smallville2.JPG Beberapa hari belakangan ini, banyak temanku yang curhat soal cinta. Mungkin karena sedang suasana valentine – yang saya sendiri ga merayakannya – sehingga mereka – teman-temanku itu – jadi lebih sensi 🙂 dan dari pembicaraan mereka, ada beberapa catatan yang sama yang bisa saya simpulkan dari permasalahan yang mereka hadapi.

Hampir sebagian besar dari mereka – baik yang jomblo maupun yang gagal bercinta – selalu mencari dan mengejar cinta. Mereka beranggapan, bahwa cinta itu mesti dikejar dan dicari. Tapi sering kali, mereka gagal dan gagal. Padahal usaha yang mereka lalukan sudah all in. Penuh perjuangan air mata 🙂

Saya berkesimpulan .. jika kita mengejar cinta, maka cinta akan bisa lari ketika kita mendapatkannya. Dan ketika kita mencari cinta, maka cinta akan dapat hilang setelah kita temukan. “Jadi – teman-temanku itu protes kepada ku – aku harus bagaimana dong???” .. seperti ilmu-ilmu manajemen yang sudah ada. Jika semua jalan yang ada sudah tertutup maka kita harus menciptakan jalan baru.

Sama halnya dengan teori Blue Ocean. Jika kita hanya berkutat di sungai-sungai atau di laut saja, kita akan kehabisan lahan. Oleh karena itu, kita menuju ke samudra biru. So, saya menggunakan pendekatan itu untuk memberi masukan buat teman2ku yang sedang sedih se sedihnya …

Jangan lagi mengejar cinta. Jangan lagi mencari cinta. Tapi, ciptakan cintamu sendiri. Di create. Gimana dong caranya? .. ya namanya juga mencipta. So pasti harus ada proses mencipta. Pasti ada bahan baku agar dapat mencipta. Proses mencipta adalah membuat diri kita layak untuk dicintai oleh siapa saja. Bahan bakunya adalah attitude kita.

Sudah mudeng? .. yups. Kebanyakan dari kita selalu mengejar cinta. Seakan-akan ketika cinta itu sudah kita dapat maka kita merasa berhak untuk menguasai cinta itu sebagai upah atas upaya kita mengejarnya. Begitu juga dengan mencari cinta. Ketika cinta tersebut sudah kita temukan, maka kita merasa berhak untuk menjajah cinta itu sebagai upah atas upaya kita mencainya.

So, dengan menciptakan cinta. Kita yang men-create sendiri. Seperti apa cinta yang kita inginkan. Bahan bakunya, kita harus memiliki sifat yang peduli dengan orang lain. Sifat yang mau mengalah dan tidak egois. Sifat yang menerima semua perbedaan dan lain-lainnya. Plus, belajar mencinta kekurangan orang lain.

Karena .. ketika kita dapat mencintai kekurangan dan kejelekan orang lain maka kita akan dengan mudah untuk mencinta kelebihan dan keindahan orang lain. Sehingga, cinta itu sebenarnya ada dalam diri kita. Kita sering meminta orang untuk mencintai kita. Kita meminta orang untuk memperhatikan kita.

Ada satu kisah. Seorang teman yang heran. Dia sering mencurahkan perhatian pada pasangannya. Tapi pasangannya itu tetap aja cue’ dan selingkuh. Setelah cerita lebih lanjut ternyata perhatiannya keliru. Dia membelikan sesuatu buat pasangannya ketika dia tahu pasangannya menginginkan suatu barang. Tapi setelah dibeli, ternyata barangnya tidak sesuai dengan selera pasangannya.

Temanku itu merasa berhak untuk dianggap. Karena dia sudah cape-cape beli. Padahal barang tersebut tidak memberi efek positip buat pasangannya karena tidak dapat digunakan. Ini dia biang kerok terjadi cek cok. Yang satu minta dihargai, yang lain ogah karena ga ada alasan untuk menghargai. So .. gitu deh.

Iklan