ali_akbar.jpg Buru2 selembar tisu ku sodorkan ke seorang ibu yang sedang duduk di depanku karena ku lihat air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Di wajahnya jelas terlihat, ada duka dibalik sana. Pembicaraan ku dengan ibu Sukemi – seorang guru SMP – mendadak membuka kenangan lama beliau kepada anaknya, Ali Akbar Kurniawan Sugino, yang akrab di panggil Nang – dari kata Lanang. Usianya baru menginjak 11 tahun, pada saat tubuhnya ditemukan di Sungai Madiun pada tanggal 27 Nopember 2005. Sang ibu kemudian menceritakan kepada ku – tentang anaknya – yang lebih senang mengaji ketimbang bermain-main. Suatu sifat anak2 yang tidak lazim. Setahu ku, anak2 seusia Lanang lebih senang main game, malas belajar dan susah untuk menuruti nasehat orang tua.

Kisah Lanang, benar2 membuatku terkesima. Bagaimana bisa, seorang anak yang baru duduk di kelas 5 SD, lebih senang mengaji – sampai 3 kali sehari – dari pada bermain2? Setelah sholat subuh di masjid dekat rumah, dilanjutkan dengan mengaji – didampingi sang ayah yang lulusan IAIN – sampai menjelang berangkat sekolah. Sore hari, selesai Ashar, dilanjutkan mengaji lagi dan setelah Maghrib – kali ini didampingi guru ngaji. Lanang mengaji bukan karena dipaksa. Tapi atas kehendaknya sendiri. Itu yang membuatku kagum. Aku saja – waktu kecil dulu – cuma sehari sekali. Itupun harus disuruh dulu oleh orang tua. Astagfirullah. Aku malu dengan Lanang.

Belum lagi, kebiasaan Lanang setiap hari Jum’at, jam 11.00 siang dia sudah sibuk sendiri di masjid menyiapkan tikar sembahyang, membersihkan masjid buat orang sholat Jum’at. Dan ketika dia tiada, orang2 di kampung benar2 merasa kehilangan. Tiada lagi yang menyiapkan segala sesuatunya menjelang sholat Jum’at. Ingat, Lanang melakukan itu tanpa paksaan dan masih belum menyelesaikan SD. Saat ini, untuk menyiapkan sholat Jum’at terpaksa mengeluarkan kas masjid untuk mengupah seorang bapak2 mengerjakan pekerjaan yang dulu dikerjakan oleh Lanang. Subhanallah .. aku yakin Lanang diterima disisi Nya.

Ketika banyak musibah tsunami, banjir dan kapal tenggelam terjadi di tanah air. Dengan keluguan seorang anak kecil, Lanang bertanya kepada bapaknya, “Pak, orang2 yang meninggal karena tenggelam, bagaimana hukumnya dalam agama Islam?” Sang bapak heran, mengapa dia bertanya seperti itu. Ketika dijelaskan bahwa orang yang meninggal karena tenggelam itu dapat dikategorikan sebagai mati syahid, wajah Lanang terlihat senang. Orang tuanya sama sekali tak menduga, kalau kelak dia akan meninggalkan kedua orang tuanya dengan cara demikian. Allahu akbar.

Yang paling mengagumkan, dia sering menasehati ibunya untuk melaksananakan sholat begitu adzan berkumandang. Mengingatkan ibunya kalau sholat jangan terburu2 atau ketika ruku jangan terlihat tangannya. Pada waktu itu, ibunya tidak menganggap “ocehan” anaknya yang masih kecil. Dan sekarang, ibunya benar2 merasa begitu mulia setiap kata yang keluar dari mulut Lanang. Bahkan tak jarang Lanang menyatakan keheranannya bila melihat sepupunya atau temannya yang membantah orang tuanya dan bertanya mengapa seorang anak berani melawan orang tuanya.

Pernah suatu hari, Lanang sakit. Padahal waktu itu sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Siang hari, dia terlihat lemah dan payah. Oleh ibunya, Lanang disuruh untuk berbuka tapi ditolak, “Puasa itu wajib bu.” katanya mantap. Dan pernah pula dia disuruh oleh ibunya untuk menjamak sholat karena suatu sebab, tapi saran itu ditolaknya. Baginya, selagi mampu dia akan menjalan sholat seperti apa adanya. Begitulah .. seorang anak kecil yang belum beranjak dewasa bisa mempunyai jiwa agamis yang begitu kental.

Akhirnya, aku minta ijin kepada ibunya untuk menuliskan kisah Lanang sebagai kenangan buat ku tentang anak sholeh. Menjadi contoh buatku, bagaimana seorang anak kecil begitu tulus menjalankan ibadahnya. Tadi pagi, ibunya menerima siswa baru di SMP tempatnya mengajar. Seandainya Lanang masih hidup, maka tahun ini dia masuk SMP. Setiap melihat anak2 baru di SMP itu, ibunya terkenang dengan Lanang dan bedoa “Semoga Lanang bahagia disana dan menolong ku nanti ketika aku di akhirat.”

Lanang anak yang sholeh.

Iklan