blog9.JPG

Pertama kali dalam hidup ku, aku menyaksikan acara grebeg suro di kota Ponorogo. Mumpung sedang ditugaskan di Madiun maka kesempatan untuk melihat dari dekat acara tersebut akhirnya dapat tercapai. Padahal aku sudah punya tiga kali kesempatan dan baru sekarang hal itu bisa ku ambil.

Dari Madiun, aku berangkat jam 22:00 WIB. Jarak antara Madiun Ponorogo sekitar 32 Km atau sekitar 45 menit berkendaraan. Malam itu, hujan turun rintik2 sejak dari pertengahan jalan menuju Ponorogo. Begitu memasuki kota Ponorogo. Beberapa ruas jalan diblokir oleh masyarakat karena di tengah2 jalan beraspal berdiri panggung.

Ada yang menggelar wayang kulit. Ada yang menyajikan musik dangdut. Ada yang melehat pengajian dan lain sebagainya. Sehingga untuk menuju ke alun-alun – pusat kegiatan grebeg suro – terpaksa mesti mengambil jalur memutar, sehingga sempat tersesat kemana-mana, sampai ke Pondok Pesantren Gontor segala.

Hujan rintik2 ditingkahi sekali sekala dengan deras, tidak membuat masyarakat Ponorogo untuk bergerak menjauh dari alun-alun. Tiba di alun-alun, penuh dengan orang-orang berjualan dan atraksi. Dan malam ini adalah malam terakhir mereka berdagang. Karena hari ini adalah penutupan grebeg suro yang sudah berlangsung sejak senin kemaren.

Tepat jam 23:50 WIB atau sepuluh menit sebelum pergantian tahun hijrah dari 1427 ke 1428, kembang api muncrat dari bawah meluncur keatas membelah awan hujan. Bertalu-talu penuh warna. Tuh, saya lampirkan photonya. Dan entah mengapa hujan, tiba2 berhenti sama sekali. Wah, ga kebayang deh, seandainya hujan tetap ngotot turun, bakal kesulitan memandang ke angkasa untuk melihat kembang api karena kelilipan air hujan.

Jam 00:45 WIB aku meninggalkan Ponorogo setelah sebelumnya sempat mampir di tempat atraksi Tong Setan, yang saya tonton terakhir kali sekitar 35 tahun yang lalu. Ternyata, ga berubah sama sekali. Ketika pertama kali saya melihat Tong Setan dengan sekarang. Kok ga ada perkembangannya? atau justru karena itu, mereka mampu bertahan??

Iklan