os28097.JPG Diam. Juga bentuk dari komunikasi. Minimal memberikan isyarat bahwa kita tidak ingin diganggu atau pertanda bahwa kita tidak sejutu akan sesuatu atau sebaliknya. Tapi dengan diam, orang sering salah sangka. Kalo seseorang tidak menangkap signal atas kediaman seseorang – walah, istilahnya rancu ding – bisa2 orang itu dituduh tidak sensitif. Serba salah memang. Yang satu minta dipahami alias dimengerti. Yang satunya lagi tidak memahami alias ga ngerti hehehe :) cape deee. Dan bukan berarti pula, dengan kata2 semua akan menjadi terang. Karena tidak jarang, kata2 juga bisa salah dimengerti dan dipahami. Jadi gimana dong?

Berdasarkan pengalamanku, banyak faktor yang menyebabkan mengapa kita sulit memahami dan dipahami. Tapi ada faktor yang paling dominan. Yaitu open mind alias keterbukaan pikiran untuk menerima apapun informasi walaupun itu bertentangan dengan hati nurani atau prinsip kita. Sori, aku bukan pakar ilmu komunikasi, tapi aku cuma mencoba untuk menyadari mengapa sering terjadi salah paham walaupun kita sudah menerapkan ilmu komunikasi yang pernah diperoleh baik informal maupun formal.

Keterbukaan pikiran seperti dua buah gelas atau beberapa gelas dengan isi yang berbeda2. Ada air putih, air seduhan teh, air gula dan lainnya. Ketika isi gelas yang satu akan diisikan ke gelas yang lain. Pasti gelas yang akan diisi menjadi melimpah. Sedangkan gelas lainnya berkurang. Sebaiknya, masing2 gelas mengurangi isinya untuk menerima isi dari gelas lain. Dengan demikian akan terjadi saling memahami dan dipahami.

Saya jadi teringat akan pepatah : “Taruh seluruh pikiranmu di sepatu” artinya untuk menerima masukan dari orang lain, kosongkan pikiran kita agar otak kita tidak meluber ketika menerima informasi baru. Jadi .. seperti lentera, dia memancarkan cahaya dan menghabiskan minyak di tangkinya. Ketika minyak habis, diisi lagi dan cahaya memancar lagi.

About these ads