oprah_2.jpg Kemaren, sekitar jam 19.00 WIB, aku terpana di depan layar kaca yang sedang menayangkan acara Oprah Show di Metro TV yang membahas masalah krisis pendidikan di Amerika. Dan tadi pagi, aku lagi-lagi terpana membaca blog soal Prediksi soal UN 2007 dan kelulusan yang banyak mendapatkan tanggapan dari pembaca blog mas Urip tersebut terutama dari pemburu soal 🙂
sehingga mas Urip mesti mengklarifikasi bahwa tulisan beliau tidak berisi bocoran soal ..

Dalam Oprah Show tersebut, diungkapkan bahwa – ternyata – di Amerika sono, siswa SMU yang siap untuk melanjutkan kuliah – baik dari segi keenceran otak, kesiapan mental dan materi – hanya sekitar 34% saja. Artinya banyak siswa yang – sebenarnya- tidak siap untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan bahkan, tidak ada satu negara bagianpun yang mempunyai prestasi lulus 100% dalam ujian akhir. Hanya lima negara bagian yang mempunyai kelulusan diatas 80%, sedangkan sisanya dibawah 80%.

Bedanya, kalau di Amerika mereka mempermasalahkan kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama – dalam arti kata akses ilmu pengetahuan yang sama – karena ada satu siswa yang lulus dengan nilai 4,0 (IPK kali ya) dan menjadi juara disekolahnya, tapi ketika diterima di Universitas, dia tertinggal jauh dari rekan2nya di kampus dalam menangkap pelajaran. Banyak pengetahuan yang seharusnya telah diterimanya saat SMU, tapi di SMU nya ilmu tersebut tidak diajarkan. Sehingga dia keteteran mengejar teman2nya dan membuat dia drop. Hal inilah yang dipermasalahkan dalam Oprah Show karena banyak SMU yang tidak membuat siswanya siap menuju ke perguruan tinggi.

Aku tidak tahu pasti, apakah di Amerika sana ada standarisasi pelajaran .. yang pasti, mereka mempermasalahkan – sesuai yang ku tangkap dari acara Oprah itu – soal kesempatan untuk mendapatkan ilmu yang sama. Mereka yakin, jika semua sekolah mengajarkan pengetahuan yang sama, maka ketika mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, akan lebih memudahkan dalam menyerapkan ilmu.

Sedangkan di Indonesia, yang kita permasalahkan adalah tentang ujian yang distandarisasi, bukan soal apa yang diajarkan disekolah .. Jujur, ku akui, aku bukan ahlinya dibidang pendidikan. Tapi aku tergelitik untuk menuliskan pendapatku tentang apa yang terjadi di dunia pendidikan kita. Seharusnya – menurutku – adalah standarisasi pendidikan. Artinya, jika kita belajar di SMU Papua, ilmunya sama dengan SMU di Jawa. Itu idealnya, karena aku juga sadar kok, tingkat daya serap orang itu berbeda. Tapi .. jika diberi kesempatan yang sama, tentu tidak melanggar HAM soal kesempatan mendapatkan ilmu.

Aku jadi teringat kisah2 masa lalu. Baik yang terjadi pada diriku, keluargaku, saudara2ku, teman2ku dan orang2 lain yang ku kenal terutama yang orang tuanya sering berpindah2 tugas dari kota ke daerah terpencil atau sebaliknya selalu mendapatkan kendala masalah pendidikan. Salah satu contoh, ketika sepupu ku sekolah di kota, dia hanya bisa masuk sepuluh besar dan sulit untuk meraih juara 1. Ketika orang tuanya pindah tugas ke daerah pedalaman Kalimantan, dia dengan mudahnya menjadi juara 1 dan tanpa saingan. Itu artinya apa?

Memang serba susah. Tapi perlu kesadaran semua pihak. Bahwa pendidikan itu adalah pintu menuju kebebasan. Membuat orang mempunyai akses yang sama untuk hidup lebih baik dimasa yang akan datang. Seharusnya, pendidikan dimana saja itu sama. Memang pasti banyak kendala terutama untuk daerah2 terpencil. Seperti kelangkaan guru yang mau ditempatkan disana. Ini bisa disiasati dengan memberi gaji yang lebih tinggi, tentunya perlu komitmen yang kuat dari Pemerintah dan DPR untuk mengalokasi dana yang cukup seperti yang diamanatkan.

Kalau masalah daya tangkap, ku pikir itu wajar. Jika memang tidak mampu, maka secara alamiah akan tersingkir sebelum ujian akhir. Sehingga permasalahan tidak lagi soal ujian akhir, tapi bagaimana cara mengajar. Memang tidak semudah menulis ini .. karena banyak faktor seperti -terutama – ekonomi, kedewasaan semua pihak dll agar kita fair dalam mendapatkan kesempatan ilmu pengetahuan.

Iklan