clip-02.GIF Pagi ini, aku menerima sebuah message di Friendsterku dari seorang sahabat yang menyatakan bahwa tidak mudah mencurahkan pikiran dalam bahasa yang mudah dimengerti kalangan umum. Aku terpana. Sejenak berpikir dan teringat masa2 awalku ketika memulai menulis – yang pasti bukan belajar menulis saat di SD loh – juga pendapat mas Arswendo Atmowiloto yang menyatakan bahwa menulis itu gampan. So, akhirnya ku putuskan untuk memposting tulisan ini.

Sejak kelas 5 SD – ya sekitar tahun 1976 – aku mulai akrab dengan dunia tulis menulis. Dimulai dari korespondensi dengan sahabat pena yang ku kenal lewat majalah Kawanku – stylenya belum seperti sekarang. Waktu itu, aku ingat ada sekitar 100 orang teman dari seluruh penjuru Indonesia. Dari situ, aku coba mengirimkan tulisanku ke majalah tersebut. Dan alhamdulillah, tidak dimuat.

Waktu terus berjalan. Pengalaman menulis kemudian bertambah ketika aku mulai aktif di redaksi Majalah Dinding Sekolah (MDS) – istilah sekarang Mading – dan terus berlanjut ketika kuliah nyambi sebagai penulis kolom ekonomi di salah satu penerbitan. Hobi surat menyurat tetap dipertahankan dan makin menjadi2 setelah ada email karena dengan email beberapa kendala dapat dihilangkan seperti waktu, jarak, kerahasiaan dan bisa multimedia 🙂

Trus, gimana dong kalau menulis tetap juga menjadi kesulitan bagi sebagian orang. Jujur, hingga saat ini, aku juga ga pede kalo tulisan2 aku itu oke. Karena, latar belakang bahasa Melayu-ku sering kurang dipahami sebagian besar orang Indonesia. Tapi ku pikir, kalau aku tidak memulai, maka aku tidak akan pernah bisa. Disamping itu, bukankah setiap penulis mempunyai karakter tulisan sendiri2??

Ada penulis dengan gaya tulisan yang vulgar. Ada yang bergaya aristokrat. Ada juga yang menggunakan kata2 ilmiah. Ada pula yang pake bahasa daerah. Dan lain sebagainya. Jadi, ku pikir, sepanjang bisa dibaca dan dimengerti oleh orang – walaupun terbatas – itu sudah cukup. Kan menulis ini hobby. Syukur2 bisa jadi ladang nafkah dan laris manis kalo dijual. Kalo ga, yaaa minimal bisa menyalurkan buah pikiran menjadi kata2.

Yang pasti .. menulislah dengan kata hati. Jangan pikir, apakah itu bagus atau tidak. Sejalan dengan waktu, kita akan merasakan apakah sudah baik atau tidak. Bukankah kegagalan itu terjadi ketika kita tidak pernah memulainya. Jadi .. tunggu apa lagi. Sekarang sign in di WP. Trus kalo ga paham bisa lihat di blogroll-ku ada blog tutorialnya. Atau tanya teman2 di WP. Mereka welcome pada pendatang baru. Iiiiitulah – dengan gaya bicara Olga Ceriwis – teman2 di WP yang baik hati 😀

Iklan