KU LETAK KAN KATA DISINI

Biaya hidup di Indonesia

Selasa, 22 Juli, 2008 · & Komentar

blok.jpg

Berapa biaya hidupmu dengan adanya kenaikan BBM baru² ini .. boleh jadi biaya hidupmu sudah tak sama lagi dengan waktu sebelumnya? Lihat saja, apakah uang kiriman orang tua — buat teman² yang masih kuliah — atau gaji kita masih mencukupi buat hidup sebulan atau tidak. Yang pasti .. setiap kali kalau aku belanja mingguan di Makro untuk keperluan rumah tangga, biasanya cukup sekitar Rp.200 ribu sd Rp.250 ribu, sekarang menjadi Rp.250 ribu sd Rp.300 ribu. Belum LPG yang biasanya hanya Rp.57 ribu, pernah ku tebus seharga Rp.90 ribu. Memang, biaya hidup sekarang tidak sama dengan biaya hidup setahun yang lalu. Masalahnya adalah apakah penghasilan kita juga sama atau tidak dengan tahun lalu ? Mari kita lihat data hasil survey BPS yang dimuat di Kaltim Post

Survey biaya hidup ini dilakukan terhadap 250 komoditi kebutuhan hidup — yang kalau dikelompokan, menjadi tujuh kelompok besar — dimana menurut Kepala BPS Balikpapan Basiran Suwandi, persentase sumbangan masing² komoditi terhadap biaya hidup adalah sebagai berikut :

1. Perumahan, air, listrik, gas, dan BBM mencapai 26,76%
2. Bahan makanan sebesar 22,41%
3. Bahan makanan jadi mencapai 18,43%
4. Transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 17,8%
5. Sandang mencapai 5,28%
6. Pendidikan dan rekreasi sebesar 5,66%
7. Kesehatan sebesar 3,65%

Secara nasional, dengan tingkat inflasi kumulatif sebesar 7,37 persen, maka rata-rata tertimbang (jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga : 250 jumlah komoditi) standar biaya hidup pada Juni 2008 menjadi sebesar Rp 3,21 juta. Sedangkan berdasarkan rata-rata hitung tidak tertimbang yang harus dikeluarkan yaitu Rp 2,81 juta.

Nah .. bagaimana dengan biaya hidup pada masing² kota besar yang ada di Indonesia ? mari kita simak data biaya hidup berikut ini :

1. Jakarta Rp.4,57 juta
2. Banda Aceh Rp.4,00 juta
3. Jayapura Rp.3,88 juta
4. Batam Rp.3,79 juta
5. Surabaya Rp.3,48 juta
6. Pekanbaru Rp.3,45 juta
7. Medan Rp.3,42 juta
8. Balikpapan Rp.3,40 juta
9. Samarinda Rp.3,22 juta
10. Pontianak Rp.3,17 juta
11. Palangkaraya Rp.2,75 juta
12. Banjarmasin Rp.2,50 juta

(data untuk kota lainnya — maaf — tidak tersedia)

Sekarang coba kita perhatikan berapa penghasilan minimum dibeberapa propinsi / kota yang datanya ku unduh disini.

1. DKI Jakarta Rp.972.604,80
2. Nanggroe Aceh Darussalam Rp.1.000.000,-
3. Papua Rp.1.105.500,-
4. Kepulauan Riau Rp.833.000,-
5. Surabaya Rp.805.500,-
6. Riau Rp.800.000,-
7. Sumatera Utara Rp.822.205,-
8. Kalimantan Timur Rp.815.000,-
9. Kalimantan Barat Rp.645.00,-
10. Kalimantan Tengah Rp.765.868,-
11. Kalimantan Selatan Rp.825.000,-

Bandingkan !!! … aku terhenyak kaget. Data tersebut tentunya tidak main². Disatu sisi, data biaya hidup didapat dari 250 komoditi yang diperlukan manusia untuk hidup layak. Tapi data UMP merupakan biaya hidup minimal. Terasa begitu jauh sekali perbedaannya.

Atau jangan² data biaya hidup itu terlalu mengada-ada ya ? bagaimana menurut mu teman ? … karena ku pikir, data itu mendekati kenyataan. Bayangkan untuk bayar kost kamar di Balikpapan sekitar Rp.350 ribu sd Rp.500 ribu — kondisi ala kadarnya. Terus kalo naik angkot 2 kali nyambung pulang pergi sekitar Rp.12 ribu per hari plus keringat karena kudu jalan kaki lagi :mrgreen:

Harga nasi putih di Balikpapan berkisar Rp.3 ribu sd Rp.5 ribu, satu potong ayam goreng harganya antara Rp.7 ribu sd Rp.15 ribu .. jadi ongkos makan minimal Rp.10 ribu sd Rp.20 ribu alias Rp.30 ribu sd Rp.60 ribu per hari — kalau makan tiga kali sehari. Jika diambil angka minimal saja .. maka biaya hidup minimal sebulan di Balikpapan sudah sekitar Rp.1.544 ribu. Alamak !!!

Kaya’nya hidup memang tidak bisa diumbar .. mungkin jatah makan yang bisa dikurang, biaya pulsa bisa dipangkas .. tapi ongkos angkot, nge-kost dan cuci setrika ? apa yang bisa dihemat ? kecuali diganti jalan kaki atau naik sepeda, nge-kost bareng teman dan pakaian ga perlu diganti² .. Alamak !!!

Itu pun kalo kita masih bujangan .. gimana dong, kalo sudah punya anak istri .. yang namanya biaya buku dan uang sekolah, gak bisa dihemat² .. lah, gimana mau dihemat. Wong telat bayar aja bakal dikenakan sanksi koq :mrgreen: .. jadi, sebenarnya lebih baik mengacu pada UMP atau BH ya? hmm maksudnya Biaya Hidup bukan bra loh :lol:

Kategori: Ku kutip kata
Ditandai: , ,

34 tanggapan so far ↓

  • ulan // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 16:32

    Wah berapa yak??

    Kalo aku sendiri sih tergantung dapet duit nya berapa, adooohhh susah kalo enggak punya anggaran keuangan kayak aku berapa aja abis, dikit idup banyak makmur kekkekekeke
    —————————

    Jadi .. kalo dapet duitnya dikit, pengeluarannya tetap banyak apa jadi dikit mbak? gimana dong dengan ongkos yang ga mungkin turun :)

  • Rasyeed // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 17:32

    Ah .. itu kan hanya angka-angka .. :p

    Jadi inget pameo di kalangan masyarakat bawah “hidup susah apalagi mati” … Kalaupun meninggal, biaya pemakaman dan lahan juga mahal — statistiknya nyari sendiri di arsipnya koran Media Indonesia … Hmm ..
    —————————

    Benar pak .. itu hanya angka .. makanya saya bertanya pada teman² apa yang mereka rasakan. Apakah hidup cukup ato kekurangan. Ajaibnya — walaupun hidup susah .. yang namanya pulsa isi ulang selular dan rokok tetap laris manis.

  • achoey sang khilaf // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 17:54

    Waduh …

    Aku ga bisa hidup donk Pak :D
    —————————-

    Loh .. kenapa bos ?

  • kishandono // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 18:04

    Waduh,

    Besar pasak daripada tiang ini mah namanya. Turunkan harga!
    —————————

    Atau naikkan upah !!

  • aRuL // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 19:26

    Jadinya harus hemat nig ;D
    ————————–

    Kalo untuk makan, mungkin bisa dihemat ya Rul .. dari 3 kali jadi 2 kali ato cuma sekali hik hik hik :(

    Tapi gimana dengan uang kost dan angkot ? gimana mau dihemat ya Rul .. mungkin yang bisa dilakukan mengurangi beli pulsa selular dan rokok :)

  • det // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 19:44

    Betul pak, biaya hidup di Surabaya memang segitu kalo mau hidup layak ..

    Tapi fakta penghasilan warga sini kebanyakan gak sampai 2 juta ..

    Yang kaya makin kaya, yang sederhana jadi miskin, yang miskin makin miskin
    —————————

    Yang paling ga enak .. kalo dituduh pemalas ya pak. Miskin karena malas. Padahal kalo saya lihat petani, pedagang sayuran, tukang becak dlsbnya sejak subuh mereka sudah mencari uang.

    Eala .. yang kaya .. malah baru bangun jam 10 pagi karena semalaman begadang di cafe ato pub. Karena mereka bilang .. biar duit mereka yang bekerja .. jadi sebenarnya yang malas siapa ya pak?

  • AgusBin // Selasa, 22 Juli, 2008 pada 19:47

    Memang dulu … sebelum BBM naik aja — waktu saya kerja — udah hidup pas²an. Tapi anehnya … sekarang saya sekolah lagi, malah hidup saya jadi jauh lebih nyaman. Maklum deh, namanya juga parasit hehe .. malu ah nethek mulu.
    —————————

    Mungkin itu namanya rejeki ya pak ..

    Ada seorang teman yang berbagi kisah .. 14 tahun dia malang melintang di bisnis konstruksi. Selama itu, dia tidak mempunyai fixed asset untuk masa depan. Akhirnya dia banting stir, bikin usaha catering sendiri. Baru berjalan kurang dari 5 tahun, fixed asset sudah ada 2.

  • pade' // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 01:55

    Banyak sebenarnya yang menyayangkan saya hijrah ke Jambi — mengingat saya bukan tipikal yang konsumtif — hal yang paling pertama disoroti oleh ketidak setujuan temen² dan keluarga adalah mahalnya kebutuhan hidup sehari² di Jambi, yang katanya lebih tinggi dari kebutuhan pokok di Jakarta. Saya bilang koq orang² masih bisa kerja di Jambi ?

    Mereka bingung dengan pertanyaan saya. Apa bedanya tingal di Jawa dan Sumatera, toh urusan kebutuhan sehari² tinggal di tanyakan lagi pada kita bukan? akan kah bersikap konsumtif alias hidup hemat atau tidak. Simple kan ?

    Setibanya di Jambi … ternyata pola makan tetep. Nilai yang dikeluarkan tetep juga. Satu bulan habis sampai 1 milyar :mrgreen: … ini untuk semua kebutuhan loh.

    Dari data BPS Provinsi Jambi untuk bulan Juli .. terjadi kenaikan di beberapa sektor, kenaikan harga kelompok barang dan jasa melonjak pesat sampai 2,96%. Kelompok makanan jadi hingga 5,86%. Air dan listrik — ya … meskipun sering mati tetep juga naik 3,16%.

    Anehnya … naik turunnya kebutuhan hidup yang ditukar dengan rupiah ini — ternyata tetep masih memberikan tantangan buat semua pihak untuk tetap berusaha menjadi petarung sejati dalam menyikapi biaya kebutuhan. Leave or Fight. Pilihannya cuman itu kan?

    Akhirnya kita pilih fight … dan menerima kondisi dengan lapang dada, meskipun kening ini tiap hari bergenyit. Adakah solusi untuk membuat kebutuhan ini jadi murah???

    Lalu bagaimana bersikap konsumtif dan hidup hemat?

    Saya pikir semua sudah pada tahu, jawabannya ada pada diri masing² … nggak harus pakai itungan margin-lah ribet … semuanya dikembalikan lagi dengan kebutuhan hidup kita sehari². Syukur kalau masih bisa saving money 50% saja.

    Jika memang masih terbilang harus hidup hemat .. mari kita budayan hidup hemat. Tapi apa bisa? lagi-lagi tiap orang memiliki jawaban beda.
    —————————-

    Terima kasih pak De .. sudah berbagi pengalaman di Jambi.

    Memang pak .. seperti hal-nya waktu pertama kali bapak ke Jambi. Pertanyaan serupa juga ditanyakan ke saya ketika pertama kali ke Balikpapan. “Wah, Balikpapan kan biaya hidupnya mahal” .. sejenak saya ragu pak. Tapi setelah saya jalani .. ya tergantung bagaimana kita hidup aja koq pak.

    Jadi hidup hemat tentunya hal² yang dapat dihemat toh pak .. misalnya pemakaian telephone, air dan listrik.

  • itikkecil // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 08:54

    Iya bang … walaupun dengan gaji yang sepertinya tidak layak, tapi mereka tetap bisa hidup meski mungkin dengan mengorbankan beberapa hal penting … misalnya pendidikan.

    Mengingat kenaikan harga yang gila-gilaan seperti sekarang ini .. sepertinya saya memang harus mengencangkan ikat pinggang.
    —————————

    Itulah yang sering terjadi .. pendidikan selalu menjadi korban. Program pemerintah wajib sekolah atau sekolah gratis, rasa²nya koq masih jauh ya. Kalo pun ada yang gratis. Paling cuma untuk uang sekolah. Tapi baju, buku, extra kulikuler, uang gedung dan sebagainya .. tetap aja mesti bayar.

  • dwibasukiwss // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 09:02

    Nice posting Om Eby,

    Melihat rangking yang ada, memang layak sepertinya kalo Pekanbaru masuk 10 besar. Yang terasa sekali kalo di Pekanbaru adalah ongkos taxi. Kalau makanan … so-so lah sama Jakarta.

    Duri gak jauh beda sama Pekanbaru. Untuk makanan … saya kurang begitu tau, karena saya cuma kadang-kandang beli, selebihnya sering ‘gratis’ :)

    Tapi … untuk yang suka Durian, akhir-akhir ini di Duri lagi musim, jadi kalo mau makan sampai puas pun tidak masalah .. karena di sini durian relatif murah di banding di Jawa.

    Duri lumayan konsumtif, apalagi sebentar lagi di buka Mandau Town Square (MATOS) serius … biar Mandau / Duri cuman kecamatan, ntar lagi ada mall, dan Ramayana — dibangun di terpisah dengan Duri ..

    *sambil promosiin Duri, supaya lebih banyak lagi orang yang berminat bekerja di sini*
    —————————-

    Koq singkatannya sama dengan Malang Town Square

    Wah .. pantesan Om Wi makin gembul hahaha :lol: .. makan durian terus ya? mentang² murah, sarapan aja pake durian hahahah .. oya, di Duri ada tempoyak ga?

  • akokow // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 10:27

    Wah, ini trik sulap yah?
    —————————

    Apa perlu ditanyakan ke Om Deddy?

  • Yoga // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 10:38

    Ini tulisan yang bikin saya bungkam lagi pagi ini setelah baca artikelnya mas DM > disini.
    ————————–

    Koq bungkam ??

  • mybreakfast // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 11:11

    Perlu senantiasa berhemat dan bekerja keras. Adakah pilihan lain?
    ————————–

    Pilihan lain? .. kaya’nya ga ada tuh :)

  • cK // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 13:47

    Saya berasa banget setelah BBM naik, sekarang transportasi semakin mahal. Duit cepet abis buat transportasi aja … :(

    Belum lagi makan …
    —————————

    Dan kopdar tentunya :)

  • ManusiaSuper // Rabu, 23 Juli, 2008 pada 14:15

    Banjarmasin Rp.2,50 juta

    Pantesan tiap bulan saya nombok terus …
    —————————

    Masalahnya .. nomboknya dari mana ?

  • Aki Herry // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 07:09

    Jadi yang salah dimananya ya Bang?
    ————————–

    Kalkulatornya kali kang hahaha :lol:

  • adipati kademangan // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 08:22

    Kalau dilihat dari angka-angka yang tertera memang bisa memusingkan kepala juga. Suatu hal yang mustahil — menurut data — kebutuhan hidup yang lebih besar daripada pendapatan.

    Namun hingga sekarang, tidak terdengar berita adanya kelaparan kok — meningkatnya hutang masih belum ter-ekspose kali yah ??.

    Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing orang sudah menemukan solusi untuk diri mereka sendiri dengan kondisi pendapatan yang terbatas dan kebutuhan hidup yang meningkat itu.

    Jika mereka tidak menemukan solusi tersebut, maka sebelum kenaikan BBM-pun mereka sudah kalah. Bener kata #pakde Leave or Fight
    —————————–

    Kira² .. meningkatkan kasus² kriminal akhir² ini ada kaitannya ga ya dengan hal tersebut ato ditemukannya anak² busung lapar dibeberapa daerah di Indonesia .. kira² ada hubungannya ga ya?

  • edratna // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 09:22

    Saya udah pusing sejak kenaikan BBM, yang penting harus melakukan efisiensi disegala bidang, agar bisa bertahan hidup.
    —————————

    Bener bu .. saya kasihan lihat orang dirumah, yang mesti berhemat menggunakan LPG. Karena selain mahal, juga langka. Jadi sekarang kalo masak, benar² direncanakan secara detail.

  • Indra Kusuma // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 13:08

    Baca reply atas comment bu Ratna :

    Orang di rumah sapa siy bang, si Udin apa si Siti ? Mo Request bole gak bang … Minggu depan posting si Ryan pembunuh berantai yak!!
    —————————-

    Hahaha .. itu mah tukang kebun sama tukang cuci hahaha :lol: .. loh, mas Indra belom pernah ke rumah ya? .. coba tanya mbak Nita, karena mbak Nita pernah bertamu ke rumah .. Mbak Nita sudah kenal koq dengan adinda yang dirumah :)

    Soal Ryan pembunuh berantai ?? .. ga janji ya. Soalnya .. kisahnya belum berakhir tuh. Jadi ingat cerita kriminal yang sering ada di majalah Intisari.

  • satya sembiring // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 13:45

    Ya neh mas … pengeluaran terus aja naik. Saya masih lajang aja sebulan habis 3 juta. Ya untuk ini itu … rame lah mengrogoti kantong.

    Semoga harga harga bisa turun … dengan cara apapun asalkan halal heheheh
    —————————

    Tuh, bener kan ? apalagi kalo di Batam ya ? .. sering ke Nagoya ya? hahaha :lol: .. bukan suudzon, tapi kan Batam terkenal dengan Nagoya-nya hehehe :mrgreen:

    Bagaimana kalo penghasilan yang naik? Mau ga?

  • Zulfi // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 17:04

    Aduh, pusing nghitungnya Pak …

    Alhamdulillah, walaupun dikit uang jajan dari orang tua … tiap bulan masih cukup buat hidup sebulan di kos …

    *karena kalaupun kurang, pulang ke rumah pun masih dekat, cuma 1 jam naik motor … hehe*
    —————————–

    Emang ga perlu dihitung bos. Kalo dihitung malah pusing, karena pasti ga klop alias defisit mulu hahaha ;)

    Wah .. enak dong. Setiap kekurangan, langsung pulang :mrgreen:

  • inos // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 19:36

    Ya memang dalam kondisi seperti sekarang ini memang diperlukan ‘tirakat’ mas, sambil melakukan ‘ikhtiar’ semampu kita agar bisa menghadapi ‘tantangan’ hidup.
    —————————

    Terima kasih pak, sudah muncul lagi disini. Apa kabar ? semoga toko bukunya laris manis ya pak.

    Memang benar pak .. ora et labora itu mak nyus :)

  • adit // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 21:44

    Bagi yang tak bisa meningkatkan pendapatan ..

    Ya tak lain dan tak bukan, hidup hemat, karena menurut saya dengan keadaan Indonesia yang katanya susah, masih banyak dari kita yang hidupnya konsumtif …
    —————————

    Apakah ada korelasi yang positif ya Dit .. dengan meningkatnya kasus kriminal dan korupsi akhir² ini?

  • realylife // Kamis, 24 Juli, 2008 pada 22:12

    Kalo nyang jelas
    emang mahal bang
    ————————–

    Apanya yang jelas Id? duitnya?

  • Yoga // Jumat, 25 Juli, 2008 pada 13:45

    Sebab … saya jadi mikir, bisakah saya berbuat lebih baik …

    *mode serius : off*
    ————————–

    Emang berbuat baik mesti pake ongkos ya mbak?</blockquote.

  • NdaruAlqaz // Jumat, 25 Juli, 2008 pada 18:32

    Untung aku hidup membuajang … yes …

    Kalo tak hitung .. rata² per bulan tiap tahun — karena aku bayar kost sekali per semester dan bayar kuliah sekali per semester — biaya hidupku sampai Rp.1,2 juta / bulan, itupun makan kadang 1 kali kadang 2 kali dan tak pernah 3 kali.

    Adik sekolah SMA, biaya hidup per bulan kalo dihitung rata² juga sekitar Rp.1,1 jt / bulan, karena adik juga kost. Walau makan lebih murah, tapi bayar sekolah lebih mahal .. :P

    Biaya di rumah untuk makan + transport + listrik dll sekitar Rp.1,4 juta / bulan, itupun dengan penghematan super.

    Total Rp.3,7 juta / bulan yang dihabiskan keluargaku …

    Penghasilan PNS guru SD bisa anda bayangkan sendiri … ya, walau bapak dan ibu sama² PNS, tapi masih kurang lah, untung saya udah kerja :P … minimal buat saya sendiri tak perlu nunggu kiriman dari rumah …

    *mode curhat : ON* :lol:
    —————————-

    Dengan beberapa komentar yang masuk, abang jadi semakin yakin .. bahwa biaya hidup yang sahih adalah komentar teman² tersebut. Langsung dari sumbernya.

    Abang pun yakin, kalian semua sudah melakukan penghematan plus plus .. tapi yang namanya biaya sekolah dan transportasi .. yang tidak bisa dipangkas. Kecuali sekolah memberikan diskon *emang ada?* ato pemerintah meningkatkan subsidi BBM *ga mungkin layau*

    So .. jika UMP yang ditetapkan pemerintah itu dibawah hasil survey biaya hidup dan testimoni teman² .. bukankah itu artinya negara ini menutup mata dengan fakta dilapangan. Ato jangan² memang dikondisikan seperti itu ?

    *mau dibahas lebih lanjut .. terlalu politis .. berbahaya*

  • mayla // Senin, 28 Juli, 2008 pada 19:18

    Sekarang ini … hitung² pengeluaran buat pusing … tapi kalo tidak dihitung akan semakin pusing .. he .. he .. jadi biasakan saja hidup serba pusiiiiiiiiing … :)
    —————————

    Kalo semakin pusing .. minum obat kaleee :)

  • mini // Selasa, 29 Juli, 2008 pada 11:26

    Kondisi saat ini memang tidak menyenangkan … setiap membeli sesuatu selalu bengong dulu … rasanya kemahalan semua. Padahal karena penghasilan yang gak nambah .. dan emang mahal hehehe ..

    Kalo gak nabung, kawatir akan masa depan .. mau nabung…. wong yang ditabungan kesedot mulu …
    —————————

    Kaya’nya apa yang mbak Mini alami, dialami juga oleh saya koq mbak. Sering kali mesti menghitung ulang untuk membeli sesuatu. Barang yang sudah ditangan, sering kali dilepas lagi, sekiranya barang tersebut tidak urgent sehingga tidak jadi dibeli.

  • beranibaca // Selasa, 29 Juli, 2008 pada 18:12

    Ehhmmm … sementara ini saya juga ngalamin kayak gitu.

    Penghasilan tetap tapi pengeluaran bertambah .. alhamdulillah istri saya mampu menyikapinya dengan bijak .. semoga situasi sulit di negara ini dapat cepat berlalu …
    —————————

    Begitu deh pak .. saya ikut prihatin. Dan sepertinya sebagian besar rakyat Indonesia mengalami hal yang sama seperti kita ya pak.

    Tapi .. bukankah, setiap ada kesulitan selalu ada kemudahan pak? .. kita jadi lebih bijak dalam membeli sesuatu. Lebih kritis terhadap setiap nilai uang yang kita keluarkan. Dan semoga kita menjadi bangsa yang cerdas dalam mengeluarkan uang.

    Bukan begitu pak ?

  • aRuL // Rabu, 30 Juli, 2008 pada 02:01

    Makassar ndak ada yakz :D
    ————————–

    Ndak ada, bukan berarti gratis kan? hahaha :lol:

    Mungkin diluar 10 besar Rul .. maklum, data yang diberikan cuma 10 besar aja Rul. Sedangkan untuk data upah minimum propinsi kan bisa diunduh dari website-nya.

  • Chik // Senin, 4 Agustus, 2008 pada 02:22

    ????
    ————————–

    !!!!!

  • permadi72 // Kamis, 11 September, 2008 pada 19:13

    Cuek aja bang … masih ada yang Dia yang di atas yang jagain kita.

    Kalau Dia mau kita hidup … pasti ada aja rezeki yang datang entah dari mana datangnya. Yang penting halal dan kalo dimakan jadi daging … Yang penting didukung usaha gak cuma pasrah …
    —————————-

    Setuju banget .. cuek bukan berarti tidak ada usaha kan .. jika kita adalah orang beriman dan percaya bahwa Sang Pencipta telah mengatur rejeki kita, maka kita cukup berusaha .. bukan begitu bos?

  • teman dekat // Selasa, 18 November, 2008 pada 09:53

    Kalo nggak salah … itu survey tentang biaya pengeluaran rumah tangga. Sedangkan UMR adalah penghasilan minimal tiap orang berdasarkan standar hidup minimal.

    Walaupun tetap gak cukup tapi paling tidak, nggak terlalu kaget. Karena yang harus dibandingkan adalah pengeluaran rumah tangga dan pendapatan rumah tangga.

    Biar agak senyum sedikit …
    ————————–

    :) .. koq senyumnya sedikit bos?

  • yanti // Selasa, 21 April, 2009 pada 19:38

    Yah … mau apa lagi … cukup gak cukup hidup harus berjalan … rejeki sering gak tahu dari mana datangnya …

    Asal niatnya sungguh-sungguh, mau ngelola apa yang ada … gak kan sampai korupsi .. deh … gak percaya?? Coba deh … segera menikah …
    ————————–

    Kalo saya sih percaya saja bu tentang rejeki dari Allah .. apalagi kalo kita selalu mensyukuri berapa pun nikmat yang diberikan oleh-Nya.

    Btw .. koq untuk mengejar rejeki mesti nikah dulu sih bu?? bukankah rejeki itu bisa datang dari mana saja. Saya kawatir .. orang buru² menikah tanpa persiapan mental yang cukup bu.

    Rejeki memang urusan Allah dan datang dapat dari mana saja bu :mrgreen:

Tinggalkan sebuah Komentar