co_studio21.gif Malam minggu, aku putuskan untuk nonton The Bussiness di Studio 21 Pakuwon Trade Centre Surabaya. Bersama tiga teman yang lainnya, kami berangkat dari rumah jam 7 setelah salah satu dari kami menuntaskan menonton sinetron Intan .. (uhuu, apa sih asiknya nonton sinetron selain mengaduk2 perasaan yang tak masuk akal).

Jalanan menuju ke bilangan Ciputra baratnya kota Surabaya bukan pekerjaan yang mudah karena pada malam minggu itu sekitar Jl.Sungkono macet total karena di Hotel Shangrila sedang dilakukan perhelatan pernikahan anak bungsunya orang nomor satu di Jatim (hmm, emang saya orang nomor berapa ya di Jatim??) .. dan konon katanya dihadirkan sang Wapres segala .. ck ck ck .. karangan bunganya berjejer di kiri jalan depan hotel .. wow, kalo rata-rata dikalikan Rp.250 ribu per papan, sudah berapa duit ya? (malas ah ngitungnya).

Ketika tiba di Studio 21, jam sudah jam 8 dan duuuhhh .. film the Bussiness sudah On Line, ga ada pilihan lain. Sudah cape2 kesini masa mesti batal. Ada beberapa pilihan film lainnya. Tapi semua sudah aku tonton kecuali satu yang belum yaitu film Pocong 2. Singkat cerita, akhirnya kami berempat nonton film Pocong 2. (hmm, menurutku film yang aneh, tapi itulah indahnya hidup ketika saya mesti mengalami hal2 yang aneh).

Keesokan harinya, Minggu pagi, ketika siap2 akan pulang ke Madiun, teman ku menyadari kalo dompetnya tidak ada dikantong celananya. Semalam, menjelang tidur, ga sempat memeriksa celana karena sudah terlanjur ketakutan usai nonton Pocong dan langsung tidur dengan menarik selimut tinggi2 (kakinya justru kelihatan deh).

Sibuk dan bingung. Semua sudut di kamar digeledah. Sang dompet tetap aja ga ketemu. Usai sholat Dzuhur, aku baru sadar, kenapa ga call ke Studio 21 untuk sekedar bertanya. Ya memang sekedar bertanya tanpa harapan. Di seberang sana, suara mbak-mbak yang menerima telephone ku menjawab halus. Dan kemudian aku dihubungkan dengan Satpam 21 bernama Pak Anang.

Begitu tersambung, aku berkata : “Maaf pak, boleh minta tolong? bla bla ..” Pak satpam dengan sopan bilang .. “O ya, mas yang dari Sukabumi ya?” .. Loh, kok tau, singkat cerita, ternyata sejak tadi malam Pak Satpam sudah menemukan dompet temanku itu tergeletak dibawah bangku E6 dan mungkin karena saking horornya film tersebut, dompet itu menclat keluar dari kantongnya.

Syukurlah. Ternyata masih ada orang yang baik. Padahal kita semua sudah merelakan dompet tersebut. Atau mungkin karena kita semua pasrah, justru Allah memberikan kembali? yang pasti, satu pelajaran diperoleh hari ini .. yaitu sabar, pasrah dan tawakal. Kalo masih rejeki, ga kemana kok. Jadi ga usah ngoyoh.

Iklan