01.JPG Long weekend kali ini ku gunakan untuk bersilaturahmi dengan teman2 yang sudah lama ga pernah ketemu bahkan dengan yang belum pernah ketemu. Maklum, jaman digital .. persahabatan bisa dijalin tanpa mesti pernah bertemu secara phisik dengan seseorang. Sering kali – setelah saling berkirim kabar sekian tahun – aku baru diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan sobat2 ku itu.

Kali ini, pertemuan kami sepakati di Surabaya. Beberapa rekan dari Semarang, Malang, Jember, Manado, Jakarta dan Bali ikut ambil bagian dari sebagian waktu long weekend ku setelah sebagian lainnya ku gunakan untuk bareng keluarga.

Seperti biasa, dalam pertemuan kali inipun, joke-joke segar selalu meluncur dari mulut2 teman2ku untuk membunuh waktu yang sering kali membosankan bisa hanya bicara soal politik saja. Dan selalu saja, ada diantara kami yang jadi ‘korban’ dari keisengan teman2 yang lainnya. Ketika kami semua tertawa terbahak2 dengan joke salah seorang teman, ada teman yang baru tertawa beberapa saat kemudian.

Atau ketika salah seorang sudah mengalihkan topik diskusi kami ke tema yang lain, ternyata ada teman yang baru ‘ngeh’ soal topik yang sudah out of date karena topik berganti. Seorang teman kemudian berkomentar : “Kamu kok aneh seh. Selalu telat tertawa atau bertanya. Jangan2 kamu menderita authis ya?” .. maka meledaklah tawa kami semua. Bahkan ada yang sangat kencang sekencang-kencangnya.

“Waduh” timpalnya lagi. “Kamu tuh, kok tertawanya keras banet. Wah jangan2 kamu perlu ke psikiater nih karena untuk melepaskan beban jiwa” maka kami pun semakin menjadi2 tertawa. Jadilah topik kami waktu itu ngebahas soal tertawa terlalu kecepatan/kekerasan dan tertawa telat. Jadi kesimpulannya .. jika ada yang tertawanya telat .. kudu ke dokter untuk memeriksakan diri. Jangan2 authis. Atau kalo tertawanya sangat kencang atau kecepatan. Ke dokter juga untuk cek up. Jangan2 gangguan jiwa. Jadi jangan sampai telat atau kecepatan.

Karena ini kejadian ga serius, tentunya kesimpulan teman2ku itu juga ga serius.

Iklan