raihan_puji_pujan_big.jpg Langit mendung mengurung Madiun. Lalu lintas masih belum terlalu ramai. Udara masih terasa dingin, karena tadi malam hujan turun pelan2 sampai aku tak mendengar kedatangannya dan ku tahu hujan tiba dari jalanan yang sudah basah. Ku stel stereo set-ku sambil menginjak pedal gas perlahan. Lagu Raihan, Demi Masa memenuhi kabin ku. Tenang dan menyenangkan. “.. ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit. Kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, lapang sebelum sempit. Hidup sebelum mati.”

Aku jadi ingat dengan tulisanku dan tulisan ini, bahwa usia kita tak tahu sampai kapan. Dulu, seorang teman – ketika masih sehat – tiap hari menghabiskan berbatang2 rokok. Dan beberapa waktu lalu, sudah meninggal karena terserang kanker paru akibat merokok. Atau ada seorang teman – ketika masih banyak waktu – setiap hari kerjanya cuma didepan komputer yang sedang online. Dan beberapa waktu lalu, lintang pukang menyelesaikan skripsinya gara-gara sudah akan diancam DO.

Selalu saja ada alasan buat kita untuk membenarkan tindakan kita. Ketika masih sehat, kita cenderung hidup seenaknya. Makan minum apa saja. Dengan dalih .. “Mumpung masih sehat broer, ntar kalo sakit kan ga bisa makan enak” atau ketika waktu masih banyak kita cenderung santai. “Nanti saja, ngapain buru2. Masih banyak waktu kok” atau ketika masih muda kita cenderung untuk tidak bertanggung jawab. “Ya namanya jiwa muda bang. Jadi wajarlah kalau seenaknya hehehe” begitulah manusia.

Seorang teman berkomentar pada blog ku “Umur ibarat pensil..waktulah yang teruss merautnya…hingga pada akhirnya…HABIS!” batas kehidupan adalah umur. Sehingga ketika kita dikarunia lima perkara yaitu sehat, waktu yang lapang, kaya, masih muda dan tentu masih hidup, hendaklah digunakan sebaik2nya. Masih banyak orang yang tidak memiliki lima perkara tersebut .. mungkin miskin, mungkin sudah tua, mungkin sakit2an sejak kecil dlsbnya.

Iklan