great-wall-china.jpg Sebuah desa dipedalaman daratan China, ada seorang petani yang sedang termenung karena kuda yang biasa digunakan untuk menggarap ladangnya lari ke dalam hutan yang ada didekat desa itu dan tidak kembali hampir semingg. Para tetangga datang memberikan simpati sambil menghibur si petani. “Kasihan sekali dengan nasib burukmu. Sekarang, tanpa kuda, kamu ga bisa menggarap ladangmu lagi” tapi si petani berujar, “Aku ga tau apakah ini disebut dengan nasib buruk ku.”

Seminggu kemudian ketika si petani sedang mencangkul ladangnya, tiba2 dia mendengar derap kaki dan ringkikan kudanya. Ketika dilihat kearah datangnya suara itu, dia kaget karena kuda nya telah kembali dengan 3 ekor kuda betina yang kelihatannya masih liar. Dia senang sekali. Para tetangga berdatangan dan berkata “Wah, nasibmu benar2 baik kawan. Sekarang kamu mempunyai 4 ekor kuda” .. si petani berkata datar “Saya tidak tau, apakah adanya kuda-kuda ini disebut dengan nasib baik atau nasib buruk.”

Keesokan harinya, anak lelaki si petani yang beranjak remaja, melihat kuda2 betina tadi berada di kandang. Sementara yang jantan sedang menggarap ladang dengan si petani – orang tua remaja itu. Tiba2 dia ingin mencoba untuk naik kuda tersebut mengingat selama ini kuda yang ada hanya untuk menggarap ladang. Ketika si remaja baru menaiki kuda tersebut, kuda itu memberontak – maklum masih liar. Sehingga si remaja terlempar dan jatuh ke tanah dengan kuat. Si petani kaget dan berlari ke arah anaknya. Para tetangga juga berdatangan sambil menolong si remaja. “Aduh, kasihan sekali .. betapa nasibmu buruk anak muda” .. kembali si petani menimpali “Ya kita ga tau ya, apakah ini nasib buruk atau nasih baik.”

Karena cidera si remaja cukup parah – kakinya patah – maka dia berjalan menggunakan kruk untuk beberapa lama sambil meratapi nasibnya. Dua minggu setelah kejadian tersebut, datang utusan kerajaan ke desa itu yang mengumumkan akan merekrut remaja desa untuk dijadikan tentara perang melawan mongolia. Semua remaja diambil kecuali si remaja yang sedang patah kakinya. Semua tetangga mengatakan .. “Aduh, nasib anak si petani itu sungguh baik ya. Anak2 kita pergi berperang. Sementara dia tetap tinggal di desa ini” .. dan lagi-lagi petani itu hanya berkata “Aku juga tidak tahu, apakah ini disebut nasib baik atau nasib buruk.”

Iklan