boediono1.jpg Meskipun proses demokrasi terus menunjukkan kemajuan, dari segi pendapatan per kapita, Indonesia masih berada pada zona risiko tinggi untuk keberhasilan demokrasi. Pasalnya, pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar 4.000 dollar AS, sedangkan batas kritis bagi kelangsungan demokrasi adalah 6.600 dollar AS.

Hal itu diungkapkan Menko Perekonomian, Boediono dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar FE UGM, Sabtu 24-02-2007. Sejumlah studi menunjukkan tingkat kemajuan ekonomi merupakan faktor penentu keberlanjutan demokrasi. Salah satu studi pengalaman empiris selama 1950-1990, rezim demokrasi di negara dengan penghasilan per kapitas 1.500 dollar AS mempunyai harapan hidup hanya 8 tahun. (dihitung berdasarkan purchasing power parity / PPP dollar tahun 2001).

Pada tingkat penghasilan per kapita 1.500 – 3.000 dollar AS demokrasi dapat bertahan rata-rata 18 tahun dan pada penghasilan per kapita di atas 6.000 dollar AS daya hidup sistem demokrasi jauh lebih besar dan probabilitas kegagalannya hanya 1 : 500. Menurut Boediono, Indonesia diperkirakan berpendapatan 4.000 dollar AS sedangkan batas kritis bagi demokrasi sekitar 6.600 dollar AS. Demikian yang saya kutip dari Kompas edisi Minggu, 25-02-2007.

Mungkin ada benarnya juga. Sulit rasanya kita berdemokrasi, kalau urusan perut belum selesai dibenahi. Sehingga ada benarnya pendapat sebagian orang bahwa kemiskinan itu lebih bahaya dari terorisme. So … saya jadi teringat kata pepatah. “Lebih baik kaya ramai-ramai dari pada sendirian saja yang kaya sementara yang lain miskin.” Karena kalau sendirian, maka akan jadi raja. Tidak ada demokrasi. Sedangkan kalau semuanya kaya raya .. hmm, siapa nanti yang kerja kasar ya? .. 🙂

Akhirnya kembali ke … laptop takdir dan nasib masing-masing deh. Yang harus dijaga adalah semua orang harus diberi kesempatan yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi. Jika sudah diberikan kesempatan yang sama, tapi tetap ga kemana2 juga .. ya nasib deh 🙂

Iklan