kalimantan1.JPG Musibah pesawat udara dan kapal laut yang terjadi di bumi pertiwi tercinta ini, membuat kenangan masa silamku terusik. Sayang rasanya kalau tidak ku tulis untuk berbagi pada teman-temanku, ya .. minimal buat dokumentasiku, sepenggal cerita hidup ku dimasa lalu. Cerita ini terjadi sekitar tahun 1985 – kapal laut – dan sekitar tahun 1991-1995 – pesawat udara – di daerah Kalimantan Barat …

KAPAL LAUT

Jangan bayangkan seperti KM Kerinci dan sejenisnya milik PELNI karena kapal yang kunaiki di tahun 1985 ini kapal kecil yang menghubungkan kota Pontianak ke kota Ketapang. Waktu itu, kami – aku bersama dua teman kuliah lainnya – berencana berangkat dengan menggunakan KM Eka Samudra – sejenis kapal phinisi – ke Ketapang .. akan tetapi karena sedang feak season, tiket KM Eka Samudra ludes disamping itu jadwal berangkatnya juga tidak pas dengan jadwal kami.

Selain KM Eka Samudra, trayek ke Ketapang dilayani oleh kapal lain yang bobotnya lebih kecil lagi. Aku lupa namanya. Tapi aku ingat bentuknya. Lebih mirip kapal klotok. Dan kuperkirakan, muatannya tidak lebih dari 30 orang. Tapi karena waktu itu kepepet, kami putuskan tetap menggunakan kapal seiprit itu. Tapi – lagi-lagi – tiketnya ludes, kami disarankan untuk naik di pelabuhan Sei.Raya. Karena kalo kami naik dari pelabuhan Seng Hi – pelabuhan resmi – pasti dilarang oleh sah bandar.

Akhirnya .. kami berhasil menaiki kapal kecil itu menuju ke Ketapang dan hanya diberi selembar kertas sebagai bukti kalau kami sudah membayar. Tapi waktu itu secara bergurau aku katakan ke teman2ku .. “Wah, kaya’nya kita jadi penumpang gelap deh. Dan nama kita ga masuk dalam manifest kapal. Kalo terjadi sesuatu pada kapal ini, nama kita ga dapat santunan asuransi dan orang ga akan tahu keberadaan kita” .. teman2 ku waktu itu cuma guyu tok .. ah, pengalaman yang ga patut ditiru oleh siapa pun.

Alhamdulillah .. perjalanan kami selamat walaupun ketika masuk ke perairan Ketapang ombak sangat besar dan kita semua was-was. Oya, selama di kapal, kami tidur diatas atap kapal. Pengalaman yang ga pantas untuk di copy oleh siapa pun. Mudah2an tidak ada yang meniru seperti pengalaman saya. BTW, waktu itu .. yang jadi penumpang gelap seperti kami .. lumayan banyak .. sekitar 20 orang lah. Ihhh sereeeemmm

PESAWAT UDARA

Dalam menjalan tugas kantor, aku ditugaskan ke Nanga Pinoh, daerah terpencil di pedalaman Kalimantan Barat. Satu-satunya sarana tercepat kesana hanya menggunakan pesawat udara. Dan – lagi-lagi – jangan ngebayangkan pesawat Boeing 737-300 atau DC-10 dan sejenisnya. Pesawat yang ku naiki ini dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai pesawat DC-9 alias penumpangnya cuma sembilan orang.

Bangku dalam pesawat berjajar lima. Baris paling depan diduduki oleh pilot plus satu penumpang. Empat baris belakang, diisi oleh delapan penumpang dengan tempat duduk seperti mobil kijang dibagian tengah. Jadi praktis tidak ada ruang kosong. Dibelakang tempat duduk yang paling belakang, ruang kargo. Persis seperti kita naik mobil kijang dan bangku belakang dilipat.

Ketika berangkat dari Pontianak ke Nanga Pinoh, aku bersama rombongan dari Dinas Kehutanan dan Pemilik HPH sebanyak 9 orang termasuk diriku. Ketika berangkat aman2 saja. Tapi ketika akan pulang, ternyata 1 orang yang ada di base camp Nanga Pinoh ingin ikut pulang ke Pontianak karena ada keperluan dikota. Akhirnya diputuskan kami akan berangkat dengan penumpang 10 orang. Tiket pun sudah dibeli.

Saat boarding .. tiba2 Kepala Bandara Nanga Pinoh tergopoh2 ke pesawat dan meminta satu dari kami untuk turun. Sempat terjadi perdebatan. Karena kami merasa sudah punya tiket 10 orang. Tapi karena kapasitas cuma 9 maka, Kepala Bandara itu tidak mengijinkan pesawat untuk berangkat. Ketika kepala rombongan mengatakan bahwa kelebihan penumpang adalah tanggung jawab rombongan, Kepala Bandara mengatakan : “Gimana bapak mau tanggung jawab .. kalau pesawatnya jatuh dan semua sudah meninggal?” akhirnya .. satu orang mengalah.

Alhamdulillah, syukur Kepala Bandaranya tegas. Dapat dibayangkan kalau tidak. Bakal kita tetap berangkat dengan 10 orang dimana salah satu bangku yang isinya dua orang diisi oleh tiga orang, persis seperti naik kijang kalau duduk ditengah buat tiga orang.

Tapi .. tidak semua Kepala Bandara setegas itu. Pengalaman lain – juga dalam rangka tugas – ketika harus ke Pangkalan Bun. Dari Pontianak mampir ke Ketapang dulu – kali ini ga naik kapal laut – dari Ketapang dilanjutkan ke Pangkalan Bun. Nah .. masalah baru timbul, ketika dari Ketapang ke Pangkalan Bun .. tiba2 ada satu penumpang tambahan. Padahal kursi sudah penuh. Ajaib .. sang penumpang tambahan itu dengan santainya duduk di kursi plastik yang dibawa dari darat – bukan disediakan di pesawat loh –

Ketika saya konfirmasikan .. dengan santainya dijawab .. “Sudah biasa mas .. lagi pula cuma sebentar kok penerbangannya. Jadi ga masalah kalo mesti duduk di kursi tambahan ini” .. aku bisa cuma geleng-geleng kepala sambil berkata .. kalo IATA tau gimana ya? .. tapi itu cerita duluuuuu banget .. jadul deh .. ku pikir jaman sekarang ga ada seperti itu. Lagi-lagi, pengalaman ini jangan ditiru. Ga baik hehehe 🙂

Iklan