KU LETAK KAN KATA DISINI

Budaya konflik

Tuesday, 15 July, 2008 · 13 Comments

blok.jpg

Kata dosen mata kuliah manajemen ku dulu, konflik itu perlu. Dengan adanya konflik, kita menjadi lebih siap dengan segala kemungkinan. Jika merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia kata kon·flik [n] berarti percekcokan; perselisihan; pertentangan. Dan dalam sidang terbuka promosi doktor antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia lima hari yang lalu, Prudensius Maring menyatakan bahwa pikiran orang Indonesia dikuasi oleh budaya konflik. Kita lebih tahu cara, teknik, dan strategi berkonflik ketimbang cara dan strategi berkolaborasi atau bekerja sama dengan pihak lain.

Yang menarik bagi ku dari statement di atas adalah orang Indonesia dianggap tidak begitu tahu tentang berkolaborasi atau bekerja sama .. hmmm, bukankah bangsa ini terkenal dengan semangat kegotong-royongannya ? tapi, apakah itu telah menjadi bagian sejarah .. ketika kapitalisme menggantikan norma bagi bangsa ini ?

Atau mungkin karena penelitian pak Maring hanya di kawasan hutan Gunung Egon, Flores sehingga kesimpulan setempat digunakan untuk men-generalisasi budaya bangsa ini. Atau boleh jadi teori kekuasaan Michael Foucault yang digunakan pak Maring yang membuat beliau mengambil kesimpulan seperti itu ?

Apa pun .. faktanya, sulit bagi bangsa ini — saat ini — untuk berkolaborasi membentuk sedikit partai. Buktinya untuk pemilu 2009 nanti terdapat 34 partai peserta. Jangan² sinyalement pak Maring benar adanya :) atau teman² ada pendapat lain ?

Categories: Ku kutip kata
Tagged: , ,

13 responses so far ↓

  • realylife // Tuesday, 15 July, 2008 at 18:35

    Pertamaxx

    Nyang jelas , kita kudu harus merubah budaya pikir tidak harus menciptakan konflik , tapi suasana damai dengan solusi

    Setuju banggg ???
    —————————

    Iya deh setuju aja .. dari pada konflik hehehe :lol:

    Intinya .. berbeda itu perlu juga, sehingga kita dapat melihat suatu masalah dari berbagai sisi. Akan tetapi perbedaan tersebut jangan sampai merusak persatuan .. itu aja sih :)

  • Rasyeed // Tuesday, 15 July, 2008 at 19:10

    Hmm …
    *ngeliat yang berkaitan: asmara, manajemen, sosial*

    Kaitan budaya konflik dengan asmara apa ya bang? Ga mudeng dot com :)
    —————————

    Konflik kan bisa terjadi pada kehidupan asmara, dalam perusahaan dan juga pada kehidupan masyarakat toh ? makanya abang pasang tag-nya buat ketiga hal tersebut.

    Konflik asmara .. kaya’ di sinetron² gitu deh hehehe .. misalnya cinta segitiga ato segi banyak hahaha :lol: .. ato bisa juga asmara terlarang !!

    Rasyeed mau curhat soal konflik asmara ?

  • aRuL // Tuesday, 15 July, 2008 at 21:30

    “Prudensius Maring menyatakan bahwa pikiran orang Indonesia dikuasi oleh budaya konflik”

    Berapa persen yah?

    Tapi ada juga yang ngak tau konflik loh bang … malah kesenangannya — senang kerja sama dan tidak tau tentang konflik :D
    —————————–

    Betul Rul .. bukan kah budaya Indonesia dikenal dengan yang namanya gotong royong ? .. e, kemana ya budaya tersebut ? apa masih ada ga di Indonesia ? ketika ‘duit’ sudah menggantikan budaya tersebut ?

    Kalo soal persentase .. mungkin kecil kali Rul. Karena objek penelitian beliau hanya di kawasan Gunung Egon, Flores. Hmm, jadi Arul bisa kira² berapa persen kan ? :mrgreen:

  • cK // Tuesday, 15 July, 2008 at 21:34

    Mungkin dengan adanya konflik … diharapkan bisa belajar dan berusaha untuk lebih maju … :roll:
    —————————

    Wah, mbak yang satu ini emang oke deh .. sudah cantik, baik hati, suka ngumpulin teman² blogger .. pintar pula :)

    Btw .. gimana pendapat cK dengan keluarnya peraturan ga boleh mejeng di Mall / Plaza lebih dari jam 22:00 hahaha .. kegiatan kopdarnya ga keganggu kan?? :mrgreen:

  • Pakde // Tuesday, 15 July, 2008 at 23:36

    Urusan konflik dikembalikan pada dasar hati kita yang paling dalam, karena kita di karuniai kebaikan dan keburukan.

    Jika kebaikan dominan maka terciptalah kedamaian, jika keburukan lebih dominan ya … KONFLIK.

    Hanya saja kita sepertinya susah untuk menyelesaikan konflik dengan jalan damai, selalu saja berujung kekerasan. Lalu pantaskah ini dijadikan sebuah budaya?
    —————————

    Tapi pak, bukankah tanda² itu sudah kelihatan .. bagaimana begitu sulitnya kita mendapatkan sedikit partai peserta pemilu. Padahal partisipasi masyarakat untuk ikut pemilu juga rendah alias banyak yang golput.

  • itikkecil // Wednesday, 16 July, 2008 at 09:00

    Masalahnya bang … ada yang menjunjung prinsip “Better be the head of a dog than the tail of a lion”

    Makanya partainya banyak. Soalnya pada mau jadi pemimpin sih …
    —————————-

    Prinsip itu sebenarnya bagus sih .. masalahnya ketika sudah menjadi ‘kepala’ apakah kita dapat bekerja sama atau kagak ? kalo kagak ? buat apa menjadi ‘kepala’ ?

  • edratna // Wednesday, 16 July, 2008 at 10:20

    Gotong Royong memang sudah melemah, jadi perlu ada semangat agar kita bisa bergotong royong, berkolaborasi. Ini memang kenyataan, justru itulah, saat rekruitmen banyak yang gugur saat wawancara karena kelemahan di kompetensi kerjasama ini.

    Mungkin perlu banyak memberikan tugas kelompok di Perguruan Tinggi, namun dosen harus pandai menilai agar yang bekerja tak hanya itu-itu saja dalam setiap kelompok.

    Keluhan kedua anakku, dalam kerja kelompok selalu hanya sedikit yang benar-benar mau kerja sama … padahal secara individu hasilnya baik.

    Pendidikan di rumah? Di sekolah? Di Perguruan Tinggi? Juga di kantor perlu di dorong lagi semangat kerjasama ini … karena kenyataannya setiap tugas tak mungkin diselesaikan dengan kerja sendiri.

    Orang yang bisa berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik lah yang karirnya akan meningkat pesat.
    —————————-

    Sangat mencerahkan sekali komentarnya bu.

    Saya jadi ingat ditempat kerja saya, beberapa kali saya temukan antara Manager dan Deputy Manager yang ga kompak. Karena mereka merasa sama² sebagai pemimpin sehingga mereka berebut mencari dukungan dan pengaruh.

    Saya juga teringat beberapa tahun yang lalu, seorang sahabat yang sempat stress karena TA kelompok ga selesai² gara² teman kelompok pada cue’ bu. Dia menjadi stress karena dia harus segera lulus agar bisa segera mencari kerja, sementara teman² kelompoknya anak² orang kaya bu.

    Postingan ini saya buat atas keprihatinan saya terhadap kondisi semangat gotong royong yang sudah jarang saya temukan lagi bu. Tidak hanya sekedar kata² untuk mengembalikan budaya itu bu, tapi harus dengan perubahan mind set.

  • Alex // Wednesday, 16 July, 2008 at 10:33

    kuletakkan kata disini lagi …

    Manajemen Konflik … yup … dengan Kerjasama dan gotong royong serta rasa asih dan asuh.
    ————————–

    Sepertinya, kita memang ahlinya dibidang konflik ya?

  • Koko // Wednesday, 16 July, 2008 at 12:00

    Maksudnya begini bang, kita bekerja sama dan bergotong royong untuk berkonflik dengan kelompok lagi …

    Coba kalau diperhatikan … jarang ada konflik yang satu lawan satu, biasanya kampung lawan kampung begitu …
    —————————

    Itu dia .. berdasarkan penelitian tersebut, memang tidak selalu masyarakat berkonflik dengan pemerintah tapi justru masyarakat dan pemda dapat bekerja sama dan berkonflik dengan LSM disana. Padahal selama ini — yang sering kita dengar — kan LSM bersama masyarakat yang berkonflik dengan pemerintah.

  • arifrahmanlubis // Wednesday, 16 July, 2008 at 17:15

    Pak, saya numpang pengumuman :)

    Download ebook pemikiran Islam, pemikiran umum, biogafi tokoh, Fiqih, Al Quran, Hadist, Novel, Bahasa Arab, Pernikahan dan keluarga Islami di

    http://arifrahmanlubis.wordpress.com/38/

    Hatur nuhun.
    —————————

    Terima kasih infonya pak .. mudah²an gratis ya pak dan halal :)

  • ndarualqaz // Thursday, 17 July, 2008 at 21:07

    Kalo saya gak suka konflik, tapi lebih suka dengan problem … (agak beda).

    Dengan mendapat masalah, saya malah semakin berkembang, dengan mendapat masalah saya malah bisa buka usaha, saya bisa buka usaha karena mendapat masalah malah …
    —————————

    Wah .. ternyata sekarang sudah alih profesi ya ? sudah ga jadi guru lagi ? tapi jadi pengusaha .. walah Ru .. koq ga ngajak-ngajak toh :mrgreen:

  • Mr. Fortynine // Sunday, 20 July, 2008 at 01:07

    Setuju dengan budaya konflik. Antar kampung saja selalu saling berpanas panasan dan siap perang. Apalagi antar partai hingga urusan Nasional.

    Mau gotong royong atau kerjasama? Ada: Orang Indonesia akan gotong royong dan kerjasama kalau terjadi hal yang akan saling menguntungkan. Kalau ga ada itu, jangan haraf!!

    *sekedar generalisasi mentah tanpa penelitian mendalam*
    —————————-

    Jadi sebenarnya .. jadi diri bangsa ini apa ya?

    Bangsa ramah atau pemarah ? bangsa kolaborasi atau konflik ? ato ini terlalu sinis karena kata teman ku, cukup sudah mencaci maki Indonesia ?

  • Catshade // Tuesday, 29 July, 2008 at 21:24

    Setuju ama Bung 49, Bangsa Indonesia ini gotong royongnya biasanya masih pada taraf kelompok sendiri: sekampung, sesuku, atau seagama. Tapi begitu ketemu grup dari kampung, suku, atau agama lain, mulai deh …
    —————————

    Jadi .. sejarah bangsa ini benar adanya mbak. Dan Belanda jago memanfaat-kan ‘budaya’ tersebut dengan devide et empera. Karena .. gampang banget kita diadu dengan kampung lain, suku lain atau agama lain .. bukan begitu mbak?

Leave a Comment