upload_52.jpg Sudut pandang. Kata ini menjadi kunci dari setiap perdebatan yang terjadi. Baik yang menanggapinya dengan adem ayem alias becanda maupun perdebatan yang “berdarah-darah”. Sudut pandang, membuat setiap orang berusaha meyakinkan orang lain dari sudut pandangnya. Padahal “objek” yang dipandang atau dibahas adalah sama. Masalah adalah, posisi dari orang yang memandang ke “objek” tersebut yang berbeda. Ada yang melihat dari muka. Ada yang dari belakang. Ada pula yang dari atas. Bahkan ada yang dari bawah. Dan tidak salah pula, kalau ada yang memandang dari kiri atau kanan “objek” tersebut. Yang pasti .. perbedatan akan timbul, jika tidak sama2 menyadari bahwa “objek” yang dipandang itu merupakan “objek” yang sama.

Berikut adalah message seorang sahabat yang sedang gundah gulana atas pilihan hidupnya karena orang yang dipilihnya ditolak oleh keluarganya : “Jika kita memandang sesuatu tampak indah, belum tentu orang lain mengiyakan. Jika kita bilang suka terhadap sesuatu, orang yang lain belum tentu semua setuju. Pandangan yg berbeda tersebut, membuat aku berpikir .. apa yang salah tentang diriku. Aku sudah berusaha mengoreksi sikapku. Sampai-sampai aku merenung tiap malam. Dan ternyata, semua itu harus diakhiri dengan sebuah keputusan. Apakah memilih yang menurutku baik atau menurut orang? Aku harus jalan ama dia atau mendengarkan komentar sekeliling yg mungkin belum tentu juga sama dengan keingananku. Menurut abang gimana selanjutnya, mendengarkan kata hati atau mendengarkan komentar yg belom tentu sesuai di hati?”

Perbedaan pandangan .. sepanjang tidak menyangkut kehidupan pribadi seseorang, kaya’nya masih dapat diatasi. Karena jika kita kurang berkenan, maka dengan mudah untuk kita melupakannya. Bagaimana kalau perbedaan tersebut menyangkut kehidupan pribadi kita? Sering kali kita tak dapat menolak perbedaan itu jika pihak yang berbeda itu adalah orang tua, saudara atau orang yang berjasa dalam hidup kita.

Aku sering mengatakan kepada siapa saja .. “Ikuti kata hatimu” .. “Jadilah dirimu sendiri” .. “Buatlah dirimu bahagia” .. tapi sering kali hal2 tertenut berbenturan dengan orang sekitar kita. Aku jadi ingat nasehat orang bijak .. “Kita adalah makhluk yang mempunyai kebebasan tapi kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain” artinya kita tak bisa bebas seenaknya sehingga merugikan orang lain.

Oleh karena itu .. dalam itu kita mesti bijaksana. Menimbang-nimbang hak orang lain tanpa harus menihilkan hak kita. Perbedaan itu rahmat. Sehingga tidak sepantasnya ditumpas. Justru dengan perbedaan kita bisa melihat lebih banyak dimensi. Dari atas, bawah, depan, belakang, samping kiri dan samping kanan. Lebih bagus lagi, kita bisa masuk dalam “objek” tersebut alias memiliki empati. Sehingga kita dapat merasakan “objek” tersebut bukan hanya sekedar melihat dari atas, bawah, depan, belakang, samping kiri dan samping kanan untuk kemudian menghakimi.

Iklan