image172.jpg “Tidak ada yang lebih penting bagi negara mana-pun selain kemampuan memberi makan dirinya sendiri” kata Ronald P Cantrell, Dirjen International Rice Research Institute. Dan pekerjaan mulia tetapi setiap tahunnya mewariskan generasi miskin, barangkali itu petani. Dikatakan mulia karena seluruh hidupnya dipertaruhkan untuk memproduksi beras, komoditas yang paling strategis di muka bumi ini. Tetapi ironisnya, generasi pewarisnya kian hari bertambah miskin. Tulis Hermas E.Prabowo di Kompas, Sabtu 24-02-2007. Dan satu tulisan lagi di harian yang sama tentang Ironi, Petani harus antre beras sendiri.

Saya terpana !!! selama ini, saya cukup pergi ke Hypermarket yang berpendingin udara dan buka hingga tengah malam hanya untuk membeli beras. Sementara, orang yang menanam padi untuk menjadikannya beras, mungkin sama sekali belum pernah merasakan nikmatnya berbelanja malam hari karena sang petani sudah keburu cape setelah seharian bekerja di sawah.

F.Rahardi dalam opininya di Kompas pada hari yang sama menunding revolusi hijau yang terjadi sekitar tahun 1970-an yang telah merugikan petani. Yang diuntungkan hanya kapitalisme global sebab industri benih, pupuk dan pestisida adalah jaringan kapitalisme global. Revolusi hijau telah memiskinkan petani karena harus membayar mahal untuk benih, pupuk dan pestisida tetapi dibayar murah oleh tengkulak.

Konsumen beras -termasuk saya- harus membayar lebih mahal, tetapi tidak menguntungkan petani karena tingginya harga beras, terutama disebabkan tidak efisiennya jaringan distribusi. Selain dirugikan secara ekonomis, petani juga dirugikan secara kultural sebab telah kehilangan peluang untuk mengembangkan komoditas karbohidrat non beras. Ck ck ck …

Begitu memprihatinkan negeri ini. Saya memang tidak bisa berbuat banyak untuk menolong masalah beras di negeri ini. Yang bisa saya lakukan adalah setiap kali makan nasi, saya berusaha untuk tidak berlebih-lebihan serta dihabiskan. Kalau kelakuan ini sebenarnya sudah sejak kecil karena ibu selalu berkata, kalau nasi yang saya makan masih tersisa .. “Kasihan nasi-nya, nanti nangis karena tidak dihabiskan” ..

Mungkin kata-kata yang konyol. Tapi justru kata-kata itu begitu menyerap dalam benak saya yang masih kecil dan terbawa hingga dewasa. Dan kata-kata itulah yang membuat saya menghargai apapun yang diberi oleh-Nya pada saya termasuk beras dari hasil kerja keras Pak Petani. Hanya itu yang bisa saya lakukan.

Iklan