Masih ada hubungan soal penghasilan seperti tulisan ku barusan, juga untuk memenuhi janji ku pada bu dokter kalau aku mau menulis kisah2 orang kecil yang berjiwa besar di blog ku sebagai tambahan cerita beliau. Kisah nyata ini, aku alami ketika aku masih ditugaskan di kota Balikpapan. Kisah tentang dua orang supir – orang kecil – yang berpenghasilan sama tapi memiliki jalan hidup yang berbeda. Mudah2an cerita ini bisa melengkapi kisah bu dokter dan kisah2 teman2 lainnya di blog masing2.

Ali dan Mali – aku sebut saja mereka seperti itu. Sebelum menjadi supir, Mali tadinya seorang penjaga malam. Sedangkan Ali sejak awal memang sudah menjadi supir. Karena ada lowongan supir ditempatnya bekerja, maka Ali menawarkan kepada Mali untuk menjadi supir. Mali setuju. Akhirnya Mali pun menjadi supir dengan penghasilan hampir sama dengan Ali. Kurang sedikit karena perbedaan masa kerja.

Ketika aku mengenal mereka berdua, masa kerja mereka sudah berjalan 3 tahun dan 2 tahun. Mereka masing2 sudah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak. Yang aku herankan, Ali menuju ke tempat kerja dengan menggunakan sepeda motor. Sedangkan Mali menggunakan angkot. Ali juga selalu menenteng HP kemana2. Sedangkan Mali – jangankan HP – telephone rumah aja ga ada.

Ketika aku tanya kan hal ini kepada Mali, mengapa dia tidak membeli sepeda motor seperti Ali dengan cara cicilan. Dia cuma bilang, “Bukan ga mampu Pak, cuma saya banyak pertimbangan. Jika saya punya sepeda motor, saya harus menyisihkan biaya bensin dan perawatannya. Kemudian, saya kawatir anak saya yang masih kecil nanti diam2 bawa sepeda motor saya padahal belum punya SIM. Daripada ada masalah nanti, lebih baik saya naik angkot aja Pak.”

Aku cuma terdiam. Mikir !! .. sementara teman2 sejawatnya berlomba2 nyicil sepeda motor, kok dia punya pikiran yang berbeda ya? Kemudian aku penasaran lagi mengapa dia tidak punya HP. “Bukan ga mau Pak. Saya cuma mau pasang dirumah saja. Tapi belum ada jalur TELKOM. Kalau untuk HP, saya kan harus menyisihkan uang buat bayar pulsa. Lagian, saya belum perlu HP kok pak” .. lagi2 jawabannya bikin aku terdiam.

Hidup Mali memang bersahaja. Uang hasil jaga malam, dia sisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli bahan bangunan. Setelah terkumpul, dengan tenaga dia sendiri dia mendirikan rumahnya. Benar2 sendirian. Kecuali ketika mendirikan tiang dia meminta bantuan saudaranya. Kemudian, dia selalu siap diminta untuk mengantarkan pegawai kemana saja. Sampai2 tidak sempat istirahat. Karena begitu tiba, langsung jalan lagi.

Bagaimana dengan Ali? .. wah, bertolak belakang. Walau penghasilan dia lebih sedikit diatas Mali, tapi tidak berarti hidup lebih dari Mali. Lihat saja, rumahnya masih ngontrak. Gara2 HP dia sempat punya selingkuhan. Istrinya sampai melapor ke kantor. Dan istirahatnya lebih banyak dari pada kerjanya. Kalau ditugaskan, selalu yang ditanyakan hak nya dulu. Sepintas memang wajar .. tapi, kantor tetap akan membayar – lembur atau tugas jauh – walau tidak ditanya. Itu mungkin kekawatiran dia. Dia kawatir dengan rejeki-Nya.

Ketika dia ragu dengan rejeki Allah, maka dia sering mendapatkan musibah. Ketika anaknya keluar dari dirumah sakit, giliran istrinya yang masuk rumah sakit. Selesai istrinya, giliran dia yang masuk rumah sakit. Sehingga berapapun yang dia kejar, selalu tuntas. Beda dengan Mali, dia selalu siap disuruh apa saja dan tidak pernah bertanya hak nya.

Aku penasaran dan aku tanya, mengapa dia selalu tidak bertanya hak nya? “Saya ini sudah bersyukur banget sama Allah Pak, karena dulu saya hanya penjaga malam. Sekarang saya supir. Jadi, saya harus banyak membantu orang tanpa mengharap apapun” .. Subhanallah, justru hidupnya penuh rahmat.

Istrinya rajin, sabar dan setia. Anak2nya jadi juara kelas. Jadi ketua kelas. Mali selalu menjadi pegawai teladan ditempat nya bekerja karena dia selalu ringan tangan membantu teman2 lainnya. Beda sekali dengan Ali, yang semakin terpuruk dan terpuruk. Padahal penghasilan mereka sama.

Iklan