KU LETAK KAN KATA DISINI

Perjalanan 14 Mei 1998

Rabu, 14 Mei, 2008 · & Komentar

blok.jpg

Pagi itu, aku tidak pergi ke kantor seperti biasanya .. tapi ke bandara Supadio Pontianak karena mau berangkat ke Jakarta. Besok — 15 Mei 1998 — aku akan mengikuti test TPA dan TOEFL yang diadakan oleh kantor pusat tempat ku bekerja. Tidak ada firasat apapun, ketika aku memilih first flight pagi itu. Hanya cuma satu alasan, supaya aku bisa tiba lebih awal dan memiliki waktu yang cukup untuk istirahat supaya keesokan harinya, stamina ku fit untuk mengikuti test.

Aku tiba di bandara Supadio tepat waktu. Setelah cek-in, aku menunggu sejenak diruang tunggu bandara untuk kemudian boarding, masuk ke badan pesawat Fokker 28. Penerbangan dari Pontianak ke Jakarta ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. Pagi itu, cuaca cerah .. penerbangan pun berlangsung lancar dan aman.

Mengingat acaranya cuma satu hari, aku cuma membawa travel bag berukuran kecil sehingga tidak perlu aku masukan ke bagasi pesawat. Begitu pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng .. aku bergegas turun dan langsung menuju pintu keluar tanpa perlu antri lagi menunggu bagasi seperti penumpang lainnya.

Begitu keluar dari pintu bandara .. aku merasa kan ‘kesenyapan’ yang tidak biasa. Aku cuma berpikir : “Ah, mungkin masih pagi” karena waktu masih sekitar jam 09:00 WIB dan aku merupakan penumpang pertama yang keluar dari balik pintu bandara.

Aku tidak perlu menunggu terlalu lama di bandara, karena sebuah taxi sudah menanti. Tanpa buang waktu, aku langsung masuk ke dalam taxi .. “Ke Slipi pak” kata ku pada pak supir dan beliau langsung tancap gas.

Pagi itu, suasana tol bandara tidak serame biasanya sehingga hanya dalam waktu singkat aku sudah keluar pintu tol Kapuk. Taxi kemudian mengambil jalur menanjak ke Pluit interchange. Astagfirullah .. dari ketinggian interchange tersebut, aku melihat — dipusat kota Jakarta — asap hitam dan tebal membumbung tinggi menghiasi angkasa.

Aku bertanya pada pak supir taxi, apakah peristiwa dua hari yang lalu dan kemarin masih berlanjut. Pak supir kemudian menginformasikan bahwa dibeberapa tempat, massa sudah mulai membakar bangunan. Ketika aku melewati Plaza Slipi Jaya, suasana didepannya adem ayem seperti tidak terjadi apa-apa dan lalu lintas lancar.

Menurut pak supir, bahwa massa masih terkonsentrasi di daerah kota, sehingga beberapa daerah Jakarta masih kondusif. Akhirnya sekitar jam 09:45 WIB aku tiba di Wisma Slipi, tempat peserta test menginap.

Setelah cek in, aku tanya ke bagian resepsionis, apakah peserta dari daerah lain sudah datang. Ternyata, aku adalah peserta pertama yang tiba di penginapan.

Setelah istirahat sebentar di kamar .. aku turun ke lobby, disitu suasana terlihat tegang. Sudah ada beberapa orang berkumpul di lobby. Aku segera bergabung. Baru aku ketahui, bahwa beberapa peserta sudah menghubungi wisma bahwa mereka tidak bisa keluar dari bandara karena jalanan terblokir.

Salah satu peserta yang baru tiba di wisma mengisahkan bahwa dia bisa tiba di wisma tak lama setelah aku. Peserta yang pesawatnya mendarat sekitar jam 10:00 WIB dapat dipastikan tidak dapat menembus barikade menuju kota. Masa sudah mulai ramai di depan wisma.

Makan siang saat itu berlangsung mencekam .. kami saling tukar menukar informasi karena masih banyak peserta yang tertahan di bandara. Sore hari, ketika aku sedang di balkon lantai 12, aku melihat asap hitam sudah mulai merata di beberapa titik kota Jakarta. Dan menjelang maghrib aku dapat kabar kalo Plaza Slipi Jaya — yang tadi pagi baru aku lewati — sudah terbakar.

Malam hari, suasana di wisma makin tak menentukan. Beberapa peserta yang semula tertahan di bandara, sudah ada yang tiba setelah mereka nekat menggunakan ojek motor, walaupun harus membayar sekitar Rp.200 ribu - Rp.250 ribu. Dan akhirnya, perusahaan memutuskan untuk menunda pelaksanaan test esok hari.

blok.jpg

Tanggal 14 Mei 2008, juga merupakan peringatan 60 tahun Hari Nakba atau ”hari bencana”, yakni percerai-beraian dan pengusiran warga Palestina dari tempat tinggal mereka setelah pecah perang Palestina tahun 1948. Inilah awal penjajahan Israel di tanah Palestina. Sementara bagi Israel, perang itu dianggap sebagai perang kemerdekaan yang menjadi awal berdirinya negara Israel.

UPDATE !!! 15 Mei 2008

B Herry Priyono Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta mengatakan pada tulisannya di Kompas edisi hari ini bahwa sangatlah ganjil ledakan kekerasan dalam skala kolosal seperti Mei 1998 terjadi pada waktu yang bersamaan.

Kekerasan berskala kolosal yang terjadi pada waktu bersamaan di seluruh Jakarta pun sudah amat sangat ganjil. Apalagi kekerasan tersebut meledak pada waktu bersamaan dalam skala seluas Jabotabek dan kota-kota lain. Istilah ”pada waktu bersamaan” merupakan kunci.

UPDATE !!! 16 Mei 2008

Beda lagi dengan tanggapan Minah — seorang buruh cuci — tentang reformasi ”Repormasi apaan, sik? Saya enggak ngerti,” kata wanita paruh baya tersebut. Jawaban itu ia berikan begitu saja saat mendapat pertanyaan tentang reformasi. Ia bahkan sama sekali tidak memiliki referensi tentang kosakata tersebut. Apalagi makna reformasi.

Baginya, tak ada perbedaan antara kehidupan sebelum dan setelah 10 tahun terakhir. Dalam arti, kondisi kehidupan tidak membaik. Yang ia rasakan saat ini justru perjuangan hidup menjadi lebih sulit. Penghasilannya sebagai buruh cuci sebesar Rp 750.000 sebulan tak banyak memberi arti.

Kategori: Hari yang kulalui
yang berkaitan: , ,

24 tanggapan so far ↓

  • cK // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 20:19

    Wew … membaca ini saya serasa bisa membayangkan yang terjadi saat itu.

    Saya jadi sedih sendiri, karena saya pribadi sama sekali tidak bisa mengingat kejadian-kejadian bersejarah tersebut … tepatnya, saya mungkin belum ada rasa peduli saat itu.

    Hanya mensyukuri libur sekolah dadakan dan sedikit simpati ketika melihat adanya berita kematian … :|
    —————————

    Dengan usia cK yang masih belia pada saat itu *halah, emang sekarang sudah tua* .. rasanya wajar koq, cK ga dapat mengingat kejadian tersebut.

    Sama halnya ketika tahun 1974, peristiwa Malari — Malapetaka 15 Januari .. abang juga masih kecil dan tidak dapat merasakan kegentingan saat itu.

    Yang abang ingat, hanya orang-orang dewasa yang berkumpul dan berdiskusi sehingga anak-anak terabaikan

  • Sawali Tuhusetya // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 20:23

    Peristiwa yang bener-bener menyentuh nurani dan emosi kita, pak Eby. Mudah-mudahan peristiwa traumatik 14 mei ‘98 itu tak terulang lagi, pak.
    ————————–

    Amin.

    Saya juga berdoa begitu pak .. hidup ini sudah susah, kalo ditambah dengan kejadian seperti itu lagi, rasa-rasanya hidup bertambah berat.

    Jika terjadi amuk massa, orang yang pertama kali menderita adalah masyarakat bawah. Karena mereka hidup dari pendapatan harian. Dengan terhentinya aktivitas ekonomi, itu artinya mereka tidak makan. Mereka tidak punya cadangan ekonomi yang cukup untuk bertahan.

    Kalau orang berduit .. mereka sudah punya cadangan ekonomi untuk berjaga-jaga jika kegiatan ekonomi terhenti dan ketika terjadi chaos, mereka tinggal kabur ke luar negeri.

  • reza // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 21:06

    Astagfirullah …

    Awalnya saya kaget ketika baca postingan ini. Saya pikir tahun 2008 :D .. makanya langsung konfirmasi.

    Ternyata … :D abis dah lama ga ke temu “seleb” blog :mrgreen:
    —————————

    Makanya .. kalo nikah, ngundang-ngundang seleb dong .. biar meriah dan ga salah baca lagi hahahaha :lol:

  • hanggadamai // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 21:49

    Itu kejadian hanya gara-gara orang yang anarkis yang gak pernah mikir dengan akal sehatnya …
    ————————–

    Boleh jadi mereka pake akal juga .. tapi untuk kepentingan yang berbeda hehehe :mrgreen:

  • danalingga // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 22:13

    Yup, cerita kelam yang semoga tidak pernah akan terjadi lagi.
    ————————–

    Amin.

    Semoga Allah selalu melindungi negara ini dan membuka kan hati bangsa ini untuk selalu mengikuti anjuran-Nya agar selamat dunia akhirat.

  • det // Rabu, 14 Mei, 2008 pada 23:48

    Hm … sebegitu mencekamkah, bang? serem banget ya sampe bakar-bakar gitu ..
    *baca judulnya, lupa tadi blom baca*

    Owalah … kirain itu kejadian hari ini, makanya sampe ada bakar-bakar begitu kok tadi ndak ada beritanya di tipi :mrgreen:

    Btw, hadiahnya sudah saya terima, bang
    thx …
    —————————

    Semoga hadiahnya bermanfaat ya pak.

  • aRuL // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 1:34

    Wah bang menyedihkan banget yakz …

    Tapi saya merasakan waktu masih SMP kejadian itu selalu diliput sama media.
    —————————

    Iya .. waktu itu, media sudah banyak meliputnya, tapi karena terjadi dibanyak tempat sehingga coverage liputannya kurang menyeluruh.

  • natazya // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 2:29

    Kalo ga salah … lagi di lantai 5 di sebuah gedung asrama di pesantren saya, dan lihat asap hitam dari jauh dan ketakutan langsung kangen orang tua …
    ————————–

    Orang tua mu juga mengkawatirkan dirimu saat itu.

    Saat itu, kami tertahan di wisma selama beberapa hari. Catering yang biasanya melayani peserta kesulitan menembus barikade di jalanan menuju wisma. Kami seperti terisolir ditengah ibukota :(

  • heryazwan // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 9:07

    Cerita yang menarik dari perspektif orang di luar Jakarta yang sedang berkunjung.

    Saya juga mengalami langsung kerusuhan pada tanggal 14 Mei. Pasukan bermotor trail dan berseragam hitam terlihat menjaga ruko-ruko yang sudah terbakar. Anehnya, mereka tidak melakukan apapun untuk mencegah.

    Orang-orang kesetanan mengangkuti barang-barang elektronik dari toko elektronik di Ciputat Plaza. Hingga beberapa tahun kemudian, toko ini tidak juga diperbaiki. Nggak tahu kalau sekarang gimana.

    Yang pasti … pengalaman rusuh tahun 14 Mei memang sudah diawali dari beberapa hari sebelumnya. Demo di depan UIN Ciputat juga dibubarkan dengan gas air mata. Pokoknya, jangan terulang lagi deh …

    Saat ini saya agak khawatir jika demo anti kenaikan BBM bisa memicu lagi keadaan chaos seperti 10 tahun lalu. Kita doakan mudah-mudahan tidak terjadi. Semoga elit kita tidak ada yang memancing di air keruh. Rakyat juga sudah sadar sepenuhnya bahwa chaos hanya membuat mereka sengsara. Salam
    —————————-

    Amin.

    Saya juga mengkhawatirkan hal tersebut, tapi .. insya Allah dengan doa, semoga kejadian tersebut tidak terjadi lagi. Karena saya prihatin dengan kita yang tidak tahu ‘pertarungan politik’ akhirnya ikut merasakannya.

    Semoga Allah membukakan hati para pemimpin kita, orang-orang ambisius untuk menjadi pemimpin, opportunities dan spekulan untuk tidak mempermainkan nasib rakyat ini.

  • fit // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 9:12

    Alhamdulillah … perjalanan lancar sampe Wisma Slipi, menegangkan sekali ya … telat dikit aja ceritanya udah lain ya Eb ..
    —————————

    Iya Fit .. semua itu karena Allah .. ketika mau membeli tiket, seperti ada yang membisikan agar mengambil first flight. Padahal niat sebelumnya mau berangkat dengan pesawat yang siang.

    Subhannallah .. walaupun sempat terkurung di wisma selama beberapa hari — karena dilarang oleh perusahaan untuk tidak kemana-mana selama keadaan masih belum kondusif — Eb dalam keadaan sehat.

  • ulan // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 10:31

    Waduh ketinggalan berita, di Jakarta ada apa sih??
    *goblok mode : ON*
    ————————–

    Di Jakarta ada Monas, busway, Dufan dan lain2 ;)

  • AgusBin // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 10:36

    Ah … penderitaan itu belum apa-apa dibandingkan penderitaan rakyat Irak yang berkepanjangan hingga kini ..

    Sayangnya … saya seperti biasa, hanya bisa berkata ‘oh kasian’ di depan layar tv sambil makan pisang goreng.
    —————————

    Ah .. belum apa-apa juga, jika dibanding dengan penderitaan rakyat di Afrika yang berlangsung sudah sejak lama .. apalagi alam mereka tidak se-kaya Irak.

    Alhamdulillah .. banyak blogger tidak hanya berkata ‘oh kasian’ .. tapi sudah banyak berbuat nyata seperti kang Harry, bu Evy, mbak Hanna, mas Anto, blogger Makasar, TuguPahlawan, Cahandong, Batagor dan lain sebagainya :)

    Mudah-mudahan mas Bin tergerak hatinya .. untuk membagi-bagikan pisang goreng gratis !!

    *syukur-syukur dapat tv gratis* :lol:

  • klikharry // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 10:52

    Semoga saja kejadian itu tak terulang kembali …
    ————————–

    Amin.

  • itikkecil // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 11:12

    Di Palembang juga menyeramkan bang … padahal, sebelumnya tidak pernah ada kejadian yang berbau ras di sini.

    Dari sanalah saya sadar … kalau semua orang itu sama dan sama-sama berhak untuk tinggal di sini.
    —————————

    Benar mbak .. kejadian tersebut menyadarkan kita semua, apakah kita masih berhak menyandang predikat sebagai bangsa yang beradab atau tidak ??

    Sulit untuk dijelaskan secara singkat, karena sangat komplek. Hingga saat sekarang pun, sudah beribu pendapat dan analisa untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

  • Rita // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 11:13

    Waktu itu … benar-benar mencekam, suasana tegang begitu terasa dimana-dimana .. waktu itu saya tinggal di Jakarta.

    Salam kenal mas …
    ————————–

    Salam kenal juga bu …

    Tapi bukan karena kejadian itu kan, sekarang ibu tidak tinggal di Jakarta lagi ?

  • edratna // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 11:56

    Pagi itu … saya duduk di kantor, tak lama telepon berdering, dari seorang teman yang kantornya di Jakarta Barat. Dia mengingatkan agar saya mulai memulangkan anak buah, terutama yang perempuan dan rumahnya jauh, karena di Jakarta Barat mulai ada bakar-bakaran.

    Saya telepon Direksi … beliau menganjurkan untuk menunggu. Tiap setengah jam, telepon dari teman-teman masuk … akhirnya, saya memulangkan anak buahku, kecuali saya, wakil saya dan dua staf yang kebetulan kost nya di daerah Bendungan Hilir … belakang kantor.

    Saya juga telepon sekolah anak saya, dan meninggalkan pesan, agar anak-anak dijaga jangan boleh pulang jika keadaan darurat.

    Staf perempuan saya pulang ke Bekasi, ditanya suaminya — yang kebetulan baru kena PHK, jadi masih menganggur — dia cuma bilang disuruh pulang bos.

    Suaminya ambil motor dan melihat ke daerah Bekasi Barat dan Klender … setelah pulang, bilang ke isterinya … “Untung bos mu segera menyuruh pulang, kalau tidak, kamu kejebak di kantor.”
    —————————

    Boss yang baik, yang mengerti akan situasi dan kondisi. Salut.

    Teman-teman ku yang berkantor di bilangan Sudirman, ketika sudah tidak bisa pulang ke rumah mereka — terutama yang jauh, akhirnya ‘numpang nginap’ di Wisma Slipi. Sehingga penginapan menjadi penampungan sementara.

  • AgusBin // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 13:09

    Ini konteksnya adalah peristiwa makro dan bukan mikro … walaupun mungkin ada hubungannya.

    Kalo perbuatan kebajikan mikro .. biarlah Allah yang menilai. Yang terlihat kebajikannya belum tentu dapat pahala lebih ya ga? Hehe..

    O iya … di Afrika beda dengan di Irak … kalo di Afrika penyebabnya lebih kepada alam … kalo Irak, lebih pada perbuatan manusia. Jadi ga bisa disamakan.
    —————————

    Setuju, apalagi kalo kebajikannya yang terlihat itu tidak dilakukan dengan keikhlasan :mrgreen:

    Oh .. jadi maksudnya lebih pada akibat perbuatan manusia, bukan pada penderitaannya? .. dimana penderitaan yang disebabkan oleh alam bisa dimaklumi ya? Oke, oke, di copy :)

  • indra kh // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 13:54

    Horor pak membayangkannya :(
    Semoga itu hanya kejadian sekali-kalinya di negeri ini ..
    ————————–

    Amin.

  • AgusBin // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 18:41

    Sebelumnya maaf ya pak … saya bukan mo menyerang opini pak Eby, tapi saya lagi senang berdebat. Saya kan udah jadi muridnya si akang hehe ..

    Tapi … bagaimanapun juga, saya harus tetap sopan, apalagi dengan yang lebih tua. Jadi harap dipersori kalo saya jadi agak ngotot.

    Begini pak … jelas beda, penderitaan yang disebabkan alam dengan yang disebabkan manusia. Kalo yang disebabkan alam tentu lebih tidak bisa dicegah, sedangkan yang disebabkan manusia tentu bisa dicegah.

    Andaikan semua fihak bisa bertindak bijaksana … lagipula keadaan Afrika sekarang jauh lebih baik dibandingkan kelaparan 20 tahun yang lalu. Apa pak Eby tidak tahu tentang itu? hehe ..
    —————————

    Menurut saya, berdebat itu bagus. Soal sopan santun, tidak hanya pada saat berdebat dan hanya untuk orang yang lebih tua. Kapan pun … kita harus sopan.

    Berdebat — menurut saya — bukan pada esensi sopan atau tidak, tapi pada pemahaman. Bukankah karena pemahaman berbeda, debat pun timbul ?? .. bahkan pada pemahaman yang sama pun, debat juga bisa ada.

    Hanya saja, debat sering kali ‘memaksakan’ pemahaman kita pada orang lain. Ketika orang tersebut — kita nilai — memiliki ‘kapasitas’ yang lebih rendah, kita cenderung untuk ‘melecehkan’ orang tersebut.

    Debat yang baik, adalah bagaimana membuat orang lain menerima pandangan kita tanpa mereka merasa dilecehkan. Tidak gampang memang. Saya juga sering terjebak dengan situasi seperti itu.

    Oleh karena itu, saya selalu berhati-hati dalam berdebat, walaupun tidak menjamin — kalo sudah ‘esmosi’ — sikap untuk menggunakan kata-kata yang tidak pas, bisa terjadi. Tergantung suasana hati, mungkin.

    Soal Afrika … memang secara kasat mata — saya melihat di American Idol Give Back — sudah lebih baik. Sayang saya tidak memiliki data. Tapi yang namanya menderita, tetap sama … tidak peduli apakah karena alam atau karena disiksa oleh orang.

    Mungkin yang dapat menjawab secara pas adalah orang yang pernah menderita. Jadi — insya Allah — akan tahu persis apa yang dinamakan menderita itu. Seperti kata mas Bin, boleh jadi, kita — yang belum pernah menderita — hanya bisa bilang ‘oh kasihan’ ..

    Peace !!!

  • andygoblin // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 19:27

    AYO LAH LIAT SITUS: Axxyc.com
    (Komunitas Indo, ga perlu register)

    ————————–

    Ojo dipokso-pokso …
    *jadi ingat iklan layanan masyarakat*

  • RIRI SATRIA // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 20:56

    Peristiwa ini memang menyakitkan.

    Saya melihat sendiri kejadian bakar-bakaran di depan mata saya, bagaimana Gramedia Matraman dijarah …

    Buat saya pribadi, lebih menyakitkan … karena 14 Mei adalah hari ultah saya … waduh …

    Salam kenal Pak ..
    —————————

    Salam kenal & selamat ulang tahun ya :)

    Mudah-mudahan tidak menjadi trauma ya Ri .. semoga bangsa ini semakin ‘dewasa’ dan mau belajar dari tragedi tersebut.

  • dwibasukiwss // Kamis, 15 Mei, 2008 pada 22:21

    Waktu itu di Surabaya, 2 hal yang paling saya ingat …

    Pulang sekolah … mau main ke Gramedia, lagi naik angkot ke Basuki Rachmat, sampai depan Jalan Pemuda, angkotnya balik arah … hohoho ternyata di depan ada mahasiswa konvoi besar-besaran …

    Trus yang kedua … waktu itu emang lagi musim sekolah pulang pagi, angkotnya papasan ama tank di jalan raya …

    Trus yang ke tiga, waktu itu jamannya jambret, copet and the gank berkuasa deh kayaknya, ada ibu-ibu naik angkot kalung-nya ditarik dari belakang … kok dari tadi ceritanya angkot melulu ya? …

    Oia waktu itu angkot 300 rupiah. Gak tau sekarang, angkot di Surabaya berapaan …

    *barusan nonton Water Puppet di Hanoi … besok ke Halong Bay* :)
    —————————–

    Katanya dua hal, koq malah jadi 3 ?? :) bonus ya??

    Kalo ga salah, ongkos angkot sudah 2.500 rupiah gitu deh … wah, asik ya nonton wayang air. Kalo sedang berada di Vietnam, kunjungan wajib memang harus nonton itu. Abang tahunya dari liputan di majalah Intisari :)

    *sambil membayangkan wayang di atas air*

  • Yari NK // Jumat, 16 Mei, 2008 pada 8:07

    @AgusBin

    Huahaha…. binbin…. binbin… mbok ya nyari topik debat yang agak-agak gimana gitu…. ya kalo begini nggak bakalan ketemu dasarnya juga.

    Penderitaan mau dibilang sama atau nggak, ya terserah masing2 orang bin. Kalau orang melihatnya secara sederhana maka sah2 aja dia bilang sama, kalau kita melihatnya dengan berbagai ‘parameter’ yang lebih kompleks tentu berbeda. Sama seperti demam, kalau orang awam melihatnya cuma sebatas demamnya saja, semua demam dianggap sama, kalau seorang dokter melihat demam adalah gejala dari kemungkinan beberapa penyakit yang berbeda, bisa flu, cacar air, demam berdarah, dan sebagainya……

    Ok… Bin…. kamu di sini berdiri sendiri yaa…. jangan bawa nama2 orang! ;)

  • Bram // Rabu, 21 Mei, 2008 pada 14:58

    Semoga tidak pernah terjadi lagi di Indonesia.
    ————————–

    Amin.

Tinggalkan Komentar