Karena halaman parkir yang biasanya ku pakai untuk memarkir kendaraan akan digunakan perhelatan acara kantor maka pagi ini aku ke kantor dijemput supir. Beberapa rekan kantor – juga – dijemput karena tidak membawa kendaraan ke kantor. Dalam perjalanan ke kantor, aku mendapat kabar bahwa salah satu supir di unit lain dimutasi ke unit ku. Sebut saja Pak Bajuri.

Aku jadi ingat beberapa waktu lalu – sekitar bulan Juni 2006 – ketika Pak Bajuri menjemput ku di Bandara Juanda untuk pulang ke Madiun. Sepanjang perjalanan sekitar 3,5 jam tersebut, beliau curhat tentang masa depan pekerjaannya. Mengingat dia adalah pegawai outsourcing yang bekerja dengan jangka waktu tertentu.

Dia kawatir, karena Juni 2007 kontraknya sebagai supir kantor akan diakhiri karena perusahaan tempatku bekerja kelebihan satu supir sehingga akan dilakukan pengurangan supir dengan cara kontrak kerja tidak diperpanjang pada saat jatuh tempo khusus untuk supir dengan performance terendah setelah diranking oleh pengambil keputusan. Dan dia merasa, dia lah orang-nya yang tidak akan diperpanjang kontraknya lagi.

Saat itu, aku cuma bertanya dua hal pada dirinya. Pertama, apakah dia percaya adanya Tuhan. Kedua, apakah dia percaya bahwa rejeki, jodoh dan maut, ditentukan oleh Tuhan. Aku minta dia menjawab dengan keyakinan 100%. Ketika dia menjawab: “Iya”, aku kemudian berkata : “Oke, tidak ada alasan Pak Bajuri untuk kawatir tentang pekerjaan (baca rejeki, red) Bapak.”

Dia kemudian terdiam sesaat. Seperti berpikir. Kemudian bertanya lagi. “Maksud Bapak apa? saya kurang mengerti” akhirnya ku jelaskan bahwa jika kita sudah yakin 100% bahwa Tuhan itu ada dan menentukan rejeki, jodoh dan maut buat kita maka tidak ada alasan kita untuk meragukan rejeki, jodoh dan maut yang ditentukan oleh-Nya.

Artinya, apapun rejeki kita, jodoh kita dan maut kita .. mau tidak mau, suka tidak suka, mesti kita syukuri dan kita jalani dengan ikhlas. Hal ini konsekwensi dari kepercayaan kita 100% pada Nya. Disamping itu dalam surah Ibrahim ayat 7 dikatakan bahwa : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”

Jadi .. jalani saja sisa masa kerja yang ada dengan rasa syukur – kata ku pada Pak Bajuri tersebut – Alhamdulillah, masih setahun lagi masa kerjaku. Nikmati dan bersyukur bahwa kita masih diberi pekerjaan walaupun cuma setahun saja. Ketika waktu berjalan dan sisa waktu enam bulan, kita berucap: Alhamdulillah, masih diberi kesempatan enam bulan. Bahkan sampai detik2 terakhir kontrak akan berakhir tetap berujar: Alhamdulillah, tinggal satu hari lagi saya bekerja.

Saya katakan pada beliau waktu itu. Percayalah, tidak jika benar2 bersyukur, pasti Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Dia sudah berjanji dan Allah tak pernah ingkar janji. Dan Dia tidak akan menelantarkan rejeki buat kita seandainya kita telah bekerja dengan profesional sebagai wujud rasa syukur kita kepada rejeki yang telah diberikan-Nya.

Dan hari ini, belum genap setahun sejak Pak Bajuri curhat pada ku. Belum sampai masa kontrak kerjanya jatuh tempo. Janji Allah telah terbukti. Tanpa diduga kami berdua, seorang supir lainnya di mutasi sehingga – jumlah supir yang tahun kemaren kelebihan satu – sekarang jumlah supir sudah sesuai dengan kebutuhan tanpa perlu ada pengurangan supir. Dengan demikian, kontrak Pak Bajuri kemungkinan besar akan tetap diperpanjang sepanjang kinerja dia selama satu tahun ini baik.

Iklan