Cukup mengejutkan .. kata² tersebut justru meluncur dari mulut seorang yang periuk nasi-nya sangat tergantung dengan penggunaan komputer. Semakin banyak orang yang meng-akses internet, maka semakin berasaplah dapurnya. Tapi, justru beliau malah menyarankan kita untuk mematikan komputer dan HP agar bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang lebih riil .. bukan hanya diawang-awang .. hmmm …
CEO Google Eric Schmidt, pada pidato kelulusan 6000 wisudawan di University of Pennsylvania, Amerika Serikat menyarankan : “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu dan perhatikan manusia di sekelilingmu. Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan memegangi tangan cucumu saat dia berjalan untuk kali pertama,” demikian beliau mengilustrasikan salah satu alasannya mengapa kita harus melakukan hal tersebut.
Sudah begitu parahkah kehidupan kita dengan komputer. Sepertinya ketergantungan kita dengan komputer sama halnya dengan ketergantungan kita dengan listrik, kendaraan dan telephone .. dan ketika hal itu tidak ada, serasa seluruh persendian kehidupan terasa lumpuh.
Sekarang pertanyaannya .. dua puluh empat jam yang lalu, berapa waktu yang kita luangkan untuk berinteraksi dengan pasangan kita, anak kita, tetangga kita, kolega kita secara langsung dan berapa waktu yang kita habiskan didepan komputer ???
Hmmm .. kalo saya, sepertinya lebih banyak didepan komputer atau HP
.. karena seharian dikantor sampe maghrib. Trus pulang sudah malam. Tetangga sudah pada bobo hehehe .. tapi, mudah-mudahan Sabtu Minggu ada waktu untuk menyapa mereka. Biar sadar bahwa saya masih manusia, bukan bayangan.




15 tanggapan so far ↓
Ade // Rabu, 20 Mei, 2009 pada 13:12
perlahan saya juga merasakan hal yang sama
semenjak teknologi menggila, jadi males ketemu orang
—————————-
S™J // Rabu, 20 Mei, 2009 pada 17:31
Sejak dulu sepertinya tak sedikit manusia yang cenderung terobsesi dengan ciptaannya sendiri. Yang belum berubah mungkin harta atau lebih spesifik uang.
Uang adalah ciptaan manusia, tapi sebagian sibuk memburu atau malah memujanya.
*dah lama baru nongol lagi nih?*
—————————-
cK // Rabu, 20 Mei, 2009 pada 23:53
Hihihi saya termasuk orang yang selalu mantengin komputer. Tetapi saya mencoba menyeimbangkannya dengan keluar rumah dan bertemu teman-teman…
—————————
H. Nazieb // Kamis, 21 Mei, 2009 pada 01:49
Kata orang tua saya, orang yang lebih dekat daripada saudara itu ya tetangga kita. Soalnya kalau ada kondisi darurat mereka lah yang paling bisa menolong kita.
Lha kalau sama tetangga ga akrab, memangnya komputer atau teman dunia maya kita bisa menolong pas kondisi darurat?
*komen yang aneh*
————————–
Yari NK // Kamis, 21 Mei, 2009 pada 09:11
Eh … mas Eby udah nulis lagi.
Meskipun hubungan kita tidak mesra lagi seperti dulu **halaah ngomong apa aku ini** namun saya senang mas Eby menulis lagi. Sebagai sedikit blogger yang lebih senior dari saya, saya sudah selayaknya menghargai mas Eby **nggak geto² amat seh…**
Ok. let’s get down to the serious core:
Buat saya, saya dari dulu adalah orang yang tidak pernah membedakan antara ‘dunia maya’ dengan ‘dunia nyata’ karena pada dasarnya semua yang saya temui di dunia maya adalah orang-orang yang nyata semua.
Saya sendiri tidak memikirkan apakah saya berhadapan dengan komputer ataupun orang. Namun jikalau saya sedang menghadapi komputer, saya berusaha agar apa yang saya perbuat di dunia “maya” dapat berguna bagi orang lain, toh selama ini dari blogging kita dapat menjalin hubungan yang baik yang berkembang menjadi hubungan pertemanan yang nyata. Tentu ini hal yang positif bukan?? **awas kalo bilang nggak !!**
Jadi, daripada kita memikirkan dikotomi antara dunia maya dan dunia riil, lebih baik kita memikirkan bagaimana kita dapat berbuat sesuatu yang paling baik di dunia maya ini
dan tidak hanya sekedar narsis²an di FB—————————–
Lambang // Kamis, 21 Mei, 2009 pada 11:49
Komputer dan HP memang sudah mengubah pola hidup menjadi jauh lebih buruk dari jaman dulu.
Berjam-jam habis dibuang hanya untuk bertegur sapa dan berkomen secara maya yang manfaatnya tidak terlalu banyak dibanding ketemu face-to-face.
Yang masih menjadi pertanyaan saya sampai saat ini : Setelah punya banyak teman maya, lalu apa target berikutnya? Kopi darat? ngerumpi lagi?
Lain kalau targetnya memang mencari AdSense.
Salam kenal Mas.
—————————-
dana // Kamis, 21 Mei, 2009 pada 18:24
Sosialisasi telah berpindah ke Web 2.0 bukan?
————————–
realylife // Kamis, 21 Mei, 2009 pada 19:10
Aku malahan blog satu lagi yang sedang dimatiin ni bang …
————————–
edratna // Jumat, 22 Mei, 2009 pada 07:20
Saya udah lama nggak jalan-jalan kesini…
Ya, setuju matikan komputermu, paling tidak saat libur akhir pekan. Berjalan-jalan dengan anggota keluarga, menonton film, makan sambil mengobrol akan lah sangat menyenangkan ..
—————————
indra kh // Jumat, 22 Mei, 2009 pada 11:05
Makin kesini jadi banyak orang-orang yang asyik dengan dunianya sendiri: Dunia digital yang tampak dalam monitor komputer dan ponselnya.
Jika sudah begitu jadilah manusia, minimal di akhir pekan, hehe …
—————————–
adipati kademangan // Jumat, 22 Mei, 2009 pada 13:06
Barangkali pakdhe Eric Schmidt itu diilhami oleh permainan rakyat Indonesia.
Dulu sering dijumpai anak² Indonesia seperti engklek, petak umpet, gobak sodor, loncat tali, panjat pinang, dll sekarang sudah beralih ke Video game PS, SEGA, XBox dan Timezone.
Permainan yang bergeser dari interaksi sosial ke individual.
*lhah ini ngomong apa, kapan juga pakdhe Eric Schmidt ke Indonesia melihat permainan engklek?*
—————————
duadua // Jumat, 22 Mei, 2009 pada 15:03
Oleh sebab itu … kalau saya, hari sabtu minggu, jarang sekali maen komputer, juga sore hari sesudah pulang kantor.
—————————
haniifa // Minggu, 24 Mei, 2009 pada 03:26
Kalau komputer sama hape … dimatiken, kayaknya saya mesti cari ladang baru dunk …
—————————-
morishige // Senin, 25 Mei, 2009 pada 02:50
Kalo saya nongkrong sampe pagi terus di beskem Mapala, om .. hehe ..
————————-
realylife // Selasa, 2 Juni, 2009 pada 11:01
yang reallylife.info lagi suka kena virus, lagi dibersihin, Alhamdulillah, sekarang dah bisa di akses lagi, kalo ada waktu mampir2 ya bang
————————–