ym.jpg Kemaren sore, dengan semena2nya seorang teman menuduhku meng-invisible YM! ku. Karena dia sejak pagi sudah say hello ke YM! ku tapi ga dibalas2. Mungkin karena kesal, maka tuduhan itupun dilahirkan. Padahal, kesibukan pagi hari membuat aku memang ga meng-online-kan YM! ku. Baru sore harinya aku online di YM! dan visible.

Pengalaman yang tidak mengenakan itu menemukan muaranya ketika membaca blog-nya mas Anung. Sehingga membuatku mencurahkan pendapatku tentang prilaku invisible dan visible ini. Karena hal ini bisa menganggu suatu persahabatan dan salah pengertian. Dimana sebagian besar teman yang invisible menyatakan tidak ingin diganggu. Hmmm, suatu alasan yang aneh menurut ku.

Aku cuma berpikir, jika kita tidak ingin diganggu oleh teman2, yaaa ga usah on line lah !! gitu aja kok repot 🙂 .. kalo pun terpaksa on line kemudian ada yang invite, so .. bukankah lebih sopan kalo kita sapa dan katakan .. maaf bro, sedang sibuk, ga bisa chat, atau seperti beberapa teman yang lainnya pasang tag busy di iconnya. Jadi ga perlu repot2 untuk invisible.

Karena bagiku, teman yang invisible itu orang yang paranoid. Ada udang dibalik batu. Kalo memang tidak bersalah. Ngapain juga mesti invisible. Saya sependapat dengan mas Anung, kalo add orang di YM! ya kudu hati2 .. ga semuanya mesti di approve. Paling gampang. Buat beberapa YM! dan dibagi2. Mana buat teman dekat. Teman selingkuh. Teman ecek2 dll.

Bayangkan kalo semua anggota YM! invisible. Maka ketika kita online, kita akan melihat semua teman ‘gelap’ … padahal sedang online. Jadi alangkah zalim-nya kita. Kasihan teman2 yang visible. Dia seperti kelinci yang lewat di depan segerombolan serigala yang sembunyi digelapan dan siap menerkam sang kelinci yang terang benderang. Benar2 tidak adil.

Iklan