upload_68.jpg Seorang sahabat menulis email kepada ku. Dan telah aku minta ijin padanya, agar isi email dan jawabanku, ku posting di blog ku. Berikut cuplikan email teman ku itu : “Aku percaya keberuntungan, bagiku, aku masih diberi keberuntungan sehingga aku masih bisa disini sekarang. Banyak orang yang aku pikir “lebih” secara intelektual, materi yang didapat dari orang tua mereka tapi tidak seberuntung aku. Disisi lain, ada pula yang mungkin “kurang usaha” tetapi keadaan dia lebih baik dari aku. Itulah jalan hidup, sesuatu yang tidak bisa ditebak.

Aku jadi berkaca2 dan trenyuh membaca pesan mas. Hmmm .. apa benar aku sudah dijalan hidupku yang bener2 pilihanku? Dan apakah sudah benar, apa memang sebenarnya aku harus seperti ini dulu? Huh .. kayaknya aku bener2 ga bisa nikmati hidup. Yah .. jarang sekali aku menikmati matahari yang mulai tenggelam disisi seberang jalan kantorku. Senang jika masih bisa merasakan seperti itu setiap hari. Masih ada waktu menikmati sore dan malam, tapi aku tidak.

Aku ingin selalu kerja keras, bahkan sekeras-kerasnya kalo memungkinkan. Tapi tetap ingat waktu dan tempat bagaimanapun manusia mempunyai batasan, yang mungkin kalau sudah melewatinya akan memunculkan hal2 yang tidak terduga. Aku juga ingin santai, sesantai2nya orang. Aku pernah begadang di pantai sampai subuh, trus tertidur di pinggir pantai beralaskan pasir. Ketika aku terbangun sudah banyak orang2 yang pada mancing. Sempat malu juga. Tapi waktu itu aku bener2 menikmatinya. Terasa bebas. Ga terikat waktu. Ga terikat kontrak kerjaan. Yah .. tapi itu dulu. Ketika aku masih kuliah.. 🙂

Sekarang? yah .. mungkin ini yang mananya “kerja” dengan konsekuensi “ga ada waktu”. Waktu ku hanya buat perusahaan yang memberiku penghidupan sementara. Entah .. “

Aku kemudian mengatakan padanya, apakah dia ingin tahu tentang sudah benar atau tidak dalam memilih jalan hidup. Ingin tahu bagaimana caranya hidup bisa lebih bahagia. Ingin mengerti mengapa hidup setiap orang itu berbeda? Manusia diciptakan oleh Sang Pencipta, pasti ada maksudnya. Sama halnya ketika hewan, tumbuh2an, bumi beserta isinya diciptakan juga punya tujuannya masing2.

Manusia adalah mahluk yang paling lemah selemah2nya mahluk. Oleh karena itu, Allah membekali manusia dengan akal pikiran agar tetap survive. Kelebihan inilah yang kemudian melahirkan kesengsaran buat diri manusia itu sendiri maupun mahluk lainnya. Akibat akal manusia, polusi dimana2. Akibat akal manusia, kita menjadi lupa diri. Akibat akal manusia, kita menjadi ambisius untuk menguasai alam ini.

So .. sebenarnya, ketika kita menyadari bahwa semua ini adalah sementara. Semua ini adalah titipan dari Sang Pencipta, maka hidup akan menjadi simple dan mudah. Dalam Islam, di Alquran disebutkan di surah Ibrahim ayat 7 bahwa : Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan-mu Memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan Menambah (Nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (Nikmat-Ku), maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih.”

Jadi .. ketika kita hanya bisa bekerja keras tanpa sempat liburan dan menikmati matahari, kita tetap bersyukur karena kita masih bekerja sementara ribuan orang terkena PHK atau bahkan belum bekerja sama sekali sejak lulus sekolah. Ketika kita tidak bekerja karena tidak ada lowongan, kita tetap harus bersyukur karena masih ada keluarga yang membantu kita untuk memenuhi hidup sehari2. Sementara banyak orang yang diterlantarkan keluarga mereka.

Semua kembali pada diri kita masing2 untuk menyikapi hidup secara arif. Tidak ada satu orangpun didunia ini tidak luput dari cobaan hidup. Apakah itu berupa kesengsaraan maupun kenikmatan. Apakah itu akan membuat kita jatuh kelembah nista ataupun menjadi sombong, itu adalah pilihan hidup dari apa yang kita alami.

Banyak sekali hal yang patut kita syukur dalam hidup ini. Istilahnya dalam kebudayaan Indonesia adalah .. apapun kejadiannya, dalam budaya kita selalu mengatakan “untung”.

Iklan