lain.

    Salam buat keluarga dan mas Bin ya.

  • Yari NK // Jumat, 23 Mei, 2008 pada 9:02

    Oh… memang saya emosional begitu? Orang saya hanya tertawa2 kok….. hehehe…. mana tunjukkan saya emosional?? Biarin deh orang lain yang menilai, saya hanya senang kok berdebat dan membawa argumentasi2 yang solid….

    Mungkin anda menganggap saya emosional karena mungkin anda sendiri yang emosional jadi anda melihat orang lain begitu walaupun di dalam blog dan di kopdat anda tertawa2 riang…

    Tapi sudahlah tidak apa2 kok ok….. saya tidak dianggap?? Memang saya merasa tidak dianggap oleh anda?? **ketawa ngakak** Memang ada tulisan saya yang begitu?? Justru anda yang merasa tidak diperhatikan sampai harus menyindir2 segala dan itu terbukti anda tidak menyangkal pada postingan terdahulu kalau anda telah menyindir saya dan juga tidak berani menjawab pertanyaan saya di atas.

    Berbicaralah dengan fakta dan bukti atau argumentasi yang baik, bukan dengan perasaan dan kira2. ;)

  • Yari NK // Jumat, 23 Mei, 2008 pada 9:16

    o iya yang ini ketinggalan….. :mrgreen:

    Saya hanya bertanya yang simpel kok seperti di komen saya yang tanggal 21.. yang katanya “tidak terdeteksi”

    Aneh… kok sekarang komenku bisa terdeteksi ;)

    Orang bertanya kok jawabannya lain!
    **ngakak** :lol:

Tinggalkan Komentar