palem.jpg Hampir dua pekan aku tidak menulis. Dan hampir dua pekan pula aku tidak mendapatkan banyak informasi yang cukup. Maklum, selama waktu jedah tersebut, akses ke dunia informasi on line agak terhambat oleh banyaknya acara off line. Banyak peristiwa telah lahir dalam waktu hampir dua pekan. Berita gembira dan berita duka, berbaur mengaduk2 pikiran dan perasaan. Yang dulunya ada, kini tiada. Yang dulunya tiada, kini menjadi ada. Ada yang lama. Ada yang baru. Ada yang hilang. Ada terbilang. Kehidupan memang seperti itu. Tak ada yang abadi.

Beberapa teman weblog mengumumkan untuk rehat dari dunia weblog bahkan ada yang “merajuk” untuk berhenti menulis sama sekali. Tapi beberapa teman baru muncul di weblog dengan semangat menulis. Begitulah kehidupan. Selalu silih berganti. Seperti halnya kelahiran dan kematian. Semua seperti biasa saja. Yang membuatnya tidak biasa adalah kewajaran. Jika lahir atau meninggal wajar, semua akan tampak biasa saja. Tapi, ketika kelahiran dan kematian tidak wajar .. maka “dunia” akan menjadi heboh.

Barusan aku membaca berita “Rupiah tidak kuat lagi. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kehabisan tenaga” padahal sebulan yang lalu “Rupiah perkasa. IHSG terus melejit” ketika Rupiah menembus angka Rp.8.800 per dollar dan IHSG menjejak ke angka 2.111 .. belum genap setahun semuanya berubah. Masih ingat ketika rupiah terjun bebas dari Rp.2.400 per dollar ke Rp.15.000 per dollar dalam hitungan bulan? .. reaksinya, chaos. Sendi2 kehidupan copot. Berantakan.

Tidak ada yang abadi. Jika kita memahami benar kata tersebut maka untuk apa sebenarnya kita berjibaku – membela habis2an – sesuatu yang fana. Mempertahankan sesuatu yang akhirnya akan binasa? Meraung-raung ketiadaan? .. Hidup seperti naik roller coaster. Pelan laju. Menanjak menukik. Lurus berbelok. Kita dalam keadaan histeria kehidupan. Takut dan senang. Padahal, setelah roller coaster mengakhiri perjalanan .. kita hanya bisa tertawa. Tidak jelas menertawakan apa. Apakah menertawakan ketakutan kita selama meliuk2 atau tertawa senang karena kita selamat.

Tak ada yang selamanya. Semua pasti berakhir. Makanya, dalam “doktrin” Steven Covey, tujuan hidup dimulai dari akhir alias saat kematian menjemput kita. Apa yang kita inginkan ketika hidup ini berakhir. Apakah diantar oleh pelayat yang banyak. Apakah didoakan oleh banyak orang. Apakah banyak yang merasa kehilangan atau apa? Tentu .. untuk mendapatkan impian itu tidak gratis. Harus ada upaya mewujudkannya dengan berbuat baik kepada siapa saja. Bertutur kata santun – ini yang sampai sekarang susah buat aku terapkan, tapi Insya Allah, aku terus berusaha untuk itu – selalu positive thinking, siap menerima perbedaan, siap membantu siapa saja tanpa pamrih dan hal2 kebaikan lainnya.

Sama seperti ketika teman ku yang merajuk untuk menulis. Kata2nya membuat dia mendapatkan teman sekaligus lawan. Seperti kematian .. beberapa teman “meratapi” keputusannya. Tapi ada yang bersyukur atas kepergiaannya dari dunia weblog. Mungkin dia sudah memilih, cara kepergiaan seperti itu. Yang pasti .. kepergiaan pasti menimbulkan kehilangan. Tidak peduli apakah dampaknya baik atau tidak. Dan kedatangan selalu membawa harapan. Tidak peduli apakah nantinya akan membawa dampak baik atau tidak.

Tidak ada yang abadi.

Iklan