diam.JPG Ketika sedang packing2 barang buat pindahan ke Balikpapan (lagi), aku menemukan selembar kertas hasil print-out email kantor yang berasal dari seorang rekan kantor di Surabaya ketika aku ditugaskan pertama kali di Balikpapan hampir delapan tahun yang lalu. Email itu berisi puisi yang ditujukan kepada ku sebagai bentuk protes kepada ku karena aku tak kunjung memberikan dia masukan atau kritikan padanya. Ku pikir, lirik puisi yang ku dapat hampir delapan tahun lalu itu masih cukup relevan pada saat ini ..

BICARALAH

.
karena Tuhan memberimu bibir yang indah
maka serukanlah kebenaran, bukan caci maki
karena Tuhan memberimu sepasang tangan yang kokoh
maka bantulah sesamamu, bukan menganiaya
.
bicaralah pada raga yang terisi jiwa
karena ia akan memahami bahasamu
bukan pada batu, pada jasad kehampaan
bukan pada diam, yang mengisyaratkan kematian
.
bicaralah pada kehidupan dengan pemahaman
dan jangan biarkan ia terbengkalai
karena hidup untuk dijalani, bukan dihindari
karena ia harus diperjuangkan
karena kamu, pengukir keindahan hidup atas dirimu
maka bicaralah dalam bahasa keindahan
agar telinga hidup tak lelah mendengar
agar ia menjawabmu
juga dengan keindahan
maka,
bicaralah …
karena bicara
bagian dari kehidupan itu sendiri
.
Puisi buat A Bee (Eby, red) agar tetap bicara menyerukan keindahan bukan mengisapnya semata dan kemudian diam. Tanggal 25-01-2000 08:54:30 dari Anak Agung Gede Putra

Iklan