Bukan bermaksud sarkasme. Tapi saya mencoba untuk memberi gambaran, syukur-syukur bisa menjadi renungan buat saya sendiri dan kita semua yang membaca blog saya ini. Bahwa sering kali, di negeri ini – tentunya penduduknya – sering kali tidak belajar dari masa silam. Sehingga wajar kalo di era Soekarno terkenal dengan sebutan JASMERAH alias jangan sekali-sekali melupakan sejarah.

Peristiwa-peristiwa masa lampau kembali terjadi pada masa kini dan sepertinya kita langsung gagap untuk menyelesaikan masalah tersebut. Wajar sih. Karena ketika kejadian yang sama terjadi 30-40 tahun yang lalu, para pengambil keputusan saat ini mungkin masih duduk di SD atau masih Balita atau bahkan ada yang belum lahir sama sekali.

Dus .. tentunya ga ada yang salah dong, kalo generasi sekarang jadi ga tahu karena memang belum pernah mengalaminya langsung. Jadi, kalo kemudian sekarang gagap dan tidak dapat menyelesaikan masalah, ya wajar 🙂 .. sepintas, seperti benar. Tapi kalau selalu alasan ini dikemukakan, maka kita selalu kehabisan waktu untuk mengalami dan belajar dari pengalaman.

Ketika orde baru dihujat karena menu KKN-nya – yang jelas bukan Kuliah Kerja Nyata – seharus nya kita belajar dari orde baru. Tapi sekarang KKN tetap aja ongkang ongkang kaki menjadi raja dinegeri ini. Karena prilakunya berpindah, dari segelintir orang ke banyak orang. Dari pusat ke daerah. Dari lingkungan tertentu, menyebar ke beberapa lingkungan.

Atau jangan-jangan kita memang tidak pernah mau belajar dari pengalaman orang lain atau mendengarkan nasehat orang lain. Pada suatu saat, saya – yang merasa lebih tua – berkata kepada teman saya – yang merasa lebih muda – bahwa sebaiknya kita belajar dari pengalaman orang lain. Tapi di jawab sama yang lebih muda, bahwa kalau tidak mengalami sendiri, maka sulit untuk mengerti.

Saya sempat terdiam. Dan mencoba berpikir ulang. Apakah saya salah? apakah belajar dari pengalaman orang lain itu salah. Apakah belajar sejarah itu ga gaul. Apakah belajar dari kejadian masa silam itu kuno. Saya berpikir lagi. Saya berpendapat seperti ini bukan karena saya sudah tua. Bukan. Sama sekali bukan.

Pikiran ini sudah ada sejak saya SMP, ketika saya membaca satu peribahasa yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang berharga … saya langsung mengambil sikap kritis. Memang mengalami pengalaman itu sendiri adalah baik. Tapi kita rugi waktu, tenaga, pikiran, biaya, perasaan dan sebagainya.

Bukankah lebih baik kita belajar dari pengalaman orang lain. Kegagalan orang lain. Agar kita tidak mengalaminya sendiri. Dengan belajar dari orang lain atau pengalaman masa lalu, kita tidak rugi waktu, tenaga, pikiran, biaya, perasaan dan lain sebagainya. Bayangkan. Kalo kita mesti belajar sendiri. Mungkin komputer sampai sekarang tidak akan pernah ketemu. Karena semua ilmuwan selalu mulai dari nol.

Justru dengan belajar dari orang lain, maka ilmuwan sekarang ini menjadi lebih maju karena belajar dari pengalaman ilmuwan masa silam kemudian diperbaiki terus menerus. Tidak heran kalo ditahun 70-an semua orang Malaysia kuliah di Indonesia dan sekarang sebaliknya sekarang kita kuliah di Malaysia.

Makanya, saya suka bertanya soal buat blog dari teman2 blogger yang sudah jadi. Biar cepat. Ga perlu belajar yang ribet-ribet. Kan lebih praktis. Dan .. dengan adanya musibah terus menerus – loh, kok dari blog jadi ngomongin musibah – di negeri ini, seharusnya sudah dipikirkan – tidak cukup hanya BASARNAS – dan diimplementasikan contigensi plan buat mengatasi musibah bisa kita contoh ketika topan katrina melanda florida beberapa waktu lalu, AS cepat melakukan pemulihan.

Mudah2an kita mau belajar terus menerus. Hentikan saling menyalahkan. Saya juga belajar banyak dari teman2 blogger tentang perbedaan pendapat, tentang seleb blog, tentang orang-orang marginal, tentang empati, tentang segala hal. Karena saya ingin negeri ini menjadi nyaman buat ditempati hingga menutup mata.

Iklan