Jika melihat perjalanan waktu seratus tahun, tentu suatu rentang waktu yang cukup lama. Segala kejadian dapat terjadi dalam dimensi waktu tersebut. Apa yang bisa kita isi dan perbuat dalam waktu seratus tahun. Sementara, usia manusia tidak semua bisa mencapai seratus tahun. Kita sendiri, baru dapat ‘berbuat maksimal’ ketika dalam usia produktif. Karena 10 tahun pertama, kita masih kecil .. dan 10 tahun terakhir, mungkin sudah senja dan pensiun .. bersyukurlah kalo sejak lahir hingga meninggal .. kita bisa memberikan hal yang maksimal bagi kehidupan ini.





Makanya, Pak Eby … saya setuju kalau kaum muda kita harus menjadi motor perubahan, sementara yang tua memberikan support, dukungan, dan doa.
Tanpa sinergi antara yang muda dan yang tua *halah sok tahu* rentang usia seabad tak akan banyak maknanya.
—————————
Memberikan ke siapa mas??
————————–
Hhmm … ini jadi memotivasi saya agar ‘berbuat sesuatu’ selagi masih diberi kesempatan ..
Semoga saja semua penerus bangsa ini mampu menghasilkan ’sesuatu’.
*berdoa*
—————————
Lebih baik hidup sebentar tapi memberikan manfaat buat orang banyak daripada hidup lama tapi cuma mengotori dunia saja
————————–
Jaman dulu umur manusia jauh lebih panjang dari manusia sekarang, kesempatan untuk berkarya dan memperbaiki diri jauh lebih luas.
Dengan keterbatasan ini, mestinya kita menyadari untuk hidup lebih produktif sampai meninggal dan bersinergi dengan yang lain kalau dijabarkan kira-kira sama dengan komen Pak Sawali di atas.
—————————
100 tahun kemana?
Wallahualam … siapa tahu insyaAllah saya dikasih umur panjang hehehe … ngeri juga ya apa enaknya jadi nenek-nenek setua itu sendirian? apa ada teman ngeblog yang sepantaran?
Komentar seriusnya udah diwakili teman-teman yang lain kelihatannya. Pokoknya pegang prinsip yang diajarkan nabi, setelah selesai satu urusan mulailah urusan yang lain, jadi seorang muslim itu eksis kalo ia bisa berkarya terus menerus.
—————————–
Semoga Indonesia bangkit dari keterpurukan dan terus maju ..
Hidup Indonesia!!
—————————
100 tahun bukanlah waktu yang singkat, kita bisa melakukan banyak hal dalam jangka waktu sepanjang itu. Keterpurukan terjadi karena kemalasan yang terjadi karena hanya mau gampangnya saja. Itukah yang kita inginkan?
Marilah kita merenung sejenak atas apa yang telah kita lakukan. 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, 63 tahun Indonesia Merdeka dan 10 tahun Reformasi.
Apa dampak langsung dan tidak langsungnya terhadap kita?
—————————-
Belajar, bekerja dan menyumbangkan buah pikiran positif kita untuk Indonesia. Ayo Bangkit dari keterpurukan!!!
—————————
Wah ya juga ya!?
Tapi omong-omong … selama 100 tahun kebangkitan nasional, tapi sampai sekarang, menurut saya Indonesia belum sepenuhnya bangkit. Buktinya saja kedudukan Indonesia di mata internasional semakin terpuruk saja.
—————————–
100 tahun kemana??
Tahun ‘70-an Presiden Korsel Park Jung He ke Aceh … dia lihat ayat Qur’an di sebelah Masjid Baiturrahman: “Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim”
Beliau bertanya: “artinya apa?”,
“Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri”. Jadilah ayat itu dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan slogan resmi pemerintah;
“Tuhan tidak mengubah keadaan Korea Selatan, sampai rakyat Korea yang mengubah keadaannya sendiri”. Padahal hanya satu ayat tapi luar biasa hasilnya sekarang …
Informasi di atas saya dapat dari ustadz Anis Matta ..
——————————
@ comment #11
Mbak Hanna Oke deh!
Salam
Ya .. paling tidak, berusaha mulai berubah lebih baik dari hari ke hari.
Tapi 100 tahun Indonesia, apa ya, jutaan anak masih putus sekolah, kemiskinan yang makin meningkat, ah entahlah. Hadapi hidup dengan kelapangan dan keinginan untuk maju, trims serasa diingatkan
—————————
100 tahun = 1.200 bulan = 36.500 hari = 876.000 jam
wawwww,….. mari kembali ke jalan yang lurus
————————–
100 tahun sudah kebangkitan berjalan. Berjalan kemana ? Lhah kok malah tampak seperti jalan di tempat ato malah lebih parah “JALAN MUNDUR”.
Dulu … pelopor kebangkitan mempunyai cita-cita untuk mencerdaskan bangsa, tetapi apa yang dihasilkan sekarang ? sekolah negeri semakin tidak terurus, bahkan diantaranya hampir roboh. Sedangkan sekolah swasta biayanya menembus langit.
Setelah 100 tahun berjalan, saya sangat salut bagi mereka yang masih mempunyai mimpi dan cita-cita untuk memajukan bangsa. Disaat orang sudah berputus asa dengan keadaan, lhah kok ndilalah masih ada juga orang yang bermimpi untuk memajukan bangsa.
—————————–
100 Tahun ya?
Entah saya yang kurang memperhatikan atau bagaimana, saya seringkali nggak terlalu peduli dengan perayaan-perayaan semacam itu.
Bagi saya, ironis … ketika perayaan 100 tahun kebangkitan bangsa yang disiarkan di tv-tv itu malah cuma buang-buang uang dan bikin kaya artis.
Meskipun para artis sih emang dapat duitnya dari situ …
—————————
Perubahan adalah tetap, sejarah hanyalah perbedaan ruang dan waktu, isinya sama, lha wong kita dari dulu juga sejarahnya seperti ini, ya … mudah-mudahan ada kondisi yang lebih baik, Amin !
————————–
Buat saya yang penting berbuat baik saja dulu … baik dalam segala urusan dunia dan akhirat. Mulai detik ini harus menjadi lebih baik dan baik.
—————————
Sebenarnya peluang untuk bangsa ini bangkit kembali sangatlah besar, karena bangsa ini terdiri dari bangsa² yang tangguh dan pantang menyerah, tinggal bagaimana kita sebagai kaum muda menyikapinya, namun yang jadi persoalan bagi bangsa ini adalah tidak adanya kepercaya dirian dari kaum mudanya sendiri, mereka “atau kita” terlalu sering bersikap pesimis, silau dengan kebesaran negri sebrang, tanpa menyadari bahwa masih besar potensi yang di miliki oleh bangsa kita sendiri.
Bayangkan jika kaum muda negri ini mau bersatu menyatukan pendapat, visi dan misi memajukan negri tercinta ini, tak akan membutuhkan waktu lama bagi negri ini untuk mengejar ketinggalannya, oleh karna itu mulai lah kita benahi negri ini, kita coba belajar bertanggung jawab pada bangsa ini, karna hanya itu yang dibutuhkannya …
————————–