upload_77.jpg Malam mulai merambah kota. Menyusupkan gelap sampai kesela-sela pohon jati. Jarum panjang jam di dinding yang mulai lapuk, tegak lurus menunjuk langit. Aku masih belum terlelap juga. Padahal hari ini begitu melelahkan jiwa dan raga ku. Bukan, bukan karena tadi pagi aku mengikuti upacara. Bukan, bukan pula karena problema kehidupan. Tapi karena malam ini malam pertama aku menempati rumah tua yang sudah dikosongkan oleh penghuni sebelumnya. Rumah tua yang tiga tahun lalu hanya dapat ku lihat dari balkon hotel disebelahnya. Dan hari ini, seperti mimpi, aku menjadi penghuninya. Tentu untuk sementara.

Barang2 masih berserakan disemua ruang dan disetiap sudut. Debu2 masih belum beranjak karena belum tersentuh sapu. Tapi badan sudah terlanjur letih untuk bermanja2 dengan tetek bengek isi rumah yang menunggu untuk diletakan sebagaimana mestinya. Aku benar2 ingin tidur, menuntaskan rasa lelah yang amat letih. Entah mengapa, kabel koneksi seakan memiliki setrum yang amat dahsyat memaksaku online disini.

Tanggal telah bergeser. Keluargaku sudah lebih dulu berlayar disamudra mimpi. Kata telah terangkai. Pikiran pun menjadi teringat. Sembilan kali aku menjalaninya dengan segala romansa. Dengan segala macam beban .. Sembilan kali mungkin sangat banyak buat orang yang hanya ditempat tapi sangat sedikit buat orang yang sudah menjejakkan kaki di semua jengkal bumi ini.

Kurajut malam dengan menyala radio kecil ku. Asal saja ku pilih saluran radionya. Ya Tuhan ..

Pulang ke kota mu, ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu setiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna, terhanyut aku akan nostalgia

Aku hanya terdiam .. mendengarkan lagu itu sampai usai. Aku terdiam karena jiwa ku terpental ke masa silam saat2 aku memulai perjalanan hidup dan Jogjakarta adalah kota terjauh pertama yang ku datangi. Tiba2 rindu menggoda ku. Padahal dua bulan lalu aku barusan ke Jogja. Aku tersentak sadar ketika penyiarnya berkata .. “Selamat pagi pendengar ..”

Gila sudah pagi. Dan aku belum tidur juga.

Iklan