Pernah bertemu dengan seseorang yang sudah berumur, tapi sering ngambek atau merajuk atau pundung?? Atau mempunyai atasan yang suka menyalahkan anak buahnya?? Atau seorang teman — yang kemana-mana — selalu ditemani oleh orang tuanya?? .. kalo ada atau pernah tahu, pasti kita berkomentar — dalam hati atau mengatakan langsung — bahwa orang tersebut childish banget atau ke-kanak-kanakan. Pertanyaannya adalah, mengapa sikap dewasa atau matang tidak sejalan dengan bertambahnya usia seseorang?
Bagi kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian untuk memasuki jenjang perkawinan, mempunyai penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua.
Namun — terutama — dalam situasi yang menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat meyadari atau menyaksikan bahwa respon individu sering menunjukkan ketidakdewasakan. Seperti yang aku ilustrasikan diawal postingan.
Apakah tingginya pendidikan dan kepintaran seseorang berkorelasi dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi di dalamnya dirinya secara berat sebelah? .. memang patut kita pertanyakan.
Dalam skala makro, ketidakmatangan seseorang sering terlihat pada ketidakberanian untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-’abuse’ kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antara manusia secara fair dan bertanggungjawab.
Menurut Eileen Rachman dan Sylvina Savitri dari Experd di harian Kompas edisi Sabtu 10 Mei 2008, dikatakan bahwa untuk mendefinisikan ‘maturitas’ atau ‘kematangan’ pribadi seseorang dapat dideskripsikan dalam lima persyaratan yaitu :
1. Berpikir objektif,
2. Berpikir positif,
3. Mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi,
4. Bertanggung jawab,
5. Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.
Bagaimana dengan kamu? apakah deskripsi diatas ada pada dirimu?














51 tanggapan so far ↓
cK // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 22:27
Wah … saya mungkin tengah-tengah. Antara dewasa dan childish.
Kadang saya bisa berpikir dewasa, tapi kadang juga bisa balik kayak anak-anak hehehe …
tergantung sikon.
—————————
Ersis Warmandyah Abbas // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 22:43
Biarin saja …
Pada dasarnya, setiap orang punya kodrat sendiri … justru dengan adanya orang yang childish kita dapat belajar … ambil hikmah untuk membangun diri, jangan risaukan kechildishan orang lain. Rebes.
—————————
AgusBin // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 23:08
Si akang sering bilang sama saya … kalo orang yang dewasa itu adalah orang yang berani menilai diri sendiri secara obyektif. Tidak melulu menilai orang lain.
Nah … sekarang saya mau dengar dulu dong sifat-sifat pak Eby sebelum pak Eby mengetahui sifat-sifat saya. Hehe .. Boleh kan?
—————————
Guh // Sabtu, 10 Mei, 2008 pada 23:14
Menurut tulisan di atas saya masih belum dewasa, karena keberanian masuk ke perkawinan termasuk ukuran kedewasaan.
Syukurlah dunia tetap akan baik-baik saja meski saya masih childish.
—————————
alex® // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 1:30
Wah .. pertanyaan sulit, Bang.
Maaf lho, saya pernah punya kenalan yang — entah karena banyak membaca dan kuliah di psikologi — kalau bicara dewaaaasaa banget.
Padahal belum 1/4 abad umurnya. Tapi kalau dia ngomong, bijak benar. Seakan semua di dunia ini akan baik-baik saja.
Tapi sejak saya melihat dia meledak dan bersikap kekanak-kanakan cuma karena dicueki oleh yang lain, respek saya pudar.
Saya sadar satu hal: waktu dan sikon juga menentukan kedewasaan.
Dan lebih tersadar lagi satu hal: sikap kenalan saya tak lain dari wishful thinking, dan bukan kedewasaan itu sendiri …
—————————-
rawkchitect // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 7:47
Wahh .. keliatannya saya bakal selamanya berpikir kek anak kecil ..
Yah … “simple tapi jujur” .. gak perlu pusing-pusing mikir .. klo saya rasa bener, saya lakukan ..
Klo ternyata itu salah, ya saya siap hadapi resikonya ..
—————————
NdaruAlqaz // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 13:29
Wah, kedewasaan kok ya ada deskripsinya, ada teorinya.
Sulit bang kalo ngomomg soal kedewasaan. Banyak orang yang mengaku udah dewasa dan bahkan sudah diakui orang lain kalo sudah dewasa, tapi masih kayak anak kecil.
Yang tahu kedewasaan kita adalah diri kita sendiri. Dengarkan kata hati terdalam apakah kita sudah dewasa. Kalo tak bisa dengar kata hati sendiri, gimana mo dewasa.
*aku ingin jadi anak kecil selamanya*
—————————-
aRuL // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 14:47
Kadang orang dewasa butuh kemanjaan …

tapi kalo keterusan yahh itu yang aneh
————————–
haniifa // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 16:08
Waahhhh bingung neeh ..
Baca-baca dulu deh !!
————————–
nurma // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 17:01
Wah … saya gimana ya pak?! mungkin akan lebih objektif jika orang lain yang menilai
Hmmmh … tegantung yang disebut “childish” itu yang bagaimana (kriteria-nya) sih …
Kalo dari ‘kesadaran’ saya pribadi … ada kalanya saya “childish” — menghindari terciptanya ’suasana’ tertentu misalnya — itupun pada kakak, ortu, atau adek saya. Tapi kalo sikonnya lagi dikampus, atau lagi rapat redaksi misalnya, masa mo ditemenin bokap sih?
Embarasing banget kan? masa masih ada orang yang kayak begitu?
—————————-
realylife // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 18:21
Saya termasuk ngga ya?
————————–
n0vri // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 20:01
At a certain moment, saya juga pernah bertingkah childish, Bang; terlepas setelah itu menyesal.
Semata karena saya — seperti postingan Abang kemarin — cuma manusia biasa …
—————————
AgusBin // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 20:32
Kalo saya sih … kalo lagi emosi, biasanya jadi childish … karena saya ga bisa berpikir jernih.
Tapi — menurut saya — itu masih dalam tahap normal kok … bahkan mungkin tiap orang pasti pernah childish. Bahkan saya yakin juga … bahwa orang-orang di Experd yang menulis tentang childish itu pasti pernah childish juga.
—————————
GR // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 21:17
Tubuh saya keliatan dewasa tapi sifat masih agak kekanak-kanakan. Soalnya sering suka berantem sama adek-adekku yang kecil-kecil itu tuh .. hee ..
—————————
john // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 21:51
Ini cukup sensitif juga,
Gimana dengan Paus Benediktus dan Paus Yohanes Paulus alm, yang sampai lanjut usianya gak berani menikah kah?
Gimana dengan Yesus Kristus dan murid-muridnya … bahkan Rasul Paulus yang tidak ada catatan mereka menikah, apakah mereka juga bisa dianggap tidak dewasa? trims.
—————————
nindityo // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 21:58
Wah saya jauh banget pak ..
Sewaktu baca artikel itu … saya juga langsung ngaca .. ternyata jauh. Cuma masalahnya ada yang bilang kalo saya begitu. Nah lho ..
Ternyata bisa dari banyak sisi orang dapat menilai kita. Mungkin untuk satu dua persoalan kita mumpuni tapi untuk jenis kasus yang lain, kita jauh dari mateng.
Yang jelas kita musti semakin mateng .. ya musti lebih banyak belajar sama bapak lah ..
—————————-
ManusiaSuper // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:00
Idem GUH …
*takut kawin*
—————————
alex® // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:30
Heh? Serius ini?

Ahahaha … jadi malu
Pake email yang buat YM saja, Bang
*wink-wink*
—————————-
coekma // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:36
Saya belum termasuk semuanya, tapi ada beberapa.
Sebenarnya relatif .. tergantung yang memandang dan menilai. Benar salah pun relatip, tergantung orangnya juga. Begini benar begitu salah atau begini salah begitu benar, huehehehe
—————————
hariadhi // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 22:57
Ngetawain saya, Bang? Hihihihihi
Ga lah .. saya orangnya jarang tersinggung, kok. Beda pendapat ya biasa aja.
Mungkin kelemahannya malah di poin “tidak mampu mengendalikan emosi”. Bukan berarti saya pemarah, tapi lebih ke “keliatan ga punya perasaan”, hehe …
—————————
reza // Minggu, 11 Mei, 2008 pada 23:17
Pertanyaan yang bagus bang … tapi sepertinya tidak perlu dijawab, tapi kita introspeksi diri kita sama-sama …
Introspeksi … mulai …!!!
*mode hening : ON*
—————————
hanggadamai // Senin, 12 Mei, 2008 pada 1:45
Oo proses menuju pikiran yang dewasa ya …
————————–
edratna // Senin, 12 Mei, 2008 pada 7:52
Di beberapa perusahaan, saat ini untuk menilai apakah seseorang mampu dinaikkan jabatannya, harus melalui program assessment center … bang Erander kalau dari Telkom pasti tahu hal ini.
Assessment center ini juga berguna untuk melihat kedalaman kompetensi seseorang, dan yang sulit adalah mengukur kemampuan soft kompetensinya. Yang ditulis Eileen Rahman di Kompas betul, bahwa bertambahnya umur, tak selalu sejalan dengan tingkat kematangan …
Kadang tingkatan itu hanya mandeg pada peran manager, dan tak bisa naik lagi pada peran General Manager.
Sebetulnya saya sudah lama ingin membuat postingan tentang soft kompetnsi ini, misalnya kompetensi apa yang dibutuhkan untuk manajer pemasaran, manager SDM, atau manager bisnis … yang semuanya berbeda, demikian juga kedalamannya.
—————————-
adipati kademangan // Senin, 12 Mei, 2008 pada 8:43
Pada beberapa kasus, pola pikir kekanak-kanakan sangat diperlukan. Khayalan dan imajinasi kanak-kanak sanggup mendobrak pola pikir linier orang dewasa.
Sebagai contoh … komunikasi GSM CDMA berawal dari imajinasi kanak-kanak untuk berhubungan jarak jauh. Bentuk mobil sekarang juga hasil dari daya kreasi orang dewasa yang “menjelma” menjadi kanak-kanak.
Kalo abang sendiri — waktu kecil — pernah nggak maen-maen keluar tanpa pake sandal .. istilahnya “nyeker”? … padahal, sekarang model terapi nginjak-nginjak batu di taman … istilahnya “nyeker juga” … mbayar lhoh.
Yang awalnya dari pemikiran kanak-kanak bisa menjadi problem solving for human beeing *halah* .. ini ngomongin apa sih, pemikiran anak-anak, ato sifat, ato sikap? kok saya jadi salah fokus gini sih??
-ini email saya bang-
————————–
anas // Senin, 12 Mei, 2008 pada 9:11
Kalo ngeliat hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya … kok saya keliatannya masih cildish juga ya
————————–
Donny Reza // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:07
Masih berusaha dan belum sepenuhnya dewasa
—————————
AgusBin // Senin, 12 Mei, 2008 pada 10:39
Kalo saya pak … suka pundung sama orang-orang yang saya sayangi.
Kalo sama orang yang biasa-biasa aja sih … jarang pundung justru. Tapi celakanya makin pundung biasanya makin dicuekin … akhirnya malah mencari perhatian! hahaha ..
Nasib deh! kayak gitu childish ya pak? biarin deh, egp.
—————————-
itikkecil // Senin, 12 Mei, 2008 pada 11:09
Soal pundung itu, saya melihat masih banyak di sekitar saya yang sudah tua bangka dan punya jabatan penting tapi masih suka pundung soal-soal sepele.
————————–
Jendral Bayut // Senin, 12 Mei, 2008 pada 12:02
Sayah juga masih pundungan …
Tapi kadang-kadang bisa dewasa juga sih — terutama kalo ada cewe cantik, sexy, dan bisa dikaryakan — jadi gimana yah …
————————–
nh18 // Senin, 12 Mei, 2008 pada 13:09
Yang jelas … Trainer manusia biasa … maunya objective dewasa mature dan yang sejenisnya … namun apa daya … mood kadang berulah …
But … Yang jelas kita harus turn our mind into positive thinking … Walaupun Trainer sadar ini bukan sesuatu yang mudah …
But bukan sesuatu yang mustahil bukan ??
Thanks pak Erander …
————————–
Rindu // Senin, 12 Mei, 2008 pada 14:13
Katanya … menjadi dewasa itu pilihan — mau dewasa atau tidak ..
saya sih merasa dewasa walaupun cengeng !! hahaha …
————————–
Alex Abdillah // Senin, 12 Mei, 2008 pada 16:38
Assalamu’alaikum
“konsisten dalam waktu yang relatif panjang”
Bahasa Al-Qur’an-nya adalah “Istiqomah” … inilah yang menjadi inti semuanya … dan ini pulalah yang ditekankan oleh Rasulullah, Istiqomah dalam kebaikan dan Istiqomah dalam ketaatan. Sampai ajal menjelang.
Moga kita bisa. Amin.
—————————-
indra kh // Senin, 12 Mei, 2008 pada 16:54
Sifat kekanak-kanakan pada setiap orang pasti ada. Tak terkecuali orang dewasa, mungkin level-nya ini yang berbeda. Bahkan saya melihat orang yang semakin sepuh seseorang kadang porsi pundung-nya kian bertambah.
Ini hanya hasil pengamatan saya, bisa juga keliru sih, pak.
—————————
am I mature? « nurma rachman // Senin, 12 Mei, 2008 pada 17:37
[...] 12 May 2008 by nurma Pertanyaannya dicomot dari sini: [...]
nurma // Senin, 12 Mei, 2008 pada 17:41
Wah pak, kalo persyaratan itu kudu:
Kayaknya saya belum “mature” deh pak, apalagi kalo jadwalnya ‘dateng’
Apalagi syarat yang atu ini:
Panjang itu berapa lama pak? lha kalo orang-nya bosenan kayak sayah pripun?
—————————-
goldfriend // Senin, 12 Mei, 2008 pada 17:54
Saya kurang setuju dengan point ke-5 dari Eileen dan Sylvina di atas :
Pertama,
Hubungan interpersonal seperti apa yang dimaksud ? Apakah pacaran, pernikahan, dll ?
Kedua,
Apakah batasan “waktu relatif lama”, dan “konsisten dan harmonis” di atas ?
Ketiga,
Point 5 ini sangat aplikatif sementara yang 4 sebelumnya itu normatif. Karena bisa jadi letak masalah ketidakmampuan itu bukan terletak pada “maturity” tetapi pada “personality” alias adanya kecenderungan-kecenderungan untuk gangguan dan sulit membangun relasi dengan orang lain.
Dan ada keberatan yang lain
Menurut saya, malah lebih cocok kalau kategori-kategori kematangan/kedewasaan pribadi itu ditambah dengan hal-hal misalnya :
- mampu merencanakan/mengarahkan/ melaksanakan maksud dan tujuan dalam hidupnya.
- mampu berkomitmen pada suatu janji atau ikatan … dalam batas hal-hal yang berada diluar kemampuannya.
- mampu bersikap terhadap sebuah perbedaan … dimana saja, baik itu dalam keluarga, kerja, sekolah, dll.
- atau yang lainnya…
*sorry pak, kalau kepanjangan*
*nelepon sylvina dulu…*
—————————
Yoga // Senin, 12 Mei, 2008 pada 19:04
Katanya didalam jiwa setiap laki-laki selalu ada sisi anak-anaknya maka dari itu jangan heran kalau mereka masih suka dengan segala bentuk permainan.
*pasti Bang Eby udah merah duluan telinganya nih*
Tapi kenyataannya, didalam diri seorang wanita pun juga ada jiwa anak-anaknya contohnya saya yang masih suka game, perang-perangan (airsoft/paintball), kadang-kadang ke Dufan rame-rame nyobain mainan ekstrim, wah kagak ada matinya deh paling nggak sampai sekarang. Tapi itu tidak berarti saya tidak dewasa.
Being mature is a process. Point-point yang disampaikan ibu Eileen tersebut benar. Yang banyak menempa kedewasaan saya adalah pengalaman hidup, lingkungan, dan kesadaran beribadah dimana itu semua adalah rentetan proses-proses yang mahal dan tak terulang.
Wassalam
—————————
heryazwan // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 11:11
Kematangan pribadi ini bisa nggak diterapkan untuk mengukur kematangan sebuah negara? Kalau ya, kayaknya negara kita masih childish kali ye?
Atau mungkin sebagian masyarakatnya? Terutama dalam hal fanatisme. Lihat saja supporter bola, supporter partai anu, kyai itu, dsb.
—————————
desmeli // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 14:39
Tua itu pasti, dewasa pilihan ..
Jadi menurut saya usia tidak menjamin kedewasaan seseorang pak :P, karena saya sudah bertemu orang-orang yang seperti Bapak sebutkan pada awal paragraf … heuheu
—————————
goldfriend // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 18:09
Hehehe … maaf Bang kalau saya kelihatan bersemangat. Memang beberapa kali saya sering berbeda pendapat dengan teman-teman dari Experd
Kalau bicara tentang dewasa dan kedewasaan, saya jadi teringat dengan arti dan filosofi pendidikan yang sering dilupakan orang. Misalnya … orang sering lupa apa tujuan dari pendidikan. Padahal jawabannya sederhana : mendewasakan peserta didik.
Dalam kata “dewasa”, sudah tercakup semua kualitas manusia … mulai dari kecerdasan, kematangan emosi, kematangan fisik, dll.
Tapi apa pemimpin-pemimpin diatas sana tahu tentang arti pendidikan bagi kedewasaan ?
—————————
nurma // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 19:51
*telor ceplok kale..*
Maksudnya … yah belum bener2 mateng gitu
*pulang sambil emut jempol*
—————————
dwibasukiwss // Selasa, 13 Mei, 2008 pada 20:59
Merajuk kadang bukan berarti childish .. tapi terkadang artinya lagi sayang banget …
*baru sampai di Ho Chi Minh City*
—————————
achoey sang khilaf // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 9:30
Kalo saya amat dewasa
—————————
Biyung Nana // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 15:42
Sepertinya Nana belum cukup dewasa,
Emosinya masih meletup-letup. Pengendalian emosinya masih kurang … apalagi kalo PMS bulanan dateng Huaaaa … parah
*ngeles untuk point nomor 3*
—————————-
natazya // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 17:36
5. Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.
Masih juga usaha!
————————–
Yari NK // Rabu, 21 Mei, 2008 pada 10:22
Huahahahaha…. kok saya baru tahu ada postingan ini…..
Hayo…. pengin nyindir yaa??
Kalo saya sering pundung ngga mas?? Sering ngga memperhatikan teman ya?? Sering ngga merhatiin mas Eby ya??
Awas…. jawabannya nggak pakai ribet yaa!
Yari NK // Kamis, 22 Mei, 2008 pada 10:09
Hmmmm … kenapa nih?? lagi pundung nih ceritanya??
Yaa udah … silahkan deh berpundung2 seperti childish dalam tulisan ini … sekarang tahu kan … siapa yang childish, siapa yang nggak?? Siapa yang hanya cuma pandai ngomong bikin artikel tapi realitanya …
Ah … udah deh … silahkan aja … aku nggak berhak ikut campur … selamat berpundung ria ya mas!
—————————
ratnarespati.com» Arsip Blog » Jangan coba-coba bunuh diri! // Kamis, 22 Mei, 2008 pada 19:39
[...] Apa gara-gara saya perempuan kebanyakan atau apa. Yang pasti bukan karena Pre Menstrual Syndrome, karena saya masih aktif memberi ASI eksklusif buat bayi saya. Bukan pula baby blues, karena saya melahirkan udah lebih dari dua bulan. Ya… dasar sayanya aja kali yang childish. [...]
Yari NK // Jumat, 23 Mei, 2008 pada 1:01
Kalau masalah percaya apa nggak, itu sama dengan masalah bohong atau nggak, nah itu urusan mas Eby dengan Yang Di Atas. Itu di luar kekuasaan saya dan juga manusia2 lainnya. Jadi itu bukan urusan saya. Namun yang penting bagi saya adalah apakah mas Eby datang dengan jawaban/argumentasi yang bodoh atau tidak!
Nah, kebodohan (sorry agak kasar, tapi saya nggak bisa menemukan sinonim lain yang cocok) argumentasi Mas Eby ini adalah:
satu, sepertinya terlalu absurd (bodoh) untuk mengatakan tidak melihat komentar saya yang masuk tanggal 21 lalu kecuali kalau mas Eby adalah seorang blogger pemula. Banyak kok indikasi komen saya masuk seperti di Recent Comments atau di Comment Dashboard atau bisa jadi di YM. Kemungkinannya sungguh kecil terlewatkan (kecuali kalau orangnya adidas*)
). Kemungkinannya ada dua, mas Eby lagi pundung atau Mas Eby pura2 tidak memperhatikan agar terkesan tidak perlu perhatian, sebuah trik psikologis yang kuno dan klise
kedua, Mas Eby tidak berani menjawab pertanyaan saya di komen yang tanggal 21. Alasannya apa lagi?? Nggak kelihatan?? Lupa ngejawab??
Ya…. sudah….. udah nggak perlu jawaban lagi kok, dengan nggak dijawabnya pertanyaan saya pada kesempatan pertama, orang yang pandai sudah tahu jawabannya
atau buta huruf??Ketiga Toh dulu mas Eby juga pernah menyindir saya dan masih saya ingat dan simpan sindiran itu (diskrinsut dari blognya mas Eby sendiri)karena saya tahu suatu saat pasti mas Eby akan
menarik perhatianmenyindir saya lagi!Ya udah mas, saya kan dulu pernah bilang waktu disindir mas Eby, kalau saya senang disindir2 sama mas Eby, saya nggak marah kan?? Malah saya ajak becanda. Lagian saya nanyanya di atas juga pakai becanda nggak serius 100%, biar yang lagi pundung
dan pura2 jual mahalnggak terlalu stres ngejawabnya.Ya udah, saya minta maaf kalau saya punya salah, dan alhamdulillah saya baik2 saja… thanks for asking and I hope you and yours are fit as a fiddle too.
*) adidas = aikyu di bawah dasar
——————————
Yari NK // Jumat, 23 Mei, 2008 pada 9:02
Oh… memang saya emosional begitu? Orang saya hanya tertawa2 kok….. hehehe…. mana tunjukkan saya emosional?? Biarin deh orang lain yang menilai, saya hanya senang kok berdebat dan membawa argumentasi2 yang solid….
Mungkin anda menganggap saya emosional karena mungkin anda sendiri yang emosional jadi anda melihat orang lain begitu walaupun di dalam blog dan
di kopdatanda tertawa2 riang…Tapi sudahlah tidak apa2 kok ok….. saya tidak dianggap?? Memang saya merasa tidak dianggap oleh anda?? **ketawa ngakak** Memang ada tulisan saya yang begitu?? Justru anda yang merasa tidak diperhatikan sampai harus menyindir2 segala dan itu terbukti anda tidak menyangkal pada postingan terdahulu kalau anda telah menyindir saya dan
juga tidak berani menjawab pertanyaan saya di atas.Berbicaralah dengan fakta dan bukti atau argumentasi yang baik, bukan dengan perasaan dan kira2.
Yari NK // Jumat, 23 Mei, 2008 pada 9:16
o iya yang ini ketinggalan…..
Saya hanya bertanya yang simpel kok seperti di komen saya yang tanggal 21.. yang katanya “tidak terdeteksi”
Aneh… kok sekarang komenku bisa terdeteksi
Orang bertanya kok jawabannya lain!
**ngakak**
Tinggalkan Komentar