erander

100 tahun kemana?

In Begini menurutku, Hari yang kulalui, Kata yang ku tuliskan, Keheningan jiwa, Ku kutip kata on Selasa, 20 Mei, 2008 at 22:52

blok.jpg

Jika melihat perjalanan waktu seratus tahun, tentu suatu rentang waktu yang cukup lama. Segala kejadian dapat terjadi dalam dimensi waktu tersebut. Apa yang bisa kita isi dan perbuat dalam waktu seratus tahun. Sementara, usia manusia tidak semua bisa mencapai seratus tahun. Kita sendiri, baru dapat ‘berbuat maksimal’ ketika dalam usia produktif. Karena 10 tahun pertama, kita masih kecil .. dan 10 tahun terakhir, mungkin sudah senja dan pensiun .. bersyukurlah kalo sejak lahir hingga meninggal .. kita bisa memberikan hal yang maksimal bagi kehidupan ini.

  1. Makanya, Pak Eby … saya setuju kalau kaum muda kita harus menjadi motor perubahan, sementara yang tua memberikan support, dukungan, dan doa.

    Tanpa sinergi antara yang muda dan yang tua *halah sok tahu* rentang usia seabad tak akan banyak maknanya.
    —————————

    Itulah yang ingin saya sampaikan dalam dua postingan saya terakhir ini pak .. yang muda harus sadar untuk memberi makna dalam kehidupan ini agar menjadi berguna untuk nusa dan bangsa.

    Yang tua, juga harus membimbing pemuda agar tidak salah arah. Agar meneruskan tongkat estafet cita-cita luhur pertiwi untuk menuju masyarakat yang kita inginkan bersama. Karena sebentar lagi, usia kita usai.

  2. Memberikan ke siapa mas??
    ————————–

    Pertanyaan bagus .. jika mbak Ulan punya kekuatan lebih untuk menolong orang lain dan negara tercinta, mengapa tidak?

    Tapi .. yang — mungkin — paling mudah untuk kita lakukan adalah memberi arti pada diri kita sendiri agar tidak menjadi beban bagi orang tua, keluarga, teman, masyarakat dan negara.

    Jika ‘kehadiran’ kita tidak menjadi beban maka itu sudah memberi arti pada kehidupan mu dan orang lain.

  3. Hhmm … ini jadi memotivasi saya agar ‘berbuat sesuatu’ selagi masih diberi kesempatan .. :-?

    Semoga saja semua penerus bangsa ini mampu menghasilkan ’sesuatu’.

    *berdoa*
    —————————

    Benar banget cK .. karena kesempatan bisa datang berulang-ulang selama hayat masih dikandung badan.

    Kesempatan baru benar-benar tidak ada, ketika kita sudah menghadap-Nya .. jadi, memang benar, saat inilah, saat masih ada nafas, buru-buru memberi arti pada kehidupan.

  4. Lebih baik hidup sebentar tapi memberikan manfaat buat orang banyak daripada hidup lama tapi cuma mengotori dunia saja :D
    ————————–

    Sangat mengena sekali mbak ..
    *amplus*

  5. Jaman dulu umur manusia jauh lebih panjang dari manusia sekarang, kesempatan untuk berkarya dan memperbaiki diri jauh lebih luas.

    Dengan keterbatasan ini, mestinya kita menyadari untuk hidup lebih produktif sampai meninggal dan bersinergi dengan yang lain kalau dijabarkan kira-kira sama dengan komen Pak Sawali di atas. :)
    —————————

    Masalahnya .. apakah kita sadar atau tidak. Saya cuma kawatir .. kalau peringatan hanya seremoni belaka .. untuk selanjutnya dilupakan dan kita kembali pada ‘tabiat’ masa lalu lagi.

  6. 100 tahun kemana?

    Wallahualam … siapa tahu insyaAllah saya dikasih umur panjang hehehe … ngeri juga ya apa enaknya jadi nenek-nenek setua itu sendirian? apa ada teman ngeblog yang sepantaran? :mrgreen:

    Komentar seriusnya udah diwakili teman-teman yang lain kelihatannya. Pokoknya pegang prinsip yang diajarkan nabi, setelah selesai satu urusan mulailah urusan yang lain, jadi seorang muslim itu eksis kalo ia bisa berkarya terus menerus.
    —————————–

    *ngakak* hahaha :lol:

    *ngebayangin Yoga nge-blog diusia 100 tahun*

  7. Semoga Indonesia bangkit dari keterpurukan dan terus maju ..

    Hidup Indonesia!!
    —————————

    Dan itu baru dapat terwujud, jika saya, anda dan kita semua bahu membahu memberikan andil buat kemajuan bangsa ini. Semoga.

  8. 100 tahun bukanlah waktu yang singkat, kita bisa melakukan banyak hal dalam jangka waktu sepanjang itu. Keterpurukan terjadi karena kemalasan yang terjadi karena hanya mau gampangnya saja. Itukah yang kita inginkan?

    Marilah kita merenung sejenak atas apa yang telah kita lakukan. 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, 63 tahun Indonesia Merdeka dan 10 tahun Reformasi.

    Apa dampak langsung dan tidak langsungnya terhadap kita?
    —————————-

    Soal ‘anggapan’ kemalasan bangsa ini sangat debatable .. karena beberapa kali sudah dibahas dalam blog ini, tentang petani yang pagi-pagi buta sudah turun ke sawah .. atau para pedagang sayur yang sudah ada dipasar ketika kita masih terlelap tidur.

    Saya sering sedih, jika bangsa ini dianggap pemalas .. padahal setiap hari saya melihat begitu banyak yang rajin .. hanya saja, jenis pekerjaannya seperti pembantu, buruh, tukang bangunan, petani, penjual sayuran dan sebagainya.

  9. Belajar, bekerja dan menyumbangkan buah pikiran positif kita untuk Indonesia. Ayo Bangkit dari keterpurukan!!!
    —————————

    Setuju .. belajar adalah kunci dari keberhasilan. Bukankah, kebangkitan nasional dimulai dari pembelajaran?

  10. Wah ya juga ya!?

    Tapi omong-omong … selama 100 tahun kebangkitan nasional, tapi sampai sekarang, menurut saya Indonesia belum sepenuhnya bangkit. Buktinya saja kedudukan Indonesia di mata internasional semakin terpuruk saja.
    —————————–

    Mungkin kursinya sudah reot pak — maklum sudah 100 tahun .. sehingga duduknya jadi gampang ngelongsor hehehe :mrgreen:

  11. 100 tahun kemana??

    Tahun ‘70-an Presiden Korsel Park Jung He ke Aceh … dia lihat ayat Qur’an di sebelah Masjid Baiturrahman: “Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim”

    Beliau bertanya: “artinya apa?”,

    “Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri”. Jadilah ayat itu dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan slogan resmi pemerintah;

    “Tuhan tidak mengubah keadaan Korea Selatan, sampai rakyat Korea yang mengubah keadaannya sendiri”. Padahal hanya satu ayat tapi luar biasa hasilnya sekarang …

    Informasi di atas saya dapat dari ustadz Anis Matta ..
    ——————————

    Kalo soal slogan, rasa-rasanya bangsa ini tidak pernah kering dengan slogan. Hanya saja, implementasinya yang …
    *tau ah gelap hehehe* :mrgreen:

  12. @ comment #11
    Mbak Hanna Oke deh!

  13. Salam

    Ya .. paling tidak, berusaha mulai berubah lebih baik dari hari ke hari.

    Tapi 100 tahun Indonesia, apa ya, jutaan anak masih putus sekolah, kemiskinan yang makin meningkat, ah entahlah. Hadapi hidup dengan kelapangan dan keinginan untuk maju, trims serasa diingatkan :)
    —————————

    Saya jadi ingat pada ide seorang teman, bagaimana kalo 1 orang Indonesia yang mampu menolong 1 orang Indonesia yang kurang mampu. Hmmm … mungkin ide-nya terlalu utopis ya? tapi bukan tidak mungkin.

  14. 100 tahun = 1.200 bulan = 36.500 hari = 876.000 jam
    wawwww,….. mari kembali ke jalan yang lurus
    ————————–

    Kaya’nya lebih dari 36.500 hari deh .. secara ada beberapa kali tahun kabisat yang isinya 366 hari selama 100 tahun tersebut hehehe :) .. jadi kembalilah ke jalan yang lurus :mrgreen:

  15. 100 tahun sudah kebangkitan berjalan. Berjalan kemana ? Lhah kok malah tampak seperti jalan di tempat ato malah lebih parah “JALAN MUNDUR”.

    Dulu … pelopor kebangkitan mempunyai cita-cita untuk mencerdaskan bangsa, tetapi apa yang dihasilkan sekarang ? sekolah negeri semakin tidak terurus, bahkan diantaranya hampir roboh. Sedangkan sekolah swasta biayanya menembus langit.

    Setelah 100 tahun berjalan, saya sangat salut bagi mereka yang masih mempunyai mimpi dan cita-cita untuk memajukan bangsa. Disaat orang sudah berputus asa dengan keadaan, lhah kok ndilalah masih ada juga orang yang bermimpi untuk memajukan bangsa.
    —————————–

    Itulah keseimbangan hidup. Ada yang bermimpi, ada yang berputus asa. Mudah-mudahan orang yang berputus asa jumlahnya sangat sedikit di negeri ini :mrgreen:

  16. 100 Tahun ya?

    Entah saya yang kurang memperhatikan atau bagaimana, saya seringkali nggak terlalu peduli dengan perayaan-perayaan semacam itu.

    Bagi saya, ironis … ketika perayaan 100 tahun kebangkitan bangsa yang disiarkan di tv-tv itu malah cuma buang-buang uang dan bikin kaya artis.

    Meskipun para artis sih emang dapat duitnya dari situ … :D
    —————————

    Pernah juga, seorang teman menggugat segala macam perayaan dan hura-hura seperti itu, tapi ada yang menjawab bahwa walaupun kita miskin, kita tetap perlu hiburan untuk melupakan sejenak duka lara nestapa .. ah, aya-aya wae :)

    *jadi ingat film India*

  17. Perubahan adalah tetap, sejarah hanyalah perbedaan ruang dan waktu, isinya sama, lha wong kita dari dulu juga sejarahnya seperti ini, ya … mudah-mudahan ada kondisi yang lebih baik, Amin !
    ————————–

    Sebagai bangsa terjajah ?? :(

  18. Buat saya yang penting berbuat baik saja dulu … baik dalam segala urusan dunia dan akhirat. Mulai detik ini harus menjadi lebih baik dan baik.
    —————————

    Kagum saya membacanya .. benar banget mbak .. jika semua rakyat Indonesia melakukan hal ‘kecil’ tersebut .. saya yakin .. Indonesia akan tentram, damai dan nyaman buat ditinggali.

    Ga ada tidak kejahatan. Semua orang berlomba² untuk berbuat kebaikan. Semua orang berbuat yang baik² .. wah nikmat sekali membayangkannya ya mbak :mrgreen:

  19. Sebenarnya peluang untuk bangsa ini bangkit kembali sangatlah besar, karena bangsa ini terdiri dari bangsa² yang tangguh dan pantang menyerah, tinggal bagaimana kita sebagai kaum muda menyikapinya, namun yang jadi persoalan bagi bangsa ini adalah tidak adanya kepercaya dirian dari kaum mudanya sendiri, mereka “atau kita” terlalu sering bersikap pesimis, silau dengan kebesaran negri sebrang, tanpa menyadari bahwa masih besar potensi yang di miliki oleh bangsa kita sendiri.

    Bayangkan jika kaum muda negri ini mau bersatu menyatukan pendapat, visi dan misi memajukan negri tercinta ini, tak akan membutuhkan waktu lama bagi negri ini untuk mengejar ketinggalannya, oleh karna itu mulai lah kita benahi negri ini, kita coba belajar bertanggung jawab pada bangsa ini, karna hanya itu yang dibutuhkannya …
    ————————–

    100 persen setuju .. memang sudah saatnya anak² muda bangsa ini ikut berperan aktif. Sayangnya .. kita sudah ‘teracuni’ sikap hedonisme .. sehingga menjadi objek kapitalisme itu sendiri. Anak² muda justru menjadi pasar yang besar untuk memasarkan produk mereka.

    Akhirnya .. kita jadi ter-nina bobo kan dengan segala macam fasilitas dan kemudahan yang ada. Tentunya tidak semua anak muda Indonesia seperti itu. Saya banyak teman² yang hebat. Banyak anak² muda yang berprestasi. Tapi tidak cukup hanya segelintir. Harus lebih dari 60% anak muda kita berprestasi.

    Karena jika ada 60% maka mereka dapat menolong 40% anak muda yang lainnya. Sedangkan 20% anak muda berprestasi bisa ekspansi keluar negeri.

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.