070707_event.jpg Badan PBB untuk kebudayaan, UNESCO, tidak mendukung 7 keajaiban dunia yang baru terpilih berdasarkan survei karena kriterianya tidak sesuai dengan kriteria UNESCO, nah loh!! cuplikan berita di detik.dom itu membuat aku menjadi lebih mengerti tentang 7 keajaiban dunia. Ternyata, 7 keajaiban dunia yang baru ditetapkan tepat pada tanggal 07-07-07 jam 07:07 (kaya’nya maksain banget ya) oleh organisasi – yang disponsori oleh kurator Museum Bernard Weber – di Lisabon, Portugal setiap membaca nama negara ini entah kenapa rasanya kurang enak itu memiliki kriteria yang berbeda dengan UNESCO dalam hal cagar budaya. Jika organisasi itu memilih berdasarkan nominasi yang diusulkan dari berbagai pihak kemudian dilakukan voting – yang konon mencapai 100 juta orang – maka UNESCO memiliki kriteria yang lebih luas, artinya penetapan masuk tidaknya suatu situs ke dalam keajaiban dunia tidak berdasarkan voting jadi mirip acara kontes idol 😉

Well .. beginilah keadaan dunia sekarang. Mungkin ide-nya berasal dari demokrasi. Voting. Sehingga apapun hasilnya, sepanjang dipilih – vote – oleh orang banyak, dia lah yang menang. Sering kali kita mendapatkan pemenang yang mengecewakan .. lihat saja hasil2 dari acara2 televisi yang menggunakan voting seperti Indonesia Idol, Alm.AFI dll. Dan aku pikir wajar juga kalau Candi Borobudur tidak termasuk dalam keajaiban dunia. Mungkin karena ga ada yang mengusulkan atau kalau pun ada yang mengusulkan, yang memilih sangat sedikit.

Bagi aku, justru voting itulah keajaiban dunia. Banyak hal2 ajaib yang lahir atau terjadi akibat voting. Ada orang yang menjadi juara menyanyi, walaupun suara amburadul biasa saja. Hal ini mungkin terjadi karena banyak faktor. Atau Christ Redeemer, Brasil masuk dalam 7 keajaiban dunia bandingkan mengapa Angkor Wat, Cambodia; Hagia Sophia, Turkey atau Kiyomizu Temple, Jepang terpental padahal juga merupakan tempat religi.

Voting tidak selamanya membuat semua menjadi benar. Dalam kehidupan berdemokrasi, dalam mencari kebenaran, dalam pelaksanaan survey permirsa dan lain sebagainya. Yang pasti, voting amat menguntungkan dari segi komersialisasi karena melibatkan banyak orang sehingga akan menjadi perhatian banyak orang pula. Beda dengan penelitian / penetapan secara ilmiah, cenderung tidak memiliki nilai komersial.

Apapun .. dunia sudah memilih. Kita hidup dijaman voting. Seharusnya voting termasuk keajaiban dunia. Karena bisa melahirkan keajaiban2 lainnya. Dan besok lusa akan muncul organisasi2 tandingan untuk meluncurkan 7 keajaiban dunia versi lainnya. Begitulah keajaiban voting.

Iklan